
"Apa salahnya kalau aku membawa putri kita bertemu denganmu? kau pergi begitu saja di saat itu, kau sangat tega dan kejam. apakah kamu tidak takut akan karma berlaku padamu," ketus Anita.
"Tidak perlu kamu basa basi tentang masa lalu, seharusnya kau tahu kenapa aku pergi di saat itu? apa perlu aku mengungkitnya?" bentak Harry.
"Kau...," ucap Anita yang terhenti.
"Pa, tolonglah jangan salahkan mama lagi walau apapun yang terjadi, kita adalah sekeluarga. aku mohon pada papa kembalilah bersama kami!" pinta Elizabert.
"Untuk apa aku kembali lagi? aku yang sekarang sudah memiliki keluarga sendiri dan sangat bahagia, jadi aku tidak butuh keluarga seperti kalian," ketus Harry dengan terus terang.
"Angelina, mari kita pergi! tidak usah pedulikan mereka!" ajak Harry.
"Baik," jawab istrinya yang masuk ke dalam mobil.
Anita yang melihat suaminya ingin pergi, ia langsung menghadang dari depannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Harry dengan nada keras.
"Walau kau tidak memandangku, dirimu harus memandang putri kita. jangan egois dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. bagaimanapun dia adalah putrimu," jawab Anita.
"Sejak aku pergi dari rumah, semua urusan kalian tidak ada hubungan lagi denganku," ketus Harry yang mendorong Anita ke samping. setelah itu Harry masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.
"Harry, jangan mengira kau bisa pergi begitu saja, dia adalah putrimu. kau tidak boleh lepas tanggung jawab...," teriak Anita.
Tidak lama kemudian mobil Harry pun meninggalkan tempat itu. Anita hanya bisa menahan emosi karena diabaikan begitu saja oleh suaminya itu.
"Ma, kenapa papa tidak peduli padaku?" tanya Lizabert yang kecewa.
"Mu-mungkin saja dia sudah dihasut oleh wanita itu, sehingga dia tidak mengakuimu lagi," jawab Anita dengan alasan
__ADS_1
"Siapa memangnya wanita itu...ha? berani sekali dia menghasut papaku!" ketus Lizabert.
"Jangan lepaskan kesempatan mendekati papamu, agar hartanya tidak jatuh ke tangan wanita itu!"
"Ma, jangan khawatir! sekarang aku adalah putri orang kaya, tentu saja aku tidak akan tinggal diam," jawab Lizabert.
"Dia sangat keterlaluan, bisanya dia tidak peduli pada kami," batin Anita.
Perjalanan.
"Harry, apakah Anita adalah istrimu?" tanya Angelina yang duduk di samping suaminya.
"Benar, dia adalah wanita yang ku nikahi di saat itu," jawab Harry.
"Kelihatannya putrimu sudah dewasa, dia sangat rindu padamu. apakah kamu tidak berencana menemui dia?"
"Angelina, mereka berdua bukan urusan kita, biarkan saja! kalau bukan karena melihat penampilan kita mana mungkin Anita bisa muncul di hadapanku. semua ini hanya karena uang," ujar Harry.
"Biarkan mereka! aku tidak ingin ikut campur urusan mereka!" jawab Harry.
"Sudah! jangan marah lagi! tadi aku sudah pesan menu di restoran yang tidak jauh dari sini. kita makan di sana saja siang ini!"
"Hm...baiklah, aku tidak ingin memikirkan dua wanita itu lagi, hanya membuat aku sakit kepala saja," jawab Harry.
Di sisi lain Vic dan Grace sedang berjalan menuju ke sebuah restoran yang tidak jauh jaraknya dengan mereka. Grace yang melangkah cepat sambil melihat Vic yang sedang berjalan di belakangnya.
"Apakah restoran itu yang kamu pesan?" tanya Grace yang sambil menunjuk ke arah restoran itu.
"Iya, hati-hati dengan langkahmu! lihat depan kalau kamu sedang berjalan!" jawab Vic dengan senyum.
__ADS_1
Di saat yang sama sebuah mobil berhenti di depan restoran itu, Grace yang tidak memperhatikan mobil itu ia langsung berpaling ke depan dengan tidak sengaja ia menabrak Harry yang keluar dari mobil tersebut
Brugh...
"Aauhhkk...," rintihan Grace yang langsung terkapar.
"Grace...," jerit Vic yang langsung menghampiri gadis itu.
"Nona, kamu tidak apa-apa?" tanya Harry.
"Grace, apakah kamu terluka?" tanya Vic.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Grace.
"Tuan Andrianez?" sapa Harry yang melihat Vic.
"Tuan Jhonsters," balas Vic yang memapah gadis itu.
"Tidak ku sangka kita bisa bertemu di sini," ujar Harry dengan senyum.
"Iya, kapan Anda pulang?" tanya Vic.
"Baru semalam, dan nona ini adalah?" tanya Harry dengan ramah.
"Namanya adalah Grace, calon istriku," jawab Vic dengan senyum.
"Grace, tuan Jhonsters adalah rekan bisnisku," kata Vic sambil memeluk pinggang Grace dengan tangan kirinya.
"Tuan Jhonsters, apa kabar," sapa Grace dengan senyum.
__ADS_1
"Panggil saja saya paman! dan ini adalah istri saya," jawab Harry.
"Nona, panggil saja saya bibi, kami sudah saling kenal dengan tuan Andrianez," ujar Angelina.