Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
chapter 5


__ADS_3

15: 43 KST


Waktu sudah menunjukan jika sudah waktunya sekolah bubar. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang atau mampir ke mall untuk menjernihkan otak mereka yang berjam jam di peras. Disaat semua siswa memasukan satu persatu peralatan nya ke tas dan pulang, xavier-laki laki itu malah masih duduk di mejanya termenung.


Kejadian tadi saat Ana mengerjakan soal yang bisa di kerjakan olehnya dengan waktu 10 menit malah di kerjaan hanya 10 detik oleh Ana. Sungguh luar biasa. Wajar jika gadis itu bisa masuk the Dalton school yang mempunyai predikat sekolah unggul di New York. Tak banyak yang bisa masuk kesekolah itu, Xavier pun tak bisa.


Tapi ada minus dari gadis itu, yaitu tempramen nya yang sulit di jaga. Dan sikap dingin nya pada siapapun itu kecuali dia sahabatnya.


"Hei Xavier, kau tidak pulang? " Tanya salah satu temanya.


"Hah. Iya. "


Xavier pun segera keluar dari kelas dan kebetulan bertemu dengan Brian yang masuk ke kelasnya.


'Sepertinya dia mencari Ana. '


"Kau mencari Ana? "


Brian menoleh ke arah Xavier.


"Yah. Kau lihat dia? " Tanya Brian.


Brian cukup mengenal Xavier yang terkenal pintar dan dingin itu. Seolah menemukan hal yang sama tentang Ana pada diri Xavier membuat Brian merasa jika Ana dan Xavier seperti pasangan.


'Ahhh tidakkk!! '


"Dia sudah pergi sebelum kelas berakhir. " Ucap Xavier lalu pergi.


Brian mengernyitkan dahinya mendengar Ana sudah pergi. Dengan sigap Brian langsung menelfon Ana.


Tut tut tut


"Hallo."


"... "


"Kau dimana? "


"... "


"Diamlah disitu. Aku kesana. "


Tut tut tut.


Brian pun melajukan motornya pergi dari area sekolah.


***


David--ayah Anastasia-- sedang sibuk dengan laptopnya dan berkas berkas yang sedang tersebar dimana mana.


Tok tok tok


"Masuk! "


Sekretaris nya masuk bersama dengan seorang pria yang seumuran dengan David. Wajahnya pun juga terlihat bule, sama seperti David yang berasal dari Amerika.


"Ohh Andrew. Kau sudah datang? " Ucap David yang langsung berdiri dan menjabat tangan Andrew.


"Emm. Kau sepertinya sedang sibuk. Apa aku mengganggu? "


"No. Aku juga sedang menunggumu. "


David mempersilahkan Andrew untuk duduk di sofa yang ada di ruanganya itu.


"Kau benar-benar terlihat semangat dengan apa yang akan kita bahas David " Amdrew mengamati wajah sahabatnya yang sudah lama itu dengan seksama. Persahabatan yang cukup lama jika di lihat dari masa high School hingga umur sekarang, mungkin sudah lebih dari 20 tahun mereka kenal dengan sangat baik. Hingga mereka tahu bagaimana saat satu sama lain sedang senang atau sedih. Tak ada rahasia bagi Andrew dan David. Semua seperti buku yang terbaca dengan mudah. Hingga tak ada lagi kebohongan yang bisa mereka buat.


"Yah. Tentu aku semangat. Aku berharap ini yang terbaik untuk nya. Aku berharap dia mengerti. " Ucap David dengan senyum tipis dan mata yang sendu.


Andrew pun hanya menghela nafas melihat sahabatnya ini yang berkubang dalam kesedihan. Andrew tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Andrew pun tahu seperti apa kesedihan yang dialami oleh David.


"Yah. Aku juga berharap seperti itu. Tapi David, aku ingin kau tidak terlalu berharap jika ini akan berhasil. Karena aku sendiri ragu dengan itu. Kau tahu, kembaran kecilku itu seperti apa. Dan aku sangsi jika dia akan suka dengan mutiara mu. "


"Kau tak perlu khawatir. Aku mempunyai feeling jika mereka akan cocok. "


Andrew menaikan alisnya seblah mendengar ucapan David yang penuh keyakinan itu. "Kau seyakin itu? Sepertinya ini sudah lama kau rencanakan bung. " Ucap Andrew geli.


