Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 27


__ADS_3

Anna masuk kelasnya dengan wajah yang sudah memerah. Dia duduk dan menghempaskan tas nya dengan kasar. Membuat Eve terlonjak kaget dengan sikap Anna yang pagi-pagi sudah senewen.


"Ada masalah? " Tanya Eve hati-hati. Bukan apa. Dirinya pernah ikut terseret emosi Anna jika dirinya bertanya asal-asalan.


"Moodku buruk. " Ucapnya dengan melipat tangan nya di depan. Pandangan nya pun juga lurus tak melihat Eve yang menganggukan kepala nya mengerti.


Eve tahu jika Anna sedang mood buruk, maka jangan pernah menganggunya. Eve sudah pernah mencobanya dan berakhir dengan kemarahan Anna dan juga kata-kata dari kebun binatang semua keluar. Marahnya Anna lebih mengerikan dari apapun yang pernah Eve alami.


Jadi dia lebih baik diam, dan menunggu Anna mengatakan hal apa yang membuat mood nya buruk.


Anna melirik Brian yang sedang berbicara dengan kedua bodyguard yang ia tendang tadi dengan sinis. Brian membuat jarak untuk mereka. Dan itu membuat Anna kesal bukan main.


Apa yang ada di pikiran Brian hingga mereka harus membuat jarak seperti ini. Dan ini begitu mendadak. Tidak.! Anna pikir ini sejak dirinya menyuruh nya untuk bergabung dengan ayahnya.


Apakah ada yang terjadi saat pelatihan? Tidak mungkin jika Brian bersikap formal dengan nya jika tidak ada yang menyuruhnya. Dan itu sudah pasti David orang nya.


Laki-laki itu penuh ambisi dan juga kritis. Dia pasti sudah mencium aroma kedekatan antara dirinya dan juga Brian. Walau sebelumnya mereka di biarkan berteman. Tapi setelah dirinya menikah mungkin David mengatakan untuk menjauhi Anna. Karena David takut akan ada scandal antara dirinya dan juga Brian yang membuat nama baiknya tercoreng.


Lamunan Anna buyar saat dosen masuk dan menyapa muridnya. Anna mencoba untuk fokus dengan mata kuliahnya yang akan memakan waktu kurang lebih satu jam.


Anna melirik lagi pintu kelas nya dan disana sudah tak ada lagi Brian, hanya bodyguard nya yang sudah standby seperti biasa.


Satu jam akhirnya berlalu. Dosen pun keluar dari kelas saat waktu nya sudah habis. Anna membereskan bukunya.


"Ayo ke kantin. " Ajak Eve saat dirinya sudah selesai membereskan bukunya.


Anna pun berdiri dari kursinya mengikuti Eve yang keluar dari kelas menuju kantin. Tak lupa kedua bodyguard yang langsung mengikuti nya di belakang nya.


Mereka bertemu dengan Brian yang baru keluar dari kelasnya. Tak perlu Eve ajak, merekapun langsung masuk ke kantin.


Ruangan yang luas itu sudah banyak yang duduk di kursi yang mempunyai meja panjang. Setiap meja ada 6 kursi dan itu memungkinkan banyak yang berkumpul.


Eve yang pertama melihat meja yang kosong langsung dan diikuti oleh Anna. Brian memilih berdiri di samping Anna. Dan dua bodyguard itu juga berdiri disamping kanan kiri meja mereka.


Kedua bodyguard itu membuat banyak mata yang melihat mereka. Anna dan Eve memilih cuek karena mereka tidak peduli. Brian memesan kan mereka makanan dan itu membuat Anna mendengus kesal.


Eve menyadari jika sikap Brian lah yang membuat Anna mendung. Tapi Eve tidak bertanya lebih lanjut. Dirinya tahu jika Brian sudah menjadi pengawal pribadi Anna. Tapi ia tidak sangka jika sikap Brian akan berubah.


Makanan mereka datang, pelayan kantin yang mengantar makan itu. Eve langsung menyerbu makan itu, berbeda dengan Anna.


"Brian." Panggil Anna dan Brian langsung sigap.


"Belikan aku tiga sandwich. " Ucap Anna setelah itu dia memakan makanan nya.


Eve bingung, untuk apa Anna beli sebanyak itu? Brian langsung membeli sandwich itu tanpa tanya.


"Untuk apa kau beli sebanyak itu Anna? " Tanya Eve bingung.


Tapi Anna tetap diam dan memakan makanan nya. Tak lama Brian datang dengan tiga sandwich berada di tangan nya.


