Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
chapter 4


__ADS_3

. Galaxy High School


Ketukan sepatu memenuhi lorong yang sekarang terdapat 3 orang yang sedang berjalan menuju kelas dengan suasana hening. Setelah tadi Xavier dan Ana bertatapan, mereka berdua diam seribu bahasa. Walaupun mereka memang tak pernah berbicara sebelumnya, tapi Eve merasakan hawa dingin seperti kutub es.


Xavier, laki-laki itu merasakan hal aneh dalam dirinya. Untuk kedua kalinya dirinya terpesona oleh mata indah itu. Xavier akui jika mata itu sangat indah. Xavier bahkan belum pernah melihat mata yang begitu indah seperti itu. Dan itu membuat debaran aneh dalam dirinya.


Sedangkan Ana, terlihat biasa saja. Ana tahu jika Xavier melihat matanya. Sudah banyak yang mengatakan jika warna matanya itu indah. Ana bahkan tak memakai softlens yang marak di pakai oleh wanita ataupun laki-laki. Warna mata nya adalah asli. Sejak lahir warna matanya memang ada dua. Biru dan hijau. Itu yang membuat Ana terlihat berbeda. Tapi Ana tak mempermasalahkan hal itu.


Mereka akhirnya tiba di depan kelas dan Xavier pun masuk. Anehnya, saat Xavier masuk, keadaan menjadi hening. Sebelumnya Ana bahkan bisa mendengar mereka yang sedang bersenda gurau. Tapi saat Xavier masuk, mereka langsung diam.


'Apakah sebegitu kuatnya aura Xavier sebagai ketua kelas? 'Pikir Ana.


Sebelum berbicara, Xavier berdehem agar tenggorokanya tidak kering.


"Ekhem.. Hari ini kita ada teman baru. Perkenalkan diri kalian. " Xavier pun mempersilahkan mereka untuk memperkenalkan diri.


"Hai. Aku Evelyn. Panggil saja Eve. Aku dan sahabat ku ini pindahan dari The Dalton School New York. Mohon kerja samanya. " Evelyn pun memperkenalkan dirinya dengan ceria.


'What?! The Dalton School?! Gila!! 'Pekik Xavier dalam hati.


"Anastasia. Kalian panggil saja Ana. " Ucap Ana singkat.


"Kalian benar benar dari The Dalton school? "


"Bukankah itu sekolah elit? "


"Wahh kalian pasti beruntung bisa masuk kesana, "


Ucap mereka yang juga kaget saat mereka tahu asal sekolah mereka. Anak anak itu adalah anak orang kaya, jadi mereka tahu The Dalton school itu sekolah apa.


Ana yang tidak suka kebisingan itu langsung menatap Xavier yang ternyata sedang menatapnya.


Dengan menaikan alisnya, Ana bertanya "dimana letak duduk ku? " Seolah mengejek Xavier yang tertangkap menatapnya.


Xavier yang tertangkap basah pun gelapan dan melihat bangku yang kosong.


"Disana. Ekhem, yah disana kalian bisa duduk. " Tunjuk bangku yang berada di paling belakang.


Xavier pun tak lagi menatap Ana, seperti menghindari tatapan Ana yang tahu jika dirinya menatap Ana.


Ana pun menyeringai dan melenggang pergi ke tempat duduk nya tanpa mengajak Evelyn yang masih menjawab pertanyaan yang tidak penting menurut Ana.


***


Setelah perkenalan singkat itu Ana dan juga Evelyn mendapat banyak pertanyaan dari para siswa yang masih penasaran dengan mereka. Tak jarang mereka bahkan sudah ada yang akrab dengan Evelyn. Namun Ana, dirinya hanya diam dan tak menjawab pertanyaan mereka.


Ada yang mengatainya sombong dan juga ketus. Tapi Ana bukan orang yang terlalu merespon omongan orang. Baginya mereka semua mengatakan omong kosong yang tidak berarti baginya.


Selepas pelajaran, mereka pun berhamburan ke kantin untuk makan siang.


Ana dan Evelyn pun juga pergi ke kantin bersama. Brian yang ingin menghampiri merekapun bertemu ditengah jalan.


"Kalian mau ke kantin kan? " Tanya Brian saat mereka bertemu.


"Iya. Kau juga bukan? " Jawab Evelyn.


"Hm. Kita sama sama saja. Ana kau mau makan apa? " Ujar Brian sambil menatap Ana.


"Terserah. Asal bisa di makan. Aku lapar. " Ucap Ana cuek.


"Baiklah."


Sesampainya mereka di kantin, suasana terlihat ramai sekali. Brian melihat sekeliling untuk melihat kursi yang masih kosong.


"Brian"


Teriakan itu dari salah satu gadis yang melambai pada Brian. Ana melihat gadis itu, rambut coklat dan wajah yang Korea asli dengan mata yang sipit.


Brian yang melihat pun hanya menghiraukan panggilan gadis itu. Membuat Ana terheran heran.


'Bukankah itu temannya? Atau pacarnya? 'Pikir Ana.


