Jadilah Wanitaku

Jadilah Wanitaku
Lizabert Ingin Mendekati Vic


__ADS_3

"Tolong aku...jangan memotong jariku, putriku akan melunasinya. dia pasti akan membayarnya. kalau kalian tidak percaya bisa hubungi dia. aku akan memberikan nomor handphonenya," tangisan Anita yang ketakutan.


"Kelihatannya kau adalah ibu yang luar biasa, hobi berjudi dan putrimu yang membayarnya. berapa orang putrimu?" tanya pria yang memegang pisau itu.


"Aku...," jawab Anita yang terhenti.


"Jawab!" titah pria dengan ketus.


"Aku tidak boleh memberitahu tentang Lizabert, nanti mereka pasti akan mencarinya," batin Anita.


"Satu...hanya satu putriku, namanya Grace Florencia. dia akan membantu melunasi hutangku," jawab Anita.


"Dasar tidak tahu diri! sekarang aku bertanya padamu, apa yang akan kau pilih? serahkan putrimu atau potong jarimu?"


"Jangan potong jariku! aku mohon padamu!" pinta Anita yang ketakutan. dirinya tidak bisa bangun karena ditekan oleh dua pria itu.


"Lalu, apakah kau ingin menyerahkan putrimu untuk melunasi hutangmu?"


"Tidak mungkin aku serahkan putriku sendiri, mereka adalah pemabuk dan juga penjudi, kalau serahkan Grace pada mereka, gadis itu pasti hancur. tapi kalau aku tidak melakukannya maka aku akan kehilangan jariku," batin Anita.


"Aku...aku akan serahkan putriku, sekarang...seharusnya sekarang dia bekerja di toko buku. kalian bisa menjemputnyan di sana," jawab Anita.


"Ibu yang luar biasa, berjudi dan berhutang keliling pinggang dan memilih mengorbankan putri sendiri. aku mendapat info bahwa dirimu memiliki dua orang putri. kenapa kau merahasiakannya?"


"Ti-tidak, dia bukan putriku dia hanya keponakanku saja, jangan melibatkan dia. Grace Florencia adalah putriku satu-satunya," tangisan Anita.


"Oh...ternyata begitu, kau hanya memiliki seorang putri dan keponakan. mungkin saja kalau aku menjual dua gadis itu maka hutangku akan terlunaskan."


"Jangan menyentuhnya! dia tidak tahu apa-apa!" pinta Anita.


"Kau sangat mengutamakan keponakanmu dibandingkan dengan putrimu."


"Tuan, lepaskan aku! tolong jangan potong jariku!" pinta Anita yang ketakutan.


"Wanita tua sepertimu seharusnya menjalani hidup dengan baik, tapi kau malah menyusahkan putrimu!" bentak pria itu yang memotong jari kelingking sebelah kanan Anita.


Krek.


"Aarrggh...," teriakan Anita yang kesakitan.


Krek...


"Aarggh...," jeritan Anita yang menangis dengan histeris.


Dua jari kelingking Anita dipotong oleh penagih hutang itu.

__ADS_1


"Jangan sampai aku melihatmu lagi, kalau kau muncul lagi aku akan memotong sisa jarimu itu," kecam mereka.


Setelah selesai mereka bertiga meninggalkan wanita itu di sana. Anita harus menahan sakit akibat dua jarinya yang telah dipotong. tangannya mengeluarkan darah yang banyak. ia berusaha bangkit dan berjalan menuju ke rumahnya. jarak tempat tinggalnya tidaklah begitu jauh.


"Aargghh...sakit sekali!" rintihan Anita sambil menangis.


Anita yang memaksakan diri memasuki rumahnya dengan darahnya berserakan di lantai.


Klek..


"Lizabert," suara panggilan Anita yang melangkah masuk ke dalam.


"Ma, ada apa denganmu?" tanya


Lizabert yang menghampiri ibunya.


"Jariku dipotong! cepat bawa aku ke rumah sakit!" pinta Anita yang sedang kesakitan..


"Ini pasti karena Grace tidak membayar hutangmu, kan? kalau tidak, mana mungkin mereka melakukan seperti ini," ketus Lizabert yang memapah ibunya.


