
Ini sudah seminggu sebelum hari pernikahan Anna dan Xavier, persiapan pun sudah hampir selesai. Anna pun tidak ikut mengurusi semua hal itu. Karena baginya itu tidak penting. Xavier pun sekarang sering mengantar jemput nya. Dan itu membuat satu sekolah menyebar rumor jika mereka berpacaran. Anna tidak terlalu memikirkan rumor itu, hanya saja gangguan dari penggemar Xavier membuatnya kesal. Apalagi penggemar fanatik Xavier barisan pertama, siapa lagi jika bukan eun jae.
"Bagaimana persiapan pernikahan mu? " Tanya Eve.
Mereka sedang bersantai di belakang rumah Anna. Eve dan Brian sudah tahu tentang pernikahan itu. Eve bahkan shock mendengar Anna akan menikah dengan Xavier. Apalagi Brian yang langsung patah hati mendengar hal itu. Setelah Anna mengatakan tentang pernikahan itu, Brian jadi pendiam.
"Mungkin sudah hampir selesai. " Balas Anna cuek sambil meminum coklat hangat nya.
"Mungkin? Kau tak mengikuti persiapan nya Anna? " Tnya Eve memicingkan matanya.
"Tidak. Untuk apa. " Ucap Anna.
"Ini pernikahan mu Anna. Pernikahan seumur hidup hanya sekali. Dan kau cuek seperti ini? " Tanya Eve heran.
Anna tak mengatakan rencana nya pada Eve jika dirinya akan menceraikan Xavier jika usia pernikahan nya sudah satu tahun. Anna tak ingin Eve mengetahui nya jika Eve tahu mungkin dirinya akan menerima ceramah yang tiada habisnya.
"Biarkan para orang tua yang mengurusi itu semua Eve. Aku cukup sibuk untuk mengurusi hal seperti itu. Kau tahu sendiri jika jadwal pemotretan ku saja sudah padat. " Ucap Anna kesal.
Pekerjaanya yang sebagai model masih berjalan. Bahkan baru 2 hari kemarin dirinya baru kembali dari Perancis untuk pemotretan. Dirinya sangat lelah. Apalagi memikirkan ibunya yang sekarang semakin membuatnya tak bisa kemana mana.
Savannah masih sering berhalusinasi dan berteriak atau memecahkan batang barang. Atau menyakiti dirinya sendiri. Semua sudah Anna kerahkan untuk kesembuhan ibunya.
"Kau benar. Kenapa juga kau masih Terima job itu disaat kau akan menikah.! " Keluh Eve.
"Aku tak bisa se enaknya membatalkan kontrak Eve. Apalagi itu sebelum kabar perjodohan ku. " Ucap Anna menjelaskan.
"Em kau benar. Ngomong ngomong dimana Brian? Aku tak melihatnya sedari tadi. " Tanya Eve mencari keberadaan Brian.
"Tumben kau mencarinya. Apa kau merindukannya? " Tanya Anna menggoda.
"Ish siapa yang rindu. Dia itu menyebalkan. Hanya heran saja kenapa aku tak melihatnya. Biasa nya kan setiap ada kau pasti ada Brian. " Ucap Eve
"Bukan nya kebalik? Setiap ada kau pasti ada aku. " Koreksi Anna.
Eve menyengir mendengar perkataan Anna yang benar adanya.
"Tapi Anna,aku penasaran. Apa kau mencintai Xavier? " Tanya Eve.
Pertanyaan Eve sebenarnya sederhana, tapi bagi Anna itu pertanyaan yang susah. Perasaan nya pada Xavier bahkan dia tak tahu.
"Aku tidak tahu " Ucap Anna singkat.
Eve mengerti, Anna adalah gadis yang belum pernah merasakan cinta. Itulah kenapa dirinya belum mengetahui perasaanya pada Xavier. Anna tumbuh menjadi gadis pendendam, hatinya sangat gelap dan dingin. Maka dari itu Xavier sangat susah masuk ke dalam hatinya. Tapi Eve yakin jika Xavier bisa membuat Anna bahagia. Entah kenapa Eve sangat yakin jika Xavier adalah orang yang tepat untuk Anna.
***
Hari ini adalah jadwal mereka fitting baju. Anna dan Xavier masuk ke dalam butik yang memang sudah merancang gaun Anna.