"Yah.. Sejak mereka kecil. " Ucap David sambil menerawang saat dulu.


***


Anastasia, evelyn dan Bryan baru kembali dari mall. Mereka ingin merasakan yang namanya masa remaja yang akan sayang jika di lewati hanya dengan belajar. Maka dari itu, Ana dan Eve langsung bolos. Dan Bryan menyusul saat sekolah sudah selesai.


Sekarang Ana sudah berada di rumahnya. Eve sudah pulang dan Bryan harus ke rumah utama. Rumah Ayah-yang bahkan tidak dianggap oleh ana-yang merupakan rumah utama yang di maksud.


Ana memasuki ruang utama dan melihat pemandangan yang cukup membuat hatinya panas. Tanganya mengepal erat bahkan buku-buku jarinya menguat.


Disana, di sofa itu ada seorang laki-laki paruh baya yang mau tak mau harus ia panggil daddy sedang menghiraukan wanita yang sedari tadi memandangnya takjub seolah sedang mengagumi patung dewa-yang tidak lain adalah mommy nya. Ana yakin jika mommy nya sudah lupa siapa orang yang di hadapannya. Tapi cinta tak buta bukan? Dia bahkan bisa merasakan dimana letak cintanya walau mata dan fikiran nya sudah lupa. Hati ana terasa ter iris sayat pisau yang tajam. Hingga membuatnya menahan air mata yang siap tumpah kapan saja.


"Kau sudah pulang. " Suara itu menginterupsi lamunan Ana.


Pria itu berjalan tanpa mau melihat wanita yang sedang duduk di kursi roda dengan tatapan kecewa. Sungguh, Ana ingin sekali memukul wajah orang yang ada di hadapannya ini.


"Untuk apa kau kesini?! " Ucap Ana dengan nada rendah seolah Ana sedang memendam amarah yang besar.


"Nanti malam. Datanglah ke restoran Rose Black. Pukul 20: 00 kau harus sudah siap. Supir akan menjemputmu dan jangan berharap jika kau bisa kabur! Bodyguard sudah aku sebar di penjuru mansion ini.! " Titah David memandang wajah putrinya dengan tajam.


Ana menaikan alisnya dan tersenyum miring. Seolah ancaman dan perintah dari David bukan apa apa. Ana tahu bahwa apa yang dikatakan oleh David bukan ancaman palsu. David tak pernah tidak menepati apa yang dia katakan. Jika David menyuruhnya pergi apapun akan David lakukan untuk memisahkan Ana dengan ibunya.

__ADS_1


"Seperti biasa bukan?! "


***


Ana melamun dirinya di cermin. Dirinya hanya memakai pakaian casual. Tidak ada yang spesial buat Ana. Toh, siapapun yang akan dia temui, itu bukan urusanya.


Ana pun keluar dari kamar dan menuruni tangga. Di depan TV mommy nya sedang menonton. Ana pun menghampiri mommynya hanya untuk sekedar pamit.


"Mom. Mommy sedang apa? " Ana menekuk lututnya dan berhadapan dengan mommy nya yang tak menghiraukan nya.


"Mom. Ana pergi dulu. Mommy baik baik ya. "


Setelah berpamitan dengan mommynya, Ana pun segera pergi ke restoran Black Rose. Tak lupa dua bodyguard yang sudah berada disamping dan supir yang akan mengantarkanya.


Setelah melewati waktu 15 menit akhirnya Ana tiba di restoran bergaya romantic. Restoran ini menyajikan pemandangan yang indah jika saja suasana hati Ana sedang baik mungkin dirinya akan berselfie ria dengan Eve. Sayang hatinya sedang buruk. Jadi apapun yang Ana lihat terasa hambar dan biasa.


Memasuki restoran Ana langsung disambut oleh waitress yang mengantarnya ke meja yang sudah dipesan oleh David.


