
Anna kaget dengan kedatangan Thomas di sekolahnya. Bahkan laki-laki itu membawa 2 teman nya juga kesini.
"Kau! Sedang apa kau disini?! " Tunjuk Anna pada Thomas yang di balas dengan cengiran tidak jelas.
"Tentu menyusulmu sayang. " Ucap Thomas menggoda.
Ishh sepertinya hidupnya tidak akan tenang.
"Untuk apa kau menyusulku! Pergi sana. Kembali ke asalmu. Dasar bodoh!! " Usir Anna pada Thomas kesal.
Thomas memasang wajah sedih yang malah membuat Anna jijik.
"Kau selalu saja membuatku sakit.. Disini.. Sakit Anna. " Ucap Thomas sendu sambil menunjuk dadanya.
"Cih.. Memangnya aku peduli. Jika sakit sana pergi ke rumah sakit. Bukan sekolah!! " Bentak Anna.
Anna lama lama males dan hendak pergi dari sana jika saja tak ada yang memanggilnya lagi.!
"Anna.. "
"Ishhh apa lagi.! Kenapa sedari tadi kalian memanggilku.!! Menyebalkan.!! " Teriak Anna frustasi.
"Kamu lupa membuat keributan di kantin?! Kau dan Eun Jae harus ke ruang kepala sekolah dulu.! " Ucap Maggie pada Anna.
Anna pun menghela nafasnya dan berjalan pekan mengikuti perintah Maggie. Setelah masuk, Anna duduk di sofa tunggal. Sedang yang lainya duduk di sofa bersama.
"Baiklah. Saya selesaikan dulu pendaftaran Thomas dan kedua kawanya. Setelah itu baru kau Anna dan kau Eun Jae.! Mengerti!! " Ucap Maggie tegas.
Mereka serempak menganggukan kepalanya. Lalu Maggie dengan cepat menempatkan kelas Thomas dan dua kawan nya yang berbeda dengan kelas Anna. Thomas sempat protes karena dia bertanya kelas Anna kenapa tidak sama. Tapi Maggie mengatakan jika jelas Anna sudah penuh. Jadi Thomas tidak bisa berkutik lagi.
Maggie pun menyuruh Xavier mengantarkan Thomas dan kawan nya ke kelasnya. Walau terlihat enggan, tapi Xavier tidak bisa menolak. Mereka pun ke luar dan hanya tersisa Anna, Eun Jae dan Maggie.
"Jadi, apa masalah kalian? " Tanya Maggie pada kedua gadis di depan ya.
Mereka sama sama diam tak menjawab. Anna pun bungkam karena dirinya malas berbicara dengan wanita ular itu.
"Kenapa tidak ada yang menjawab? " Tanya Maggie sekali lagi.
"Dia saja yang sensitif saem. "Tunjuk Eun Jae pada Anna.
Anna menatap tajam Eun Jae yang menuduhnya sensitif.
" Apa?! Sensitif kau bilang!! Berhati hatilah jika berbicara 'nona berambut merah'.! "Ucap Anna dengan mengejek.
" Namaku Eun Jae bukan 'nona berambut merah'
Ingat itu.! "Kata Eun Jae kesal karena namanya berubah.
" Tetap saat kau 'nona berambut merah'. "Anna mencibir.
" Sudah sudah!! Saya harap ini terakhir kali kalian membuat keributan seperti ini. Jika saya mendengar hal ini terulang kembali, kalian akan saya hukum.! Mengerti.! "Tunas Maggie tegas.
Dan hanya Eun Jae yang menganggukan kepalanya. Sedang Anna dengan acuh menyenderkan tubuhnya di sofa itu. Eun Jae pun di perbolehkan keluar dari ruangan. Sedang Anna masih harus disana karena Maggie masih ingin berbicara denganya.
" Ada apa? Cepat katakan.! Aku muak disini.! "Ucap Anna tanpa menatap Maggie yang berada disampingnya.
