
Anna termenung di dalam kamar mommy nya. Dirinya berdiri di depan dinding yang penuh dengan notes kecil yang tertempel. Banyak kata kata yang berada dalam notes tersebut. Kebanyakan namanya yang selalu ada di setiap notes itu. Selain itu nama barang dan juga kegiatan sehari hari. Notes itu adalah catatan mommy nya saat dirinya sadar. Anna menyadari jika ibunya berusaha mengingat apa pun yang ingin dia ingat. Terutama dirinya. Putri tersayangnya. Dari semua notes itu, Anna tersentuh dengan kata-kata ibunya di salah satu notes itu. Yang berkata"Anna ku sayang. Jika nanti mommy pergi, jangan bersedih nak. Kau harus tahu jika kau adalah anugerah yang pernah mommy miliki. Putri mommy yang cantik. Maafkan mommy karena menjadi ibumu sayang. I love you. "
Dan baru Anna tahu jika selama ini mommy nya tahu apa yang selalu Anna kerjakan.
'*Aku melihat Anna memakai seragam sekolahnya hari ini. Dia sangat cantik'
'Melihat Anna ku tertawa dengan sahabat nya membuatku bahagia'
'Kenapa aku selalu lupa jika aku mempunyai anak yang cantik itu*? '
'Anna ku benar-benar cantik'
Anna mendongak agar air matanya tak luruh. Kenapa baru sekarang dirinya tahu tentang notes ini. Jika dirinya tak masuk dan mencoba membuka lemari yang berada di balik dinding itu, mungkin dirinya tak akan pernah tahu.
Menoleh, Anna menatap ibunya yang sedang tidur.
"Aku juga bersyukur menjadi anakmu Mom. Jangan tinggalkan aku. " Ucap lirih Anna.
Tiba tiba pintu kamar ibunya terbuka. Anna menoleh dan melihat minah yang kaget melihatnya.
"Kau pasti sudah tahu kan? Kenapa tak memberitahuku? "
Terlihat jika minah sudah mengetahui tentang notes notes tersebut. Dan Anna hanya tersenyum miris karena mengetahui hal ini dengan terlambat.
"Maaf. Nyonya mengatakan agar saya tidak memberitahukan hal ini pada nona. " Ucap minah tertunduk.
"Tidak apa apa. Aku tahu itu. Kau hanya menuruti keinginan ibuku. Tolong jaga dia minah. Aku tak bisa berada di sampingnya selalu. Hanya kau yang bisa ku andalkan. " Pinta Anna pada minah yang membuat nya kaget dengan permintaan nona nya.
Minah sudah bekerja di mansion itu selama lebih dari 5 tahun. Minah tahu apa yang terjadi pada keluarga ini. Minah tahu bagaimana sosok anak kecil yang dulunya bertingkah manja dan cerewet itu menjadi dingin dan pendiam. Tak ada lagi sinar kehidupan yang terpancar pada kedua mata biru itu. Hanya ada kesenduan yang selalu terpancar saat melihat ibunya.
"Kau mengatakan seolah aku baru disini nona. Kau dan nyonya savana sudah ku anggap sebagai keluargaku. Aku sudah tak punya keluarga. Dan hanya kalian yang aku punya. Tentu aku akan menjaga nyonya dengan sepenuh hati. Nyonya seperti ibu bagi saya. Walau nyonya sering memanggil saya dengan nama anda. " Ucap minah tersenyum.
Anna tersenyum kecil mengetahui jika mommy nya masih mengingatnya. Sengatan itu terasa Anna rasakan di ulu hatinya. Sesak, dan sakit yang teramat. Hidupnya benar-benar hancur. Keluarga harmonis nya berantakan. Hanya karena satu wanita yang tiba-tiba datang dan menghancurkan kehidupan bahagianya.
