
Semua anggota Vic melepaskan semua peti yang berisi obat terlarang ke lautan besar. di malam itu kelompok ghost mendatangi kapal Vic dengan berniat ingin merampok dan membunuh.
"Tembak!" perintah Vic yang melepaskan tembakan.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan beruntun yang dilakukan oleh Vic dan anggotanya. mereka menembak sambil maju berhadapan dengan musuhnya.
Anggota kelompok ghost terkena tembakan sebagian.
"Aarrgghhh...," jeritan mereka yang ditembus oleh peluru dan tumbang satu-persatu.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan demi tembakan yang dilakukan oleh dua kelompok di malam itu.
"Aarrggh...," jeritan dua kelompok yang terkena tembakan.
"Serahkan barang kalian, kalau tidak ingin mati!" kecam musuh yang sambil melepaskan tembakan dan berlindung di belakang kontainer.
"Jangan bermimpi! keluar dan hadapi aku!" bentak Vic yang dengan ganasnya melepaskan tembakan bersama Will dan lainnya.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan demi tembakan menembus kontainer yang di mana mereka sedang berlindung di sana.
"Aarrgghh...," jeritan musuhnya yang ditembus oleh peluru dari kelompok Vic.
Suara tembakan mengema di pelabuhan itu, dua kelompok besar saling menembak dengan ganas dan tanpa henti.
Pihak kelompok ghost mencari kesempatan menembak akan tetapi mereka hanya bisa berlindung di saat kelompok Vic yang maju mendekati posisi yang di mana mereka sedang berdiri.
"Bunuh mereka semua!"teriak Vic yang menembak ke arah drum minyak yang ada di pelabuhan sana begitu juga dengan anggotanya.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan beruntun menembus drum hingga bocor dan minyak bertumpahan di sana dan tidak lama kemudian terjadinya ledakan besar.
Duarrr....
Duarrr....
Duarrr....
Ledakan besar terjadi sejumlah drum yang ditembak mereka.
"Aarghhh...."
__ADS_1
"Aarghhh...."
"Aarghhh...."
"Aarghhh...."
Jeritan musuh yang terkena ledakan tersebut, ledakan yang besar menewaskan sekitar tiga puluhan anggota kelompok Ghost.
"Jangan berharap bisa merebut barang milikku," bentak Vic sambil melepaskan tembakan.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan Vic dan anggotanya ke arah drum yang semuanya terisi minyak sehingga terjadi ledakan besar-besaran
Duarrr....
Duarrr....
Duarrr....
Ledakan tersebut menewaskan banyak musuhnya dan sebagian ada yang terluka parah.
"Aarrghh...."
"Aarghhh...."
"Aarghhh...."
"Aarghhh...."
"Aarghhh...."
Ledakan demi ledakan yang terjadi berhasil menewaskan kelompok Ghost di malam itu. akan tetapi kontainer yang berisi barang ilegal ikut hancur karena ledakan tersebut.
"Bagaimana barang kita? Bos, kejadian ini telah menghancurkan barang kita yang akan dikirim ke luar negeri," kata Will.
"Kerugian ini tidak seberapa bagiku dibandingkan wilayahku diterobos oleh mereka. siapapun yang masuk ke wilayah kita hancurkan saja mereka. dan jangan pernah membiarkan mereka lolos," jawab Vic.
"Baik, Bos," jawab Will.
"Bos, mereka semua sudah mati, tidak ada lagi yang masih hidup," ujar salah satu anggotanya yang datang melapor.
"Bersihkan tempat ini!" perintah Vic.
"Baik, Bos," jawab anggotanya dengan patuh.
"Kirim bahan ledakan ke markas kelompok Ghost, pastikan bisa menghancurkan mereka dalam beberapa saat!" perintah Vic.
"Baik, Bos segera kami lakukan!" jawab anggotanya.
"Ray, kirim barang kita sekarag juga, jangan lengah!" perintah Vic yang melangkah pergi.
"Baik Bos," jawab Ray dengan patuh.
"Ayo...semua bersiap dan keluarkan barang kita dari air!" perintah Ray pada rekannya.
Anggota Vic yang berada di dalam laut sedang melindungi barang-barang yang mereka lempar tadi. selama ini Vic sangat berhati-hati saat pemasukan atau pengeluaran barang. ia selalu mempersiapkan seluruh anggotanya untuk berantisipasi.
Anggota yang bertugas di pelabuhan harus membersihkan semua jasad musuh yang berserakan di sana. mereka melemparnya semua ke lautan untuk menghilangkan bukti.
Keesokan harinya.
Tempat tinggal Grace.
Grace mengenakan seragam kerja dengan begitu rapi, akan tetapi ia masih kesulitan dengan sepatu hak tinggi.
