
Chapter 22
Anna membersihkan luka di tangan Xavier dengan hati-hati. Dan Xavier justru menatap wajah Anna yang fokus pada lukanya dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia bahagia karena Anna peduli dengan nya.
Anna yang merasa di tatap mendongak dan menatap Xavier dengan padangan bertanya?
"Apa? " Ucap Xavier yang tak tahu maksud Anna.
"Kau kenapa melihatku terus? " Ucap Anna.
"Kau istriku. Jadi aku bebas melihatmu. " Ucapnya santai.
Anna mendengus dan kembali membalut luka Xavier dengan perban. Ia ingat dengan Xavier yang selalu mengganti perban kepalanya saat ia sakit. Mengingat itu membuat Anna tersenyum kecil.
Setelah selesai Anna merapikan alat medis itu kembali ke tempatnya.
"Aku mau membuang sampah ini sekalian cuci tangan. " Ucap Anna masuk kekamar mandi mereka.
Xavier yang belum sadar hanya menganggukan kepalanya saat Anna bilang akan pergi. Tapi saat melhat Anna masuk ke kamar mandi, Xavier tersadar jika kamar mandi itu berantakan.
Xavier langsung berlari mencegah Anna, tapi terlambat. Saat Xavier masuk, Anna sudah melihat keadaan kamar mandi mereka dan menatap cermin yang sudah retak.
Xavier ikut melihat cermin itu dan melihat ada tulisan di cermin itu dengan lipstik.
'AKU HADIR KARENA DIRIMU YANG MENGINGINKAN KU! '
Xavier kaget, kapan dirinya menulis hal itu? Ia menoleh dan melihat Anna yang melamun melihat tulisan itu.
"Anna.. " Xavier memegang tangan Anna,membuatnya tersadar dan menoleh pada Xavier.
"Apa? " Anna memandang Xavier dengan bingung.
"Ini.. Ini.. Aku bisa jelaskan.. " Ucap Xavier terbatas bata. Ia bingung mau menjelaskan seperti apa pada Anna.
"Ya, kau harus menjelaskan padaku. " Ucap Anna menaikan dagunya dan menyilangkan tanganya.
"Ini.. Ini.. " Xavier terbata bata.
"Kau harus menjelaskan padaku, kenapa kamar mandi menjadi berantakan dan kenapa kau menghabiskan lipstik ku untuk coret coret X.! Kau harus bertanggung jawab, kau harus membelikanku lipstik baru.! Aku tak mau tahu itu.! " Ucap Anna merajuk.
Wajahnya ia tekuk karena kesal. Xavier kaget dengan omelan Anna yang tidak ia duga. Ia pikir Anna akan mencurigainya. Atau Anna akan marah dan menanyakan hal ini sampai ia tahu jawabanya.
"X..! Kau dengar aku tidak?! " Teriak Anna kesal karena Xavier malah melamun.
"Hah.. Oke. Aku belikan berapapun yang kau mau. " Ucap Xavier tergagap.
"Oke. Aku pegang janjimu. Sekarang bersihkan kamar mandi sekalian kau juga mandi. Besok suruh orang untuk mengganti cermin itu. " Ucap Anna lalu keluar dari kamar mandi.
Xavier hanya menganggukan kepalanya dan menutup pintu. Ia lega karena Anna tak mempertanyakan tulisan itu. Ia pun mulai melepaskan pakaiannya dan mandi.
Sedangkan Anna sedang dipinggir ranjang dengan melamun. Apa maksud dari tulisan itu? Kenapa Xavier menginginkan sosok Jekyll dalam dirinya? Teka teki ini membuatnya sakit kepala. Ia pun merebahkan tubuhnya sebentar selagi Xavier mandi.
Anna yang hanya berniat merebahkan tubuhnya malah tertidur. Tidurnya terusik saat merasakan pipinya diusap oleh seseorang. Ia pun membuka matanya dan melihat Xavier yang sudah berganti pakaian tersenyum padanya.
"Mandi dulu baru tidur. " Ucap Xavier dengan lembut.
"Baiklah." Anna merenggangkan tubuhnya dan masuk kekamar mandi.
Xavier menunggu Anna mandi dengan bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya. Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan Anna keluar dengan handuk yang membungkus tubuhnya.
