Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 25


__ADS_3

Hari ini Anna akan masuk kuliah pertama kalinya. Xavier pun juga sudah mendaftar Universitas yang sama dengan istrinya. Beberapa hari ini Xavier mencoba membuat mood Anna lebih baik karena masalah bodyguard itu. Walau hasilnya tidak 100% tapi itu lebih baik dari pada kemarin.


Lebih mengerikan dari pada menonton film horor. Anna pun sudah berdiskusi tentang kuliah mereka. Dan mereka sepakat jika mereka akan satu Universitas. Anna tak pernah memaksa Xavier untuk ikut dengan nya. Tapi laki-laki itu sendiri yang juga menyukai Universitas yang ia pilih.


Mereka masuk ke Yonsei Universitas dengan jurusan Business and Socialist Sociology. Karena mereka akan mewarisi perusahaan orang tua mereka masing-masing.


Xavier sudah duduk di meja makan dengan pakain rapinya. Sedang Anna masih berada di kamar mommynya untuk pamit. Setelah pamit, Anna keluar dan duduk di kursi nya.


Anna terlihat cantik hari ini. Walau setiap hari Anna terlihat cantik, tapi kali ini Xavier melihatnya dengan senyum merekah.


"Ada apa menatapku? " Tanya Anna yang menjatuhkan Xavier tersenyum padanya.


"Kau cantik. " Puji Xavier.


"Aku selalu cantik. " Balas Anna singkat.


Mereka pun sarapan dengan hening. Setelah selesai, mereka bergegas keluar. Di luar sudah ada mobil berjenis Rolls-Royce Phantom berwarna hitam. Mobil seharga mencapai 10 Milyar itu David beli untuk putrinya.


Saat mobil itu tiba beberapa hari lalu, Anna sudah akan meledak jika Xavier tidak menenangkan nya. Untuk apa David membeli kan mobil itu? Mobilnya sudah banyak di garasi hingga penuh.


Saat keluar, Anna melihat Brian yang sudah berdiri tegak dengan pakaian casual nya. Di padukan dengan jaket hitamnya, Anna melihat alat komunikasi di telinganya. Alat yang sama si pakai oleh bodyguard mereka. Apa mungkin?


"Brian kau disini? " Sapa Anna berdiri didepan nya.


"Iya. "


"Kau.. Tidak mungkin. " Gumam Anna menyangkal pemikiran nya.


Brian menatap Anna, dia tahu jika Anna pasti tahu maksud kedatangan nya kesini.


"Kau benar. Aku akan menjadi pengawal mu mulai saat ini. " Ucap Brian.


Anna kaget dengan perkataan Brian. Xavier pun juga, dirinya tidak tahu jika Brian akan menjadi pengawal istrinya. Itu artinya, selalu ada Brian di dekat Anna? Oh tidak. Ini tidak. Boleh di biarkan. Dia harus bertanya pada mertuanya untuk apa Brian menjadi pengawal Anna jika dirinya saja juga selalu mengikuti istrinya itu.


Anna pun tercengang dengan Brian. Belum pulih keterkejutan nya Brian kembali membuatnya kaget.


"Jangan harap jika hanya aku dan dua bodyguard mu itu yang selalu mengikutimu Anna. Lihat sekelilingmu, ada lebih dari sepuluh bodyguard yang mengikuti mu diam diam. Mereka diutus oleh ayahmu agar tidak terlihat. " Ucap Brian menurunkan suaranya.


Anna langsung melhat sekeliling dengan lirikan nya. Anna menyadari jika ada beberapa mobil hitam di luar mansion nya yang di dalamnya ada ada laki-laki berseragam bebas. Sepertinya mereka akan menyamar. Karena terlihat berbeda dengan dua bodyguard nya di belakang.


Anna menghembuskan nafasnya pelan. Kepalanya seperti mau pecah. Xavier pun menyadarinya dan merengkuh bahunya.


"It's okay Anna. Berfikirlah positif, anggap saja mereka tidak ada jika kau merasa terganggu. Cukup dua orang itu saja yang kau anggap. " Ucap Xavier mengusap lengan istrinya.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang. " Ucap Anna akhirnya.


Bodyguard itu langsung membukakan pintu mobil. Anna masuk dulu, dan Xavier memutar mobil dan duduk disamping nya. Sopir sudah ada di kemudi dan Brian duduk di sebelah kemudi.


Mereka akhirnya melaju dengan iringan mobil di depan dan dibelakang mobil Anna.


"Aku seperti presiden yang sedang di kawal. Menyebalkan. " Gerutu Anna pelan.


"Well anggap saja begitu sayang. Aku presiden dan kau ibu presiden. " Ucap Xavier mencoba membuat Anna senang.


Anna hanya mendengus dan memejamkan matanya. Xavier menatapnya dengan tersenyum. Xavier melirik Brian yang melihat ke depan dengan wajah datarnya. Xavier menyeringai kecil.


