
Tidak lama kemudian Vic melepaskan tembakan ke arah kapal musuh yang berniat ingin merampok barangnya.
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Tembakan demi tembakan yang dilakukan oleh Vic dan anggotanya menewaskan puluhan lawannya.
"Bunuh mereka semua!" perintah Vic yang sambil melepaskan tembakan begitu juga dengan anggotanya.
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
Satu persatu lawannya tewas dan langsung terjatuh ke laut.
Baku tembak terjadi di pertengahan lautan di malam itu. para perampok itu tewas hingga tak tersisa. serta kapal milik mereka juga diledakan oleh anggota Vic.
Setelah selesai Vic menaiki kapal yang memuat barangnya.
"Bos, maaf," ucap Ray dengan menunduk.
"Bukan salahmu, bagaimana dengan yang lain, apa ada yang terluka?"
__ADS_1
"Bos, kami semua baik-baik saja dan tidak ada yang terluka," jawab Ray.
"Barangnya juga aman, Bos," kata Ray.
"Naikkan barang itu!" perintah Vic.
"Siap, Bos," jawab Ray.
Keesokan harinya.
Mansion Andrianez.
Nada panggilan masuk ke handphone milik Grace.
Saat Grace membaca nama panggilan ia ragu untuk menjawabnya, kemudian ia meletakan handphonenya kembali ke atas meja.
"Kenapa menghubungiku lagi? pasti tidak ada hal yang baik," gumam Grace.
Nada panggilan berbunyi lagi untuk kedua kalinya. gadis itu yang merasa risih akhirnya ia pun menjawab panggilan tersebut.
"Hallo," sahut Grace dengan nada malas.
"Ada apa?"
"Apakah kamu tidak ingin pulang ke rumah melihat mama lagi? jangan lupa ini adalah keluargamu!"
"Kenapa, Ma? apakah penagih hutang mencarimu lagi sehingga mama masih ingat dengan anakmu ini?" tanya Grace dengan menyindir.
"Apa yang kamu katakan? jangan karena sudah hidup mewah maka dirimu sudah lupa dengan keluarga ini."
"Katakan saja ada apa?"
"Keluar dulu dan kita bertemu!"
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa? ada yang ingin mama katakan padamu!"
__ADS_1
"Tapi aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, aku tidak ada uang lagi untuk membantumu!"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? seakan-akan aku ini sering meminta denganmu!" ketus Anita
"Bukankah memang sudah sering meminta uang denganku untuk membayar hutang? kalau butuh uang cari saja kakak. dia pasti lebih banyak uang," kata Grace.
"Kau ini...sangat tidak tahu diri, karena sudah ingin menikah maka kau bersikap sombong."
"Ma, jangan salahkan aku tidak peduli padamu, aku tidak ingin dijual lagi olehmu. jual saja putri kesayanganmu itu!" kata Grace yang memutuskan panggilannya.
"Grace," suara panggilan Vic yang menghampiri gadis itu.
"Vic, kamu baru pulang? apakah kamu sedang sibuk? pagi-pagi kamu sudah keluar?" tanya Grace yang penasaran.
"Aku ada urusan sebentar, dan sudah selesai. siapa yang menghubungimu?"
"Mama ingin bertemu denganku dan aku menolaknya," jawab Grace yang kemudian duduk di sofa.
"Saat kita menikah, kita harus mengundang dia juga!"
"Untuk apa? dia dan Lizabert tidak menganggapku selama ini!"
"Grace, tidak peduli dia datang atau tidak biarkan saja! aku hanya mengutamakan pernikahan kita!"
"Kalau begitu kenapa kita masih harus mengundangnya?"
"Karena mereka adalah keluargamu," jawab Vic.
"Keluargaku? menyerahkanku kepada si penagih hutang, apakah masih layak disebut sebagai keluarga?"
"Grace, apakah kamu yakin tidak ingin mereka hadir?"
"Tidak perlu! di saat aku meninggalkan rumah itu, mereka bukan lagi keluargaku," jawab Grace.
"Baiklah, kalau ini adalah keputusanmu aku tidak akan memaksamu, aku hanya tidak ingin kamu merasa kekurangan," kata Vic yang duduk di samping calon istrinya.
"Kekurangan sudah kurasakan saat dulu, saat aku membutuhkan dia, dia tidak peduli sama sekali. dia tidak pernah ada untukku walau hanya sekali. dia hanya peduli dengan Lizabert," ujar Grace yang merasa kecewa.
__ADS_1
"Mulai hari ini kamu tidak akan kekurangan apapun, aku akan selalu ada untukmu," ucap Vic yang mengecup dahi gadis itu.
"Aku ingat dengan janjimu, kalau kamu mengingkarnya aku tidak akan memaafkanmu," kata Grace.