
Pagi ini Anna bangun pukul 5 seperti biasanya. Dia menjalani rutinitas paginya seperti biasa,seperti mandi dan memakai seragam. Setelah menyelesaikan rutinitasnya dia keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana sudah ada Brian yang menunggunya.
“selamat pagi.”sapa Anna pada Brian.
“pagi Anna. Hari ini kau pergi bersamaku atau sendiri?”tanya Brian.
“emm sepertinya sendiri Brian.”ujar Anna.
“baiklah. Tapi kau mempunyai hutang penjelasan tadi malam padaku. Kau ingat?”ucapnya seraya mengingatkan.
Anna menghela nafas mendengar Brian mengungkit hal tadi malam.
“yah aku ingat. Aku akan menjelaskan padamu. Oke.”ucap Anna sambil mengoleskan selai pada rotinya.
Brian melihat Anna “kau tidak makan nasimu?”tanya nya.
“tidak,aku ingin makan roti saja pagi ini.”
Merekapun menyelesaikan sarapan dengan hening hingga Anna memecahkan nya.
“apa mommy belum bangun.?”
“aku belum melihatnya pagi ini.”jawab Brian.
Anna pun pergi ke kamar ibunya untuk melihat kondisinya. Dia melihat ibunya sudah duduk di kursi roda sambil memandang jendela.
“mommy sudah bangun?kenapa tidak keluar.?”tanya Anna dengan lembut seraya menghampiri ibunya.
Anna mengecup pipi ibunya dengan sayang. Sambil berjongkok di hadapanya,Anna melihat jika mata sang mommy kosong. Hal yang paling dibenci olehnya adalah pandangan kosong mommy nya. Tubuhnya bernyawa tapi jiwanya kosong. Dan itu lebih menyakitkan.
Anna mencoba membuat mommy nya sadar akan dirinya yang berada dihadapanya.
“mom,lihat…” Anna meraih wajah tirus itu untuk melihat nya.
“anna ada disini mom. Mommy tidak perlu khawatir,tidak ada yang bisa menyakiti kita. Anna janji mom.”ucap Anna mencoba untuk tidak menangis didepan ibunya.
“baiklah. Anna pergi dulu. Anna berangkat mom,jaga diri mommy baik baik ya.”ucap Anna pamit pada ibunya.
Anna keluar dari kamar dan menghampiri Brian yang sudah menunggunya.
“ayo.”
Mereka berdua keluar dari rumah itu dan berjalan menuju kendaraan masing masing. Anna dengan mobil nya dan Brian dengan motornya.
***
Anna masuk ke kelasnya bersama Evelyn yang sudah menunggunya didepan gerbang sekolah.
“kau kemana saja kemarin? Kami bahkan mencarimu kemana mana Anna. Kau benar benar keterlaluan jika tak menghubungiku. Kau tidak tahu jika kami khawatir padamu?”gerutu Eve pada Anna. Dia kesal karena kemarin dirnya diabaikan oleh Anna.
“maafkan aku. Aku hanya lupa tidak memberitahu kalian. Tapi jangan khawatir, aku hanya bersama Xavier.”ucap Anna dengan menyesal.
Anna bisa merasakan jika Eve sangat menyayanginya. Mungkin Anna baru merasakan nya sekarang. Dan itu membuatnya menyesal karena terlambat menyadari nya.
“baiklah. Lupakan saja. Tapi ingat,apapun kau harus mengatakan padaku.!”ucap Eve dengan mentaap tajam Anna.
“oke boss!”ucap Anna dengan memberi hormat pada Eve yang langsung membuat mereka tertawa.
Bel masuk pun berbunyi dan pelajaran pun dimulai. Tapi Anna belum melihat Xavier sedari tadi.
Kemana anak itu?ishh kenapa aku harus khawatir?sudah lupakan!!
Saat guru masuk,sekitar 3 menit kemudian Xavier terlihat masuk ke kelas dengan nafas yang memburu.
"Maaf saem. Saya terlambat." Kata Xavier dengan menundukan wajahnya.
"Baiklah. Karena saya belum mengajar kau boleh masuk. Besok kau tidak boleh terlambat lagi Xavier." Ucap guru itu memaklumi.