"Selamat datang nona, tuan muda. Silahkan masuk " Sapa pegawai perempuan yang membuatkan pintu.
Mereka masuk bersama ke dalam butik itu di dalam mereka bertemu dengan Elena dan Maggie.
"Sayang kalian sudah datang. Ayo kita coba gaun kamu. " Ucap Elena dengan menggiring Anna ke dalam.
Sementara Xavier dan Maggie duduk bersebrangan.
"Kalian datang bersama? " Tanya Maggie mencoba berbincang dengan calon menantunya.
"Iya bi. " Jawab Xavier sopan.
"Kau harus memanggilku Mom ,Xavier. Sama seperti Anna yang memanggil ibu mu Mom. " Ucap Maggie mengoreksi Xavier.
"Baiklah Mom. " Ucap Xavier dengan senyum tipis.
Maggie memandang Xavier dengan tersenyum. Setelah insiden Maggie yang mencoba bunuh diri, beberapa hari kemudian dia sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Wajah pucat nya masih terlihat jelas karena Maggie memaksakan dirinya untuk ikut fitting baju Anna. Walau harus berdebat dulu dengan suaminya David, tapi akhirnya Maggie bisa meluluhkan David agar mengijinkan dirinya untuk pergi. Dengan catatan dirinya tidak boleh stres atau memikirkan hal yang berat.
Sementara Anna mengenakan gaun nya, Xavier pun juga di bimbing ke dalam untuk mencoba tuxedo nya.
"Wahh kau tampan sekali Xavier. " Puji Maggie saat Xavier keluar dari ruang ganti.
"Thanks Mom. " Balas Xavier
Tiba tiba tirai di depan Xavier terbuka, menampilkan Anna yang sudah mengenakan gaun putih sepadan dengan warna kulitnya.
Untuk sesaat Xavier menahan nafasnya karena terpesona oleh Anna. Gaun yang sederhana dengan potongan rendah di bagian dada yang menampilkan bahu mulus Anna membuat Xavier panas dingin.
Anna pun menatap Xavier yang terlihat gagah didepanya dengan setelah tuxedo berwarna biru dengan kemeja putih nya. Kedua calon mempelai itu saling bertatapan terpesona akan penampilan masing-masing. Hingga suara Elena memecahkan keheningan mereka.
"Ehem. Sudah bertatapan ya. Kalian bisa berlama-lama bertatapan seperti itu nanti jika sudah menikah. " Goda Elena pada mereka berdua.
Anna pun segera memalingkan wajahnya, begitu juga dengan Xavier yang segera menunduk.
__ADS_1
"Bagaimana Xavier? Anna cantik bukan? " Tanya Elena pada putranya dengan menggoda.
Xavier pun menatap Anna dengan tatapan serius.
"Cantik Mom. " Puji Xavier.
Anna yang di puji oleh Xavier menjadi canggung. Bahkan tak bisa dia tahan, pipinya memanas karena pujian itu. Anna mencoba untuk tidak tersenyum agar Xavier tidak membully nya nanti. Laki-laki itu pasti akan terus menggodanya karena blushing di depan ya.
"Lalu Anna sayang, putraku tampan bukan? " Tanya Elena.
Mendapat pertanyaan dari calon mertua nya, Anna jadi gelagapan.
"Iya mom. " Ucap Anna terbata bata.
Xavier tersenyum miring mendengar Anna yang gugup.
"Ahhh kalian pasangan yang serasi. Benar kan Maggie? " Ucap Elena pada Maggie yang masih memandangi Anna.
"Benar. Pasangan yang serasi. " Ucap Maggie
Pikiran Maggie berkecamuk, senang, sedih semua bercampur. Hatinya masih sakit jika mengingat terakhir mereka bertemu. Maggie tak menyalahkan Anna, hanya saja kata kata putrinya masih membuatnya menangis. Entah kenapa terasa sulit sekali hanya untuk meminta sebuah pelukan dari putrinya itu.
Selesai fitting baju, Xavier mengantarkan Anna pulang. Namun sebelum itu, mereka makan dulu di sebuah restoran. Setelah itu baru Xavier mengantar Anna ke rumahnya.
"X bisakah aku meminta sesuatu padamu? " Tanya Anna saat mereka sudah berada didepan rumahnya
"Apa? " Balas Xavier memandang Anna.