Anna masuk walk in closet untuk memakai pakaian tidurnya. Setelah selesai, Anna keluar dan menaiki ranjang nya. Tepat di sebelah Xavier ia juga merebahkan tubuhnya.
"Anna. Kau tak mau bertanya sesuatu padaku? " Ucap Xavier memandang Anna yang akan menutup matanya.
"Apa? Aku harus bertanya apa? " Tanya balik Anna. Dia kembali membuka matanya karena sepertinya Xavier ingin berbicara dengan nya.
"Seperti apa yang kulakukan dengan kamar mandi mungkin? " Usul Xavier mengedikan bahunya.
Anna duduk dan menghadap Xavier. "Oke. Sekarang jelaskan apa yang kau lakukan di dalam kamar mandi hingga berantakan? Dan kau menghabiskan lipstik ku X.! " Ucap Anna kesal.
"Aku... Aku.. "
"Lihat kau bahkan tak bisa menjelaskan nya X.! Sudahlah, aku lelah. Kita tidur saja. Oke. " Ucap Anna melihat Xavier yang sulit membuka dirinya. Anna maklum, karena apa yang ia tahu Xavier orang yang susah membuka diri.
Anna kembali merebahkan tubuhnya dan menaikan selimutnya. Xavier yang melihat hal itu hanya menghembuskan nafasnya.
"Lalu, kau kemana saja hari ini? Kenapa ponselmu tak bisa ku hubungi?! " Xavier kembali bertanya pada Anna.
Anna membuka matanya saat mendengar pertanyaan Xavier. "Hanya bertemu seseorang. " Ucapnya singkat.
Xavier mengerutkan dahinya. "Seseorang.? Sampai tengah malam Anna?! " Kata Xavier ketus.
Anna kembali menutup matanya saat mendengar suara Xavier yang sinis. Percakapan ini tak akan selesai dengan singkat. Padahal Anna audah sangat lelah hari ini.
"Anna.! Laki-laki atau perempuan.?! " Xavier kembali bertanya dengan tegas karena Anna tak menjawab.
Anna dengan kesal menghentakan selimut itu dan duduk menghadap Xavier.
"Dokter lym.! Aku bertemu dengan nya, aku merengek padanya seharian agar dia mau memberikan obat dosis tinggi itu pada mommy.! Puas.! "Jawab Anna teriak.
Xavier tercengang karena ia sudah berfikir negatif pada Anna. Ia segera memegang tangan Anna.
" Maaf sayang. Maafkan aku. "Ucap Xavier menyesal.
Xavier memeluk Anna dan mengusap punggung nya. Anna menutup matanya menyesal karena berbohong pada Xavier. Tapi itu lebih baik, karena akan lebih buruk jika Xavier mengetahui jika dirinya mencoba mencari tahu tentang nya.
" Baiklah. Kita tidur, kau sudah lelah bukan. "Xavier merebahkan tubuh mereka tanpa melepas rengkuhan hangat itu.
Anna yang tak mengelak membuat Xavier semakin menempelkan tubuhnya. Anna sudah lelah hari ini, ia ingin segera tidur agar besok dia punya tenaga. Bahkan mereka baru tidur jam 2 pagi. Mungkin jika besok diantara mereka tak ada yang bangun mungkin mereka tak masuk sekolah dulu.
***
Anna terbangun saat mendengar alarm berbunyi. Ia pun melepaskan tangan Xavier yang berada di perutnya. Anna mematikan alarm itu dan membangunkan Xavier.
__ADS_1
" X bangun. Ini sudah pagi. "Ucap Anna menggoyang kan tubuh Xavier.
Xavier pun mengerang dan membuka matanya. Ia tersenyum dan menarik Anna kedalam pelukannya.
" X kita bisa terlambat. Cepat bangun. "Ucap Anna kesal.
" Morning kiss. "Ucap Xavier lalu mencium Anna.
Anna menutup matanya saat Xavier menciumnya sesaat. Dia masih kaget dengan perlakuan Xavier yang begitu manis.
" Astaga, istriku ini benar-benar imut. "Ucap Xavier kembali mencium Anna saat melihat reaksi istrinya yang lucu.
" X, cepat bangun. Dan lepaskan aku.! "Anna terus memberontak.