"Kita disana saja. " Ucap Brian menunjuk tempat duduk paling ujung.


Setelah mereka duduk, Brian pergi untuk membeli makanan untuk Ana dan Evelyn.


"Hei cantik"

__ADS_1


Tiba-tiba ada segerombolan laki-laki yang datang ke meja Ana dan Evelyn. Ana pikir mereka adalah segerombolan laki-laki yang suka bikin ulah. Terlihat jika cara pakai seragam mereka yang tidak mematuhi aturan walau Brian pun sama, tapi ada perbedaan antara Brian dan laki-laki ini.


Mendapat tanggapan yang acuh dari dua gadis itu membuat leader gerombolan itu sedikit tidak suka. Dirinya tak pernah di acuhkan seperti ini. Dan itu membuat harga dirinya terluka.


"Kalian anak baru bukan? "


"Iya."


Bukan Ana, tapi Evelyn yang menjawab dari pada laki-laki itu diacuhkan pikir Evelyn.


"Dan sepertinya kalian bukan warga Korea. "


"Jika sudah tahu kenapa harus tanya? Buang buang waktu! " Ucap Ana ketus.


"Ouhh calm down baby. "


'Menjijikan! '


"Park chanyeol.! Jangan ganggu mereka! " Seruan itu terdengar dan Ana menoleh. Melihat Brian sudah datang dengan nampan berisi makan siang Ana dan Eve.


Laki-laki itu yang bernama park chanyeol berdiri dan menatap Brian dengan tatapan membunuh. Sepertinya mereka tak akur.



Kedua lelaki yang sama tinggi itu saling bertatapan.


"Kenapa? Apa gadis ini milikmu?! "Tanya chanyeol yang menatap tajam Brian.


" Ya. Dia miliku. Jadi jangan dekati dia.! Aku peringatkan kau park chanyeol! "Ucap Brian tak kalah tajam.


Saat mereka masih bertatapan tajam, Ana dengan santai makan dengan tenang. Seolah tak terusik dengan mereka berdua.


" Sstt.. Ana, kau ini. Mereka sedang bertengkar kau malah enak enaknya makan. "Bisik Evelyn yang gemas dengan sahabatnya itu.


" Apa urusanku. Mereka mau saling baku hantam pun aku tak peduli. "Ucap Ana tenang.


Brian melotot tak percaya dengan ucapan Ana tadi.


" Ana. Kau benar-benar tak peduli padaku? "Tanya Brian dengan gaya yang menurut Ana menjijikan.


Dengan gaya yang dibuat imut dan suara yang seperti anak kecil membuat Ana ingin melempari wajah Brian dengan piring didepannya itu.


Brian mendengus dan menatap chanyeol yang masih berdiri didepanya.


" Kenapa kau masih disini. Pergi sana. "Usir Brian mengibaskan tanganya.


Dan chanyeol pun hanya bisa mendengus dan melengos pergi.


" Mereka siapa? "Tanya Evelyn pada Brian.


" Mereka anak populer "jawab Brian singkat.


" Populer? Jadi kau tak populer Brian? Kasihan. "Ucap Eve mengejek Brian.


" Haishhh. Kau tak lihat tadi ada yang memanggilku? Itu berarti aku populer.! "Sangkal Brian yang tidak Terima.


" Cih.. Itu hanya satu orang, bukan berarti kau populer Brian. Kalau banyak itu baru populer.. Kayak tukang ojek yang suka di panggil.. Hahahaha"ejek Evelyn pasar Brian.


Brian ingin membantah tapi terpotong karena Ana sudah melerai mereka.


"Diam! "


***


Baru satu hari Ana masuk ke sekolah baru, sudah ada orang yang menginginkan permusuhan padanya.


Dan orang itu sedang berdiri didepannya dengan angkuh. Menatapnya tajam dan meremehkannya. Ana tak terlalu memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh gadis didepannya ini. Jika dilihat, gadis itu cantik juga. Ana pun mengakuinya. Tapi dilihat dari sikapnya, membuat Ana muak.


Barbara nama gadis itu. Disampingnya terdapat dua gadis yang sepertinya anak buahnya.


"Ada apa? " Tanya Ana setelah mengamati orang didepanya itu.


"Kau! Baru anak baru sudah populer ternyata. Cih" Tunjuk Barbara pada Ana.


"Lalu? Apa masalahnya? " Ujar Ana dengan tenang.


"Kau fikir mudah merebut gelar queen di sekolah ini? Langkahi dulu diriku.! " Ucap Barbara marah.

__ADS_1


Ana pun hanya menaikan alisnya karena ucapan Barbara tentang gelar queen. Dirinya bahkan tak tahu jika ada hal semacam itu di sekolah ini. Sungguh hal yang sudah berlalu.


"Queen? Heh aku bahkan baru tau ada hal yang menjijikan seperti itu disekolah ini. "


Wajah Ana menyeringai seolah mengejek Barbara yang masih kekeh dengan gelar queen yang tidak di fikirkan oleh Ana.