"Kau masih mengantuk sayang? Astaga sini aku peluk. " Xavier bergeser memeluk Anna dan mengusap kepalanya. Anna tak bereaksi karena dirinya masih harus menenangkan dirinya.


"Kenapa kau tidur larut tadi malam? Maafkan aku ya, membuatmu lelah semalam. " Ucapnya lembut.


Sopir didepan tersenyum maklum mendengar majikan nya membicarakan hal semacam itu. Sedang Brian dia menahan emosinya. Anna pun tahu jika Xavier hanya ingin memanas manasi Brian. Tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Xavier. Belum lebih tepatnya. Karena Anna masih sibuk dengan rencana nya. Xavier pun juga sibuk dengan urusan perusahaan.


Walau terkadang Xavier sering menciumnya saat akan tidur dan bangun tidur. Perlakuan manis nya kadang membuat Anna tersenyum malu. Dirinya belum menjadi istri sesungguhnya untuk Xavier. Tapi laki-laki itu lebih sabar menghadapi nya.


***


Mereka sampai di Yonsei Universitas. Mobilnya yang memasuki area kampus membuat orang-orang melihat ke arahnya. Belum pernah ada yang membawa Rolls-Royce ke kampus. Mereka yakin jika orang itu adalah orang penting.


Kedua bodyguard itu langsung keluar dan membukakan pintu untuk Anna dan Xavier. Xavier menghampiri Anna dan memegang tangan nya. Anna menatapnya dengan datar.


"Kenapa selalu seperti ini.! Aishh.. Aku tidak suka diperhatikan n.! " Gerutu Anna saat melihat banyak orang melihat nya.


Xavier tersenyum tipis, "walaupun kau sembunyi, kau tetap menjadi pusat perhatian semua orang Anna. " Ucap Xavier geli.

__ADS_1


Dari dulu memang dirinya selalu menjadi sorotan, entah itu di sekolah ataupun ditempat lain. Entahlah, Anna tidak tahu kenapa. Apa yang spesial dari dirinya yang dilihat banyak orang.


Mereka melangkahkan kakinya masuk ke Universitas itu dengan dua bodyguard yang tentunya selalu berada di depan dan belakang mereka. Anna mendengus mendengar bisik bisik dari orang-orang yang melihat mereka.


'Bukankah itu model terkenal itu? '


'Itu, ishh siapa sih aku lupa..!!'


'Ahh Ashlyn.. Model cantik itu. '


'Gila tampan sekali laki-laki itu. '


'Hubungan mereka apa ya? '


'Ahhh tampan nya..!! '


Rasanya Anna seperti ingin menyumpal mulut mereka. Walau wajahnya masih datar, tapi tangan nya gatal sekali ingin merobek mulut mereka yang memuji suaminya! Eh.! Apa baru saja Anna cemburu?! Ah tidak tidak.!! Tidak boleh.!!


Xavier menatap Anna heran karena kepala istrinya itu terus menggeleng.


"Kau kenapa sayang? Pusing? " Tanya Xavier.


"Hah.? Tidak.! " Anna tersadar jika dirinya melakukan hal bodoh.


Brian menyamakan langkahnya disamping Anna. "Kalian masuklah ke kelas kalian. Mereka akan menunggu kalian di luar kelas. " Ucap Brian.


Anna menganggukan kepalanya. Mereka sampai di kelas mereka. Anna pun langsung duduk di kursi kosong. Dan Xavier duduk disamping nya. Brian beda kelas., walau dia juga ikut kuliah di kampus yang sama. Tapi mereka berbeda jurusan, Brian pun juga bisa mengawasi Anna dari jauh.


"Kau ikut akselerasi? " Tanya Xavier pada Anna.


"Hem.. Kau juga bukan? Jika kita tidak memilih akselerasi, akan lebih lama X. " Ucap Anna.


Xavier setuju dengan pendapat Anna. Mereka memang harus menempuh jalur akselerasi. Karena jika tidak makan mereka akan menghabiskan banyak waktu di kampus. Sedang tugas mereka menanti agar segera ditangani.


Tiba-tiba dari pintu kelas terbuka. "Hai semuanya..! " Anna dan Xavier langsung menoleh bersama.


"Eve? "


Anna dan Xavier kaget dengan kedatangan Eve, lebih tepatnya Anna yang lebih kaget karena dia pikir Eve akan memilih kampus lainya. Bukan maksud dirinya merendahkan Eve tapi, Anna pikir kampus ini tak akan terpikirkan oleh sahabatnya itu.


"Kau juga kuliah disini? " Tanya Xavier. Laki-laki itu melirik istrinya yang sedari tadi diam.


"Iya aku juga satu jurusan dengan kalian. " Ucap Eve dengan senyum merekah.