" Baiklah aku lepaskan tapi kita mandi berdua? Bagaimana? "Goda Xavier.
" Kau mau mati.! "Umpat Anna kesal.
Xavier tertawa terbahak bahak saat melihat wajah Anna yang kesal. Anna kesal lalu ia turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Xavier masih tertawa disana, Anna mendengus kesal di dalam kamasutra mandi.
Tapi dalam hatinya terasa lega saat melihat Xavier bisa tertawa seperti itu. Ia pun hanya menggelengkan kepalanya. Dan melanjutkan ritual paginya.
***
Anna dan Xavier sampai di sekolah, sebelum keluar Xavier menahan Anna.
" Nanti makan siang di taman saja. Oke? "Ucap Xavier.
" Kenapa? "Tanya Anna
" Hanya ingin berdua saja. "Balas Xavier dengan tersenyum.
" Baiklah. "Ucap Anna menganggukan kepalanya.
Mereka masuk kelas bersama. Pelajaran pun segera dimulai. Mereka mendengarkan penjelasan guru dengan seksama, walau Anna terlihat mengantuk karena tidurnya kurang. Xavier pun melihat jika Anna sesekali menutup matanya Akeera mengantuk. Ia hanya tersenyum geli melihat hal itu.
Akhirnya saat bel istirahat berbunyi, Xavier mendatangi meja Anna.
" Aku ke kantin dulu, kau ke taman duluan saja. "Ucap Xavier.
Anna menganggukan kepalanya bersiap ke taman.
" Hei kau mau lunch romantis ya? "Goda Eve pada Anna saat melihat interaksi mereka.
" Romantis apa? Cuma di taman. Sudah aku pergi dulu. "Pamit Anna pada Eve.
Anna pergi menuju taman belakang sekolah. Taman yang pertama kali ia lihat, taman ini dulunya tak terawat. Tapi akhirnya sekarang lebih bagus. Anna mendudukan tubuhnya di salah satu kursi taman yang berada di bawah pohon besar.
Angin yang sepoi membuat Anna terlena dan menutup matanya. Tapi, sesaat dia merasakan seseorang disamping nya. Awalnya ia kira Xavier, tapi dari parfum nya Anna mencium jika itu bukan Xavier.
Anna pun membuka matanya dan menoleh.
" Hallo baby? Lama tak bertemu. "Sapa orang itu
Anna hanya memandang datar Thomas yang tiba-tiba datang. Anna pikir Thomas sudah pulang ke negaranya. Karena ia lihat hanya 2 hari setelah ia masuk, setelah itu ia tak lagi melhat Thomas bersama anak buahnya.
Anna menghembuskan nafasnya kesal dan menatap Thomas. " Kau fikir kau siapa Thomas? Kau se enaknya masuk dan pergi dari sekolah ini. Ingat Thomas sekolah ini bukan punyamu.! "Tekan Anna kesal.
Bukan apa, Anna hanya ingin Thomas segera pergi. Dirinya benar-benar dalam mood buruk jika bertemu dengan Thomas.
" Kau benar, ini bukan punyaku. Tapi, jika aku mau aku bisa menjadikan sekolah ini punyaku Anna. "Kata Thomas santai.
" Benarkah. "Kata Anna cuek.
" Ya, aku bisa membuat sekolah ini menjadi milikku. "Tekan Thomas.
" Tapi apakah kau tahu siapa pemilik sekolah ini? "Anna menoleh menatap Thomas dengan tajam.
Anna mendekatkan wajahnya pada Thomas seraya menatap mata Thomas dengan tajam. " Aku. Sekolah ini atas namaku. Kau tak tahu siapa aku? "Ucap Anna pelan.
Thomas tersenyum kecil saat melihat Anna menekan nya. Laki-laki itu merasa tertarik dengan cara Anna yang berani. Se dari dulu, hal yang membuat Thomas jatuh hati dengan Anna adalah keberanian gadis itu.
" Aku tahu. Aku tahu siapa dirimu Anna Ashlyn Greyson. "Tekan Thomas.
" Tapi, apakah kau tahu siapa yang berada di hadapanmu ini baby? "Thomas mendekatkan wajahnya, hingga hanya tersisa beberapa centi saja. Bahkan nafas mereka pun saling merasakan.