***
Anna menatap hamparan luas di depannya. Saat ini dirinya berada di rooftop sekolah. Pagi tadi, Anna berangkat dengan Brian dan Evelyn seperti biasa. Hanya saja saat akan memasuki kelas Anna tidak masuk, melainkan pergi ke rooftop. Evelyn ingin menemaninya, hanya saja dirinya tak ingin. Dirinya ingin sendiri untuk saat ini. Evelyn pun tahu apa yang terjadi semalam, sungguh Evelyn ingin membantu sahabatnya itu agar bahagia. Tapi dia tak tahu caranya.
"Kenapa tidak masuk? " Suara Xavier membuat Anna membuyarkan lamunannya.
"Dari mana kau tahu aku disini? " Tanya Anna tanpa menatap Xavier yang sudah berada di sampingnya.
"Mudah, hanya rooftop yang bisa aku pikirkan untuk membuatmu tenang. Tidak mungkin kau ke perpustakaan. " Ucap Xavier yang ikut memandang hamparan luas itu.
"Kenapa jika aku memang ke perpustakaan? " Ucap Anna seraya melirik Xavier.
"Kau akan jenuh dengan buku-buku itu. Tapi disini, kau bisa tenang tanpa di ganggu "
"Aku bahkan baru diganggu. " Sindir Anna.
Xavier terkekeh mendengar sindiran Anna. "Well memang niat awal ku ingin mengganggu mu" Ucapnya santai.
"Yah dan kau berhasil"
Setelah itu hanya keheningan diantara mereka. Anna dengan pemikiranya dan Xavier dengan pemikiranya. Mereka seolah tenggelam dengan pemikiran masing-masing. Xavier masih mengingat setiap ucapan yang ayahnya katakan semalam. Dirinya benar-benar tidak menyangka dengan apa yang ayahnya katakan. Xavier menoleh menatap Anna yang tetap menatap ke depan dengan mata kosongnya.
Xavier tak tahu apa yang ada di dalam pemikiran gadis bermata biru itu. Entah penderitaan apa yang sudah ia alami selama ini. Berapa kali air mata itu keluar dari mata cantik itu. Xavier tak tahu berapa kali Anna bangkit dari semua yang ia alami. Xavier bahkan terkesan dengan semua yang Anna lakukan selama ini agar perih itu tak terlihat. Xavier akui, Anna gadis yang kuat. Tapi, apakah itu akan berlangsung selamanya? Bukankah ada batas bagi seseorang untuk kuat di hadapan orang lain? Ketika saat itu tiba, Xavier tak tahu apakah dirinya sanggup melihat keterpurukan Anna.
Xavier akui jika dirinya mulai jatuh cinta dengan Anna. Sejak pertama kali mereka bertemu di ruang kepala sekolah. Mata itu seolah menyihir nya. Sikap dingin dan cuek nya membuat Xavier penasaran dengan kehidupan gadis itu.
Bahkan jantungnya berdegup kencang saat bersama Anna. Ini tidak pernah terjadi dalam hidup seorang Xavier yang kaku dan dingin. Belum pernah dirinya sebegitu ingin melindungi seseorang yang membuatnya frustasi.
Tiba tiba Xavier menarik tangan Anna dan pergi dari rooftop.
"Kau mau apa?! " Teriak Anna saat Xavier membawanya ke parkiran sekolah.
"Diam dan ikut saja. " Ucap Xavier santai.
Anna melepas tanganya dari Xavier dan memandang tajam laki-laki itu.
"Sudahlah Anna. Kau akan aman bersamaku. " Yakin Xavier saat Anna meragukannya.
"Yang aku pertanyakan adalah kau mau membawaku kemana X? " Anna kesal dengan Xavier yang selalu se enaknya sendiri.
"Kau akan tahu setelah tiba disana. " Ucap Xavier lalu menarik Anna masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Anna pasrah karna Xavier tak akan memberitahukan mereka akan kemana. Xavier pun segera melajukan mobilnya keluar sekolah. Beruntung Anna adalah anak pemilik sekolah, jadi saat dirinya akan keluar gerbang itu terbuka untuknya.
Setengah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan Xavier.
Anna memandang ke depan. Terdapat tulisan Panti Asuhan dan di belakang tulisan itu ada rumah yang tidak terlalu besar untuk ukuran panti asuhan . Anna menoleh menatap Xavier penuh tanya.