Mansion Vic.


Tiga penagih yang memotong jari Anita telah kembali ke menghadap bos mereka.


"Bos," sapa mereka dengan hormat.


"Sesuai perintah dari bos, dua jari kelingking wanita itu sudah kami potong. dan sekarang putri pertamanya mengantar dia ke rumah sakit," jawab anggotanya.


"Rumah sakit di mana?" tanya Vic.


"Di pinggir jalan besar dekat seberang warung makan," jawab anggotanya.


Setelah satu jam kemudian


Lizabert dan Grace sedang berdebat karena kejadian yang menimpa Anita.


"Kalau bukan karena kamu tidak membayar mereka, mama tidak akan terjadi seperti ini. semua ini salahmu," bentak Lizabert.


"Oh...semuanya salahku ya? mama berjudi dan berhutang sehingga aku yang harus melunasinya setiap kali, aku masih dianggap salah? bagaimana denganmu yang selama ini tidak ingin bantu sama sekali, kau hanya diam dan pura-pura tidak tahu," ketus Grace dengan kesal.


"Kau...."


"Kenapa, tidak puas? apakah yang ku katakan semua adalah benar?" ketus Grace.


Sesaat kemudian Anita keluar dari ruang rawat.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian? suara kalian berdua terdengar hingga ke dalam ruangan," ujar Anita.


"Tanya saja pada putri kesayanganmu!" jawab Grace.


"Grace, Lizabert adalah kakakmu, kamu harus tahu sopan santun, cepat minta maaf!" tegur Anita pada putri bungsunya.


"Memangnya salahku apa, kenapa harus minta maaf dengan ratu egois ini?" tanya Grace dengan kesal.


"Jangan berkata seperti itu dengan kakakmu!" ujar Anita.


"Ma, kalau bukan karena dia tidak membayar hutangmu, maka jarimu tidak akan dipotong," kata Lizabert.


"Jangan selalu menyalahkan aku! mama yang suka berjudi dan tidak sadar diri. sedangkan dirimu juga tidak mau membantu bayar hutang. semuanya hanya tahu bergantung padaku. dan sekarang kalian hanya tahu menyalahkan aku," ketus Grace.


"Ternyata kamu ada di sini juga," seru Vic yang muncul dengan tiba-tiba. pria itu berjalan menghampiri Grace. sementara Lizabert terpesona saat melihat pria itu.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Grace.


"Aku hanya ingin datang menemui seseorang, tidak ku sangka kamu ada di sini juga," jawab Vic dengan senyum.


"Grace, siapa tuan ini?" tanya Anita.


"Dia...," jawab Grace yang terhenti.


"Namaku adalah Vic Andrianez, Grace adalah temanku," jawab Vic dengan senyum.


"Aku adalah kakak Grace, namaku adalah Lizabert," ujarnya yang maju dan ingin bersalaman dengan Vic.


Vic mengabaikan Lizabert dan memandang Grace yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa kamu ada di sini? apakah kamu baik-baik saja?" tanya Vic.


"Aku baik-baik saja, jari mamaku yang--" jawab Grace yang dipotong oleh Lizabert.


"Jari mamaku bengkak, oleh sebab itu kami ada di sini. Tuan, karena kamu adalah teman Grace, bagaimana kalau kita makan malam bersama!" ajak Elizabert


"Sangat pantang melihat pria tampan dan kaya, kalau melihat maka penyakit mengodanya kambuh lagi," batin Grace.


"Aku sedang bertanya pada Grace, apakah kamu bisa jangan ikut campur!" ujar Vic dengan tegas pada Lizabert.


"Sudah malam,aku ingin pulang," kata Grace yang melangkah pergi.


"Aku akan mengantarmu!" kata Vic yang menahan lengan gadis itu.


"Tuan, apakah kami bisa menumpang mobilmu?" tanya Lizabert yang ingin mencari kesempatan mendekati pria itu.

__ADS_1


"Mobilku tidak muat, kalian panggil taksi saja dan aku akan membayar ongkos taksinya," jawab Vic dengan bersikap dingin dan melangkah pergi bersama Vic.


__ADS_2