
Acara pernikahan Anna dan Xavier akhirnya tiba juga. Hari ini mereka akan mengucap janji sehidup semati mereka di depan pendeta. Anna sedari tadi gugup, bahkan tanganya sekarang dingin.
Riasan nya sudah selesai, gaun nya juga sudah ia pakai. Anna melihat pantulan wajahnya di depan. Rambutnya sudah di tata rapi ditambahkan mahkota di atasnya membuat Anna terlihat seperti ratu hari ini.
Di belakang nya ada mommy nya yang diam di kursi roda. Menoleh, Anna berdiri dan menghampiri mommy nya.
"Mom, lihat putri mommy akan menikah hari ini. Aku cantik kan mom.? " Ucap Anna di depan Savannah.
"Maafkan Anna. Mommy tidak bisa ikut dalam acara ini. Tapi mommy tetap bisa melihat Anna mom. Di sana, nanti mommy akan melihat Anna dari sana. Oke. " Ucap Anna menunjuk sebuah TV yang nanti akan langsung tersambung dengan pernikahannya.
Anna mengingat saat Xavier berkata jika ayahnya tak bisa membujuk David untuk mengijinkan Savannah ikut dalam pernikahan ini. Membuat Anna bertambah benci dengan laki-laki tua itu. Tapi Xavier mempunyai ide jika Savannah tetap bisa melihat Anna dari TV. Dan Anna menerima itu.
Menunduk, Anna berusaha untuk tegar agar tidak menangis di hari pernikahannya. Setelah beberapa saat, Anna mendongak menatap mommy nya.
"Mom, terus bersama Anna mom. Jangan tinggalkan Anna. " Ucap Anna.
Minah memandang mereka berdua dengan terharu. Minah bisa merasakan bagaimana perasaan Anna yang takut di tinggalkan oleh ibunya.
Tok tok tok.
Ceklek.
"Kau sudah siap. " Suara bariton yang sangat Anna kenal memasuki indera pendengarannya.
Anna tak menjawab, hanya mengecup pipi ibunya dan berdiri. Dia berbalik dan menatap pria pemilik suara itu dengan tatapan datarnya.
"Kau cantik sekali sayang. " Ucap David melihat putrinya.
Tapi Anna hanya diam dan menghampirinya. Tanpa menjawab, Anna mengalungkan tanganya ke lengan David.
David mengerti dan membimbing putrinya keluar dari sana menuju pelaminan.
Pada saat yang sama, Xavier terlihat gugup. Sesekali dirinya menghembuskan nafasnya untuk mengurangi gugup nya. Para tamu juga sudah duduk untuk melihat pernikahan mereka. Tak banyak tamu yang hadir, hanya rekan bisnis ke dua keluarga dan kerabat yang datang.
Brian pun sudah duduk di antara para tamu. Hingga pintu terbuka menampilkan Anna yang berbalut gaun indahnya memasuki ruangan. Xavier menatap Anna yang berjalan ke arahnya. Dia lagi-lagi terpesona oleh Anna yang begitu cantik itu. Mata birunya yang menatapnya seolah menyihir nya untuk tetap terus menatapnya.
Dengan langkah anggun Anna berjalan bersama David.
"Inilah saat yang daddy inginkan Anna. Menyerahkan mu pada orang yang tepat, dan melihatmu bahagia. " Ucap David seraya berjalan.
"Benarkah? Bukan karena kau sudah lega karena kau sudah bisa membuangku? " Ucapnya sarkas tapi tetap menampilkan senyum palsunya.
"Daddy tak membuangmu sayang. Kau putri ku, dan kau harta satu-satunya bagiku. Maafkan daddy yang waktu itu menyakitimu. " Ucap David menyesal.
Mereka akhirnya sampai di hadapan Xavier. David menyerahkan tangan Anna pada Xavier.
"Jaga putri ku Xavier. Aku percaya padamu. " Ucap David tegas.
"Terimakasih dad, aku akan menjaganya. " Ucap Xavier yakin dan menggenggam tangan Anna.
Mereka pun berhadapan untuk mengucap janji suci pernikahan. Saat pendeta sedang membacakan salam pembuka dan do'a, tak henti hentinya Xavier memandang Anna dengan lekat.
Saat mereka mengucap janji dan kata bersedia terucap oleh keduanya, pendeta pun mengatakan jika mereka sudah menjadi suami istri. Ketika pendeta mengatakan jika Xavier bisa mencium istrinya, Anna begitu gugup saat penutup nya di buka oleh Xavier.
