Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 1


__ADS_3

Manhattan- New York


Sinar matahari pagi masuk di sela sela tirai jendela kamar seorang gadis yang masih bergelung dengan selimut. Jam juga sudah menunjukan waktu 8: 15 pagi. Harusnya gadis itu sudah bangun, tapi sampai sekarang belum bangun juga. Terdengar ketukan pintu dari luar yang ternyata adalah pelayan gadis itu.


Tok tok tok.


"Nona. Nona bangun. Ini sudah pagi, nona harus sekolah. " Ucap pelayan itu dengan keras.


Tok tok tok.


Gadis itu pun mengerang karena tidurnya terganggu. Selimut pun akhirnya terbuka dan gadis itu duduk dengan mata yang masih tertutup.


"Aku sudah bangun. Berisik! " Teriak gadis itu karena ketukan tak berhenti.


Setelahnya, gadis itu pergi ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolahnya. Tak butuh waktu lama gadis itu langsung ke walk in closet untuk berpakaian. Setelah rapi hanya dengan jeans dan t-shirt putih dengan jaket dan juga sepatu. Dirinya keluar dari kamar untuk sarapan.


Disana sudah ada pelayan yang berdiri di sisi meja makan dengan sarapan sudah tersaji.


"Nona harus minum air putih yang banyak, agar efek tadi malam hilang. " Ucap pelayan itu.


Gadis itu tahu maksud dari pelayannya tadi malam. Bahkan dirinya masih ingat jika dirinya terlalu banyak minum.


Matanya hanya menatap tajam pelayan yang sudah bersamanya lebih dari 3 tahun itu. Lebih seperti kakak karena usianya yang lebih tua dari gadis itu. Tak menjawab perkataan pelayan ya, gadis itu tetap meminum air putih yang sudah tersedia. Matanya memandang ke depan. Meja makan itu sepi sekali. Hanya dirinya yang setiap hari makan di meja makan itu. Matanya terus mengamati rumah yang dia tinggali itu. Hanya dirinya, pelayan dan juga bodyguard yang berada di depan rumah.


Sudah hampir 4 tahun dirinya tinggal di rumah itu. Lebih seperti dibuang dari keluarganya sendiri. Sejak usianya 13 tahun, dirinya sudah belajar mandiri walau ada pelayan yang selalu ada.


Hatinya begitu keras sejak dirinya berusia 10 tahun. Kejadian yang membuat hidupnya berubah. Cara pandang nya pun berubah. Keluarga yang selalu dia impikan bahagia dan hangat menjadi buruk dan dingin seketika.


Akan ada orang yang akan membayar semua penderitaan gadis bermata biru itu nantinya.


'Tunggu dan lihat saja nanti' batin gadis itu dengan seringaian ya. Dendam dan kebencian yang sudah berakar itu semakin kuat bertambah tahunnya. Tanganya pun mengepal karena meninggalkan seseorang yang sangat berarti baginya.


Tanganya pun menyambar tas juga kunci mobil dan bergegas keluar tanpa sarapan. Pelayan itu hanya menghembuskan nafas karena majikannya pergi tanpa sarapan lagi. Dirinya tahu jika gadis itu hanya kesepian.


'Dan ditinggalkan'


***


Jalanan New York selalu padat, kota itu memang kota terpadat di Amerika Serikat. Gadis itu menyenderkan kepalanya ke jendela. Didepan nya banyak mobil yang juga terkena macet. Matanya melirik kebelakang, mobil hitam yang tepat berada di belakangnya itu adalah bodyguard yang selalu mengikutinya. Gadis itu sangat kesal karena terus di ikuti oleh orang-orang yang selalu memakai pakaian hitam itu.


Mobil gadis itu pun memasuki halaman parkir sekolahnya. Di Amerika Serikat sekolah tidak memakai seragam yang sama. Disini mereka bebas mau memakai pakaian apapun. The Dalton School adalah sekolah yang menerima murid dengan terbatas. Disini hanya ada 1300 murid. Sekolah itu juga sekolah termahal didunia. Hanya orang yang pintar juga kaya yang bisa masuk.


Setelah parkir, gadis itu keluar dari mobil dan berjalan ke kelasnya. Tiba tiba ada yang merangkul dari belakang gadis itu.


"Anastasia. Kau bangun jam berapa hah! " Teriak teman gadis itu tepat di telinganya.


Anastasia, nama gadis itu pun langsung melepas pelukan dan menutup telinganya yang pengang. Sebal karena temanya itu membuat paginya semakin buruk.


"Kau! Tidak bisakah kau tidak teriak.! " Ucap Ana kesal.


Temanya hanya memutar matanya dan melihat menatap Ana yang kesal dengan wajah geli.


Ana pun mendengus karena teman nya itu suka sekali mengganggunya.