Anna menyeringai menatap Thomas yang meremehkan nya. " Aku tahu dirimu Thomas. Orang tua mu sangat sukses bahkan mungkin akan menyamai kesuksesan ayahku. "Ucap Anna pelan.
Lalu Anna kembali mendekat dan berbisik di telinga Thomas. " Bahkan organisasi gelap mu pun aku tahu. "Bisik Anna pelan.
Thomas langsung menoleh menatap Anna dengan tajam. Dari arah lorong Xavier datang dan melihat mereka. Xavier melihat Anna seperti berciuman dengan laki-laki yang entah siapa itu. Melihat hal itu membuat ulu hatinya sakit.
Thomas menyeringai. "Wow, kau benar-benar calon istri ku baby. Kau bahkan tahu semua hal tentang ku. Sebegitu rindukah kau denganku? " Canda Thomas.
"Aku tak perlu mencari tahu tentang dirimu Thomas. Semua yang ada padamu terbuka dengan mudah. " Ucap Anna mengejek.
Anna menarik wajahnya dan menyilangkan tanganya menatap Thomas dengan tajam. Thomas tetap dengan raut wajah yang datar. Seolah itu tak mengusiknya.
Keheningan mereka terbaik oleh Xavier yang tiba-tiba datang.
"Kalian sedang apa? " Xavier berjalan ke arah mereka dengan makanan di tangan nya.
Anna berdiri di samping Xavier.
"Bukan apa-apa. " Kata Anna cuek.
"Kau. Bukankah kau Thomas? " Tunjuk Xavier saat melihat wajah Thomas yang Familiar.
"Benar, aku Thomas. " Kata Thomas cuek.
"Kau masuk lagi? " Tanya Xavier curiga.
"Benar. Lalu apa urusanmu? Aku masuk atau tidak bukan urusanmu." Ucap Thomas kesal.
__ADS_1
Xavier pun melihat di belakang Thomas juga ada anak buahnya yang dulu juga ikut. Lalu, kenapa mereka kembali masuk? Hal itu sungguh mengusik ketenangan Xavier.
"Memang bukan urusanku. Tapi, akan menjadi urusanku jika kau mendekati Anna.! " Ucap Xavier menatap tajam Thomas.
"Kenapa? Kalian tidak ada hubungan apapaun bukan? Jadi, siapapun berhak mendekati Anna. " Kata Thomas santai.
Xavier mengeram, ingin sekali dia menghajar Thomas. Tapi tangan nya masih terbalut perban. Jika saja tangan nya tak apa, mungkin dirinya sudah menarik kerah Thomas dan meninjunya.
"Kenapa? Kau kau mengajarku? " Ejek Thomas.
Xavier sudah akan melayangkan bogeman pada wajah Thomas jika saja tak ada suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Hei hei.. Apa yang kalian lakukan? "
Anna berbalik dan melihat Brian dan juga teman nya yang Anna ingat saat itu di area balap liar. Anna mengerutkan dahinya karena bingung.
"Kau.. " Tunjuk Anna pada teman Brian.
"Hallo. Namaku Jungkook. " Ucap laki-laki yang bernama Jungkook itu.
"Ahh namamu Jungkook. " Ucap Anna menganggukan kepalanya.
"Kenapa kau masuk sekolah ini? " Tanya Anna heran.
"Well, aku lihat sekolah ini bagus juga. Jadi tak ada salahnya masuk bukan? " Jawab jungkook.
Lalu dirinya beralih menatap Brian. "Kau.! Kapan kembali?! " Tanya Anna pada Brian.
Brian menatap Anna " Pagi tadi. "Kata Brian singkat.
Anna melihat Brian berbeda, walau masih seperti biasa, tapi sikap Brian lebih tegas dari biasanya. Jika dulu, Brian selalu merengek dengan nya, sekarang Anna merasa Brian lebih dewasa.
" Siapa mereka? "Tanya Jungkook menujuk Thomas.
Anna kembali berbalik dan menatap Thomas.
" Kenapa masih disini? "Ucap Anna kesal.
" Baby.. Kau belum makan bukan? Ayo kau makan bersama ku. "Ajak Thomas yang langsung ditepis Xavier saat akan memegang tangan Anna.
" Dia makan bersama ku.! Dan jangan memanggilnya baby! "Ucap Xavier.
