
Sebuah gedung tinggi.
Anita dan Lizabert diikat di kursi. ruangan yang mengurung mereka adalah ruangan kosong yang bisa dipantau dari sebelah. sebuah cermin dua sisi yang menempel di tembok itu.
Gelapnya ruangan membuat membuat dua wanita itu ketakutan dan tidak sanggup berteriak karena mulut mereka disumpal kain.
"Em...em...," jeritan Lizabert yang ketakutan. wanita itu berusaha meronta akan tetapi tangannya diikat di besi kursi itu.
Sementara di ruangan sebelah Vic dan Grace sedang melihat. mereka dari cermin itu.
"Vic, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu membawa mereka ke sini?" tanya Grace.
"Ada yang ingin ku tunjukan padamu, sebentar lagi kamu akan mengetahuinya," jawab Vic.
Setelah beberapa saat kemudian Harry dibawa Will menjumpai Vic yang sedang di dalam ruang pemantauan itu.
"Bos, tuan Jhonsters sudah datang," kata Will yang melangkah masuk.
"Tuan Jhonsters, Anda sudah datang!" sahut Vic.
"Tuan Andrianez, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Harry.
"Maaf, Tuan Jhonsters. karena mengundang Anda tanpa pemberitahuan," ucap Vic.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku juga penasaran apa yang terjadi," jawab Harry.
"Sebentar lagi Anda akan tahu," jawab Vic.
"Grace, kamu juga ada di sini," seru Harry.
"Tuan Jhonsters," sapa Grace.
"Panggil saja paman!" kata Harry.
"Paman, silakan duduk!" sahut Grace yang mempersilakan Harry duduk di kursi.
"Vic, kenapa mereka...," tanya Harry yang melihat Anita dan Lizabert lewat cermin dua sisi.
Vic, Grace dan Harry duduk bersama di depan cermin itu. sementara Will masuk ke dalam ruangan yang di mana Anita berada.
Klek..
"Anita, Anda sangat hebat sekali, dengan putri sendiri saja kau tidak peduli. demi niatmu sendiri kau menyuruh mantan suamimu menculik dan ingin mengirim dia ke tempat lain," ujar Will yang menarik kain dari mulut wanita itu.
"Apa yang kau katakan semua tidak benar, jangan menuduhku. cepat lepaskan kami!" bentak Anita.
"Lepaskanmu setelah melakukan kesalahan besar, kalau dulu kami tidak tahu apa-apa. tapi saat ini siapapun yang menyakiti nona Grace akan berhadapan dengan bos kami, jangan berharap kau bisa lolos," ujar Will.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan? ini di mana? kalian menculik kami aku akan menuntutmu!" bentak Anita.
"Menuntut kami? apakah kau tidak penasaran di mana mantan suamimu itu?" tanya Will.
"Aku dan dia sudah tidak ada hubungan," ketus Anita.
"Tidak ada hubungan? ha ha ha...kau wanita yang sangat menyedihkan. demi sekilo beras kau melakukan hubungan intim walau sudah bercerai. sejak dulu kalian telah melakukan hubungan ratusan kali sehingga anak-anakmu sudah dewasa," ungkap Will.
"Diam!" bentak Anita.
"Kenapa, tidak mengakuinya? Anita, kau sangat memalukan sekali, selain berjudi, kau juga jual diri kepada pria yang berjudi denganmu. apakah kau tidak penasaran kenapa kami bisa tahu semuanya?"
"Jangan bicara sembarangan, aku tidak melakukan itu," ketus Anita yang tidak mengakui.
"Tidak ada gunanya kau menyangkal, apa yang kau lakukan selama ini telah kami selidiki. dan sekarang kau tidak bisa berbohong lagi...."
"Apakah kau ingin tahu di mana mantan suamimu itu?" tanya Will dengan berbisik agar tidak didengar oleh Harry.
"Di mana dia?" tanya Anita.
Will mengeluarkan handphonenya, ia menunjukan sebuah rekaman kepada Anita.
Saat Anita melihat mantan suaminya yang menjadi santapan binatang buas, ia langsung berkeringat dingin dan gemetar.
__ADS_1
"Ini adalah akibat karena melarikan wanita milik bos kami," ucap Will dengan nada kecil.