"Apa maksud mu membawaku kemari? " Tnya Anna datar.
Xavier menatap Anna dengan tersenyum dan melepas seatbelt nya.
"Kau akan tahu. Ayo turun. "
Mau tak mau Anna menuruti Xavier dengan kesal. Anna turun dari mobil dan mengikuti Xavier masuk ke dalam panti. Anna bisa melihat saat masuk Xavier sudah seperti sering kemari. Terlihat jika para ibu ibu pengasuh itu langsung menyapanya dengan ramah. Bahkan menanyakan kabar dan kenapa tidak kemari.
"Kamu bersama siapa nak? Cantik sekali dia " Ucap ibu pemilik panti menatap Anna yang masih menjelajahi rumah itu.
"Dia calon istriku, bi. " Bisik Xavier.
"Apa? Kamu mencari gadis yang tepat sepertinya? " Ucap ibu itu tersenyum maklum.
Ibu itu pun berjalan ke arah Anna.
"Hallo. Kau temannya Xavier? " Sapa ibu itu pada Anna.
Anna pun menatap ibu itu dengan polos. Bahkan tak menjawab pertanyaan ibu itu.
"Perkenalkan saya pemilik panti ini. Nama saya Kim Jung ah . Biasa di panggil bibi Kim. " Ucap bibi Kim ramah.
Anna menatap tangan bibi Kim didepanya dengan diam. Dirinya tak tahu harus apa. Dia terlalu canggung untuk beramah tamah dengan orang asing. Bahkan tak terbiasa. Bibi Kim pun seperti mengerti dan menarik tangan kembali.
"Ayo masuk. " Ajak bibi Kim.
Xavier pun menggiring Anna masuk ke dalam panti. Saat Anna masuk, dia melihat banyak anak yang sedang berlarian dan bermain. Untuk ukuran panti yang tidak terlalu besar, anak sebanyak ini mereka tempatkan dimana? Karena Anna yakin jika kamar satu bisa di tinggali oleh 4 orang. Dan rumah ini tidak terlalu besar. Kemungkinan kamar pun juga pasti kecil.
"Anak anak! Kakak Xavier datang!! " Seru bibi Kim.
Anak-anak langsung menghambur ke arah Xavier dan Anna. Anna pun menegang saat ada salah satu anak yang memegang kakinya.
"Kakak cantik pacarnya kakak Xavier ya? " Tanya gadis kecil berusia 5 tahun.
"Namamu siapa? "
"Namaku Alexa kakak cantik. " Ucap gadis bernama Alexa itu dengan senyum.
Anna terenyuh melihat Alexa. Bagaimana anak ini bisa ada di panti asuhan? Siapa yang membuang permata seperti ini? Sungguh kejam orang tuanya.
Xavier melihat interaksi Anna dan Alexa dengan senyum. Dirinya tahu jika Anna terlalu kaku sepertinya. Hanya saja, jika Xavier menemukan tempat untuknya bisa menjadi manusia normal tapi Anna tidak. Gadis itu terlalu tertutup dan berdiam diri. Xavier berharap tempat ini bisa membuat Anna menjadi lebih baik.
"Dia memang pacarku Alexa. " Ucap Xavier ikut berjongkok disebelah Anna.
Anna mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Xavier dengan kesal.
"Siapa yang kau sebut pacar?! " Ucap Anna ketus.
"Kau." Tunjuk Xavier pada Anna.
Anna ingin sekali memaki Xavier saat ini jika Alexa tidak mengintrupsinya.
"Kakak, temani Alexa main ya? Alexa tak punya teman. " Ucap Alexa dengna gaya bicaranya yang membuat Anna gemas.
"Disini banyak teman yang seumuranmu bukan?" Tanya Anna.
Alexa menggeleng pelan.
"Dia tidak terlalu dekat dengan yang lain" Ucap Xavier seolah mengerti dengan kebingungan ya.
"Lalu kenapa aku? " Anna menoleh menatap Xavier.
