Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 15


__ADS_3

Xavier dan laki-laki yang mengaku leader itu masih bertatapan dengan sengit.


"Oh hallo. Letnan Jang Hae In right? Saya Anna Ashlyn Greyson, bukan.. Maaf mengganggu anda tapi, ada seorang yang mengusik ku dan aku tak menyukainya. Ahh kalau tidak salah dengar kapak merah? Kau mengetahuinya letnan? " Ucap Anna menelfon seseorang bernama letnan Jang Hae In. Semua menoleh ke arah Anna. Mendengarkan dengan seksama karena Anna menelfon aparat kepolisian.


Mereka khawatir jika polisi akan datang kesini dan menangkap mereka. Nama kapak merah sudah terkenal di para kepolisian karena masalah mereka yang selalu berbuat ulah.


"Aku sangat tidak menyukai kotoran seperti mereka.! Bisakah anda membersihkannya? " Ucap Anna sambil memandang leader itu dengan tajam.


"5 menit, kuberi waktu 5 menit atau kau tahu akibatnya letnan.! " Ucapnya lalu memutuskan telfonnya.


"Bagaimana? 5 menit waktu yang cukup bukan? " Ucap Anna pada laki-laki itu.


"Kuberi pilihan, pergi dari sini atau kita selesaikan ini dengan duel satu lawan satu.! " Tantang Anna. Membuat Xavier langsung menghampiri Anna dengan protes.


"Apa yang kau pikirkan.! " Xavier menatap Anna tajam. Xavier tak habis pikir dengan Anna yang menantang laki-laki yang bahkan lebih tinggi dari Anna. Bagaimana bisa Anna menantangnya.!


"Kau lihat saja nanti X. Lihat baik-baik apa yang bisa ku lakukan pada berandalan seperti nya. " Balas Anna memandang Xavier mencoba menenangkan nya.


"Tidak! Kita pulang Anna.! " Xavier tetap tak setuju dan akan menarik tangan Anna dari sana. Jika saja Anna tak melepasnya dan menatap Xavier.


"Kau hanya perlu percaya pada ku X. Akan ku perlihatkan apa yang belum kau tahu tentangku. Mengerti. " Anna menatap Xavier.


Anna membalik badanya dan melihat laki-laki itu yang juga melihat nya.


"Bagaimana? Ini sudah lebih dari satu menit. Waktumu tinggal 4 menit, kau lari atau kita duel. Aku yakin hanya 3 menit saja kau akan kalah denganku. " Ucap Anna memprovokasi dengan senyum remeh.


"Baiklah jika kau memaksa. Tapi jangan salahkan aku jika wajah cantikmu akan rusak. " Balas laki-laki itu.


"Benarkah. Okay kita lihat saja. " Jawab Anna.


Anna menatap laki-laki itu yang bersiap menyerangnya. Laki-laki itu menyerangnya dengan pukul, tapi Anna bisa menghindar dengan mudah dan mulai menyerangnya.


Bug.!


"Akhh.. Kau..! " Pekik laki-laki itu saat tubuhnya terkena tendangannya.


Anna tak memberikan waktu bagi laki-laki itu untuk menyerangnya. Anna mendendang tukang kering laki-laki itu dang langsung memelintir tanganya kebelakang dengan kuncian.


"Arghhhh... " Teriak laki-laki itu saat merasakan tanganya kesakitan.


"Hah.. 2 menit ternyata cukup membuatmu jalah dariku. Heh. " Ucap Anna menduduki tubuh laki-laki itu dengan tanganya masih mengunci tanganya ke belakang.


Setelahnya ada suara sirine polisi yang mengatakan mereka semua berhamburan kecuali Anna, Xavier, Brian dan kelompok jungkook.


Mobil polisi datang dan segera mereka keluar untuk menangkap anggota geng yang berusaha kabur tapi tetap tertangkap.


