
Setelah acara lunch di rumah Xavier, hubungan antara Anna dan Xavier semakin baik. Well mungkin itu pemikiran Xavier, karena Anna seperti risih jika Xavier terus saja mengganggunya. Seperti saat ini, Xavier menjemputnya setiap pagi tapi Anna tak memperkenankan Xavier masuk rumah nya. Bukan tanpa alasan, karena Anna tahu jika mommy nya tidak boleh terlihat oleh siapapun. Dan itu termasuk Xavier, walau nantinya Xavier tahu tentang mommy nya tapi itu nanti. Tidak sekarang. Karena Anna belum mau membuka hal itu di depan laki-laki yang belum Anna percayai.
"Kau tak seharusnya menjemputku setiap pagi, aku bisa berangkat sendiri dengan mobilku. " Ucap Anna saat masuk ke mobil Xavier
"Bukan mau ku. Mommy yang meminta ku untuk menjemputmu setiap pagi. " Ucap Xavier sambil menyalakan mobilnya.
Anna terkekeh mendengar jawaban Xavier.
"Kau bisa beralasan X. Aku tahu kau tertarik padaku. Tapi, jangan harap jika aku akan membuka jalan untukmu. " Ucap Anna.
Xavier seolah mendapat serangan jantung mendengar perkataan Anna. Well, memang benar jika Xavier menyukai Anna. Walau belum tahap cinta, tapi Xavier merasakan hal aneh dengan jantungnya setiap kali berdekatan dengan Anna.
Xavier akui jika ini kali pertama bagi dirinya menyukai seseorang. Selama ini, hidup Xavier hanya tentang bisnis dan nilai akademik. Tuntutan daddy nya yang selalu ingin Xavier menjadi pertama membuat Xavier merasa terbebani.
Tapi sekarang, entah itu bukan lagi masalah buatnya. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuat Xavier ingin menarik Anna dalam pelukannya dan melindunginya.
Sikap dinginya yang menyamainya kadang membuat Xavier merasa mempunyai kembaran. Tapi Anna berbeda. Gadis itu mempunyai sesuatu yang disembunyikan.
Melihat keterdiaman Xavier membuat Anna menoleh, melihat Xavier yang fokus dengan jalanan.
"Aku peringatkan sekarang X, jangan mencoba masuk dalam kehidupanku. Entah kau akan menyesal atau kau akan merasa kasihan padaku nantinya, aku tak akan peduli. Tapi aku sudah memperingatkan dirimu, jangan mencoba masuk.! " Ucap Anna serius.
"Well dengan begitu membuatku ingin mengetahui apa yang kau sembunyikan Anna. " Ucap Xavier santai.
"Tak ada yang kusembunyikan. " Kilah Anna.
Dengan senyum miring nya, Xavier tahu jika ada yang disembunyikan oleh Anna.
"Benarkah. Kita lihat saja nanti. "
"Kau bisa berbohong bukan? Kau bisa berkata jika kau menjemputku, tapi tidak. " Jawab Anna.
"Sorry. Tapi aku bukan tipe pembohong. " Ucap Xavier kesal.
Entahlah, mungkin Xavier kesal karena usahanya menjemput Anna seperti tidak di hargai oleh gadis itu.
"Aku mau ke mini market dulu. " Ucap Anna saat sudah akan sampai.
"What? Ini sudah jam berapa, dan kau mau kita mampir? Kita bisa telat! " Ucap Xavier tak percaya.
Jam sudah menunjukan waktu 6: 55. Dan sebentar lagi gerbang sekolah pasti sudah ditutup.
Dan dengan santai nya Anna menjawab"aku tak peduli. Jika kau tidak mau, turunkan aku disini dan aku akan pergi "
Dengan menghembuskan nafas kesalnya, Xavier tetap menuruti keinginan Anna. Entah apa yang sedang Xavier rasakan, karena tak mungkin seorang Xavier memedulikan orang lain. Jika bukan Anna, Xavier tak akan menuruti keinginan gadis itu. Jika gadis lain mungkin sudah dia turunkan di pinggir jalan.