" Tidak adalah cara lain? "Tanya Maggie lirih.
" Maksudmu? "Anna melirik Maggie yang sedang menunduk.
" Kau. Kembali seperti dulu. Tidak adakah cara lain? "Kata Maggie dengan mendongak menatap Anna berkaca kaca.
Anna menatap mata itu. Mata yang berkaca kaca dan wajah sendu itu.
" Tidak.! "Ucap Anna dengan datar.
Maggie mengerjapkan matanya hingga air matanya terjatuh.
" Anna.. Kami tidak bisa hidup tanpamu sayang. Cobalah mengerti. Apa arti hidup kami jika kau pergi dari kami? Nafas kami akan berkahir saat kau meninggalkan kami. "Ucap Maggie terisak pelan.
Hati Maggie terasa sesak membayangkan Anna akan pergi jauh darinya. Tidak.! Itu tidak boleh terjadi.! Apa arti hidupnya jika Anna meninggalkanya.! Hidupnya berada di tangan Anna. Maggie masih menerima jika Anna membencinya se umur hidup. Asalkan Anna tetap berada dalam jangkauannya. Asal Anna bisa dia pegang, asal Anna bisa dia lihat. Asal Anna tidak lepas darinya. Maka semua Maggie Terima apapun itu.
Maggie sudah terlalu sayang dengan Anna. Apapun yang Anna lakukan akan dia tutupi, walaupun itu sebuah kejahatan sekalipun. Darah memang lebih kental dari pada air. Tapi Maggie, walau tak ada ikatan darah, baginya Anna tetaplah anaknya. Kasih sayangnya bahkan menyetarai ibu kandung.
" Benarkah? "Kata Anna dengan nada mengejek.
" Jangan berakting didepanku.! Karena itu tak akan berpengaruh padaku. Wajah aslimu sudah ku ketahui dan aku tak akan tertipu lagi. Aku tidak bodoh! Yang harus jatuh ke lubang yang sama. "
"Disini.. Tercetak jelas bagaimana kau menghancurkan hidupku.! Disini, terekam jelas bagaimana kesakitan ibuku saat kau hadir. Satu satunya menebus dosamu adalah dengan kau mati.! " Ucap Anna dengan menunjuk kepalanya dan menatap tajam Maggie.
Maggie terkesiap mendengar kata kata Anna yang terakhir.
__ADS_1
"Apa? "
"Ya. Dengan kematian mu maka aku akan memaafkanmu. " Ucap Anna dengan rendah.
Anna langsung berdiri dan pergi dari sana. Meninggalkan Maggie yang masih termenung dan kaget dengan permintaan Anna.
***
Anna menutup pintu ruang kepala sekolah dan memandanginya. Setelah itu dirinya berjalan kembali ke kelasnya. Saat akan kembali dirinya bertemu dengan Xavier.
"Kau tak apa apa? " Tanya Xavier khawatir.
"Tentu. Memang aku kenapa? " Balas Anna datar.
Xavier tergagap karena terkuat khawatir dengan Anna.
"Tidak. Baguslah jika kau baik baik saja. " Ucap Xavier gugup.
Anna pun melanjutkan kakinya untuk ke kelas.
"Anna. Boleh aku bertanya? " Kata Xavier sambil berjalan disampingnya.
Anna pun hanya bergumam menjawab nya.
"Kau kenal dengan ketiga anak baru itu? " Tanya Xavier.
"Hm. "
Melihat Anna yang tidak bersemangat bercerita padanya membuat Xavier mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut. Dirinya tak ingin menambah mood Anna yang sudah hancur.
Anna pun menyadari nya dan memandang Xavier.
"Mereka teman ku saat di New York. " Ucap Anna seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Xavier.
