
Savannah sedang di periksa oleh dokter lym, sedang Anna duduk di sofa dengan Xavier yang berdiri di samping nya. Dokter itu selesai memeriksanya dan melepas stetoskop nya.
Wajahnya terlihat sendu dan putus asa. Untuk mengatakan kondisi pasien pun dirinya sangat sulit.
"Aku tak bisa memberikan obat ini lagi Anna. Tubuh mommy mu akan semakin hancur. " Kata dokter lym menatap Anna.
Anna mendengar kata dokter lym. Dia tahu jika obat itu adalah obat dosis tinggi yang akan membuat mommy nya semakin sakit. Tapi, hanya itu satu satunya cara mommy nya masih hidup. Obat itu membuat mommy nya masih bisa membuka matanya.
"Berikan saja apa yang aku perintahkan dokter lym. " Tekan Anna berdiri dan berjalan keluar.
"Aku tidak bisa Anna. Kau hanya akan membuat mommy mu kesakitan.! " Jerit dokter lym.
Anna berhenti dan mengepalkan tangan nya. "Turuti saja perintahku dokter.! " Ucap Anna menahan emosinya.
"Tidak Anna. Biarkan mommy mu pergi.. " Dokter itu memelas..
"Tidak.! Tidak akan kubiarkan mommy ku pergi.! " Teriak Anna memutus perkataan dokter lym.
"Tunggu sebentar saja. Biarkan mommy ku hidup dan melihat bagaimana aku membuat mereka hancur. Sampai saat itu, mommy tidak boleh pergi. Kau mengerti.! Berikan saja obat itu, atau kau tahu akibatnya dokter lym.!! " Ancam Anna pada dokter lym.
Setelahnya Anna pergi dari kamar itu, berlari ke kamarnya dan menutup pintunya. Xavier menatap kepergian Anna dengan sedih. Dokter lym pun menundukan wajahnya dan menghela nafas panjang. Dia berbalik dan memberikan obat itu pada Savannah.
"Aku tidak tahu sampai kapan tubuh itu bisa menerima obat ini Xavier. Tapi, yang aku takutkan adalah gadis itu tak akan bisa menerima kenyataan saat ibunya nanti pergi. Ini hanya soal waktu. Entah itu sekarang atau nanti. " Ucap dokter lym pada Xavier dan menepuk bahunya sebelum pergi.
Perasaan Xavier kacau. Dia tak tahu harus bagaimana, Anna pasti ingin sendiri pikirnya. Xavier akhirnya keluar dari kamar mertuanya. Saat keluar, dia melihat Brian duduk di ruang tamu.
Xavier pun menghampirinya. Dan duduk di sebelahnya.
"Apa terjadi sesuatu dengan nyonya? Kenapa dokter lym ada disini? " Tanya Brian khawatir.
Xavier menghela nafas dan menceritakan hal itu pada Brian. Xavier pikir Brian juga berhak tahu, Xavier yakin jika Brian juga menyayangi mertuanya seperti ibunya sendiri.
Brian pun menghembuskan nafasnya saat tahu dari cerita Xavier. "Dia begitu gigih Xavier. Dia tak akan mundur, aku yakin jika Anna sudah punya rencana. Aku tahu bagaimana dia hancur melihat ibunya yang setiap saat semakin lemah. Dia mungkin tidak menangis, tapi hatinya semakin lemah. Dia begitu pintar untuk menyembunyikan perasaan nya hingga kita menganggapnya biasa. "
"Tapi Xavier, " Brian menatap Xavier.
"Kumohon perhatikan Anna mulai sekarang. Aku takut jika dia melakukan hal yang mengerikan. " Ucap Brian mengutarakan kekhawatiran nya.
Xavier pun menganggukan kepalanya. Tak perlu memohon, Xavier pun akan melakukan hal itu tanpa di pinta.
***
Anna memasuki ruang kerjanya yang tersambung dengan kamarnya. Dia berdiri di depan jendela yang ia buka tirainya. Tangan nya memegang ponsel dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana? " Anna langsung bertanya tanpa menyapa orang itu.
"Pemiliknya membantu kelinci itu dari perangkap nya. " Balas orang di sebrang sana.
Anna menyeringai mendengar hal itu. "Benarkah. Tentu saja pemiliknya harus membantu bukan? Peliharaan nya mungkin masih berguna untuk dia rawat. " Anna terkekeh.
"Lalu.. Apa rencanamu selanjutnya? " Tanya orang itu.
"Kenapa? Kau penasaran? " Tanya Anna jenaka.
"Tentu saja. Katakan padaku dan akan kulakukan dengan cepat dan bersih. " Ucap orang itu.
"Tidak sekarang. Kita butuh jeda agar sang pemilik lengah. Tidak menarik jika pemiliknya tahu kita akan mencuri bukan? " Kata Anna santai.