"Terimakasih."
Anna tidak menatap ataupun melihat Xavier. Dia tidak ingin xavier tahu jika dirinya khawatir. Selama pelajaran berlangsung, Anna benar-benar tak menatap Xavier ataupun melirik sedikitpun. Berbeda dengan Xavier yang bahkan dari awal terus menatap Anna dengan pandangan yang berbeda.
"Xavier bisa kau fokus pada pelajaran saya?! " Kata guru itu membuat Xavier kaget.
"Ah maaf. "
Anna berbalik melihat Xavier yang tergagap karena ketahuan tidak fokus. Karena hal itu, membuat Anna dan Xavier saling bertatapan. Selang beberapa detik pandangan itu terputus karena Anna berbalik.
***
__ADS_1
Selepas pelajaran usai, Anna dan Eve beranjak dari kursinya dan akan pergi ke kantin. Tiba tiba ada salah satu siswa yang mengatakan jika Anna di panggil oleh kepala sekolah. Mendengar itu membuat Anna kesal karena harus berhadapan dengan wanita ular itu.
"Aku pergi dulu. Kau duluan saja. Aku akan menyusul. " Ucap Anna berlalu dari kelas.
Anna berjalan menyusuri lorong sekolah sendirian. Saat akn berbelok dirinya di hadang oleh Barbara dan geng nya. Jika di pikir lagi, Anna jarang bertemu dengan Barbara setelah kejadian dirinya masuk ke sekolah ini pertama kali. Setelah itu hanya Eun Jae yang selalu mengancamnya. Dan sekarang di tambah lagi dengan Barbara. Hidup Anna benar-benar mengagumkan. Dia tak pernah bisa hidup tenang. Selalu saja ada yang mengusiknya.
"Apa? " Tanya Anna malas.
"Bukankah sudah kuperingatakan padamu?! Jangan membuat perhatian pada sekolah ini! Karena aku tak suka ada yang merebut perhatian yang semula padaku harus berbelok ke arahmu! " Ucap Barbara tajam.
"Perhatian? Kau haus sekali dengan perhatian? Apa orang tuamu tak memberi perhatian padamu hingga kau haus dengan perhatian di sekolah ini? " Ucap Anna terkekeh.
"Jika di pikir pikir, bukankah kehadiranku saja sudah membuat semua perhatian itu teralihkan padaku? Aku bahkan tak melakukan apapun. " Ucap Anna dengan mengerikan bahunya.
"Jangan terlalu percaya diri! Akan kubuat kau menyesal dengan perkataanmu itu. Tunggu dan lihat apa yang bisa aku lakukan padamu.! "
Anna tersenyum miring dan mendekati Barbara.
"Baiklah, akan kulihat apa yang bisa kau lakukan untuk ku. Aku menantikan hal itu. Menyenangkan pasti. " Bisik Anna pada Barbara dan melesat pergi meninggalkan Barbara yang kesal.
Setelah sampai di depan ruangan kepala sekolah, Anna langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Disana sudah ada wanita ular yang enggan Anna sebutkan namanya sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Kau sudah datang. Duduklah. " Ucap maggie dengan lembut.
Anna pun duduk di sofa yang sudah di sediakan disudut ruangan itu dengan malas.
"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan! Aku muak berada dalam satu ruangan denganmu lama lama.! " Ucap Anna ketus.
Maggie hanya tersenyum dan berjalan ke arah Anna dan duduk disamping nya.
"Nanti malam ada pertemuan antara keluarga Andrew dan Daddy mu. Kau harus datang sayang. Nanti malam supir akan datang menjemputmu. Kau harus siap sebelum supir datang. Oke. " Ucap maggie dengan nada selembut mungkin. Yang malah membuat Anna ingin muntah dengan nada suara yang di lembut lembutkan itu.
"Pertemuan apa lagi! Rasanya selalu saja da pertemuan tak jelas.! " Ucap Anna kesal.
"Ini tentang perjodohan mu dengan Xavier. " Ucap maggie menjawab rasa penasaran Anna.