Mendengar kata teman, Xavier pun lega karena dirinya kira anak bernama Thomas itu adalah mantan pacar Anna. Xavier akui jika Thomas adalah saingan terberatnya. Karena Brian bukan tandingannya. Xavier yakin jika Anna tak mempunyai rasa lebih pada Brian. Maka dari itu dirinya tak cemburu saat Anna bersama Brian.
Sampai Anna di depan kelas, Xavier memanggilnya.
"Anna.. "
Anna menoleh.
Anna mendengus dan masuk.
***
David pulang ke mansion nya. Dia melihat mobil sang istri sudah terparkir. Itu artinya Maggie sudah ada di dalam.
Saat memasuki kamarnya, betapa kaget David saat melihat Maggie memegang sebilah pisau ke arah tanganya. Dengan pandangan yang mengarah ke foto Anna yang terpajang di kamarnya.
"Baby, kau mau apa? " Ujar David lembut. David mencoba merebut pisau yang di pegang oleh Maggie.
"Ada cara lain. " Ungkap Maggie lirih sambil memandang foto Anna yang tengah tertawa.
"Apa maksudmu? " Tanya David heran.
"Anna ku. Ada cara lain. " Mata Maggie memerah. Dadanya serasa sesak mengingat kejadian tadi siang.
"Apa? " Tanya David curiga.
"Kematianku." Ucap Maggie lalu menggoreskan pisau itu ke nadinya.
"Maggie..!! " Teriak David lalu merengkuh tubuh Maggie yang tak sadarkan diri.
David lalu melarikan Maggie ke rumah sakit. David shock, dia tak menyangka jika Maggie akan se putus asa ini. Dia kalut, mengingat perkataan Maggie terakhir kalinya. Bahwa hanya kematiannya adalah cara lain agar Anna nya kembali.
David benar-benar menyesal karena sudah melukai Maggie sedalam ini. Sampai kapan penderitaan mereka akan berakhir,? Bahkan David pun yang seorang laki-laki hampir putus asa.
Ini semua salahnya. Semua kejadian ini berawal dari dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat dokter terlihat keluar dari IGD.
"Bagaimana keadaan istri saya dok.? " Tanya David cemas.
"Untunglah anda segera membawanya kemari tuan. Jadi pendarahan ya bisa kita atasi. Dan untungnya tidak merusak arteri nya. Tapi saya mohon agar istri anda tidak merasa tertekan. Karena itu akan membuat mentalnya terguncang. " Ucap sang dokter lalu pergi.
Setelah dokter itu pergi David segera melihat sag istri. Disana, Maggie terbaring lemah dengan tangan yang di perban. David benar-benar merasa miris. Dia pun akhirnya pergi dari sana setelah menyelesaikan urusan administrasi.
Anna masuk kekamar mommy nya. Dia duduk disamping tempat tidurnya. Dengan perlahan Anna mengusap rambut mommy nya dengan lembut. Dia memandang Wajah yang semakin tirus itu. Dia teringat dengan percakapan nya dengan dokter lyn. Dokter yang selama ini mengobati ibunya.
'Ini sudah terlambat Anna. Aku tak bisa memberinya apa apa lagi. Kau harus siapkan mentalmu nantinya. '
__ADS_1
Wajah Anna terlihat kosong saat dokter lyn mengatakan hal itu.
'Apa... Apa tak ada obat lain? 'Tanya Anna terbata bata.
Dengan menyesal dokter lyn menggelengkan kepalanya.
'Kerusakan di jaringan otaknya sudah terlalu parah. Ditambah mentalnya yang terganggu membuatnya semakin buruk. Maaf Anna. Aku tak bisa membantu. '
Air matanya menetes saat dia teringat kata kata dokter lyn tadi sore. Walau Anna sudah tahu akan seperti ini. Tapi dia masih berharap jika mommy nya akn sembuh.
Angan angan nya untuk membuat mommy nya bahagia lenyap sudah. Dia tak bisa membuat mommy nya pergi dari negara ini. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Lamunan Anna buyar saat pintu kamar mommy nya di ketuk oleh minah.