"Kau benar, kita bisa ketahuan di halamannya jika kita terburu buru. " Balas orang itu.
"Baiklah. Nanti ku telfon lagi. " Ucap Anna menutup panggilannya.
Anna menutup panggilan itu dan memasukan ke saku. Ia menatap ke arah luar dengan wajah datarnya. Dengan tangan berada di sakunya. Anna terus memandang hamparan luas yang berada di belakang mansion nya.
Tidak mommy! Kau tidak boleh pergi sebelum mereka hancur di tangan ku. Tunggulah, semua ini akan berakhir. Dan kesakitan mommy juga akan berakhir. Sebentar saja mommy. Tidak akan lama. Mommy tidak akan sendiri, mereka berdua akan menemani mommy. Aku pastikan itu mommy.
Tiba-tiba Anna batuk kecil hingga suara isakan kecil muncul diantara batuk itu. Tubuhnya luruh ke lantai kepalanya menunduk dan tangan nya meremas kepalanya ikuti dengan tawa.
Anna menertawakan hidupnya yang menyedihkan, ia kasihan dengan hidupnya. Kenapa hidupnya harus mengalami hal ini?
"Akhh.. Kenapa sakit? Kenapa sakit sekali..! " Anna memukul dadanya dengan keras. Berharap rasa sakitny akan hilang atau berkurang. Tetapi, sakit itu semakin menyakitkan.
***
"Kau mau melanjutkan ke Universitas mana Anna? "Maggie bertanya pada Anna.
Mereka saat ini sedang berada di ruangan Maggie. Wanita itu memintanya untuk keruangan nya hanya untuk menanyakan hal ini? Cih. Menyebalkan.!
" Kenapa? Kau penasaran? Atau kau takut jika aku mengambil alih semua harta David? "Anna menatap Maggie penuh benci.
__ADS_1
Maggie tersenyum menatap Anna. " Tidak sayang. Justru itu yang ingin ibu katakan. Kau anak kami, tentu kau akan mewarisi semua harta kami. "Ucapnya lembut membuat Anna muak.
" Tunjukan padaku. "Ucap Anna membuat Maggie bingung.
" Apa yang harus kutunjukkan sayang? "Tanya nya.
" Wajahmu yang sebenarnya. Aku muak melihat wajahmu yang selalu memakai topeng. Sekarang buang topeng itu dan tunjukan wajah aslimu Maggie.! "Ucap Anna frustasi.
Maggie menunduk menyembunyikan air matanya yang akan keluar. Dia sedih melihat Anna yang selalu menginginkan dirinya menjadi orang lain.
" Bagaimana.. Bagaimana kau bisa percaya padaku Anna.? "tanya Maggie pilu.
Anna mendongak kan kepalanya ke atas sambil menghembuskan nafasnya.
" Kau benar-benar... Sial.! Kau tidak akan membuang topeng mu? Sekarang? Didepanku kau tak mau membuang nya?! Baiklah. Jika itu kemauan mu. Tapi jangan pernah berfikir jika aku akan tertipu dengan wajah iblis mu.! "Tekan Anna lalu berdiri dan pergi.
Maggie menangis melihat Anna yang tidak percaya padanya. Harus bagaimana lagi ia harus membuat Anna percaya jika dirinya tulus dengan nya. Sejak gadis itu lahir, pertama kalinya ia menatap mata itu. Mata yang membuatnya jatuh cinta dengan bayi mungil itu.
Bahkan saat memeluk tubuh kecilnya, Maggie merasakan kehangatan di dalam hatinya. Jika saja ia egois, mungkin saat ini keadaan akan berbeda. Tapi, akankah kebencian itu akan terhapus? Atau malah sebaliknya?
***
Anna memasuki kelasnya yang sekarang sudah banyak siswa yang tidak ada di kelas. Mereka mungkin berada di kantin, karena setelah ujian berakhir mereka tak punya jadwal pelajaran. Mereka hanya akan menunggu hasilnya dan keluar dari sekolah.
" Anna. Rencanamu selanjutnya apa? "
Anna melirik Eve yang sedang menatapnya. "Apa lagi? Jika bukan masuk Universitas? " Ucapnya malas.
"Kau benar. Tapi, kau akan masuk Universitas Korea kan? " Tanya Eve khawatir.
"Tentu saja. Kenapa aku harus pergi dari negara ini? "
"Baguslah. Aku takut kau akan pergi lagi. " Gumam Eve lega.
"Kenapa? Jika aku pergi, kau juga akan mengikuti ku? " Tanya Anna.
"Tentu. Kita tak Terpisahkan. " Ucap Eve bangga.
"Aish. Aku tidak mau.! Sekarang kau harus menentukan hidupmu sendiri. Jangan terus mengikutiku.! " Ucap Anna ketus.