Xavier menyentuh wajah Anna dan mendekat. Bibir itu, bibir yang selalu menggoda Xavier untuk mencium Anna sejak dulu akhirnya dia bisa merasakan bibir kenyal itu.
Cup...
Anna dan Xavier saling menutup mata, saling merasakan ketika kedua bibir itu bertemu. Hingga suara sorak mereka dengar dan melepaskan diri.
***
"Selamat dear, kau sudah menjadi istri Xavier sekarang. " Ucap Eve saat mereka memasuki ruang ganti.
"Apa aku melakukan yang terbaik? " Tanya nya dengan menghela nafasnya.
Eve mendekati Anna dan memeluknya.
"Semua sudah menjadi keputusanmu Anna. Apapun itu aku akan mendukungmu. Jika kau ada masalah, datanglah dan ceritakan pada ku. Kau tahu aku selalu ada untukmu. " Ucap Eve.
Anna membalas pelukan Eve padanya dengan tersenyum.
"Terimakasih Eve. "
"Sudahlah. Kau ganti gaun mu lalu keluar. Aku akan menunggu di ballroom saja. " Ucap Eve lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Anna teringat dengan mommy nya, segera dia bergegas masuk ke dalam ruangan yang memang disiapkan untuk mommy nya.
Di sana Savannah bersama minah duduk menatap balkon.
"Mom... " Sapa Anna menghampiri ibunya dan memeluknya.
"David... Anna... David... Anna.. " Savannah bergumam tak jelas.
Anna menatap ibunya yang bergumam.
"Mommy berkata apa? Aku tak dengar mom.. " Kata Anna dengan lembut.
Tapi Savannah tetap bergumam tanpa menatapnya. Membuat Anna membuang nafasnya perlahan.
"Mommy tetap disini, okey. Anna akan segera kembali setelah selesai. " Ucap Anna lalu pergi.
Anna kembali ke ruang ganti untuk mengganti gaun nya untuk acara resepsi. Sebenarnya Anna sudah menolak acara ini karena pernikahan nya yang di sembunyikan membuat Anna merasa tak perlu untuk membuat acara seperti itu. Tapi David tetap kukuh untuk membuat acara resepsi itu.
Anna mematut dirinya yang sudah selesai mengganti gaunya. Gaunya sangat indah, dan itu pilihan dari Xavier. Anna bahkan merasa jika Xavier mengurusinya dengan baik. Bukankah harusnya dirinya yang mengurus itu semua untuk Xavier? Sekarang dirinya adalah istri Xavier, dan itu kewajibannya. Tapi mendengar dirinya sudah menjadi seorang istri membuat Anna merasa aneh. Pertama kalinya dirinya merasa gugup seperti ini.
"Kau melamun apa? " Anna menoleh melihat Xavier yang sudah berdiri di belakangnya dengan tuxedo abu-abu nya.
"Kau sudah berapa lama di sana? " Tanya Anna karena dirinya tidak mendengar suara langkah ataupun pintu terbuka.
"Baru saja. Kau melamun? " Xavier mendekat untuk melihat istrinya. Ahh Xavier merasa ada perasaan hangat di dalam dadanya saat mengucap kata istrinya. Seolah itu adalah kebahagiaan yang tak tergantikan. Bukti kepemilikan Xavier terhadap Anna.
"Tidak. " Ucap Anna kembali berbalik menatap dirinya di cermin besar itu.
Anna melihat Xavier yang berada tepat di belakangnya, nafas laki-laki itu begitu menggelitik di leher Anna yang terbuka. Jantung Anna terasa berdetak cepat, dan dirinya takut jika Xavier mengetahuinya.
"Cantik. Kau sangat cantik Anna. " Kata Xavier dengan memuja. Matanya berbinar dan senyumnya merekah.
Anna pun juga menatap Xavier yang menatap nya lewat pantulan cermin. Untuk sesaat detik demi detik mereka lewati dengan saling menatap. Hingga tiba-tiba ada rengkuh dari belakang membuat Anna tersentak.
Xavier merengkuh tubuh Anna dengan erat. Mencium tengkuk Anna yang mulus dan harum itu. Membuat Anna merinding dengan sentuhan Xavier.
"X apa yang kau lakukan. " Anna mencoba melepas tangan Xavier yang masih merengkuh nya
Anna merasa jantungnya akan copot jika seperti terus.
"Kita akan terlambat jika kau tak melepasku. " Ucap Anna mencoba untuk menetralkan jantungnya.
"Benarkah? " Sekali lagi Xavier mencium tengkuk Anna dan berdiri di belakangnya. "Baiklah. Ayo.! " Ucap Xavier.