__ADS_1
Setelah selesai berdandan ia pun keluar dari gudang tempat tidurnya. saat itu Anita dan Lizabert sedang sarapan.
"Cih...hanya pekerja biasa saja harus mengenakan pakaian kantoran, apakah kamu tidak berlebihan," sindir Lizabert.
"Iya...iya...anggap saja aku berlebihan, dan kalau dibandingkan denganmu aku masih kalah jauh, selalu saja bersifat seperti ratu," ketus Grace.
"Ma, mana sarapanku?" tanya Grace.
"Kamu sudah dewasa, buat saja sendiri sana!" jawab Anita sambil makan roti bakar.
"Mama, lain kali kalau ada yang minta aku bayarkan hutangmu lagi, aku akan menyuruh mereka memotong semua jarimu!" jawab Grace.
"Apa yang kau katakan? hanya karena sarapan saja kau menyumpahiku," kata Anita.
"Anak dan ibu sama saja, yang satu suka berjudi yang satu pemalas, kalian memang cocok jadi ibu dan anak," ketus Grace.
"Hei, hei, kamu jangan lupa kamu juga putriku," ujar Anita.
"Tapi di matamu aku seperti orang luar, saat butuh uang baru ingat denganku, tapi saat tidak butuh kau mengabaikanku. jadi, untuk apa aku jadi anakmu kalau hanya dilahirkan sekadar untuk membayar hutangmu," jawab Grace dengan kesal.
"Beli saja makan di luar sana, dan jangan lupa belikan untukku juga," ucap Lizabert.
"Jangan berharap aku mau belikan, beli saja sendiri sana," ketus Grace.
"Sudah jangan ribut lagi! cepat buatkan jus untuk kakakmu!" perintah Anita.
"Ma, jangan terlalu memanjakan anakmu ini, ke depannya jangan berharap dia akan merawatmu ketika kamu sakit parah," ketus Grace dengan kesal.
"Apa maksudmu sakit parah?" tanya Anita.
"Ma, jangan lupa kalau mama suka minum alkohol dan menghisap rokok, seiring usia semakin berlanjut, mama akan di serang sakit jantung, stroke, darah tinggi, diabetes, lumpuh dan yang paling parah adalah gangguan jiwa," jawab Grace yang ceplas ceplos.
"Jangan bicara sembarangan, mana mungkin bisa mengidap begitu banyak penyakit," ucap Anita.
"Mama, lihat saja ubanmu semakin banyak dan kulitmu semakin banyak kerutannya, efek wanita yang suka berjudi selain kehilangan jarinya dia juga akan cepat tua dan amnesia. suatu saat mama juga akan melupakan kami dan mungkin saja mama akan mengira paman sebelah adalah suamimu," kata Grace dengan asal-asalan.
"Kamu belum puas bicara sembarangan?" bentak Lizabert.
"Kakak, kamu memiliki wajah yang cantik, tapi harus menjaga sikap burukmu itu, lihatlah sifatmu ini sama sekali tidak bisa buat apa-apa. lama-lama tidak akan ada pria yang mau denganmu," jawab Grace.
"Lebih baik kamu jaga saja mulutmu, aku tahu aku lebih cantik darimu oleh sebab itu kau dengki denganku, kan," sindir Lizabert.
"Dengki denganmu? untuk apa aku dengki denganmu? masak sayur saja tidak bisa, potong ikan saja juga tidak bisa, apanya yang cantik?" ketus Grace yang tidak mau kalah.
"Sudah! sudah! kalian ingin bertengkar sampai kapan. Grace, pergi buat roti bakar sana!" ujar Anita.
"Aku tidak mau! suruh saja si ratu pemalas ini yang melakukannya," jawab Grace dengan kesal.
Tuk...tuk...tuk..
Ketukan pintu yang dilakukan oleh seseorang di luar sana.
"Jangan ribut, kami sedang sibuk!" sahut Grace yang sedang kesal.
"Pergi lihat siapa dulu!" ujar Anita.
Tuk...tuk...tuk...
Suara ketukan pintu dari luar
"Di dalam tidak ada orang, jangan ketuk lagi!" teriak Grace.
"Hei, apa kita bukan orang?" tanya Lizabert dengan kesal.
"Kamu dan mama adalah makhluk tak kasat mata yang selalu menjengkelkan," jawab Grace.
"Kau...," ucap Lizabert dengan terhenti.
Tuk...tuk...tuk...
"Sudah ku bilang tidak ada orang, apakah kamu tidak mengerti bahasaku...ha?" teriak Grace yang tanpa membuka pintu.
__ADS_1
"Pergi buka pintu dulu sana!" titah Anita
"Mama saja yang buka, mungkin mereka adalah penagih hutang yang datang ingin mengambil ususmu," jawab Grace.