Setelah sampai, Anna langsung melepaskan seatbelt nya dan turun dari mobil Xavier.
Xavier pun hanya diam di mobil tanpa mau turun, karena dirinya tak ingin membeli apapun. Tak lama setelah hampir 20 menit, Anna keluar dari mini market dengan sekantong plastik yang berada di tangannya. Lalu masuk ke mobil.
Tanpa berkata, Xavier langsung menyalakan mobilnya dan pergi dari mini market itu menuju sekolah yang sudah Xavier pastikan gerbang sudah ditutup. Entah apa yang akan terjadi nanti saat tiba.
Dan yah.
Benar sekali!!
Gerbang sudah ditutup rapat. Dengan mendengus kesal, Xavier menatap Anna yang dengan santai memakan cemilan nya yang dia beli tadi. Tanpa mengindahkan tatapan tajam Xavier.
Xavier akan turun dari mobil untuk meminta satpam agar mau membuka gerbang nya, tapi suara Anna menginstrupsinya.
"Kau tak usah turun. Gerbang itu akan dibuka. " Ucapnya santai sambil memainkan ponselnya.
Dengan menaikan alisnya Xavier menatap Anna dengan tatapan tak percayanya. Mana ada gerbang yang akan di buka sendiri jika dirinya tak keluar dan merayu satpam sekolah?
Dengan malas, Anna menelfon seseorang yang Xavier tak tahu.
"Bisa keluar? Aku telat. " Ucap Anna setelahnya gadis itu langsung menutup panggilan singkat itu.
Setelah nya ada seorang wanita yang setengah berlari ke arah gerbang sekolah dan berniat membuka nya jika tak di hentikan oleh satpam sekolah. Terlihat wanita itu dan satpam sedang berbicara dan satpam itu hanya menganggukan kepalanya dan membuka gerbang.
__ADS_1
Xavier tahu siapa wanita itu. Dia adalah kepala sekolah sekaligus pemilik sekolah itu. Dan juga ibu tiri Anna.
"Jalan.! " Ucap Anna dengan tatapan datarnya.
"Kau tak mau turun? Disana ada ibumu. " Tanya Xavier.
"Diam dan jalan.! " Ucap Anna penuh penekanan. Matanya tak lepas dari wanita yang sekarang masih berdiri disana.
Xavier merasa ada yang aneh antar hubungan Anna dengan ibunya. Bukankah Maggie itu ibu nya Anna.? Lalu kenapa Xavier merasa ada aura yang tidak bersahabat antara keduanya?
Dengan menghiraukan pikiranya, Xavier pun menjalankan mobilnya masuk ke parkiran sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya, Anna langsung turun dan melenggang pergi tanpa berniat menunggu Xavier. Yang membuat laki-laki itu kesal bukan main. Dirinya merasa seperti sopir.
Anna pun dengan santai berjalan di lorong sekolah dan memasuki kelas yang mungkin sudah ada guru yang sedang mengajar didalam sana.
Brak!!
Anna menggeser pintu kelas dengan kencang, membuat orang-orang yang berada didalamnya kaget bukan main. Apalagi guru yang sedang menerangkan pelajaran saat itu.
"Kau telat,? "
Pertanyaan itu membuat Anna yang sudah akan duduk di bangkunya menjadi berbalik menatap guru wanita yang berdandan seperti nerd itu.
"Bukankah orang buta juga tahu jika aku telat? Pertanyaan yang tak bermutu" Ucap Anna sarkas.
Guru itupun langsung diam tak melanjutkan umpatan yang sudah berada di ujung lidahnya. Dirinya tahu jika Anna adalah anak pemilik sekolah ini. Jadi dirinya tak ingin membuat masalah yang akan menjadi kerugian baginya.
