Jadilah Wanitaku

Jadilah Wanitaku
Baku Tembak


__ADS_3

"Kalau saja kau sanggup pergilah cari cara membuat dia menerimamu!" ketus Anita.


"Mama, aku yakin papa tidak akan mengakui kita pasti karenamu juga, kan? tidak mungkin dia pergi begitu saja," kata Lizabert.


"Kamu tidak seharusnya bicara seperti itu denganku, bagaimanapun mamamu ini yang membesarkanmu dan juga menyekolahkanmu, kalau tanpaku apa mungkin kau bisa besar sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, semuanya sendiri," bentak Anita dengan nada tinggi.


"Bahkan hingga saat ini kau hanya pintar bicara tanpa hasil, sifatmu ini sangat mirip pria tidak berguna itu," ketus Anita yang kesal karena mengingat Dicky.


"Karena aku adalah putrinya, tentu saja mirip dengannya. suatu saat aku pasti akan menjadi pengurus di hotel itu," balas Lizabert.


"Oh...menjadi pengurus? apa kau sedang bermimpi...ha? dia saja tidak ingin mengenalmu mana mungkin dia menjadikanmu sebagai pengurus," bentak Anita yang masuk ke dalam kamarnya.


"Setelah aku menjadi pewaris hotel itu, kau pasti tunduk padaku, aku akan menjadi lebih kaya dari menantumu itu," ketus Lizabert dengan kesal.


Mansion Andrianez.


Di malam itu Grace ketiduran saat menonton TV bersama Vic di ruangan tengah, gadis itu tidur di dalam pelukan calon suaminya. Vic tersenyum saat melihat pujaannya yang begitu pulas di dalam pelukannya.


"Beberapa hari ini banyak yang harus disiapkan, dari mengurus acara pernikahan dan juga yang lain, dia pasti sangat lelah sehingga tidur begitu saja," batin Vic.


Sesaat kemudian Will melangkah ke ruangan tengah dan ingin menyapa atasannya, Vic langsung memberi kode agar asistennya itu tidak mengeluarkan suara.


Will yang sudah paham perintah bosnya ia pun menuju ke ruang baca milik bosnya itu. sementara Vic mengendong gadis itu dengan perlahan menuju ke kamarnya.


Malam itu Vic menidurkan calon istrinya ke atas kasur miliknya.


"Selamat malam," ucap Vic yang mengecup dahi gadis itu.


Tidak lama kemudian dirinya menjumpai Will yang sedang menunggunya.


"Bagaimana?" tanya Vic yang melangkah masuk ke dalan ruangan itu dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Bos, terdapat beberapa kapal asing yang menyerang kapal kita, kelihatannya niat mereka ingin merampok," jawab Will.


"Merampok juga harus melihat siapa pemilik barang itu, apakah belum ketahui siapa mereka?"


"Belum, Bos. Ray dan lainnya sedang berusaha melindungi barang kita, mereka sedang melepaskan ke lautan. anggota kita yang di lautan sudah bersiap di sana."


"Berangkat malam ini! aku ingin tahu siapa mereka!" perintah Vic yang bangkit dari tempat duduknya.


"Bos, apakah Anda ingin ke sana?"


"Siapkan kapal dan anggota, kita bunuh mereka malam ini juga!"


"Bagaimana dengan nona Grace?"


"Utuskan lebih banyak anggota mengawasi kediaman ini, dan tetap waspada walau terhadap semua pembantu di sini! panggil Dylan kembali sekarang juga!" perintah Vic yang mengisi peluru ke pistolnya.


"Baik, Bos," jawab Will dengan patuh.


Tidak lama kemudian Vic bersama Will menuju ke pelabuhan.


Beberapa anggota telah bergabung dan bersiap dengan senjata mereka masing-masing. di sisi lain kapal angkutan barang ilegal di serang oleh tiga kapal asing yang tidak tahu asal usul mereka.


Dor...


Dor...


Dor...


Tembakan yang terjadi di pertengahan laut besar itu.


"Tembak!" perintah Ray pada temannya.

__ADS_1


Dor...


Dor...


Dor...


Dor...


Dor...


Dor...


"Jumlah mereka lebih unggul, kelihatannya kita harus melompat," kata Stuart yang adalah anggotanya.


"Jangan mengalah sebelum mencoba, tembak saja!" teriak Ray sambil melepaskan tembakan.


Dor...


Dor...


Dor...


Tembakan yang dilakukan oleh pihak Ray.


"Tidak perlu membuang waktu dan tenaga, kami ada tiga kapal yang menantang kalian, serahkan barangnya dan kalian boleh pergi," teriak salah satu musuh mereka.


"Walau aku harus mati, aku tetap tidak akan memberikan apa yang kalian inginkan," ketus Ray sambil melepaskan tembakan.


Dor...


Dor...

__ADS_1


Dor...


"Aarggh...," jeritan lawan yang tertembak dan langsung jatuh ke air.


__ADS_2