Xavier hanya mengedikan bahunya tidak tahu. Karena Alexa memang gadis yang tertutup. Hanya Xavier dan bibi Kim yang menemaninya. Teman yang lain seolah enggan bermain dengan Alexa yang tidak menerima mereka.
"Kau temanilah dia. Aku akan bersama yang lain" Ucap Xavier lalu pergi dengan segerombolan anak anak yang memintanya bermain sepak bola.
Anna pun menuruti Alexa untuk bermain bersama. Mereka bermain masak masakan, dimana Alexa menjadi pemilik warung dan Anna pelanggan nya. Anna pun ikut tertawa saat melihat betapa gemas nya Alexa saat mempraktekan gayanya menjadi koki. Mereka terhanyut dalam permainan anak kecil itu. Hingga tak menyadari ada dua pasang mata yang menatap keakraban mereka dengan senyum.
"Sepertinya kau sedang jatuh cinta nan. " Ucap bibi kim sambil melirik Xavier yang masih tersenyum melihat Anna.
__ADS_1
"Entahlah bibi kim. Rasanya aku seperti terbang melihat dia tersenyum dan tertawa seperti itu. Ini adalah pertama kali nya aku melihatnya tertawa. " Ucap Xavier tetap menatap Anna di sana.
Bibir kim menyadari jika tatapan itu adalah tatapan cinta. Tatapan Xavier sangat lembut dan hangat. Berbeda dengan tatapan yang laki-laki itu berikan pada orang lain. Dingin dan tajam.
Xavier memandang Anna yang berada di sana. Hatinya menghangat melihat wajah itu seakan hidup. Tidak seperti mayat yang hanya kaku. Xavier berjanji akan selalu membuat wajah itu tetap tersenyum nantinya.
Ijinkan aku menjadi orang yang membuatmu hidup Anna.
***
Brian gelisah di rumahnya. Laki-laki itu sedari tadi melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya. Jam pemberian Anna. Jam itu adalah jam kesayangannya. Brian tak pernah menggantinya selama 2 tahun ini. Jam itu Anna kirimkan dari New York untuknya. Tanpa sepatah kata hanya ada nama pengirim nya saja. Tapi Brian sudah cukup senang walau begitu.
Brian khawatir karena sedari tadi Anna belum pulang. Sejak di sekolah, Brian sudah menelfon Anna menanyakan keberadaan gadis itu. Dan setelah berjam jam lamanya, Anna memberitahukan jika dirinya bersama Xavier. Anna mengatakan jika Brian tidak usah khawatir tentang dirinya karena Xavier akan mengantarkan nya pulang. Tapi Brian tetap saja khawatir, Xavier --laki laki itu seolah sekarang menjadi halangan bagi Brian. Walau Brian tahu antara Anna dan Xavier hanya sebatas perjodohan, tapi itu sukses membuat Brian kalang kabut. Brian takut jika Anna akan jatuh ke pelukan Xavier. Dan penantian nya akan terbuang sia sia.
Jam sudah menunjukan pukul delapan lewat setengah menit. Dan Brian sudah akan menelfon Anna jika dirinya tidak mendengar suara mobil di depan rumah. Dengan terburu-buru Brian keluar dari rumah itu dan melihat Anna bersama Xavier.
"Tidak perlu turun. " Ucap Anna saat melihat Xavier melepas seatbelt nya.
Xavier menoleh menatap Anna dengan pandangan heran.
"Kenapa? " Tanya Xavier heran.
"Bukan apa apa. Ini sudah malam. " Ucap Anna tenang.
Aku hanya tidak ingin kau melihat apa yang harusnya tak mau lihat.
"Berkatalah jujur Anna. Kau takut aku bertemu dengan ibu mu? " Kata Xavier seraya menaikan alisnya sebelah.
Anna membuang nafas perlahan, mungkin Xavier sudah mengetahui rahasia Anna. Pasti ayahnya yang mengatakan hal ini. Dan mungkin memang sudah seharusnya Xavier tahu. Dan Anna tak akan menyembunyikannya lagi.