Xavier menggandeng Anna keluar dari ruang ganti menuju panggung resepsi. Anna menatap tanganya yang di genggam oleh Xavier. Terasa hangat dan kuat.
'Ada apa denganku. Kenapa seolah aku ingin bersandar padanya. '
***
Brian menatap Anna yang sedang bersanding dengan Xavier di panggung sedang menyalami para tamu undangan. Perasaanya kacau, walau Anna sudah mengatakan jika pernikahan ini hanya sementara, tapi baginya melihat gadis yang dia cintai bersanding dengan laki-laki lain membuat hatinya terasa sakit.
"Kendalikan wajahmu itu. " Sebuah suara membuat Brian menoleh dan melihat Eve yang duduk di sampingnya.
"Kenapa dengan wajahku? " Tanya Brian seolah tak tahu yang di katakan oleh Eve.
"Jangan berbohong padaku Brian. Perasaanmu terbaca olehku. " Ucap Eve sambil menyesap minumannya.
"Jika perasaanku saja terbaca olehmu, kenapa dia tak bisa melihatnya. " Kata Brian dengan menundukan kepalanya. Brian merasa miris karena orang lain saja bisa melihat perasaanya tapi Anna bahkan tak melihatnya.
Eve merasa tak enak karena mengatakan hal itu pada Brian. Bukan hal yang mengejutkan bagi Eve karena dirinya tahu benar bagaimana Brian begitu sayang pada Anna. Dan bukan Anna tak melihat, tapi Eve yakin jika Anna tahu perasaan Brian padanya. Hanya saja mungkin Anna tidak ingin persahabatan nya rusak karena hubungan itu.
"Sudahlah. Lihat, Anna bahkan bahagia sekarang. Kau juga harus bahagia Brian. " Ucap Eve sambil menepuk bahu Brian seolah menguatkannya.
Brian mendengus dan tersenyum lirih mendengar Anna bahagia? Benarkah?
"Aku juga berharap dia bahagia Eve. " Balasnya dan pergi.
***
"Apa?! " David kaget dengan perkataan Xavier yang mengatakan jika mereka akan tinggal di rumah Anna.
"Kalian sudah suami istri, dan harusnya istri mengikuti suaminya. Bukan sebaliknya.! " David benar-benar tak tahu cara berpikir mereka.
__ADS_1
"Kita sudah mendiskusikan ini sebelumnya dad. Dan aku setuju jika tinggal di rumah Anna. " Ucap Xavier mencoba melindungi istrinya dari amukan mertuanya.
"Tapi Xavier, bukankah lebih baik kalian tinggal dirumah kita? " Ucap Andrew mencoba membujuk anaknya.
"Dad, ini sudah keputusan kami. " Ucap Xavier tegas.
Sementara Anna hanya diam, karena dia malas berdebat dengan para orang tua. Toh jika mereka memaksa untuk tinggal di rumah Xavier, Anna tak akan mau. Apapun itu, Anna tak akan meninggalkan ibunya.!
David menatap Anna yang diam di samping Xavier dengan memainkan ponselnya.
"Apa kau yang memaksa Xavier? " Tanya David memicingkan matanya.
"Dad.! " Xavier tak ingin ada pertengkaran diantara istri dan mertuanya.
Anna mendongak dan menatap David dengan datar. Menyunggingkan bibir nya seolah mengejek David didepannya.
"Benar. Aku memaksanya. Kenapa? Ada masalah? "
"Kau harusnya ikut dengan Xavier bukan memutuskan tinggal berdua! Apa kalian pikir bisa hidup berdua? " David mencoba untuk tidak membentak walau wajahnya sudah memerah.
"Wuah.. Kau pikir aku tak bisa? Apa kau tak ingat bagaimana kau membuangku 4 tahun yang lalu? Aku bahkan bisa hidup sendiri. Aku tak butuh bantuanmu tuan David terhormat. " Ucap Anna dengan nada menyindir.
"Aku tak pernah membuangmu Anna. Jaga ucapanmu.! " Ucap David dengan menunjuk Anna.
"Oh ya? Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi masalah ini sudah selesai. Kami tetap tinggal diri rumahku. " Ucap Anna final.
"Kalian bisa tinggal di rumahku. " Ucap David seolah belum menyerah.
Anna terkekeh mendengar David mengatakn hal itu. "Apa? Rumahmu? Sampai matipun aku tak akan pernah menginjakan kaki ku di rumahmu yang menjijikan itu! "
"Anna.! "Sergah Xavier sebelum David marah dan membentak Anna.