"Menjijikan katamu!! Kau tidak tahu jika dengan gelar queen kau dipandang lebih tinggi dari pada yang lain!! Dan kau mengatakan hal itu menjijikan!! " Pekik Barbara yang tidak suka dengan kata-kata Ana yang mengatakan hal itu menjijikan.


"Hello girls. Ini sudah tahun berapa? Apa ini masih abad 90-an? Kalian jadul sekali" Ana memutar matanya jengah dengan gadis itu.


Yang malah membuat berang Barbara karena merasa dilecehkan.


"Kau--"


"Dengar bitches! Aku adalah anak dari pemilik sekolah ini. Jadi jangan macam macam padaku. Dalam waktu 5 menit aku bisa menghancurkan segala usaha ayahmu itu. Kau dengar.! Jadi jangan membuatku marah!! "Ucap Ana dengan menunjuk wajah Barbara dan menekankan setiap katanya.


Ana sudah jengah dengan Barbara yang membuatnya naik darah.


Bugh.


Ana menabrak bahu Barbara dan melewatinya.


" Hah!! Awas kau!! "Umpat Barbara menoleh melihat Ana yang sudah hilang dari pandangan ya.


***


Pelajaran kembali dimulai. Tapi Ana sudah tidak minat lagi. Dengan menempelkan earphones ke telinganya dan melipat tanganya di meja, Ana bersiap tidur walau guru sedang menerangkan di depan. Tapi Ana tak perduli.


Brak


Ana membuka matanya dan melihat jika guru yang tadi sedang menerangkan sedang berhadapan dengan ya dengan wajah merah memendam amarah.


" Why? "Tanya Ana tenang dengan melepas earphones sebelah.


" Why?! Kau bertanya padaku?! "Ucap guru tersebut tak percaya dengan anak muridnya yang dengan tenang bertanya padanya.


" Ya. Siapa lagi? "


"Wahhh kau benar-benar berani sekali. Kau tidur di jam kelasku dan kau bertanya seolah tak tahu kesalahanmu? Kau anak baru tapi sudah bertingkah.! "


"Lalu? "


Guru tersebut menghembuskan nafas kesalnya karena menghadapi Ana yang setenang laut samudra.


"Kau! Kerjakan soal didepan.! Jika kau menjawab salah. Kau akan ku hukum.!! "


Dengan tenang Ana berdiri dan maju ke depan kelas untuk menyelesaikan tugas yang ada dipapan.


Hanya sepuluh detik untuk mengerjakan soal didepan. Setelah selesai Ana pun berbalik dan menatap guru yang masih melihatnya dengan tak percaya.


"Sudah bukan? Lihat dengan baik baik, apa jawabanku salah?! " Ucap Ana menyindir sangat guru.


Ana berjalan dan sampai di hadapan guru, Ana bisa melihat nama guru itu di pakaiannya.


"Nona heize, perhatikan dan lihat baik baik diriku ini. Aku Anastasia Ashlyn Greyson, adalah anak pemilik sekolah Galaxy High School. Jadi perhatikan ucapanmu padaku jika tak ingin menjadi pengangguran.! " Ucap Ana dengan menatap tajam guru yang tingginya sama denganya.


Suasana menjadi hening kala Ana mengadakan Deklarasi yang menyatakan dirinya adalah anak pemilik sekolah. Yang di artikan jika seluruh sekolah harus tunduk padanya.


"Ahhh karena diriku ini sudah kesal,aku harus menghirup udara segar. Jadi, aku harus pergi. "


Dengan mengambil tas Ana menatap guru itu yang masih tercengang. Mata Ana melirik Eve yang juga dengan wajah cengo nya membuat Ana kesal.


"Eve.! Ayo! "


Eve yang tadinya melamun pun tersentak karena teriakan Ana. Menuruti gadis itu, Eve ikut keluar dari kelas.


"Daebak! Kau hebat Ana. Hanya sepuluh detik kau bisa mengerjakan soal itu. Kau benar-benar jenius!! " Pekik Eve saat sudah di luar kelas.


"Kau kemana saja selamat ini heh? Aku ini sudah pintar dari lahir, bodoh!! " Ucap Ana mengejek Eve yang lambat dalam hal belajar.


Dengan memanyunkan bibirnya Eve pun mengikuti Ana pergi.


"Kita mau kemana? " Tanya Eve yang merasa jika mereka pergi ke parkiran.


"Jalan jalan. " Ucap Ana singkat.


Mata Eve berbinar saat mendengar kata jalan jalan. Ini sudah lebih dari seminggu dirinya pulang ke Korea tapi belum melihat sekeliling. Dan ini berarti mereka akan berbelanja dan bermain sesuka nya.

__ADS_1


Ana yang melihat wajah sahabatnya berbinar hanya bisa tersenyum mengejek. Ana memang sudah berencana untuk melakukan jalan jalan tapi waktunya belum tentu. Jadi mumpung sekarang dirinya bisa bolos karena statusnya yang disegani itu membuat Ana berfikir jika ini saatnya mereka jalan jalan.


__ADS_2