"Hei. Hei. Okay. I'm sorry. Apa kau masih pusing? "


"No."


"Kau benar benar terlalu banyak minum tadi malam. Aku saja sampai kewalahan. Untung saja bodyguard mu langsung membawamu pulang. "


"Hm."


"Ana."


"... "

__ADS_1


"Ana. Kau dengar. "


"... "


Gadis itu tetap diam dan berjalan ke kelasnya. Evelyn pun hanya menghembuskan nafasnya. Ini memang bukan pertama kalinya evelyn menghadapi Ana yang dingin. Evelyn sudah mengenal Ana sejak sekolah dasar. Dirinya pun mengikuti Ana ke Amerika Serikat dan sekolah di tempat yang sama. Bagi Evelyn, Ana adalah sahabat terbaiknya. Walau dengan wajah dingin dan kata kata kasarnya itu, Evelyn tetap menyayanginya.


Evelyn tersenyum tipis saat dirinya mengatakan akan mengikuti Ana ke Amerika. Gadis itu menunjukan jika dirinya tidak suka, bahkan waktu itu Ana mengatakan jika dirinya tidak ingin punya penganggu yang selalu menempel seperti parasit padanya. Tapi Evelyn tidak merasa tersinggung dan benci. Justru dirinya tetap akan berada di sisi Ana.


"Dasar! Dia selalu menghempaskan ku, tapi selalu rindu padaku. Hei! Anastasia! Tunggu aku! "


***


Untung saja kelas belum mulai, jadi gadis itu tidak akan mendengar omelan guru yang selalu menceramahin ya itu.


Berjalan menuju mejanya, gadis itu melihat mejanya penuh dengan bunga dan coklat.


'Memuakkan'


Ana pun langsung membawa semua itu ke tempat sampah yang ada diluar kelas. Jika gadis lain mungkin akan bahagia dan girang. Tapi Ana, gadis itu lain. Dirinya tidak suka semua yang berbau romantis. Dirinya tahu jika dirinya terkenal dan banyak laki-laki yang selalu ingin mendekatinya. Tapi sebelum itu terjadi, Ana sudah menatap tajam laki-laki itu dan mengatakan kata kata kasar. Walau begitu, masih saja ada yang terus memberinya bunga dan coklat.


"Selalu saja. Apa kau tidak merasa keterlaluan? "


Ana menoleh dan menatap Evelyn yang sudah di depan ya.


"Kau mau? Ambil! "


Setelah itu Ana langsung masuk ke kelasnya. Dan Evelyn pun menatap bunga dan coklat yang sudah masuk ke tempat sampah. Evelyn menoleh menatap Ana yang sudah duduk dan mengeluarkan buku di mejanya. Pandangan nya tak terbaca, antara sedih dan kasihan.


Jika Ana melihat tatapan kasihan itu ada pada evelyn, maka bisa dipastikan evelyn akan tidak bisa berbicara dengan Ana sebulan. Dan itu menyiksa sekali.


Ana mengeluarkan buku bukan untuk belajar, melainkan mengambar sketsa. Tanpa belajar pun, Ana akan bisa mengerjakan soal. Tapi sebelum pensil nya menyentuh kertas putih itu ada bunga mawar yang menghalanginya.


Ana mendongak melihat siapa yang menghalanginya untuk menggambar. Thomas Davenport, most wanted itu dengan senyum yang bisa membuat wanita bertekuk lutut dihadapanya tapi tidak dengan Ana, gadis itu justru muak dengan senyum yang bagi Ana adalah senyum bastard. Sejak 3 tahun lalu, Thomas Davenport selalu mengganggunya. Dan itu sangat membuat Ana tidak tenang. Karena Thomas ,dirinya jadi bahan bullyan sekolah. Tapi untungnya, bodyguard yang selau mengikutinya tidak bisa membuat para gadis yang tidak menyukainya itu menyentuhnya.


Malas meladeni Thomas, Ana pun hanya diam dan menyingkirkan bunga mawar itu.


"Ohh apa mood mu hari ini buruk lagi sayang? "


Lihat! Thomas bahkan sudah duduk menghadap Ana.


"Bisakah kau pergi? Aku muak melihatmu! "


Bukan marah, justru Thomas malah tertawa.


"Ohh jadi benar. Kesayanganku ini lagi badmood? Apa yang membuatmu kesal honey? Katakan padaku. Akan kusingkirkan orang itu. "


"Kau! "


"Hah? Hei. Jangan seperti itu padaku. Kau akan rindu padaku jika aku pergi. "


Ana pun tidak menanggapi perkataan Thomas, baginya hanya membuang waktu jika meladeni perkataan Thomas yang tidak ada gunanya.


"Hei bastard. Pergi sana.! "


Thomas menoleh melihat evelyn yang mengusirnya.