Brian meletakan sandwich itu di meja Anna. "Ini." Ucapnya lalu kembali berdiri di sampingnya.


Anna meletakkan sumpitnya dan mengambil sandwich itu. Dia melemparkan satu persatu sandwich itu kepada dia bodyguard nya dan juga Brian. Mereka menangkap sandwich itu dengan bingung.


"Makan nanti saat di mobil. " Ucap Anna datar lalu melanjutkan makan nya.


Kedua bodyguard itu tersenyum tipis dan memasukan sandwich itu dalam sakunya. Sedangkan Brian masih menatap sandwich itu dengan diam.


Anna mendesah kesal. "Duduk Brian. " Ucap Anna pelan.


Brian menoleh dan tetap diam. "Tidak nona. Saya tetap harus disini. " Ucapnya tegas.


Anna mulai kesal dengan sikap formal nya Brian. "Aku bilang duduk Brian.! Ini perintah.! " Ucap Anna sedikit meninggi.


Brian masih diam tanpa mau duduk disamping nya. Tangan Anna mengepal, dia mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di tempat ramai.


Kursi di sebelahnya bergerak, Anna melirik dan dia melihat Brian duduk. Anna pun diam dan melanjutkan makan nya. Keheningan melanda meja mereka.


Eve yang biasanya cerewet jadi diam karena atmosfer nya menjadi dingin. Hingga Anna mendengar kursi yang bergerak.


Dia mendongak dan melihat orang yang duduk disebelah Eve dengan datar. Eve pun ikut menoleh dan kaget dengan orang yang duduk di sampingnya.


Bahkan dirinya sampai tersedak karena saking kagetnya.


"Uhuk uhuk uhuk.. " Eve langsung minum untuk meredakan tenggorokan nya.


Setelah minum dirinya menoleh lagi. "Kau.! Bukankah kau Jungkook? " Tunjuk Eve pada orang di samping nya.


Jungkook tersenyum pada Eve yang malah membuat gadis itu salah tingkah. Eve berdeham dan minum lagi.



"Kau masih mengenal ku rupanya. " Ucap Jungkook ceria.


Anna mendengus dan meminum jus nya. Dia meletakan sumpitnya karena sudah tidak selera.

__ADS_1


"Kau kuliah disini juga? " Tanya Eve setelah menguasai tubuhnya.


Jungkook menganggukan kepala nya. "Aku masuk bagian tekhnologi. " Ucapnya.


Eve menganggukan kepalanya mengerti. Jantungnya serasa mau copot dekat dengan Jungkook.


Kening Jungkook mengerut melihat pemandangan yang aneh. "Kalian seperti ada masalah. " Ucap Jungkook menunjuk kedua orang di hadapan ya.


Tak ada yang menjawab, Anna diam Brian pun juga. Keheningan melanda mereka. Hanya suara orang-orang disekitarnya yang mereka dengar.


Anna pun muak dengan diamnya mereka. Dari pada diam saja lebih baik dia kembali ke kelas pikir Anna. Anna bangkit dari kursinya yang membuat mereka kaget.


"Kau mau kemana? " Tanya Eve.


"Aku mau ke kelas. " Ucapnya lalu berlalu. Kedua bodyguard itu langsung mengikutinya. Brian mengikuti tak terkecuali Jungkook dan Eve. Saat keluar, Anna berpapasan dengan Jessica lagi.


Mereka bertatapan sejenak lalu Anna berlalu dengan wajah datarnya.


"Siapa sebenarnya dia? " Gumam Jessica penasaran.


***


"Kau sudah bertemu dengan nya? "


Anna mendegar seseorang di sebrang sana. Dia berada di ruang kerjanya. Anna memandang ke luar jendela. Malam ini banyak bintang yang bertebaran di langit tanpa bulan yang menemani.


"Eoh.. Seperti perkiraan ku. " Balasnya.


Anna mendengar suara kekehan di sebrang sana.


"Perkiraan mu selalu tepat. Tidak perlu di ragukan. " Ucapnya bercanda.


Anna tersenyum tipis. Memandang bintang yang tanpa bulan seakan tak ada artinya. Secantik apapun bintang jika bulan tak nampak, bintang pun juga tidak akan indah.


"Lalu, kapan kau melanjutkan nya? " Tanya orang di sebrang sana.


"Dua hari lagi. " Ucap Anna dingin.


Anna merasakan orang di sebrang sana sedang menganggukan kepalanya. "Baiklah." Ucapnya singkat.


Anna pun langsung mematikan panggilan. Terlihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.