Anna diam, tapi pikiranya terus berkelana. Anna yakin jika ini bukan kebetulan semata. Eve pasti sudah merencanakan untuk tetap mengikutinya. Entah lah, harus bagaimana lagi Anna mengatakan pada Eve jika dirinya merasa terbebani dengan semua yang di lakukan oleh Eve.


Eve merasa Anna menatapnya tajam. Pandangan mereka pun bertemu dan Anna mengisyaratkan untuk berbicara berdua. Melihat itu Eve menunduk sedih. Karena dia tahu pasti jika Anna pasti akan memarahinya.


Mereka keluar dan berbicara berdua.


"Jelaskan.! " Ucap Anna memandang tajam Eve.


Eve salah tingkah, dia berfikir bagaimana membohongi Anna.


"Sungguh Anna, aku tak tahu jika kita satu kampus lagi. " Ucap Eve mencoba menutupi nya.


"Kau fikir aku bodoh?! Apakah kurang jelas ucapanku?! " Tanya Anna ketus.


"Baiklah. Kau benar, tapi Anna aku benar-benar tak bisa lepas darimu. " Ucap Eve memelas.


Anna menutup matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dirinya benar-benar kesal dengan tingkah Eve.


"Baiklah, ini keputusan mu Eve. Apapun yang terjadi setelah ini ,kau tanggung sendiri. Jangan merengek padaku. Mengerti?! " Anna akan bersikap tidak peduli dengan Eve mulai sekarang. Anna tahu jika Eve sampai disini dengan perjuangan hebat. Tapi Anna merasa bersalah karena terus melihat Eve yang berusaha keras berada disisinya.


Eve menganggukan kepalanya setelah mendengar ucapan Anna. Merak kembali ke kelas dan memulai kuliah mereka.


"Anna, kau dikawal lagi? " Tanya Eve saat melihat dia bodyguard yang berada di depan kelas.


Anna hanya bergumam menjawab pertanyaan Eve yang membuatnya kesal kembali. Dia melirik bodyguard yang terus melihat sekitar memastikan tidak ada yang mengancam keselamatan majikan nya.


***


Mereka kembali ke rumah setelah kulia mereka selesai. Sebelum Anna keluar, Xavier mencegah nya.

__ADS_1


"Ada apa? " Tanya Anna saat tangan nya di cekal oleh suaminya.


"Aku harus kembali ke kantor. Kau tak apa sendiri? " Ucap Xavier.


"Tak apa X. Pergilah. Aku juga ingin istirahat. " Ucap Anna.


Xavier menganggukan kepalanya dan mencium kening Anna sebelum pergi. Anna mematung saat Xavier mencium nya. Walau hanya di kening, tapi itu membuat jantung nya berdetak cepat. Memang bukan pertama kalinya. Tapi tetap saja, Anna merasakan setiap ke intiman nya dengan Xavier selalu membuat nya senam jantung.


Anna jadi teringat dengan kewajibanya sebagai istri. Ini sudah lebih dari setahun mereka menjadi suami istri, tapi mereka bahkan belum melakukan ritual malam pertama. Anna merasa seperti istri yang kejam.


Walau Xavier tak pernah meminta, tapi Anna tahu jika Xavier menahanya hanya untuk nya. Apa begitu besar cinta Xavier kepadanya hingga laki-laki itu mau menunggunya.?


Anna menggigit bibir nya, dia tidak tahu harus melakukan apa. Baginya ini adalah hal pertama yang membuatnya tidak bisa berfikir. Apa dia harus menggunakan cara yang sudah banyak dia lihat di drama? Haishh..! Anna mengacak rambutnya frustasi.


Dia lahirnya masuk ke rumahnya dan masuk ke kamarnya. Dia susuk di meja rias nya dan menatap wajahnya. Apa dia harus memberikan tubuhnya pada Xavier? Apa dia rela memberikan semuanya? Walau Anna belum yakin dengan rasa yang ada di hatinya, tapi Anna merasa nyaman dengan Xavier selama ini.


Dia takutt, jika saat dirinya sudah menyerahkan dirinya Xavier akan berpaling darinya. Hal yang sangat menakutkan baginya. Tapi, bukankah dulu Anna bilang jika pernikahan ini tak akan berlangsung lama? Lalu apa yang ia rasakn sekarang? Jika dirinya berpisah dengan Xavier?


Tidak! Anna menggelengkan kepalanya. Dia harus tetap menjadi Anna yang sebelumnya. Anna bukan orang yang mudah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya. Dan itu termasuk Xavier? Apakah sekarang Anna merasa jika Xavier adalah miliknya? Iya.! Xavier adalah miliknya. Entah itu sementara ataupun selamanya, Xavier tetap miliknya. Walau belum ada rasa tapi jika Anna sudah mengklaim miliknya maka tidak ada seorang pun bisa merebutnya!!


