Jadilah Wanitaku

Jadilah Wanitaku
Foto Prewedding


__ADS_3

"Ambil beras ini dan pergi!" kata Dicky yang meletakan sebungkus beras ke atas meja.


"Apakah kamu tidak bisa memberi lebih dari itu? kau juga tahu yang makan nasi bukan hanya aku saja, putrimu juga makan!" bentak Anita.


"Memangnya kamu layak meminta lebih? dan kamu jangan lupa beras yang dari aku putri orang lain juga memakannya, kan?"


"Itu hanya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dia berikan kepada keluarga ini, biaya sekolah putrimu dia juga membantu dengan upahnya. nasi yang dia makan dari beras ini bukan apa-apa sama sekali!"


"Tidak usah banyak bicara lagi! bawa kalau kamu masih mau atau tidak sama sekali," ketus Dicky.


"Jangan sombong! dari dulu kau tidak pernah memberikan biaya untuk putrimu. hanya sekilo beras saja yang kau mampu. setiap aku meminta bantu aku harus melayanimu dulu. padahal ini memang tanggung jawabmu," bentak Anita dengan kesal.


"Kau juga tidak perlu sombong! lihatlah dirimu yang begitu kasihan, sejak kita bercerai kau menikah dengan pria lain dan akhirnya dia pergi juga meninggalkanmu," ketus Dicky.


"Bukan urusanmu! walau dia pergi aku masih bisa membiayai dua putriku," bentak Anita.


"Iya, dengan cara berjudi dan jual diri, apa yang kamu lakukan dua putrimu itu masih belum tahu," ketus Dicky.


"Jual diri dan berjudi juga karena putrimu."


"Bagaimana dengan putri pria itu...ha? bukankah dia pergi juga tidak membiayaimu dan putrimu itu," bentak Dicky.


"Dia sama sekali tidak tahu kalau anak itu adalah putrinya," ujar Anita.


"Kalau dia tahu, aku yakin dia tidak akan percaya padamu, karena kau sudah sering jual diri," ketus Dicky.

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan!" bentak Anita yang mengambil beras itu dan pergi meninggalkan rumah mantan suaminya.


Di sisi lain Vic dan Grace sedang memotret foto prewedding. pasangan pengantin itu terlihat sangat bahagia.


Setelah satu jam kemudian.


"Grace, apa kamu lelah? bagaimana kalau kita istirahat dulu?" tanya Vic.


"Apakah masih lama? sudah satu jam kita memotret,"tanya Grace.


"Setengah jam lagi kata mereka."


"Aku sudah empat kali berganti gaun hanya untuk foto prewedding."


"Apa kamu tidak suka dengan gaunnya?" tanya Vic dengan senyum.


"Ha ha ha...hanya sekali dalam seumur hidup, ini pantas untukmu," ucap Vic dengan senyum.


Malam hari.


Lizabert sedang duduk di sofa dengan berlipat tangan dan raut wajah yang kesal.


"Kenapa Harry bisa berkenalan dengan Grace? kalau saja sampai dia tahu bahwa kampungan itu adalah putrinya bukankah aku akan kehilangan kesempatan? aku harus memikirkan cara untuk mendekati Harry lagi. semua hartanya harus jatuh ke tanganku!" batin Lizabert.


Tidak lama kemudian Anita kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Klek...


"Apakah pergi berjudi lagi ya? sekarang sudah larut malam," ujar Lizabert.


"Kalau mama tidak cari uang mau datang dari mana makanan kita," jawab Anita.


"Cari uang dengan cara berjudi?"


"Jangan menghinaku! kau jangan lupa dari kecil susumu dan biaya sekolahmu juga dari hasil judi!"


"Dan mama lebih banyak berhutang pada orang."


"Iya, walaupun begitu mama tidak pernah memintamu untuk membayar hutang, lagi pula kau juga tidak ingin membantu," ketus Anita.


"Itu adalah urusanmu, untuk apa aku ikut campur," jawab Lizabert


"Aku benar-benar tidak paham, kenapa sifatmu sangat berbeda dengan adikmu, adikmu itu walau dia kerja hanya sebagai karyawan biasa tapi dia masih ingin menanggung semuanya. sedangkan kamu yang adalah manager tapi kelihatan tidak ada apa-apanya," ketus Anita.


"Kalau begitu suruh saja dia pulang dan tinggal bersamamu, aku akan mencari papaku yang kaya itu dan hidup mewah. saat itu mama pasti tidak akan merendahkanku lagi!"


"Itu pun kalau dia ingin mengakuimu," jawab Anita.


"Kalau dia tidak mengakuiku itu semua gara-gara mama juga!"


"Kamu harus sadar diri kamu itu siapa," ketus Anita.

__ADS_1


"Aku siapa? aku adalah putri direktur utama hotel itu, aku adalah nona besar," jawab Lizabert.


"Lihatlah dirimu! selalu saja membanggakan dirimu sendiri," ujar Anita.


__ADS_2