" K "


Lamunan nya buyar saat suara pintu dulu ketuk. "Non tuan muda sudah pulang. " Ucap pelayan nya.


"Baiklah aku akan keluar. " Balasnya.


Anna memasukan ponselnya kedalam saku piyama abu-abu nya. Dia keluar dan melihat Xavier baru masuk dengan penampilan lelahnya.


Anna turun dan menghampiri Xavier. "Kau baru pulang? " Tangannya.


Xavier tersenyum saat Anna menyambutnya. "Em. Banyak sekali yang harus aku kerjakan. " Keluhannya. Walau dengan senyuman di wajahnya yang tidak luntur.


Anna terkekeh melihat wajah Xavier yang berbeda dengan keluhan nya. "Baiklah. Sekarang lebih baik kau mandi lalu makan. " Ucapnya.


Xavier menganggukan kepalanya dan naik ke kamarnya. Sedangkan Anna menyiapkan makanan untuk Xavier.


Tak lama setelah Xavier slesai mandi Xavier turun dengan piyama yang warna nya sama. Piyama itu bukan couple, hanya saja warna nya yang sama. Walau saat tidur Xavier selalu membuka bajunya. Tapi saat keluar dari kamar, dia selalu memakai baju.


Dia duduk di meja makan dan Anna langsung mengambilkan makanan untuk nya. Xavier merasa bahagia, ini pertama kalinya dirinya merasa sebahagia ini. Bibir itu selalu tersenyum, melihat Anna yang mengambilkan nasi dan lauk nya.


"Makan lah. " Ucapnya setelah meletakan piring di depan ya.


Lalu dirinya duduk di samping nya melihat Xavier makan. Xavier menyuapkan nasinya dan melihat Anna yang menatapnya.


"Kau tidak makan? " Tanya Xavier.


Anna menggeleng. "Aku sudah makan tadi. " Ucapnya.


Xavier menganggukan kepalanya. Lalu melanjutkan makan nya.


"X dua hari lagi ada perayaan perusahaan David. Kita harus datang. "Ucap Anna menatap Xavier.


Xavier menghentikan makan nya dan menatap wajah istri nya saat mengatakan soal David. Wajah itu masih sama, walau bibirnya mengucapkan nama yang membuatnya sakit.


Apa itu artinya, Anna sudah berbaikan dengan David? Karena biasanya wajah itu langsung mengeras saat nama David terucap.


" Baiklah. Kita akan datang. "Ucap Xavier.


Anna masih menatap wajah Xavier yang masih mengunyah makanan. " David akan memperkenalkan kita---lebih tepatnya --aku ke seluruh dunia. Perayaan itu mengundang banyak media. Apa kau siap? "Tanya Anna.


Xavier menghentikan bibirnya yang sedang mengunyah dan menatap Anna dengan kaget. Apakah secepat ini? Dia pikir, mereka akan di perkenalkan saat sudah memimpin perusahan.


Memperkenalkan Anna pada dunia sebagai anak dari David William Greyson akan membuat hidup Anna menjadi rumit. Dan Xavier tahu hal itu. Dan pertanyaan Anna barusan bukanlah untuk dirinya, tapi lebih untuk Anna sendiri.

__ADS_1


Xavier menatap Anna dengan dalam. "Kita badapi ini sama-sama sayang. " Ucap Xavier mengenggam tangan Anna.


Anna mencoba tersenyum pada Xavier yang malah membuat Xavier merasa miris. Istrinya ingin selain terbebas dari ayahnya itu, tapi sekarang jeratan itu malah semakin membuatnya tidak bisa lari.


Xavier ingin sekali membuat Anna bahagia, tapi kekuatan nya belum lah kuat. Dia harus membangun kekuatan dulu dari nol. Dia tidak mau jika dirinya meminta bantuan dari orang tuanya.


Dia sudah menikah, otomatis Anna sudah menjadi tanggung jawabnya. Apapun itu Xavier akan lakukan agar istrinya bahagia.


***


Anna mematuk dirinya di cermin. Dirinya memakai dress selutut tidak berlengan berwarna peach. Di padu dengan jaket demin nya dan juga sepatu flat nya. Rambutnya ia gerai dengan jepit rambut berbentuk kupu-kupu bertengger di kepalanya.


"Kau seperti anak sekolah. "


Anna menoleh dan menatap Xavier sebal. Sedangkan Xavier yang sudah siap dengan T-shirt hitam dan juga jeans hitamnya di padu dengan jaket bomber nya.


Xavier terlihat tampan, tidak setiap hari Xavier tampan. Akui saja Anna..!!