"Kenapa? Apa salahnya mengikutimu? " Balas Eve tidak Terima.
Anna tak ingin suatu saat Eve akan menyesal karena telah membuang waktunya dengan sia-sia. Eve masih muda, dia cantik dan baik. Anna tidak ingin membuat nasib gadis polos itu berantakan karena dirinya.
"Baiklah. Aku akan melakukan apa yang aku suka mulai sekarang. " Ucap Eve dengan tersenyum.
Anna pun ikut tersenyum melihat Eve yang sudah memutuskan untuk menentukan hidupnya. Mungkin setelah ini, Anna akan kesepian.
"Ahh aku sedari tadi tidak melihat cowo cowo tampan deh. Pada kemana sih? " Tanya Eve celingukan.
"Mungkin mereka tidak masuk. " Ucap Anna cuek.
"Lalu, suami mu kemana? " Brisik Eve.
"Di kantor. "
"Dia sudah mulai masuk kantor? " Tanya Eve penasaran.
"Em.daddy nya yang mau Xavier langsung masuk kantor. Mungkin nanti sambil kuliah. " Ucap Anna.
Eve pun menganggukan kepalanya mengerti. Wajar jika Xavier langsung disuruh terjun langsung setelah lulus sekolah. Karena mungkin ayahnya sudah ingin Xavier bertanggung jawab dengan keluarganya. Anna pun akan seperti itu, mereka sama sama anak tunggal. Dan hanya mereka pewaris satu-satunya.
"Anna, kau kenal dengan teman Brian? " Tiba-tiba Eve bertanya.
"Siapa? Jungkook? " Ucap Anna. Karena hanya jungkook yang selalu berada disisih Brian.
"Ah namanya jungkook. " Gumam Eve sambil mengangguk kepalanya.
"Kenapa? Kau menyukainya? " Tanya an aja dengan wajah mengejek.
"Tidak. Apa yang kau katakan Anna. " Eve tersenyum malu.
"Kenapa? Dia imut, tampan juga jika dilihat. " Puji Anna.
"Siapa yang kalian bicarakan? "
Anna dan Eve langsung menoleh saat suara itu terdengar. Anna melihat Brian dan juga jungkook yang masuk kelasnya dan duduk di salah satu kursi.
"Bukan siapa-siapa. " Ucap Eve memalingkan wajahnya ke jendela.
__ADS_1
Anna terkekeh geli melihat Eve yang malu saat bertemu dengan jungkook. Dasar gadis itu.
"Tadi aku dengar dengan jelas, Anna kau memuji siapa? Aku? " Brian memainkan matanya pada Anna.
Anna mendengus melihat betapa angkuh nya Brian jika menyangkut ketampanan. Sejak dulu, Brian memang selalu bangga dengan ketampanan nya. Tapi, Anna heran saja jika dia bangga dengan wajahnya. Kenapa sampai sekarang dirinya belum punya pacar?
"Bukan. Teman mu. Jungkook. " Jawab Anna dan menatap jungkook yang kaget karena namanya disebut.
"What? Jungkook? Hei Anna, sepertinya kau harus ke dokter mata. Lihat, aku dan jungkook wajahnya lebih tampan diriku.! " Ucap Brian tidak Terima.
Anna, Eve dan jungkook langsung memasang wajah mau muntah. Melihat betapa bangga nya Brian jika masalah ketampanan, dia selalu tak ingin kalah. Dasar childish.
"Ayo Eve kita pulang. Lama-lama aku bisa muntah bneran disini.. " Ucap Anna yang langsung berdiri dan mengajak Eve.
Eve pun segera beranjak dan memeletkan lidahnya pada Brian yang di tinggal. Sedang kan jungkook sudah mau beranjak dari kursinya, tapi Brian mengetahuinya.
"Hei kau mau kemana.! Kau ikut denganku.! Wajahmu tak boleh lebih tampan dariku. Ayo ikut aku. " Brian menyeret jungkook dengan paksa.
"Hei apa salahku. Wajah tampan ini sudah memang sudah takdir. Hei. Brian. Brengsek kau.! Lepas.! " Jungkook mencoba lepas dari kuncian Brian.
Teriakan jungkook memenuhi lorong sekolah. Dia terus berteriak tapi Brian mengacuhkan nya. Semoga saja, wajah jungkook tidak di apa-apa kan oleh Brian. 😅
***
Anna berdiri di ruang tengah dengan wajah kesalnya. Bagaimana tidak, jika David mengirim dua bodyguard dengan badan besar dan kekar. Mereka sekarang menatapnya dengan wajah datar dan kaca mata hitamnya. Dan jangan lupa dengan setelan hitam nya.
Alasanya karena Anna akan segera masuk kuliah, dan kuliah berbeda dengan sekolah menurut David. Kuliah, menurut David lebih luas dari sekolah. Jika sekolah, dirinya masih bisa di awasi tapi jika kuliah David sulit mengawasi Anna.
