Jadilah Wanitaku

Jadilah Wanitaku
Pertemuan Anita Dan Suaminya


__ADS_3

Lizabert menganti penampilannya seperti wanita karier, pakaiannya yang rapi terlihat sangat dewasa dan elegan.


"Ma, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Lizabert.


"Penampilanmu cukup rapi, hanya saja apakah kamu bisa merapikan tempat tidurmu!" jawab Anita yang melihat kasur putrinya yang tidak rapi. bantal dan selimutnya berserakan di lantai.


"Mama, hanya perkerjaan sekecil ini untuk apa dipikirkan, mama kan bisa merapikan tempat tidurku," ujar Lizabert.


"Kamu ini sudah dewasa, apakah kamu tidak bisa melakukan hal sekecil ini?"


"Mama juga jangan lupa! setelah bocah itu pergi semua biaya di sini aku yang bayar, dari makan mama dan listrik. apa salahnya mama merapikan tempat tidurku dan mencuci pakaianku!"jawab Lizabert.


"Dasar anak durhaka, selama ini kerjaan rumah Grace yang melakukannya. dia bahkan tidak semalas kamu," ketus Anita.


"Jangan bandingkan aku dengan dia! aku adalah orang yang berpendidikan tinggi. memang tidak wajar mengerjakan pekerjaan ini," jawab Lizabert.


"Kalau kamu masih tidak berubah, kelak kalau kamu menikah kamu tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. dan di saat itu kau pasti ditertawai oleh keluarga suamimu!"


"Ma, yang menjadi suamiku adalah pria kaya, jadi aku tidak usah lagi melakukan pekerjaan rumah dengan tanganku sendiri."


"Jangan bermimpi di siang hari! sudah...kamu harus pergi menjumpai ayahmu!"


"Dengan alasan apa aku bertemu dengannya?"


"Mama akan langsung membawamu menjumpai dia!" jawab Anita.


Setelah ganti pakaian, Anita dan Lizabert menuju ke hotel yang di mana suaminya yang sedang berada.


"Ma, apakah ini adalah hotel papa?" tanya Lizabert yang matanya terbelalak.

__ADS_1


"Iya, hotel ini adalah milik papamu, dia telah menikahi wanita lain dan hidup mewah. kamu harus cari cara agar bisa mengambil hatinya," jawab Anita.


"Apakah kita akan masuk begitu saja?" tanya Lizabert


"Kamu saja yang masuk, tapi kita harus menunggu dia keluar dan di saat itu...," jawab Anita yang kemudian berbisik di telinga putrinya.


"Aku mengerti!" jawab Lizabert.


Dua wanita itu menunggu di luar hotel, mereka mencari kesempatan untuk mendekati Harry Jhonsters.


Setelah satu jam kemudian Harry Jhonsters dan istrinya keluar dari hotel dan ingin menuju ke mobilnya, Lizabert yang melihat mereka berdua ia langsung berjalan ke arah sasarannya dengan sengaja menabrak pria tua itu.


Brugh...


"Aargghh...," jeritan Lizabert yang pura-pura tersungkur.


"Nona, kamu tidak apa-apa?" tanya istri Harry Jhonsters.


"Nona, apa kamu terluka?" tanya wanita itu dengan ramah.


"Tidak terluka," jawab Lizabert dengan senyum.


"Nona, kalau kamu tidak apa-apa, maka kami harus pergi!" ucap Harry dengan bersikap dingin.


"Angelina, mari kita pergi!" ajak Harry.


"Sebentar!" seru Anita yang menghampiri Harry.


Harry yang melihat wanita itu ia langsung terdiam.

__ADS_1


"Tidak ku sangka kita bisa bertemu lagi setelah kau pergi begitu lama," seru Anita.


"Harry, siapa dia?" tanya Angelina.


Harry hanya diam dan tidak ingin memandang ke Anita sama sekali.


"Namaku adalah Anita dan aku adalah istri yang dia tinggalkan dulu," ungkap Anita dengan sengaja.


"Harry, apakah yang dia katakan adalah benar?" tanya istrinya.


"Hm...iya, tapi dulu," jawab Harry dengan dingin.


"Setelah pergi begitu lama kini sudah menikah lagi dengan wanita lain, bahkan putri sendiri saja kau sudah tidak mengenalnya," ucap Anita.


"Apa maksudmu putri sendiri?" tanya Harry.


"Gadis ini adalah putri kita, Lizabert," jawab Anita.


"Ma, apakah benar dia adalah papa yang aku rindukan selama ini?" tanya Lizabert yang matanya berkaca-kaca.


"Harry, apakah kamu tahu, selama ini putri kita sangat merindukanmu, dia selalu saja menunggu kepulanganmu. apakah kamu tidak merindukan dia?" tanya Anita.


"Harry, putrimu sudah dewasa," ucap Angelina.


"Putriku? apakah kamu ingin mengunakan cara ini untuk meminta uang denganku?" tanya Harry dengan ketus.


"Kau sangat tega menuduhku seperti ini, aku membesarkan putrimu dan kau malah bicara seperti itu," bentak Anita dengan kesal.


"Pa, kenapa papa tinggalkan kami? selama ini aku berharap bisa bertemu dengan papa. tapi tidak ku sangka papa menikah lagi di luar dan melupakan kami," ujar Lizabert dengan pura-pura menangis.

__ADS_1


"Anak dan ibu sama saja! sangat pintar berakting, dari sejak awal kalian sudah bekerja sama, pura-pura menabrakku hanya demi ingin menarik simpatiku," ketus Harry.


__ADS_2