"Hei Evelyn, apa kau tidak lihat jika aku sedang berduaan dengan temanmu ini? Kau mengganggu saja. "


"Wahhh.. Apa kau bilang? Mengganggu? Justru kau yang mengganggu Ana sekarang. Pergi sana, bukankah kau juga ada kelas. Dan kelasmu bukan disini Thomas Davenport. "


"Haishh. Kau ini menyebalkan! " Umpat Thomas sebelum pergi dari kelasnya dengan 3 orang temanya yang sedari tadi di ambang pintu kelas.


Evelyn pun duduk di mejanya dan mengeluarkan buku. Jika Ana hanya menggambar, Evelyn benar-benar belajar. Otaknya tak seperti Ana yang bahkan tidak terlalu berfikir keras sudah bisa mengerjakan soal. Evelyn harus belajar, bahkan masuk ke sekolah ini pun Evelyn mati matian belajar agar bisa bersama Ana. Untuk biaya, orang tua Evelyn termasuk kaya, so itu tidak diragukan lagi. Hanya otaknya yang sedikit diperas agar bisa masuk, karena uang bukan segalanya di sini. Otak juga harus diperhitungkan.


***

__ADS_1


Setelah tiga jam memeras otak, akhirnya saat istirahat tiba.


"Hari ini kau mau makan apa? " Evelyn sudah berada di hadapan Ana yang sedang membereskan bukunya.


"Sandwich"


"Okay. Akan ku pesan kan. Kau duduk saja di tempat biasa. Oke. "


Evelyn meluncur ke kantin dan Ana juga ke arah yang sama. Ana pun sudah duduk di meja yang biasa mereka makan. Kantin sekolah ini lebih seperti cafe dari pada kantin sekolah lainya. Ana pun memilih duduk di samping jendela yang memperlihatkan banyaknya pejalan kaki.


Ana membuka ponselnya untuk bertanya kabar orang yang dia rindukan selama ini.


Tuut tuut tuut..


"Hallo."


"Bagaimana keadaanya? "


Ana langsung menanyakan tanpa basa basi dengan orang itu. Orang itu adalah orang kepercayaan nya selama ini yang memberitahukan keadaan orang berharganya.


Ada jeda yang cukup lama untuk orang kepercayaan itu menjawab. Dan ini membuat Ana cemas.


"Apa yang terjadi? "


"Sebenarnya, kesehatanya sedang menurun. Dia selalu mengigau menyebut namamu. "


Seketika wajah Ana menjadi sendu. Matanya berkaca kaca. Tanganya pun menggenggam erat ponselnya.


"Lalu? Apa yang dilakukan orang itu,? "


"Tidak ada. "


Matanya terpejam menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Orang itu, orang yang membuat hidupnya hancur. Orang yang Ana kira adalah orang yang bisa melindunginya justru orang yang menyakitinya.


'Sudah cukup! '


Evelyn yang baru datang membawa sandwich pesanan Ana mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Ana yang memerah menahan amarah.


'Kabar buruk lagi' batin Evelyn.


Evelyn tahu rahasia yang ingin Ana tutupi itu. Evelyn bahkan menyaksikan bagaimana hidup Ana yang hancur dan berubah dalam waktu sekejap. Kesakitan itu bahkan masih terlihat jelas dari tahun ke tahun. Evelyn tidak akan melupakan bagaimana Ana yang mengusirnya dari hidup Ana karena mengetahui rahasianya. Tapi Evelyn tetap berada di sisi nya sampai saat ini.


"Ada apa? "


Ana membuka matanya dan menatap tajam Evelyn. Seakan hal itu sangat menganggunya untuk bertanya.


"Pastikan dia baik baik saja. Aku akan kembali! "


"Apa? Kau serius? "Pekik orang disana.


"Ya. Aku akan kembali! "


Tut tut tut.


Evelyn kaget, Ana mengatakan akan kembali. Apakah itu...


Evelyn menatap Ana, dan Ana pun menatap Evelyn. Seolah hanya dengan tatapan itu mereka saling memahami. Dan ya, Evelyn tahu maksud tatapan itu.


"Ana. Kau.. Benar.. "


"Ya. Kita lihat apakah dia akan menghalangiku lagi. "


Evelyn melihat mata Ana sudah berkaca kaca. Evelyn tahu bagaimana Ana melewati waktu 3 tahun ini. Evelyn merasa bahagia dan takut. Bahagia karena Ana akan bertemu dengan orang yang selama ini dia rindukan. Tapi juga takut, karena ini sama saja dengan membuka luka lama. Evelyn takut, kejadian 4 tahun lalu terjadi lagi.


'Semoga. Semoga ini hanya ketakutanku Ana. '

__ADS_1


__ADS_2