Dan inilah hasilnya. Dua orang itu sedang berdiri di hadapannya. Mereka di perintahkan untuk mengawasi semua teman Anna dan menjaganya. Dan yang paling menyebalkan adalah, mereka hanya menuruti perintah dari David.
Rasanya Anna ingin menghabisi dua orang yang ada di hadapannya sekarang. Dulu saat dirinya di New York, walaupun ada bodyguard mereka masih bisa menuruti perintahnya. Tapi sekarang, jika mereka menuruti perintahnya maka nyawa mereka yang jadi taruhan nya.
David memang cerdas, dia tahu jika Anna walaupun keras dan dingin tapi hatinya tidak sampai hati jika dirinya harus mengorbankan nyawa orang lain untuk dia pertaruhkan.
Anna masih menatap dua bodyguard itu dengan datar. Hingga suara mobil Xavier terdengar. Anna melihat Xavier masuk dan mengerutkan dahinya saat melihat dua orang asing yang berada di rumahnya.
Xavier menatap nya "siapa mereka? " Tanya Xavier disampingnya.
Anna melirik Xavier dan mendengus kesal. "Mereka bodyguard yang di kirim oleh David. " Ucapnya dengan senyum terpaksa. Yang malah membuat Xavier ngeri melihatnya.
"Bagaimana? Baguskan? Kau tak perlu lagi khawatir denganku, karena mereka akan MENJAGAKU dengan baik.! " Ucap Anna dengan gigi yang merapat.
Xavier tak tahu harus menjawab apa. Dirinya hanya tersenyum paksa juga. Xavier tahu jika Anna sedang kesal sekarang.
"Ohh ba.. Bagus. " Ucap Xavier tergagap.
"Apa? Bagus? Hah.! Kau benar, bagus sekali. Kau tahu, moodku sedang BAIK sekali hari ini. Sampai rasanya aku ingin MENCINCANG CINCANG daging hari ini. Bagaimana jika hari ini aku masak daging manusia?! Kau suka? " Ucap Anna dengan wajah mengerikan. Xavier mengusap tengkuk nya yang merinding mendengar ucapan Anna.
Dua bodyguard itu juga wajahnya menjadi pucat pasi. Mereka pikir jika majikan mereka kali ini seorang kanibal. Bagaimana jika mereka yang jadi target majikan nya? Bukankah sedari tadi mereka di tatap tajam oleh nona mereka?
"Ehem.. Anna.. Kau punya humor yang bagus. " Ucap Xavier gugup. Dia memaksa tawanya yang garing.
"Hah.! Aishhh.. Dia benar-benar menyebalkan.! Aish.!! Awas kau.! " Gerutu Anna beranjak ke kamarnya dengan umpatan yang terus terdengar.
"Anna.. Kau mau kemana. Bagaimana dua orang ini? " Tanya Xavier menunjuk dua bodyguard itu.
"Aku tak tahu.! Terserah kau!! Aku tidak. Mau lihat wajah mereka.! " Teriak Anna frustasi.
Xavier juga ikut frustasi, jika mood istrinya sedang buruk seperti ini maka dirinya juga akan terimbas. Xavier melirik dua bodyguard yang masih berdiri.
"Kenapa kalian masih disini.! Keluar sana.! " Usir Xavier kesal.
"Tapi tuan. Tuan bes... " Sela salah satu bodyguard itu gugup.
"Aku bilang keluar.! Kau mau di CINCANG CINCANG oleh istriku?! " Xavier memotong ucapan bodyguard itu kesal.
Tubuh dua bodyguard itu langsung bergetar. "Tidak tuan. Baiklah. Kam... Kami ke luar dulu. " Jawab nya dengan gugup.
"Ya sudah sana.! " Usir Xavier malas.
Mereka pun langsung keluar terbirit-birit. Sedang Xavier menghela nafas untuk menghadapi istrinya yang sedang dalam mode mood buruk. Siap siap saja jika dirinya harus tidur di luar kali ini.
Astaga.! Siapa yang berbuat siapa yang mendapat hukuman. Dasar. Ini semua karena mertuanya yang tidak bilang dulu padanya tentang bodyguard untuk Anna.
"Baiklah. Semangat Xavier. Kau harus bisa merayunya. Walaupun sepertinya akan susah. Tapi kau harus semangat.! Fighting.! " Ucap Xavier menyemangati dirinya sendiri.
Xavier menaiki tangga dengan pelan pelan. Mencoba membuat kerongkongan nya basah.
"Sayang... Sayang aku lapar.. " Ucap Xavier setengah merengek dan berteriak.
__ADS_1
Dalam hati semoga saja dirinya tidak di hadiahi kepalan tangan dari istrinya.. Astaga, nasibmu benar-benar mengenaskan Xavier.!