Benar. Perjodohan itu lagi. Rasanya setelah mereka menerima perjodohan itu, mereka tak mengungkitnya lagi.
"Baiklah. Kalau sudah selesai aku pergi! " Kata Anna ketus dan berdiri keluar dari ruangan itu. Hingga suara maggie membuat Anna berhenti mendadak di depan pintu.
"Anna. Tak bisakah kau memanggilku ibu? " Pinta maggie penuh harap.
"Aku akan menganggap tak pernah mendengar hal ini. Dan seterusnya!! " Kata Anna langsung membuka pintu dan pergi.
Mata maggie berkaca kaca mendengar jawaban Anna. Sebegitu bencikah Anna pandanya?
Anna berjakan cepat setelah keluar dari ruangan itu. Hingga dirinya sampai di lorong sepi dan berhenti. Nafasnya memburu dengan tangan mengepal dan wajah yang hampir menangis.
Sekilas Anna mengingat masa saat wanita itu datang dalam hidupnya. Saat tangan itu mengulurkan padanya, membantunya yang saat itu sedang terjatuh. Anna bisa melihat wajah itu khawatir melihatnya menangis karena kesakitan. Pertemuan pertamanya dengan wanita itu. Yang Anna anggap menjadi malaikat karena datang saat dirinya jatuh.
Tapi itu berubah saat wanita itu datang ke rumahnya bersama dengan laki-laki yang ia anggap pahlawan nya, cinta pertamanya.! Seketika itu, hidupnya yang bahagia menjadi hancur. Tak ada lagi senyum di wajah mommy nya, tak ada lagi suara tertawa mommy nya. Tak ada lagi uluran tangan laki-laki itu padanya.
Cahaya itu lenyap dari hidup Anna. Berganti dengan kegelapan yang menyelimuti harinya.
Tunggu dan lihat apa yang bisa aku lakukan agar hidupmu hancur!
***
Anna sudah bersiap didalam kamarnya. Dia memakai dress selutut warna peach. Simple dan elegan. Setelah dirasa sudah cukup, Anna keluar dari kamar dan turun ke bawah.
Disaat ada Brian yang menantinya.
"Kau benar akan pergi? " Tanya Brian melihat Anna sudah siap.
"Hm. Aku pergi dulu. Jaga mommy. " Ucap Anna lalu pergi dari rumah itu.
Entah kenapa, Brian malam ini tak tenang. Pertemuan itu jelas mengungkit tentang perjodohan mereka. Dan hal itu tak bisa Brian hindari.
Anna pun sampai di tempat yang sudah mereka katakan. Sebuah restoran yang klasik dan romantis.
Cih!
Anna masuk dan bertemu dengan pegawai restoran itu. Setelah Anna mengatakan namanya, pegawai itu langsung menujukan jalan.
"Disini nona. Saya tinggal dulu. " Ucap pegawai perempuan itu meninggalkan Anna di ruangan VVIP.
Anna pun masuk dan melihat di dalam sudah ada keluarga Xavier dan dua orang yang membuat Anna muak.
Setelah mendudukan tubuhnya disamping wanita ular itu, makanan pun langsung tersaji.
__ADS_1
"Kau cantik sekali Anna malam ini. " Puji Andrew.
"Terimaksih pujiannya. Tapi aku tak membutuhkan pujian itu. " Ucap Anna santai.
"Anna.!! " Tegur David.
Maggie mengusap tangan David agar tenang. Anna melirik dan melihat hal itu. Membuatnya terkekeh sinis.
"Ya, kau benar. Kau tak perlu pujianku. Aku hanya menyampaikan pujian itu karena ku rasa ada yang ingin mengucapkan tapi malu. " Sindir Andrew terkekeh geli.
Tiba-tiba Xavier berdehem membuat Anna menoleh dan menatap Xavier yang malam ini terlihat lebih tampan dengan setelan jas warna abu-abu.
"Baiklah. Kita makan dulu baru membicarakan hal lainya. " Kata Elena yang disetujui semuanya.
Mereka pun makan dengan hening, dengan sesekali Elena bertanya pada Anna tengan harinya yang di jawab Anna seperlunya.