" Kenapa? Kau marah? "Ejek Thomas.
Anna mendengus kesal dengan pertengkaran mereka. " Sudah.! Kau.. Lebih baik pergi.! "Bentak Anna dan menujuk Thomas untuk pergi.
Thomas kaget dan mulai membuat muka kelasnya. " Ayolah baby.."rengek Thomas.
Anna melotot pada Thomas agar segera pergi. Thomas pun akhirnya pasrah dan pergi bersama anak buahnya. Anna menghembuskan nafasnya dia duduk di kursi.
Xavier mencekal tangan Anna dan menjauh dari taman.
"X.. Apa yang kau lakukan? X.. Astaga.. " Anna mencoba melepas tangan nya tapi Xavier memegang nya erat. Anna pun hanya pasrah di bawa Xavier.
Xavier melepas tangan Anna saat sudah berada di lorong sepi. Menatap Anna dengan talam dan mendorongnya pada dinding.
"Apa yang kau lakukan dengan Thomas di taman Anna?! " Tanya Xavier dengan dingin.
Anna mengerutkan dahinya seolah bingung. "Tidak ada. " Jawab Anna santai.
"Jangan bohong Anna. Aku melihatmu berciuman dengan nya.! " Xavier terus menatap tajam Anna.
Berciuman? Pikir Anna? Kapan mereka berciuman? Anna masih bingung, karena dirinya benar-benar tak berciuman dengan Thomas.
"Tidak ada. Siapa yang berciuman? " Balik Anna bertanya.
"Kalian.! Aku bahkan melihatnya sendiri dengan mata kepalaku Anna.! " Bentak Xavier yang membuat Anna kaget.
"X, kau benar melihatku berciuman? Dengan mata kepalamu? Apa benar bibirku ini berciuman?! Kau melihatnya?! " Tanya Anna balik.
Xavier terdiam, dia tak melihat langsung. Tapi dari yang ia lihat, Anna udan Thomas seperti berciuman.
"Tidak bukan? "Ucap Anna setelah melihat Xavier terdiam.
Anna mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Xavier. " Apa seperti ini bisa di katakan berciuman X.? "Bisiknya pelan.
Xavier menatap Anna dengan bingung. Setelah melihat gerak tubuh mereka yang intim seperti ini, mungkin akan terlihat berciuman. Tapi ternyata tidak. Xavier sekarang tahu, jika apa yang ia lihat belum tentu benar.
" Maafkan aku. "Xavier langsung memeluknya erat.
" Kau tahu betapa aku sangat mencintaimu Anna. Aku takut kau berpaling dariku. "Ucap Xavier.
Anna melepas pelukan nya dan menatap Xavier.
" Bukankah sudah kubilang jika aku tidak akan meninggalkan mu. "Ucap Anna.
" Maafkan aku. "Ucap Xavier menundukan kepalanya.
" It's okay. Sekarang aku mau makan. Ayo ke kantin. "Ajak Anna.
" Eh. Tapi makanan nya ada di taman Anna. "Ucap Xavier menunjuk taman tadi.
" Sudah. Kita beli lagi saja. Aku sudah lapar. "Ucap Anna kembali menyeret Xavier.
" Tunggu. Kau belum menjelaskan apa yang kau lakukan bersama Thomas tadi di taman.! "Xavier berhenti dan menatap Anna.
" Astaga X. Bukan hal yang penting. Dia hanya mengatakan omong kosong padaku. Kau tahu sendiri jika Thomas suka sekali membuatku kesal. "Ucap Anna kesal karena sedari tadi Xavier terus membuatnya kelaparan.
" Baiklah. Ayo kita makan sayang. "Xavier tersenyum dan memegang tangan Anna.
Mereka pergi hingga tak melihat seseorang di belakang mereka yang menatap kebersamaan mereka dengan wajah sendu nya. Tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang.
" Kau harus move on Brian. Aku lihat mereka bahagia. "Ucap Jungkook.
__ADS_1
Brian kembali menatap Anna yang tengah bercanda dengan Xavier. Brian memang mengenal Anna dengan baik. Bahkan ia tahu apa yang saja yang tidak ia sukai ataupun yang ia sukai.
Apakah dirinya harus menyerah?