Setelah itu Xavier masuk dan membuat kelas heboh. Xavier memang dingin dan ketus, tapi dirinya tak pernah telat. Walau terlihat bad boy, tapi Xavier termasuk siswa yang rajin. Guru itupun juga kaget dan akan memarahi Xavier jika Anna tak megintrupsinya.
"Dia berangkat bersamaku! "
Mulut guru itu yang tadinya terbuka menjadi tertutup lagi. Tak ingin melawan princes yang berkuasa itu.
"Baiklah. Kita lanjutkan pelajaran nya" Ucap guru itu.
Evelyn menatap Anna dengan tatapan aneh.
***
Foto perempuan cantik yang tengah tersenyum pada kamera. Melihat itu membuat wanita itu tersenyum miris. Kapan terakhir kali dirinya melihat senyum itu? Seperti sudah lama sekali.
Wanita itu Maggie, ibu tiri Anna. Dirinya bukan ibu tiri yang seperti drama yang selalu jahat pada anak tirinya. Maggie benar-benar sangat menyayangi Anna. Terlepas anak itu sangat membencinya saat ini dan mungkin selamanya. Tapi Maggie tetap menyayanginya.
Tapi apapun yang Maggie perbuat seolah salah di mata Anna. Kasih sayangnya pun seolah tertutupi oleh amarah yang dipendam oleh Anne. Maggie tak menyalahkan sikap Anna yang tidak sopan itu, dia memaklumi nya. Karena Anna terbentuk seperti itu karena rasa sakit yang anak itu Terima di usia yang notabenya masih kecil.
Maggie tahu jika sakit itu tak akan pernah hilang, melainkan akan selalu menghantui anak itu dan itu sangat membuat anggieahk merasa bersalah.
Dirinya ingat saat pertama kali dirinya bertemu dengan Anna, yang saat itu belum mengetahui apapun. Anak itu sangat manis dan baik. Cara tersenyum nya membuat hatinya hangat. Tapi, senyum itu juga yang dia hilangkan karena kehadirannya. Tatapan benci itu muncul saat David memperkenalkan dirinya.
Semua hancur. Semuanya. Dan itu karena dirinya.
"Maaf. Maafkan aku" Ucap Maggie lirih.
Matanya mengalir air mata yang selalu dia sembunyikan jika bersama David. Dirinya tak ingin David tahu jika dirinya sangat tersiksa.
Beban yang David pikul sudah berat, dan Maggie tak ingin menambah beban itu.
***
Selepas pelajaran usai, Evelyn langsung menyerbu Anna dengan banyak pertanyaan.
"Ada apa denganmu?" Evelyn menatap Anna penasaran.
Dan Anna hanya melirik Evelyn yang berada disampingnya.
"Tidak ada. " Ucapnya singkat.
Evelyn menghela nafas saat Anna menjawab singkat.
"Kita bukan kenal hanya satu dua hari Anna. Jadi aku tahu saat dimana kau menyembunyikan sesuatu padaku. Katakan ada apa? Kau berbeda. "
__ADS_1
"Jika kau memang mengenalku bukan satu dua hari maka kau harusnya tahu di mana saat aku tak ingin di ganggu "
Setelah mengatakan hal itu Anna pergi dari kelas.
Di lorong saat Anna ingin ke perpustakaan, dirinya ditabrak oleh seseorang. Dan lebih kesalnya lagi, seseorang itu menumpahkan kopi ke seragamnya.
"Upsss. Sorry" Ucap orang yang menabraknya. Nadanya seolah mengejek membuat Anna mendongak untuk melihat siapa orang uang membuat mood nga tambah buruk.
'Gadis berambut merah'
Anna benar-benar ingin membuat wajah itu rusak sekarang. Jelas, Eun Jae sengaja menumpahkan kopi itu padanya. Tapi Anna bukan orang yang suka terpancing begitu saja. Wajahnya masih menunjukan datar tak ber ekpresi. Membuat Eun Jae kesal dan ingin pergi.
Bruk
Eun Jae tersungkur disamping Anna. Dan Anna hanya menoleh menatap Eun Jae yang kesal.