Ana bisa melihat di sana, meja yang Ana kira adalah meja yang sudah dipesan. Sudah ada David dan pria paruh baya yang seumuran dengan David. Ana kira jika itu adalah sahabat David.


Berjalan ke arah meja itu ternyata David sudah mengetahui keberadaan Ana.


"Kau sudah datang. " Sapa David dengan wajah tersenyum.


'Palsu! '


Ana tak menjawab dan hanya duduk disamping David. Didepannya, pria yang Ana kira adalah sahabat David tersenyum kepadanya.


"Perkenalkan, dia sahabat daddy. Andrew. " David pun mengenalkan putrinya dengan Andrew.


Andrew pun menyalurkan tanganya agar bisa berjabat tangan dengan Ana. Tapi Ana? Gadis itu hanya menaikan alisnya dan tak menjawab dan membalas sapaan itu.


"Ana! " Tegur David yang melihat sikap kurang sopan Ana terhadap Andrew.


"Sudah tak apa. " Lerai Andrew yang melihat jika Ana tak suka dengan dirinya.


"Daddy tak pernah mengajarkan mu tidak sopan dengan yang tua Ana! "


"Karena memang kau tak pernah mengajariku apa-apa" Ucap Ana santai.


Kakinya sudah ia silahkan dan bersender di kursi.


"Jadi, dia yang ingin kau kenalkan padaku? "


David mencoba menahan emosi yang siap meledak. David sangat malu melihat Ana yang memanggilnya seperti memanggil kawan. Tak ada kata daddy dari mulut putrinya. Sungguh miris!!


"Bukan. Orangnya sedang ke toilet. "


Mengenyahkan sikap sopan santun Ana, David memesan makanan untuk putrinya. Setidaknya, ini pertama kalinya dirinya makan bersama dengan Ana. Setelah kejadian 5 tahun yang lalu. Membuat mereka bahkan nyaris tak pernah bertemu.


Hingga ada suara yang membuat mereka menoleh dan melihat siapa orang itu.


"Kau! " Pekik mereka berdua.


"Ahh kalian sudah kenal rupanya? " Ucap Andrew yang melihat wajah mereka yang terkejut.


Wajah Ana langsung berubah biasa, hanya beberapa detik setelah melihat Xavier, orang yang mereka tunggu itu duduk dihadapanya.


"Kita satu sekolah dad. " Ucap Xavier.


Mata Xavier menatap Ana yang terlihat biasa saja. Jadi Ana adalah anak dari David? Bahkan ia baru tahu jika daddy nya adalah teman daddy nya Ana.


"Kita makan dulu baru bahas apa yang akan kita bicarakan. " Ucap David dengan tegas.


Mereka pun makan dengn hikmat, hanya Ana yang tidak berselera makan karena disampinya ada daddynya. Sungguh muak Ana berada disampingya.


"Jadi? "


Ana sudah benar benar muak dan bosan berada diantara mereka.


"Ekhem. Jadi daddy dan Andrew sahabat daddy punya rencana yang sudah lama kita punya. Yaitu menjodohkan kalian. "


Hening.


Mata Ana menatap tajam kearah David. Sungguh, Ana tak suka jika dirinya diatur seperti boneka seperti ini.


"Menjodohkan? Kalian gila?! " Ucap Xavier yang kaget setelah beberapa saat dirinya termenung.


"Xavier! " Tegur Andrew.


"No dad. Daddy pikir ini abad keberapa? Xavier punya kehidupan sendiri dan itu gak bisa daddy ikut campur. "


"Oh ya? Kau tahu konsekuensi nya Xavier.! Kau tahu cara main daddy! " Ancam Andrew.


Xavier menggeram marah, selalu seperti ini. Hidupnya di kendalikan oleh daddy nya. Dirinya tak bisa bebas sperti yang lainya.


"Aku juga menolak! " Ucap Ana santai.


David menatap tajam Ana.


"Mommy mu akan sedih Ana, jika kau menolak perjodohan ini. " Ucap David sambil tersenyum miring.