"Sudah ayo berangkat. " Xavier menghampiri Anna dan menggandeng tangan nya.


Anna menatap mata Xavier. Anna sampai lupa dengan warna mata Xavier yang berwarna abu-abu terang. Dia mengingat seseorang yang mempunyai warna abu-abu yang lebih pekat. Akankah dia kembali?


Setelah kejadian waktu itu, dia tak kembali lagi. Apakah, dia baik-baik saja?


"Anna,? " Xavier menyentak lamunan Anna.


Dia mengerjapkan matanya dan kembali menatap Xavier. "Apa? " Tanya nya polos.


Xavier terkekeh melihat istrinya yang melamun. "Bukan apa-apa. Ayo kita turun. " Ucap Xavier membuak pintu kamar mereka.


Mereka sarapan seperti biasa sambil membicarakan hal hal yang mebuat mereka lebih dekat. Setelah sarapan Anna dan Xavier langsung keluar dari rumah menuju mobil mereka.


Seperti biasa bodyguard sudah berjejer dan Brian pun juga sudah berdiri tegap. Tapi Anna tidak menyapanya, Brian pun juga tidak. Membuat Xavier heran dengan dua orang itu.


Karena biasanya mereka selalu bertegur sapa atau setidaknya menanyakan kabar. Apa ada yang dia lewatkan?


Xavier mencoba membuang pikiran itu. Malah bagus bukan jika mereka tidak begitu dekat? Dirinya bisa lebih dekat lagi dengan istrinya. Pikir Xavier.


Mereka sampai di kampus, dan seperti biasa banyak orang yang menatap mereka. Tapi Anna sudah biasa dengan semua itu. Xavier pun sepertinya tidak peduli juga.


Tapi sepertinya ketenangan Anna harus terusik kembali dengan datangnya 'medusa' itu. Anna menatap malas 'medusa' yang sedang berjalan di depan sana.


"Wow.. Siapa ini? Aku belum pernah melihatnya. " Jessica memandang Xavier dari atas sampai bawah dengan pandangan kagum.


Jessica berdecak kagum dengan laki-laki didepan nya itu. Dia memandang Anna dengan tatapan merendahkan.


"Apa ini juga pengawal mu? Kenapa semua pengawal mu tampan tampan? " Tanya Jessica mencemooh.


"Ohh atau karena kemarin kau hanya bertiga, sekarang kau menambah satu orang lagi untuk melindungi mu? Cih.! Dasar manja.! Bagaimana tangan mu? Apakah lecet? "Tanya jessica dengan malas.


Xavier menatap tajam wanita dia depan nya. Wanita itu merasa di tatap oleh Xavier, saat dia balas menatap rasanya aura yang dikeluarkan oleh laki-laki itu membuatnya takut.


Anna mendesah kesal. Medusa itu membuat kuburan nya sendiri. Anna sudah tidak peduli lagi. Xavier pasti sudah tahu sekarang.


Flashback.


Mereka masih di meja makan. Anna menemani Xavier yang makan sambil tangan nya di genggam oleh Xavier.


Xavier mengusap tanganya dan tak sengaja mengusap pergelangan tanganya yang membiru.


" Akhhh. "


Xavier tersentak saat Anna menarik tangannya. "Ada apa? " Tanya Xavier khawatir.


Anna menutup tangan nya. "Tidak apa-apa. Lanjutkan makan mu" Ucapnya seolah tak terjadi apa-apa.


Tapi Xavier bukan orang yang mudah ia bohongi. Dahinya mengerut dan menarik tangan Anna dengan paksa.


Matanya menajam saat pergelangan tangan Anna membiru. Kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


"Siapa? " Tanya Xavier menggeram.


"Ini bukan hal yang serius X. Nanti juga sembuh. " Ucap Anna mencoba membuat Xavier meredam kemarahan nya.


"Siapa Anna?! " Tanya Xavier sekali lagi.


Anna mendengus karena Ucapnya tak di dengar. "Seorang medusa. " Ucapnya singkat lalu menarik tangan nya kembali.


"Medusa? " Tnya Xavier mengerutkan dahinya.


"Kau akan tahu nanti. Sudah lanjutkan makan ku. Aku mau tidur duluan. " Ucap Anna bangkit dan naik ke kamarnya.


Flashback off


Anna menarik tangan Xavier dari sana karena dirinya takut akan terjadi sesuatu. Bukan karena wanita itu tapi kampus ini. Kemarahan Xavier belum Anna tahu seberapa mengerikan. Hanya saja, dirinya mengantisipasi hal buruk.

__ADS_1


__ADS_2