"Saat pernikahan, biasakah mommy ku ikut? " Pinta Anna.
"Bukankah memang sewajarnya mommy mu ikut dalam acara itu? " Tanya Xavier heran.
Anna menghembuskan nafasnya dan menunduk.
"Tidak. David tidak akan memperbolehkan mommy ku ikut acara itu. Jadi kumohon biarkan mommy ku ikut, karena bagaimanapun ini pernikahan putrinya. Dan aku juga ingin mommy ku ikut. " Kata Anna lirih.
"Baiklah. Aku akan meminta daddy ku untuk membujuk ayahmu. " Ucap Xavier.
Anna menatap Xavier, dan tersenyum tulus.
"Terima kasih X. Kuharap mommy ku bisa ikut adil dalam pernikahan ku. " Ucap Anna.
Setelah itu Anna keluar dari mobil Xavier dan masuk rumahnya. Xavier memandang punggung Anna yang memasuki rumah dengan tatapan yang tidak terbaca.
'Akan ku usahakan Anna. '
Anna berbalik saat mendengar suara motor Brian di belakang nya.
"Kau dari mana Anna? Aku tadi mencarimu. " Tanya Brian setelah turun dari motor.
"Dari fitting baju. Kau baru pulang? " Ucap Anna
"Em. Jadi kau tadi bersama Xavier? "
"Em. Aku masuk dulu. " Ucap Anna singkat lalu berbalik meninggalkan Brian yang kesal.
***
Setelah David menampar Anna, laki-laki itu sekarang sering berdiam diri di ruangan ya. Bahkan tangan yang sudah lancang menyakiti wajah putrinya itu kini berbalut perban, karena David melukainya.
Bahkan beberapa hari ini David tak bertemu dengan Anna. David menghindarinya karena dirinya tak ingin menyakiti putri kecilnya.
"Kau masih berdiam diri di sini. " Maggie memasuki ruang kerja suaminya. Dia masih melihat David menyalahkan dirinya sendiri yang telah menyakiti Anna.
Maggie mengerti, dirinya juga turut andil.
"Bagaimana? " Tanya David tanpa mengalihkan tatapan nya pada berkas di hadapannya.
"Apa? " Balas Maggie tak mengerti.
"Dia cantik? "
Wanita itu membuang nafasnya frustasi. Menatap suaminya yang menyimpan sakit itu di balik dinding kokoh yang dia buat.
"C'mon David. Kau harus kuat.!! Jika kau terus berdiam diri di sini tidak akan merubah situasi. Apalagi putri kita akan menikah satu minggu lagi. Apa kau akan tetap diam disini? Tidak menggiring Anna ke pernikahannya? " Ucap Maggie mendorong David agar kuat kembali.
David masih terngiang-ngiang oleh tatapan Anna padanya malam itu. Tatapan sendu nya membuat David ingin mengakhiri hidupnya. Bahkan tanganya masih gemetar sampai sekarang.
David tak pernah memukul Anna. Sekalipun kata-kata nya pedas dan sarkas, tapi David pantang memukul anak nya. Sikap tak peduli nya juga adalah topeng agar Anna membencinya. Tapi, tatapan malam itu lebih menyakitkan dirinya. Dirinya tak tenang. Akan ada sesuatu yang besar akan membuatnya gila.
"David... Kita bisa David... " Ucap Maggie menyentuh tangan David yang gemetar.
David menatap Maggie dan tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Dan maafkan aku. "
"Tak perlu. Kita hadapi sama sama. " Balas Maggie.
***
Anna menyisir rambut sang ibu di depan cermin. Dia senang mommy nya tidak berontak atau mengamuk. Dengan begitu, Anna bisa bercerita keluh kesah yang Anna rasakan pada mommy nya.
"Lihat, mommy masih cantik. Padahal mommy sudah punya anak sebesar ini. Menakjubkan bukan? " Ucap Anna menatap savanah di depan cermin.
"Anna juga ingin seperti mommy. Masih cantik di usia tua. Anna harap, mommy masih bersama Anna sampai saat itu. " Ucapnya lirih.
Tapi savanah tetap diam, pandangannya kosong. Anna seperti berbicara dengan patung. Miris sekali hidupnya.