Mendengar nama mommy nya disebut membuat wajah Ana mengeras dan menatap tajam Daddy nya. Ana tahu yang di maksud oleh David dengan sebutan mommy. Karena Ana tak pernah memanggil istri David dengan sebutan itu. Terlalu sudi dirinya untuk memanggil wanita yang sudah membuat hidupnya hancur dengan sebutan ibu.


Dan Ana tahu maksud dari perkataan David yang mengatakan jika mommy nya akan sedih adalah bentuk ancaman dari seorang David.


"Baiklah. Aku setuju. Semoga mommy tidak bersedih lagi. " Ucap Ana dengan tersenyum miring.

__ADS_1


Xavier, laki-laki itu memandang Ana terkejut. Karena sebelumnya gadis itu menolak dan sekarang dengan mudahnya gadis itu menerima perjodohan ini.


"Bisa kita bicara berdua? "


Ana menoleh, menaikan alisnya saat mendengar ucapan Xavier yang ingin berbicara denganya.


"Baiklah."


Xavier lebih dulu berdiri dan di ikuti dengan Ana. Mereka menuju lorong yang sepi.


"Ada apa? "


"Kau gila?! " Pekik Xavier menatap tajam Ana.


"Apa maksudmu. To the point saja. " Ucap Ana santai walau mendapat tatapan tajam dari Xavier. Bagi Ana tatapan itu tak ada artinya dan Ana tak takut dengan tatapan itu. Baginya, sudah biasa dirinya ditatap tajam oleh orang lain.


"Kau dengan mudahnya menerima perjodohan ini? Apa kau tak berfikir jika ini menyangkut masa depanmu? "


"Lalu aku harus apa? Berteriak dan memaki kedua orang tua itu didepan semua orang? Apa untungnya? Toh perjodohan ini tetap akan terlaksana. Kau juga tak punya kekuatan untuk melawan ayahmu bukan? Jadi jangan berteriak padaku atau membentakku. Kalau kau sendiri tak punya ide untuk melawan perjodohan ini. "


Xavier, --laki laki itu terheran karena baru kali ini ada gadis yang tak terpengaruh dengan tatapan tajam dan bentakanya. Biasanya semua wanita akan takut jika berhadapan dengan nya. Bahkan menangis saat di tatap tajam dan di bentak. Tapi Ana, dia berbeda. Justru gadis itu berani membalas tatapan tajamnya dan berbicara dengan angkuhnya didepannya. Sungguh berani!


"Wahh bukan karena kau terpesona padaku dan memang menginginkan perjodohan ini kan? Aku rasa kau memanfaatkan keadaan ini agar kau bisa bersama ku. " Ucap Xavier bangga.


Ana tergelak, menatap Xavier dengan tatapan tak percaya. Ana bahkan harus menahan mual karena melihat tingkat kebanggan Xavier yang sepertinya akut.


"Apa kau berfikir laki-laki hanya dirimu? Apa kau menganggap dirimu tampan? Astaga! Seumur hidupku, baru kali ini aku menemui laki-laki seperti dirimu X. Dengar, aku bahkan bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari dirimu. Jadi jangan berfikir jika aku menyukaimu. Aku bukan termasuk fans fans mu yang gila. "


"Benarkah? Lalu kenapa kau tidak menolak perjodohan ini? " Tanya Xavier menuntut.


Ana pun hanya menghela nafas, tidak mungkin jika dirinya mengatakan jika dirinya diancam oleh ayahnya sendiri. Akan sangat rumit jika harus mengatakan hal yang sejujurnya. Toh, rahasia ini memang tak boleh ada yang tahu. Hanya Brian dan Evelyn yang tahu.


"Aku tak harus mengatakan padamu. Jika kau keberatan, kau boleh mengatakan pada ayahmu. " Ucap Ana santai sambil menyenderkan tubuhnya di dinding.


Xavier bergeming. Dirinya juga tak bisa menolak perjodohan ini. Sangat tidak mungkin dirinya menentang ayahnya yang sedari dulu sudah menetukan masa depan ya. Xavier tahu cara main ayahnya yang extrim. Tak tanggung tanggung ayahnya mungkin akan membunuh nya jika dirinya tak mau memenuhi keinginan ayahnya. Sedari kecil, Xavier sudah di didik dengan keras oleh daddynya.