Salah satu dari mereka menghadap Anna yang masih menunggangi laki-laki itu.


"Hallo nona Anna. Maaf kami lama datang kemari. " Sapa pria paruh baya yang memakai mantel hitam membungkukan kepalanya pada Anna.


Pria itu melihat apa yang diduduki Anna dan berteriak pada anak buahnya.


"Tangkap dia.! Hah kau ini selalu membuat masalah. " Titah pria itu dan mengeluh pada laki-laki itu.


Sebelum masuk ke mobil polisi, laki-laki itu menatap Anna tajam. Tapi Anna tak memperdulikan ya.


Pria itu memandang anggota yang berada di belakang Brian. Melihat polisi itu menatap ke belakang Anna pun berbicara dengan pria itu.


"Jangan menyentuh mereka.! " Ucap Anna dengan nada rendah nya.


Pria itu terksiap dengan ucapan Anna. Pria itu menunduk dan meminta maaf.

__ADS_1


"Kalian urus saja mereka. Dan... Siapa nama pria tadi? " Tanya Anna pada pria paruh baya itu.


"Ahh dia kim woobin. Mereka sudah meresahkan kami karena selalu membuat keributan. " Jelas pria itu.


'Emm baiklah. Kalian bisa pergi. "Ucap Anna mengusir mereka.


Setelah para polisi itu pergi suasana menjadi hening. Para anggota jungkook tak tahu hanya dia dan saling lirik. Xavier mendekati Anna dan mengusap lengannya.



" Kita pulang ya? Sudah selesai bukan? "Bujuk Xavier.


" Sebentar. "Anna menoleh dan menatap Brian dan anggotanya.


" Ini pertama dan terakhir aku menyelamatkan kalian. Jika aku melihat kalian berkelahi dengan mereka, akan pastikan kalian akan masuk jeruji besi. Paham.! "Ucap Anna pada mereka semua yang di jawab dengan serentak.


" Dan kau.! Pulang sekarang.! "Tunjuk Anna pada Brian dengan marah.


Brian hanya menunduk dan mengikuti Anna pergi. Xavier pun juga pergi dari tempat itu hingga tinggal jungkook dan kawan-kawan nya.


Salah satu katanya mendekati jungkook dan bertanya pada nya.


" Aku masih belum tahu siapa wanita itu. Tapi aku merasakan hawa ngeri saat dia marah. "Ucapnya pada jungkook.


" Kau belum tahu siapa dia? Kau tak mendengar jika dia mengatakan namanya?! "Sindir jungkook pada kawan nya.



" Aku dengar. Anna Ashlyn Greyson kan? Ehh tunggu, Greyson.... Maksudmu Greyson yang kita semua kenal,? "Ucap kawanya itu dengan membuka matanya lebar lebar.


" Em kau benar. Sekarang kira pergi saja. "Ajak jungkook.


Mereka akhirnya menyadari siapa orang yang berhadapan dengan woobin tadi. Sudah Anna bilang bukan, jika nama Greyson membuatnya mempunyai kekuasaan tapi bukan kebahagiaan.


***


Plak.!


Nafas Anna memburu dengan tatapan tajam nya pada Brian yang wajahnya tertoleh karena tamparan keras Anna. Xavier pun kaget dengan tindakan Anna dan hanya bisa diam ditempat.


" Kau.! Jika kau merasa jagoan, mintalah pada ayahmu untuk masuk menjadi bodyguard ku brengsek!. Jangan adu tonjok di luar sana.! Kau fikir kau hebat.! Hah.! "Bentak Anna.


Anna menyegarkan rambut nya dan mencoba menetralkan nafasnya.


" Jika sekali lagi aku mendengar kau adu tonjok di luar sana. Aku akan mengirim mu ke suatu tempat yang sangat jauh hingga kau tak bisa melihat ku selamanya.!" Ancam Anna pada Brian yang langsung di balas gelengan oleh Brian seola takut jika ancaman itu menjadi kenyataan.