"Kita harus sama-sama berjuang mom. Aku tak bisa jika sendiri. Dampingi aku dan beri aku kekuatan agar bisa membalas apa yang mereka lakukan pada kita. " Ucap Anna dengan memeluk mommy nya.
Tok tok tok
"Masuk."
Ceklek.
"Nona, ada tuan Xavier di depan. " Ucap minah.
"Baiklah. Aku akan keluar. " Ucap Anna.
Pernikahannya 4 hari lagi. Ini waktunya Xavier menyapa mommy nya. Bagaimanapun Xavier harus kenal dengan mommy nya.
"Ayo mom, mommy harus kenalan dengan calon suami Anna. " Ucapnya seraya mendorong kursi roda.
Terlihat Xavier sedang duduk di sofa ruang tengah. Saat melihat Anna keluar dengan mommy nya, Xavier langsung berdiri.
"Hai." Sapa Anna sambil tersenyum.
"Hai. Waktunya foto prewed. " Ucap Xavier membalas senyum Anna.
"Oh okay. Sebentar aku siap-siap dulu. Jaga mommy. " Pamit Anna langsung menuju kamarnya.
Xavier hanya menganggukan kepalanya menanggapi Anna. Laki-laki itu berdiri dan menghampiri savanah dan berjongkok didepanya.
"Hallo nyonya, perkenalkan saya Xavier Dominic Xeon. Calon suami Anna. " Sapa Xavier.
Savanah tak menanggapi dan hanya diam. Xavier menatap mata mommy Anna yang kosong tanpa jiwa.
'Inikah yang dia rasakan? '
"Mulai sekarang saya akan memanggil anda mommy. Bolehkah? "
Hening.
Anna melihat nya dari atas. Bagaimana interaksi Xavier dengan mommy nya. Dan bagaimana reaksi Xavier setelah melihat kondisi mommy nya sekarang.
Terlihat Xavier yang menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, dirinya sangat tidak tahu harus apa lagi. Xavier bukan orang yang akan memulai percakapan jika bukan hal mendesak.
Anna segera turun agar Xavier tidak bosan.
"Ayo X. Kita berangkat. Minah jaga mommy. " Kata Anna sambil berteriak memanggil minah.
"Baik nona. " Balas minah yang langsung berlari saat mendengar suara Anna.
Anna masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Xavier yang langsung duduk di balik kemudi. Menyalakan mobilnya dan melaju dari mansion ke suatu tempat prewed mereka.
Di sebuah markas geng motor yang sedang berkumpul, ada sosok laki-laki yang duduk merenung disudut ruangan.
"Apa kau sedang putus cinta? " Tanya seseorang pada laki-laki itu..
Laki-laki itu mendongak dan menatap pria yang bertanya padanya. Pria dengan tindik di sisi kanan dan kiri itu pun juga menatap laki-laki itu. Wajah pria itu bisa di kategorikan imut, bahkan kalo menurut laki-laki itu, dia tak pantas di sini.
"Bukan urusanmu! " Balas laki-laki ketus.
Pria itu mengangkat alisnya dan tersenyum mengejek.
"Ah begitulah. Tapi yang kulihat sepertinya seperti itu. " Ucapnya seraya duduk disampingnya.
"Diamlah jungkook. Aku sedang tidak ingin di ganggu. " Ucapnya pada pria bernama jungkook itu.
"Oh ayolah Brian. Jangan hanya karena cinta kau lemah seperti ini.! " Ucap jungkook pada laki-laki yang ternyata Brian.
"Aku tak bisa.! Tak akan bisa.!! " Ucap Brian tegas.
Jungkook menoleh menatap Brian di sampingnya.
"Sebesar itukah cintamu padanya? " Tanya nya tanpa mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Kami tumbuh bersama. Rasanya sulit aku melepasnya. " Ucapnya sambil membayangkan bagaimana mereka tumbuh bersama hingga sekarang. Walau ada jeda 4 tahun mereka tak bertemu, tapi bagi Brian itu tak bisa membuat cinta nya luruh.
"Aku tak tahu sebesar apa perasaanmu padanya. Tapi aku hanya berharap kau tidak jatuh ke dasar, Brian. " Ucap jungkook lalu menepuk bahunya dan meninggalkan Brian sendiri.