" Ini sudah kesepakatan kami. Jadi tolong hargai keputusan kami. "Ucap Xavier pada mereka semua.
Suasana menjadi tegang dan canggung. Anna masih menatap David dengan benci. Begitu juga David yang menatapnya menahan amarah.
" Baiklah, kami akan pergi ke rumah Anna. Kami sudah lelah, kami permisi. "Xavier akhirnya pamit karena suasana makin tidak kondusif.
Mereka pergi begitu saja dari 4 orang yang duduk disana. Bersamaan dengan pintu tertutup, Elena dan Maggie menghembuskan nafasnya yang terasa sesak.
Maggie mengusap tangan David yang masih tegang. Menatapnya dengan senyum mencoba agar David bisa memaklumi anaknya.
" It's okay honey. Biarkan mereka hidup berdua. Aku yakin mereka bisa "ucap Maggie dengan lembut.
" Bukan itu Maggie, aku khawatir dengan mereka. "Ucap David gusar.
" Sudahlah, kita percaya saja dengan mereka. "Kata Maggie.
" Kami juga akan mencoba percaya dengan mereka David. Jadi jika ada masalah, kita pasti tahu. Kau sudah menempatkan orang bukan disana? "Kata Andrew melihat David yang gusar.
"Ya. Aku sudah menempatkan orang ku disana. " Ucap David.
"Kalau begitu tak ada yang perlu kau khawatir kan. " Balasnya.
Baiklah, David akan mencoba untuk tak khwatir dengan mereka berdua. Walau Anna sudah tinggal disana bersama ibunya. David tetap khawatir, dulu karena ada Brian dan juga Eve yang selalu ada disamping Anna. Tapi sekarang berbeda, Anna akan bersama Xavier. David khawatir jika Xavier akan membuat anaknya sakit. Walau Xavier adalah anak dari sahabat nya dan dia percaya dengan laki-laki itu. Tapi perasaan seorang ayah tak akan bisa di kesampingkan.
***
Xavier menoleh melihat Anna yang tertidur di samping nya. Setelah pergi dari hotel tadi, Anna adanya Xavier langsung pergi ke rumahnya. Mereka tak akan menginap di hotel. Karena Anna khawatir dengan ibunya jika dia tinggalkan. Walau ada Minah dan maid lainya tapi Anna tetap khawatir jika tidak bertemu dengan ibunya.
Setelah sampai, Xavier tak membangunkan Anna da menggendongnya ke dalam dengan hati-hati.
Minah pun membuka kan pintu pintu dan melihat pasangan pengantin itu dengan senyum maklum.
"Dimana kamarnya? " Tanya Xavier dengan sedikit berbisik agar Anna tak terganggu.
"Di atas tuan. " Ucap minah menunjukan kamar Anna.
Xavier pun mengangguk dan menuju tangga untuk ke kamar mereka. Setelah membuka pintu, Xavier melihat kamar Anna yang terlihat tidak terlalu feminim. Xavier pikir kamar Anna akan berwarna pink seperti kamar wanita lainya.
Tapi kamar Anna bernuansa putih dan coklat. Seperti suasana hutan yang damai. Dengan luas yang bagi Xavier lumayan besar dengan kamar mandi juga walk in closet yang luas. Ada meja rias di sudut dan juga kerlap kerlip lampu yang membuat kamar terlihat cantik.
Xavier menurunkan Anna adengan perlahan di queen bed. Terlihat Anna sedikit terganggu saat terlepas dari pelukan hangat Xavier. Xavier menyingkirkan rambut anna yang menghalangi wajah cantiknya.
Xavier mengusap wajah Anna dengan lembut, dengan senyum yang terbit di wajahnya. Dia meresapi wajah Anna yang begitu cantik. Mata yang sedari awal membuatnya tersihir dan juga bibir yang selalu ingin Xavier kecup.
Perlahan Xavier memajukan wajahnya hingga hanya tinggian beberapa centi saja antara wajahnya dengan Anna. Bahkan dirinya bisa merasakan hembusan nafas Anna yang teratur.
Perlahan Xavier mencium bibir Anna dengan lembut penuh kehati hatian. Hanya mengecup tidak lebih. Dan Xavier merasa meledak karena ciuman itu.
__ADS_1
Xavier berjanji akan membuat Anna bahagia. Dia sadar jika untuk meraih hati anna tak akan mudah. Karena Xavier tahu betapa kuat dinding yang Anna bangun untuk dirinya sendiri. Dan Xavier harus berusaha keras untuk mendapatkan hatinya.