"Jika kau tak mau makan turuti perkataanku.! Kau mengerti.!! " Kata Anna pada Brian penuh penekanan dan pergi ke dalam rumah.


Meninggalkan Brian yang tertunduk dan Xavier masih kaget dengan kemarahan Anna. Sejak mengenalnya, Xavier memang belum pernah melihat Anna begitu marah pada seseorang.


Xavier menghampiri Brian dan menepuk bahunya.


"Ayo masuk. Kau harus di obati. " Kata Xavier datar.


Dan Brian mengikuti Xavier masuk ke dalam. Xavier memanggil maid untuk mengambilkan kotak P3K. Setelah maid menyerah kan kotak itu, Xavier memerikan pada Brian.


"Obati lukamu, atau Anna akan marah lagi. " Kata Xavier memberikan kotak itu lalu pergi ke kamarnya.


Xavier membuka pintu kamarnya dan melihat Anna sedang berdiri di balkon kamarnya dengan menyilangkan tangan nya.


Menutup pintu, Xavier menghampiri Anna dan memeluknya dari belakang. Yang membuat Anna terkejut dengan perlakuan Xavier.

__ADS_1


"Jangan terlalu marah padanya Anna. Aku tahu kau khawatir padanya. Tapi Brian adalah laki-laki. Mendengar kau mengatakan seperti itu pasti melukai harga dirinya sebagai laki-laki. " Ucap Xavier dengan lembut sambil menghirup aroma rambut Anna yang wangi.


"Memang aku mengatakan apa? Aku hanya tidak ingin dia terkuka seperti itu. Daripada berkelahi tidak jelas bukankah lebih baik dia mengikuti ayahnya? Selama ini dia tak pernah mau ikut pelatihan dan hanya menempel padaku. " Gerutunya kesal.


"Aku mengerti. Tapi sesama lelaki aku tahu apa yang dia rasakan. Kami para lelaki tidak suka jika di remehkan seperti itu. Walau bagaimanapun kami ingin menyelesaikan masalah kita sendiri tanpa campur tangan orang lain. " Balas Xavier mencoba membuat Anna mengerti. Mengeratkan tanganya dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher Anna.


Anna merasa geli dengan tindakan Xavier. "X, lepas. Aku geli. " Ucap Anna mencoba melepas tangan Xavier yang berada di pinggang nya.


"Tapi Anna, aku tidak mengerti kenapa Brian begitu menurut padamu. Jika laki-laki lain mungkin akan membantah. Karena perkataan mu benar-benar membuat nya tidak punya harga diri. Untung kau memarahinya saat kita di rumah. Jika masih disana, aku yakin Brian pasti malu jika bertemu dengan temannya. " Ucap Xavier seolah tidak mendengar protes Anna yang memintanya melepaskannya. Malah terus mencium Anna dengan lembut.


Anna mendadak berhenti memberontak dan berpikir kembali. Jika perkataan Xavier memang benar adanya. Emosi nya tadi memang memuncak dan perkataan nya keterlaluan. Tapi Brian tetap diam dan menunduk. Anna merasa bersalah pada Brian yang memarahinya hingga melukainya.


"Benarkah? " Gumam Anna.


Xavier mendongak dan memiringkan kepalanya mencium pipi Anna dari samping.


"Ehm. Tapi aku yakin Brian tetap menyayangimu. Walau aku sedikit tidak suka kau mengkhawatirkan dia sebegitunya. Apa jika aku seperti itu kau juga akn melakukan hal yang sama? " Ucap Xavier dengan wajah masam.


"Apa? Kau mau melakukan apa? Awas ya X jika kau melakukan hal yang berbahaya.! Aku tak akan segan untuk pergi darimu selamanya.! " Ancam Anna pada Xavier yang malah di jawab Xavier dengan cengiranya.