Maggie yang melihat interaksi antara Elena dan Anna membuat nya cemburu dan iri. Bahkan Anna bisa tersenyum sendikit dengan Elena. Tapi denganya? Hanya ada tatapan kebencian yang dia dapatkan.
Melihat Maggie yang telihat suram membuat David mengusap lengannya. Maggie menatap David yang tersenyum menenangkan padanya. Yang di balas dengan senyuman juga oleh Maggie.
Anna menangkap momen itu yang membuat seleranya anjlok. Dirinya pun menghentikan makanya dan meminum air putihnya.
"Kau sudah selesai? " Tanya Elena melihat makanan Anna yang belum habis.
"Aku sudah kenyang bibi. " Jawab Anna.
"Sudah kubilang panggil aku mommy.! " Tegur Elena dengan lembut.
"Aku mengerti mommy." Ucap Anna yang membuat Maggie bertambah kecewa. Dengan mudahnya Anna memanggil Elena mommy tapi dengan dirinya? Maggie bahkan tak pernah mendengar Anna memanggilnya seperti itu jika tidak didepan publik.
David pun juga merasakan hal itu. Bagaimana Anna bisa akrab dengan mereka dan menganggap mereka orang tuanya sedang orang tua kandung nya tidak pernah dia anggap.
"Baiklah. Jika sudah selesai kita bisa membicarakan inti dari pertemuan ini. " Ucap David menginterupsi mereka.
"Jadi sudah sebulan sejak kami mengatakan perjodohan itu pada kalian. Maka hari ini kita akan membicarakan tentang pernikahan kalian secepatnya. " Ucap David tegas.
"Apa? Pernikahan? Bukankah kita masih sekolah paman? " Tanya Xavier kaget.
Sedang Anna hanya menatap David penuh kebencian.
"Kau lupa Xavier.? Jika sekolah itu milik kami. Maka kami bebas melakukan hal itu. Dan untuk pemerintah, aku bisa mengurusnya. Mereka tak akan membuat kegaduhan. " Ucap David.
"Tapi.. Bukanlah ini terlalu cepat? Dad. Mom. " Xavier tergagap.
"Lebih cepat lebih baik Xavier. Dan kami juga menyetujuinya. " Ucap Andrew.
Hening.
Hingga keheningan itu terpecahkan saat mereka mendengar kekehan seseorang. Dan itu Anna.
"Menarik." Ucap Anna menundukan wajahnya.
Mendongak, Anna pun menatap wajah David tajam.
"Aku sangat menantikan hal ini. Kita lihat permainan apa yang bisa seorang David GREYSON lakukan nantinya. " Ucap Anna penuh penekanan serta alis yang terangkat sebelah. Menandakan tantangan untuk David.
"Pernikahan kalian akan berlangsung satu bulan dari sekarang. Persiapkan diri kalian semua. " Ucap David yang masih menatap Anna dengan tajam.
Kedua orang itu membuat aura di sekitar menjadi dingin dan mencekam. Anak dan ayah itu memang mirip sekali. Keras kepala dan dingin.
***
Kini diruangan VVIP itu hanya tertinggal Anna, David dan Maggie. Setelah Andrew dan keluarganya berpamitan Anna pun akan pulang jika David tak menghentikanya.
Ber menit menit mereka hanya diam hingga David menghela nafasnya dan menatap Anna.
"Sampai kapan? " Tanya David sendu.
"Apa maksud mu? " Tanya Anna balik dengan terkekeh.
"Sampai kapan kau akan seperti ini Anna? " Tanya David dengan suara yang bergetar.
Wajah Anna mengeras dengan tangan terkepal di bawah meja.
"Kau yang membuatku seperti ini. Maka jangan tanyakan padaku, tapi tanya pada dirimu sendiri.! " Ucap Anna tanpa menatap David yang berkaca kaca siap menangis.
"Apa yang bisa daddy lakukan agar kau kembali seperti dulu? " Tanya David penuh harap.
Wajah Anna berubah datar, menoleh menatap David yang sekarang benar benar menginginkan anaknya kembali.
__ADS_1
"Lepaskan aku dan mommy ku.! " Ucap Anna tegas.