"Upss. Sorry" Ucap Anna dengan senyum miring dan pergi meninggalkan Eun Jae yang kesal.
Eun Jae pun kesal dan malu di lihat banyak orang. Dengan terburu buru dirinya lari dari keramaian di ikuti oleh anak buahnya.
Anna pun yang kesal karena seragamnya basah harus pergi ke store sekolah. Sekolah itu di fasilitasi oleh seragam yang hanya di jual di sekolah itu sendiri. Harganya pun sangat mahal, tapi Anna tidak perlu membuang uang nya untuk seragam nya yang basah.
"Berikan aku seragam. " Ucap Anna saat sudah tiba di store. Pelayan yang berjaga pun sekilas melihat penampilan Anna yang kotor.
Anna bisa melihat tatapan yang merendahkan nya itu. Tak perlu kaget, karena penampilanya memang seperti siswa yang terkena bully.
"Jangan menatapku dengan tatapan rendahnya nona. Kau belum tahu siapa aku?! " Ketus Anna.
Penjaga itu pun melihat name tag yang berada di seragam Anna.
'Anastasia Ashlyn Greyson'
Nama terakhir itu seperti membuat penjaga terkesiap dan merubah wajahnya.
"Silahkan nona. Kau bisa mengambil seragam sesuka hatimu. " Ucap penjaga itu dengan riang.
Dengan mendengus Anna pergi dari hadapan wanita penjaga itu. Greyson--marga itu seolah membuat Anna harus bangga. Tapi sebaliknya, dirinya justru jijik dan ingin melepas marga itu secepatnya. Dirinya sangat tidak sudi nama terakhir yang membuat hidup nya hancur justru membuatnya berada di atas awan.
'David Michael Greyson'
Ayahnya sekaligus orang yang dia benci adalah pemilik perusahaan raksasa yang berpusat di Korea. Perusahaan itu terdiri dari properti, hotel, mall, dan pertambangan. David sangat di hormati, karena perusahaan nya menjadi perusahaan yang berpengaruh di negara ini.
Perekonomian negara itu ada di tangan perusahaan David. Jadi tidak heran jika nama GREYSON membuat Anna di hormati. Apalagi wajahnya yang sudah terkenal di berbagai media.
Setelah mengganti seragam nya dan membuang seragam kotornya di bak sampah, Anna pun langsung pergi dari store tanpa harus membayar. Toh sekolah itu milik perempuan yang Anna benci.
Saat akan pergi langkah Anna terhenti oleh Evelyn yang menghadangnya.
"Apa? "
"Anna, apa kau sudah memulainya? " Tanya Evelyn dengan tatapan sendu nya.
Anna pun mengerti apa maksud dari kata kata Evelyn itu. Menatap mata Eve yang seolah ingin menghentikan semua rencana Anna, tapi percuma. Anna dan tekad nya sudah bulat. Semua berawal saat mommy nya kemarin halusinasi. Anna bahkan bisa melihat bagaimana khayalan yang mommy nya bayangkan di mata yang rapuh itu.
Cukup sudah!
Mereka harus merasakan apa yang mommy nya rasakan. Tidak adil bukan, jika hanya mommy nya yang sengsara sedangkan mereka bersenang senang?
Air di balas dengan air. Api di balas dengan api.
Tapi Anna mempunyai cara yang lebih menyakitkan dari pada menyakiti tubuh mereka dengan pistol yang akan melubangi kepala mereka.
Anna akan membuat mereka lebih memilih mati dari pada tersiksa. Dan itu adalah sumpah Anna yang tak akan dia lupakan.
"Anna. "
Evelyn menyentak lamunan Anna.
"Bukankah baru di mulai! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan pada mereka. " Ucap Anna tersenyum miring.
__ADS_1
Seolah semua rencana sudah terpampang jelas di kepalanya. Tinggal melakukan apa yang harus dia lakukan dan Anna akan melihat kesakitan di mata mereka.