
"Aku tidak akan mengingkar janjiku!" ucap Vic yang mengecup dahi Grace.
"Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan dia walau hanya sekali?" tanya Vic.
"Apa perlu aku melakukan itu?" tanya Grace.
"Iya, kau bisa melakukannya kalau hatimu ingin bertemu dengannya, karena dia adalah mama kandungmu. tidak ada salahnya kau mengundangnya," jawab Vic.
"Aku mengerti!" kata Grace.
"Aku akan menemanimu pergi bertemu dengannya!"
"Aku bisa pergi sendiri, bukankah banyak yang harus kamu kerjakan? biar aku saja yang pergi," ujar Grace.
"Apa kamu yakin tidak perlu aku yang temani kamu?"
"Yakin! aku bisa pergi sendiri," jawab Grace.
"Baiklah, aku akan mengutuskan anggotaku untuk melindungimu," ucap Vic dengan senyum.
Keesokan harinya.
Grace mendatangi rumah lamanya, saat itu supir dan anggota Vic menunggu di mobil. sementara Grace hanya seorang diri yang memasuki rumahnya.
Klek...
__ADS_1
"Ma, aku sudah pulang!" panggil Grace yang melangkah masuk dan melihat sekitar dalam rumahnya yang masih tidak berubah. bahkan lebih berserakan dengan pakaian kakaknya.
"Memang pemalas, pakaian kotor saja tidak bisa cuci sendiri. selalu saja harus ada yang melayaninya," gumam Grace.
"Ma, aku sudah pulang? apa kamu berjudi lagi sehingga tidak ingat rumah sendiri...," teriak Grace.
Saat Grace sedang berada di ruang tamu, Anita sedang berada di kamar mandi mengirim pesan pada seseorang lewat handphonenya.
Setelah pesan terkirim Anita keluar dari kamar mandi.
"Ternyata kamu masih ingat dengan rumah sendiri," kata Anita yang menyindir putrinya.
"Jangan salahkan aku tidak ingin pulang, kalau bukan karena keegoisanmu mana mungkin aku pilih tinggal di luar," ketus Grace.
"Ma, yang keluar dari rahimmu itu bukan aku saja, Lizabert juga keluar dari rahimmu. kenapa kamu diam saja?"
"Kamu selalu saja melawanku!"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, aku datang mengantar undangan. mama bisa datang kalau mama mau. asalkan jangan membawa simpananmu saja," kata Grace yang ceplas ceplos sambil memberikan undangan kepada ibunya.
"Ucapanmu ini tidak bisa dijaga, selalu saja bicara sembarangan," ketus Anita.
"Aku pulang dulu, Vic sedang menungguku," kata Grace.
"Kapan hari pernikahanmu?" tanya Anita.
__ADS_1
"Empat hari lagi, aku pergi dulu!" jawab Grace yang melangkah menuju ke pintunya. Anita mengambil mangkok dari meja makannya menghantam kepala bagian belakang putrinya itu.
Brugh...
Akibat pukulan keras, Grace kemudian tidak sadarkan diri.
"Huff...maaf, mama terpaksa melakukannya demi kakakmu," ucap Anita yang melihat putrinya tergeletak di lantai.
Setelah memukul putrinya hingga pingsan, Anita membuka pintu belakang dan membiarkan seorang pria masuk ke dalam rumahnya.
"Apakah kau yakin pria itu tidak tahu kita melakukan ini?" tanya pria itu yang tidak lain mantan suaminya, Dicky.
"Tentu saja tidak tahu!" jawab Anita.
"Di luar ada beberapa orang, aku rasa mungkin pengawalnya," ujar Dicky.
"Kalau begitu bawa dia pergi dan keluar dari pintu belakang," kata Anita.
"Kau jangan lupa! harus membuat pria itu mengakui putri kita agar dia bisa hidup mewah," ujar Dicky.
"Kau jangan khawatir! walau mereka berdua adalah putriku, tapi aku tetap membela Lizabert. mana mungkin aku tidak ingin dia bahagia. apa kau tahu aku mengambil resiko besar melakukan ini. kalau saja sampai Vic tahu aku pasti mati," kata Anita.
"Lakukan yang terbaik, gadis ini akan ku sembunyikan di tempat yang tidak ada yang tahu," ujar Dicky.
"Aku benar-benar gila! keduanya sama-sama putriku tapi aku malah melakukan hal gila ini," ketus Anita.
__ADS_1