Anna merasa mempunyai kepercayaan diri yang tinggi sekarang. Dirinya harus menyiapkan semuanya sekarang. Apakah harus dengan lingerie? Anna mempunyai banyak koleksi lingerie, tapi belum pernah ia pakai selama Xavier tinggal bersamanya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 21: 14,anna sudah bersandar di ranjang dengan buku di tangan nya. Sesaat Anna mendengar suara mobil di luar, Anna yakin jika itu adalah mobil Xavier. Tapi kenapa dirinya tiba-tiba jadi gugup seperti ini? Dimana kepercayaan tinggi yang tadi siang ia junjung?


Astaga, apakah di cancel saja? Anna benar-benar bingung sekarang. Dia bertambah panik saat mendengar suara langkah kaki di luar yang semakin mendekat. Anna menutup bukunya dan beranjak dari ranjang, tapi terlambat. Xavier sudah masuk dan melihat Anna yang akan turun dari ranjang.


Ceklek.


Xavier menatap Anna dengan mengejutkan dahinya, dia heran dengan Anna. Tapi setelah melihat apa yang di pakai oleh Anna, malah membuatnya panas dingin. Apa rencana Anna dengan memakai lingerie saat ini?


"Ehemm.. " Xavier berdehem dan masuk ke kamarnya setelah menutup pintu.


Dia canggung sekarang, pikiran nya juga tiba-tiba blank. Hening sesaat hingga Anna memecah keheningan itu dengan bertanya pada Xavier.


"Kau---mau mandi? " Tanya Anna gugup.


"Ehem.. Iyya--badan ku semua lengket. " Ucap Xavier tak kalah gugup.


"Baiklah.. Aku siapkan air hangatnya.. " Anna buru-buru masuk kamar mandi mengabaikan balasan Xavier.


Setelah masuk kamar mandi, Anna menghembuskan nafas nya. Dia benar-benar gugup, semua rencana yang ia susun hancur sudah. Mengusap dadanya yang ia rasakan jantung nya serasa mau copot.


Sedangkan Xavier pun ikut merasakan perasaan yang Anna rasakan. Dia gugup, apalagi setelah melihat tubuh Anna yang hanya tertutup dengan bahan tipis. Xavier laki-laki normal, dia sudah menantikan hal ini lama. Tapi dirinya juga tahu tempat, dia tak mau jika melakukan hal itu dengan paksaan.


Anna adalah istri yang dia cintai, maka dari itu dia tidak ingin menyakiti nya. Xavier akan menunggu sampai Anna sendiri yang mengatakan jika dirinya sudah mau menyerahkan semuanya padanya.


Dan sepertinya, malam ini Xavier pikir saatnya sudah tiba. Dengan baju yang di kenakan Anna dan pertanyaan Anna tadi membuatnya sadar jika Anna sudah memulai membuka hatinya. Dan Xavier tak akan membuang kesempatan itu.


Anna keluar dan mengatakan jika air hangatnya sudah siap. Xavier pun hanya menganggukan kepalanya dan masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Xavier keluar dan masuk ke walk in closet. Setelah menganti bajunya, dia keluar. Xavier melihat Anna duduk di meja yang memang berada di kamar mereka. Meja yang berbentuk bulat dengan dua kursi berwarna putih gading. Terlihat Anna duduk dengan memegang gelas yang berisi wine dan menatap jendela yang terbuka.


Xavier memilih duduk di samping nya. "Apa ada hal yang terjadi? " Tanya Xavier.


Anna menoleh dan menatap Xavier. Tak menjawab, Anna menggeser gelas kosong dan menuangkan wine di dalamnya.


"Minumlah. Supaya lebih baik. " Ucap Anna tersenyum.


Xavier memegang kaki gelas itu dan menggoyangkan nya sedikit. Lalu menyesapnya, ini bukan pertama kali ia meminum minuman seperti ini. Tapi, ini pertama kalinya dia minum dengan Anna. Xavier tidak tahu apakah ini pertama kalinya buat Anna, atau bukan.


Setelah menyesap wine, Xavier memandang Anna dengan heran. Dia bingung dengan pribadi Anna yang selalu membuatnya sakit kepala.


"Ada apa Anna? Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan? " Tanya Xavier.


Anna meletakan gelasnya dan menatap Xavier, begitu juga Xavier yang menatapnya.


"Aku sudah putuskan. " Ucap Anna yang membuat Xavier bingung.


"Apa maksudmu? " Tanya Xavier heran.


Anna sudah memantapkan hatinya dan tekadnya. Dia harus melakukanya, dan ini adalah yang ia putuskan. Anna menatap Xavier, wajahnya tak lagi datar dan dingin.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan, aku akan membuka hati ku dan menerimamu. " Ucap Anna.


__ADS_2