Ambisi dan obsessi menjadi dua hal yang selalu diajarkan oleh daddynya. Andrew ingin Xavier menjadi laki-laki yang tangguh dan wibawa. Dirinya tak ingin anak satu satunya itu menjadi lemah dan tak berdaya. Andrew bahkan tak segan untuk memukul Xavier jika melihat anak itu melakukan kesalahan. Tak ada toleransi untuk Andrew jika Xavier berbuat salah. Semua harus perfect.


Melihat diamnya Xavier, Ana tahu jika laki-laki itu juga tak bisa menentang ayahnya. Sama seperti dirinya. Ana pun hanya mendesah kecewa. Karena tak ada cara lain.


"Melihatmu diam sepertinya tidak ada cara lain. "


Suara itu membuat lamunan Xavier hancur. Xavier menatap Ana yang sekarang juga sedang menatapnya.


"Lalu? "


"Simple. Kita jalani saja. Selesai bukan? " Ucap Ana.


"Jalani kau bilang? Apa kau tak punya seseorang yang spesial disampingmu? " Tanya Xavier heran.


"Well maksudmu pacar? Jika kau mempunyai, aku tak masalah. Silahkan saja kalian meneruskan hubungan kalian. Tapi, jangan sampai ada orang yang tahu. "


"Karena...


Ana melangkah kedepan, berhadapan dengan Xavier. Walau tinggi Xavier tapi tubuh mereka tak jauh beda. Ana hanya sebatas dagu laki-laki itu. Jadi tak terlalu mendongak.


... Bukan hanya mencoreng nama baik ku, tapi kau juga. Sama sama menguntungkan bukan? " Ucap Ana dengan tersenyum.


Mata itu, Xavier menatap mata biru itu lebih dalam. Seolah sedang menyelami apa yang ada di mata itu. Sangat misterius. Ana bagi Xavier sangat misterius. Gadis ini bukan sembarang gadis biasa. Xavier merasakannya. Aura yang dipancarkan oleh Ana sangat kelam. Terlihat tegar dan kuat tapi entah kenapa Xavier merasakan ada aura yang menyedihkan diantara aura yang kelam itu.


Diantara kegelapan itu ada darah didalamnya. Kesakitan yang entah apa itu.


"Jadi? Apa keputusanmu? "


Mata Xavier mengerjap, seperti orang linglung. Dirinya seperti dibodohi oleh Ana.


"Okay. Kita jalani saja perjodohan ini. Tapi ingat! Kita urusi urusan masing-masing. Jangan mengusik privasi orang. Jaga batasan! " Ucap Xavier dengan menunjuk kearah Ana.


"Seperti aku tak punya kegiatan lain hingga harus mengurusi urusanmu. Baiklah. Jadi selesai bukan? Bisa kita kembali? "


"Oke."


Mereka pun berlalu dan kembali ke kursi masing masing. Andrew dan David saling berpandangan dan menganggukan kepalanya seakan mengerti dengan tingkah keduanya.


"Sudah berdiskusinya? " Tanya David.


"Sudah dan kami sepakat untuk menerima perjodohan ini. " Ucap Xavier.


"Baguslah. Toh mau tak mau kalian tetap akan dijodohkan" Ucap Andrew.


Ana pun yang jengah dengan obrolan yang memuakan membuatnya ingin pulang.


"So urusanku sudah selesai bukan? Aku mau pulang. Permisi" Tanpa jawaban dari mereka ana pun berdiri dan pergi dari restoran itu.


Xavier yang melihat juga berinisiatif pergi.


"Aku juga harus pergi. Jika tak ada yang harus dibicarakan lagi. Permisi"


Kini hanya tinggal dua orang paruh baya yang berada di meja itu.


Andrew menatap wajah David yang seperti orang melamun.


"David, aku tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini. Jangan terlalu difikirkan. Semua pasti akan berdampak baik. "


David mengerjapkan matanya. Ada rasa haru dan juga sedih yang David rasakan sekarang.


"Semoga.. "

__ADS_1


***


__ADS_2