Xavier tak bisa menahan lagi. Dia memajukan wajahnya dan mencium bibir Anna dengan lembut. Anna yang masih kaget dengan aksi Xavier hanya mengerjapkan matanya. Tapi lama-lama dia terhanyut oleh ciuman itu dan membalasnya dengan mengalungkan tanganya ke leher Xavier.


Mereka terbuai dengan ciuman mereka hingga salah salah satu dari mereka memutuskan ciuman itu untuk mengambil nafas. Kening mereka saling bersandar dengan mata tertutup.


Xavier memeluk Anna dengan erat. "Jangan. Akan ku lakukan apapun agar kau tetap dalam jangkauan ku Anna. Kau milikku.! Your Mine!! Always.! " Janji Xavier pada dirinya dan juga Anna.


***


"Bagaimana? " Tanya Anna pada dokter lym setelah memeriksa mommy nya. Mommy nya kambuh lagi saat dirinya makan malam. Dan sekarang dirinya benar-benar khawatir dengan ibunya.


"Sekarang sudah stabil. Obatnya juga bekerja dengan baik. " Jawab dokter lym pada Anna.


"Tapi, Anna kita tak bisa mengandalkan obat itu terus. " Ucap dokter lym mencoba menyadarkan Anna. Matanya terlihat sendu saat memandang Anna yang menatap ibunya dengan pandangan kosong.


"Aku tahu. Tapi, hanya itu caraku agar mommy terus hidup. " Kata Anna lirih.


Anna menarik nafasnya dan menghembuskan nya. Mencoba terlihat kuat walau itu sia-sia.


"Apapun yang terjadi, aku berterimakasih padamu dokter. Terimaksih karena selama ini sudah berada disamping ku. Membantuku walau terkadang aku sering membentak mu. " Ucap Anna dengan tulus.


"Tidak. Memang kewajibanku sebagai dokter. Tak apa. Kalau begitu aku pergi dulu. " Ucap dokter lym dan pergi dari kamar.


Dokter lym berhenti di samping Xavier yang berdiri di samping pintu. "Melihat ada seseorang disamping nya membuatku lega. Jagalah Anna. Walau terlihat dingin dan ketus, hatinya terlalu rapuh. Aku percaya padamu. " Ucapnya dengan menepuk bahu Xavier.


Xavier masih melihat Anna yang berdiri di depan ya. Perlahan Anna menghampiri ibunya dan duduk di tepi ranjang. Memegang tangan ibu nya dengan lembut dan mencium nya.


"Mom, mommy harus kuat. Ada Anna disamping mommy. Jangan khawatir, Anna atau akan meninggalkan mommy seperti dia. Mommy hanya perlu di bertahan dan aku akan membalas apa yang mereka lakukan pada mommy. Emm" Ucap Anna dengan memegang tangan ibunya dengan erat.



Anna tak akan membiarkan orang yang membuatnya hancur senang dengan pernderitaan nya. Tidak akan pernah! Anna sudah bertekad jika dia akan menghancurkan David.


Anna melepas tangan ibunya dan berbalik. Matanya menatap Xavier yang juga menatap nya. Entah apa yang mereka fikirkan masing masing. Tapi Anna tidak akan mundur sekarang.


"Aku mau sendiri. " Ucapnya lalu pergi dari kamar ibunya dan pergi ke ruang kerjanya.


Menutup pintu, Anna duduk di kursinya dan menelfon seseorang.


"Ohh bagaimana? " Tanya pada seseorang di sebrang sana.


"Kau bisa membukanya sekarang. " Jawab orang itu.

__ADS_1


"Oke." Anna langsung menutup telfon dan membuka laptop nya.


Anna membuka e-mail nya dan terlihat ama tanya menajam dan senyumnya melebar. Senyum yang membuat orang ngeri dan merinding. Entah apa yang difikiran Anna sekarang, tapi itu mungkin rencananya akan dimulai.


__ADS_2