"Kau pasti sudah tahu dari ayahmu. " Ucap Anna jeda..
"Tapi aku tetap tak mau kau melihatnya X. Tidak untuk sekarang.! Sekarang pergilah. Aku lelah dan ingin istirahat. " Ucap Anna pelan.
Xavier masih menatap Anna dan kemudian menganggukan kepalanya mengerti. Anna mengatakan 'tidak untuk sekarang ' itu artinya suatu saat nanti Anna akan terbuka padanya. Dan itu suatu kemajuan bagi mereka.
"Baiklah aku akan pulang. " Ucap Xavier mengalah.
Anna hanya menganggukan kepalanya dan keluar dari mobil Xavier. Sesaat setelah mobil Xavier pergi, Anna melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Sebelum tiba dirinya melihat Brian yang melipat tanganya di depan dan memandangnya dengan tajam.
Ahhh ini akan melelahkan.
"Apa yang kau bicarakan dengan es kutup itu di dalam mobil? Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu lama dan kau juga membolos Anna.! " Cerocos Brian kesal bercampur khawatir.
Anna tersenyum tipis seraya berkata " Kau tak perlu khawatir Brian. Aku hanya pergi ke suatu tempat bersama Xavier. "
Brian mengerutkan dahinya.
"Kemana? Dan kenapa baru pulang? Ini jam berapa Anna. Kau benar-benar membuatku khawatir. Kau tahu? " Ujar Brian seraya menatap tajam Anna.
Anna pun melengos dari hadapan Brian ke ujung rumah. Dirinya sangat lelah hari ini karena anak anak panti.
"Anna. Kau mengacuhkanku? Kau dengar yang aku katakan? Anna--"Brian menghentikan perkataan nya karena Anna tiba-tiba berbelok dan menatapnya.
"Stop. Aku lelah Brian. Biarkan aku istirahat, oke? Besok akan aku ceritakan padamu dan juga ahhh aku lupa dengan Evelyn. Dia pasti akan menceramahi ku besok. " Ucap Anna menurunkan nadanya di terakhir.
Brian pun hanya menatap datar Anna.
"Yah. Kau akan di ceramahi oleh gadis itu besok,kau tidak tahu bagaimana Ev jika menyangkut dirimu. "
Anna mendapati nada kecewa dari Brian yang mengatakan bagaimana Ev bereaksi jika menyangkut dirinya. Anna tahu bagaimana itu. Gadis itu walau terlihat menjengkelkan bagi Anna, tapi jika terjadi sesuatu pada Anna. Maka hanya Ev yang bereaksi berlebihan padanya. Waktu Anna pertama kali minum Akohol di New York, dirinya masih ingat berapa hebohnya gadis itu sampai memanggil dua bodyguard nya agar dirinya bisa berhenti minum. Gadis itu bisa membuat hari Anna berwarna. Walau terlihat Anna cuek terhadap Evelyn, tapi dia sangat menyayangi gadis ceroboh itu.
"Baiklah. Aku mau tidur. Rasanya lelah sekali hari ini. " Pamit Anna pada Brian yang hanya mendapat gumaman dari Brian.
Saat akan menaiki tangga, dirinya teringat dengan ibunya. Langkahnya pun berbelok ke arah kamar yang berada di bawah tangga.
"Ibumu sedang tidur. Hari ini dia baik baik saja Anna. " Ucap Brian membuat Anna menghentikan langkahnya. Dirinya menoleh pada Brian.
"Benarkah. "
Brian pun menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke atas saja. Sampai besok Brian. " Ucapnya seraya menaiki tangga.
Anna meninggalkan Brian yang masih menatapnya hingga masuk kamar. Sejujurnya, Brian khawatir jika nantinya Anna dan Xavier akan saling menyukai. Dan itu adalah akhir dari hidupnya. Entah kenapa, memikirkan perjodohan Anna membuat hatinya sakit dan sesak. Apalagi jika mereka menikah, kesempatan nya akan hilang dalam sekejap.
__ADS_1