
Malam itu Grace ketiduran dengan posisi duduk bersandar, walau panas akan tetapi ia tidak bisa menahan rasa ngantuknya. pada akhirnya dia tidur hingga pukul 5 pagi.
Karena tidur semalaman dengan posisi duduk ia merasakan tidak nyaman pada pinggangnya.
Grace bangkit dan keluar dari gudang itu dan langsung masuk ke kamar mandi mencuci muka dan mandi. ia ingin langsung berangkat kerja dan tidak ingin membersihkan rumahnya lagi, karena kekesalannya pada ibu dan kakaknya yang selalu menganggapnya sebagai pembantu.
Setelah satu jam kemudian Grace ingin berangkat kerja, dia dihentikan oleh ibunya yang sudah bangun.
"Grace, mana sarapan kakakmu? dan kenapa begitu pagi kamu berangkat kerja? bukankah seharusnya kau pergi membeli lauk kesukaan kakakmu dulu!" tegur Anita.
"Ma, kakak bukan anak kecil lagi, jangan kebiasaan harus orang yang melayaninya!" jawab Grace dengan nada agak kesal.
"Kalian itu adalah adik beradik kenapa tidak bisa akur?"
"Mama selalu saja membelanya, cuma tahu menyalahkan aku saja. padahal aku juga anakmu. kenapa selalu meratukan dia? walau kariernya sudah mulai bagus tapi kenapa dia tidak pernah membantu biaya kita ataupun mama saja? setiap kali pulang aku yang harus melayani dia padahal aku bekerja seharian di luar. setelah pulang ke rumah tidak ada makanan yang kalian sisakan untukku. dan hanya tahu ingin aku melakukan banyak hal untuk kalian," jawab Grace dengan sangking kesalnya.
"Grace...."
"Aku tidak mau tahu lagi, kalau dia tinggal di sini gunakan saja uangnya untuk membeli makanannya. jangan hanya tahu menyuruhku siapkan semua untuk dia!" jawab Grace yang kemudian melangkah pergi.
"Anak ini...benar-benar keras kepala," gumam Anita.
"Lebih baik aku cepat keluar dari pada melihat mereka, membosankan!" ketus Grace yang berjalan menuju ke tempat kerjanya.
Di sisi lain Vic sedang melakukan pertemuan dengan sekelompok mafia yang berasal dari VIETNAM. pertemuan itu di salah satu gedung di tingkat tujuh belas.
"Tuan Caprio, barang kita masih di dalam perjalanan, dalam dua hari akan tiba," ujar Abien.
"Setelah barang tiba aku akan membayar sisanya, karena aku masih ingin periksa barangnya. kalau saja ada kekurangan aku tidak akan membayar sisanya ataupun kedapatan barang palsu aku akan menghentikan kerja sama kita!" jawab Vic dengan tegas.
"Tuan Andrianez, percayalah padaku, barangku tidak akan mengecewakan kalian!" ucap Abien dengan yakin.
"Aku harus melihat barang dulu baru bisa percaya," kata Vic.
"Ha ha ha, ternyata memang pebisnis yang berpengalaman, senang bisa bekerja sama dengan seorang yang tegas," kata Abien.
"Kita di bidang yang sama, tentu saja Anda juga sama denganku, kita menjalani bisnis gelap. dan harus saling percaya. kalau barangmu bagus aku akan selalu berbisnis denganmu. tapi kalau aku kecewa maka aku tidak akan menghubungimu lagi!" ucap Vic.
"Tuan Andrianez, baiklah! setelah barangnya tiba Anda bisa periksa sendiri. aku yakin Anda pasti puas," ujar Abien.
Setelah setengah jam kemudian Vic meninggalkan gedung dan menuju ke parkiran mobil yang dibawah tanah. saat ia dan Will ingin menghampiri mobilnya tiba-tiba saja Vic menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Bos?" tanya Will.
"Terlalu sepi, ada yang mengintai. perhatikan dua mobil di sebelah kiri dan tiga mobil di sebelah kanan!" jawab Vic yang melangkah dengan perlahan sambil memasukan tangannya ke dalam jas karena bersiap ingin mengeluarkan pistolnya.
Vic yang selalu berwaspada begitu mudahnya ia bisa merasakan keanehan di sekitarnya. ia melangkah dengan seperti biasa dan kemudian langsung melepaskan tembakan ke arah kanan, sementara Will melepaskan tembakan ke arah kiri.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan serentak yang dilakukan oleh Vic dan Will.
Prang...
__ADS_1
Pecahan kaca mobil akibat terkena peluru sehingga menembus kepala orang yang di dalam mobil.
Mereka yang ditembak oleh Vic sebagian masih hidup langsung keluar dari mobil dan menembak ke arah Vic dan Will.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan serentak dari mereka yang tidak mengenai Vic dan Will. mereka berdua langsung berlindung di belakang mobil yang ada di sekitaran sana.
Tujuh musuh mereka maju sambil melepaskan tembakan tanpa berhenti.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan mereka memecahkan lampu dan kaca mobil. serta merusakan beberapa yang parkir di sana.
Vic dan Will menjauh dari musuh mereka dan mencari kesempatan untuk membalas tembakan.
Dor...
Prang...
Dor...
Prang...
Dor...
Prang...
Dor...
Prang...
Dor...
Prang...
Saat mereka sedang fokus menembak, Vic langsung muncul dari belakang mereka dan melepaskan tembakan ke arah musuhnya.
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
__ADS_1
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Semua tembakan dari Vic menewaskan musuhnya hingga tak tersisa.
"Bos, siapa mereka?" tanya Will.
"Kelompok Ghost, selama ini mereka bermusuhan dengan ku, karena semua pelanggannya telah memihak padaku," jawab Vic yang menyimpan kembali pistolnya.
"Bagaimana dengan mereka?"
"Biarkan saja!" jawab Vic.
Perjalanan.
"Bos, apakah kita tidak membalas saja?" tanya Will yang sedang menyetir.
"Tidak perlu! lebih baik mereka yang mencari kita, dari pada kita yang mencari mereka," jawab Vic dengan tenang.
"Baik, Bos," jawab Will.
Di sisi lain Anita sedang dalam perjalanan pulang dihadang oleh beberapa pria asing.
"Kalian siapa?" tanya Anita dengan cemas.
"Kelihatannya wanita tua ini banyak berhutang dengan orang sehingga tidak mengenal kita lagi!" ujar salah satu pria itu.
"Aku tidak berhutang dengan kalian," jawab Anita yang memundurkan langkahnya.
"Jangan pura-pura tidak ingat, wanita tua! hutang tetap hutang yang harus dibayar. kalau tidak sanggup bayar maka ganti saja dengan jarimu."
"A-apa, jariku? a-aku akan bayar. cari saja putriku dia akan melunasinya. aku akan memberi kalian alamat tempat kerjanya!" jawab Anita yang ketakutan.
Salah satu pria itu mengeluarkan pisau, sementara dua temannya menahan tangan Anita dari belakang.
"Apa yang kalian ingin lakukan?" tanya Anita yang ketakutan.
"Potong jarimu!" jawab pria itu.
"Jangan! jangan! putri aku akan membayarnya. dia akan melunasi hutangku. percayalah padaku!" mohon Anita sambil menangis.
"Tahan dua tangannya!"
Dua pria yang menahan Anita menekan wanita itu ke lantai dan memegang erat tangannya, kini telapak tangannya ditekan oleh mereka agar bisa dipotong lima jarinya.
__ADS_1