"Non, ada tuan di luar. " Ucap minah pelan.
Anna menghapus air matanya dan mengerutkan dahinya mendengar David berkunjung malam malam seperti ini. Dengan langkah pelan Anna menemui David yang sudah berada di ruang keluarga.
"Ada apa? " Ucap Anna tanpa basa basi.
Dengan melipat kedua tanganya di depan, Anna melihat David yang tadinya duduk di sofa langsung berdiri. Anna melihat raut wajah David yang terlihat memendam amarah.
"Apa yang kau katakan pada Maggie tadi siang? " Tanya David dengan rendah.
Menaikan alisnya, Anna menatap David mengejek.
"Kenapa? Dia mengadu padamu?! Cih. Sudah tua tapi tukang ngadu.! " Cibir Anna.
"Cukup Anna.!! Kau tahu, karena perkataanmu itu Maggie berusaha bunuh diri tadi. Kau bilang hanya dengan kematiannya kau akan kembali.?! Apa kau tidak punya otak Anna.!! Apa kau tidak melihat betapa sakitnya mengatakan hal itu pada Maggie?! Dia terluka karena ucapanmu!! "Bentak David pada Anna.
Anna kaget. Benar. Anna benar benar kaget mendengar jika Maggie melakukan hal yang dia suruh. Tapi hanya beberapa detik, setelahnya Anna menguasai dirinya lagi.
" Lalu? Apa hubungannya denganku? "Tanya Anna seolah tak peduli.
" Apa kau bilang? Tentu ada hubungannya dengan mu. Kau yang menyuruhnya untuk bunuh diri!! "Tunjuk David geram pada Anna.
Anna menyeringai menatap David.
" Lalu apa kabarnya dengan ibuku?! "Ucap Anna dengan terkekeh pelan.
" Kalian yang membuat ibuku seperti ini.!! Rasa sakit yang kalian berikan pada ibuku lebih kejam dari pada apa yang aku lakukan pada istri mu tercinta itu.!! "Ujar Anna dengan nada tinggi.
" Maggie lebih baik dari ibumu itu. Dia jauh lebih berharga. "Ucap David tegas.
Wajah Anna berubah datar mendengar hal itu. Ibunya tidak berharga di mata David.! Bahkan nyawa ibunya saja hanya di anggap angin lalu oleh David.
Dada Anna terasa sesak karena memendam amarah yang besar. Tanganya pun terkenal dan matanya memanas. Hatinya terasa sakit saat David mengatakan bahwa nyawa Maggie lebih berharga dari nyawa ibunya.
" Benarkah.! Kalau begitu bagiku juga Maggie pantas MATI.! "Ucap Anna menggeram.
Plakkk.
Wajah Anna terlempar kesamping. Kepalanya terasa berdenyut dan pipinya terasa terbakar. Matanya pun memanas dan siap meluncur air mata yang sedari tadi dia tahan. Suara tamparan itu bahkan keras sekali. Hingga minah menutup mulut mendengar dari dalam kamar sang nyonya.
Nafas David memburu, tanganya terasa perih sesaat setelah menampar Anna. David menatap tanganya bergetar.
'Tidak! Apa yang telah kulakukan.! '
Anna meluruskan wajahnya menatap David yang menyesal. Sudut bibir Anna berdarah, dan itu membuat David merasa bersalah.
" Anna... Maafkan daddy.. Maaf... "David berkata dengan terbata bata dengan suara bergetar.
"Terimakasih tuan David. Tamparan mu membuatku sadar. Jika bahkan nyawaku pun tidak lebih berharga dari pada wanitamu. " Ucap Anna dengan pandangan kecewa.
"Silahkan keluar jika sudah selesai. " Anna melesat pergi ke kamarnya. Meninggalkan David yang menyesal.
David pun dengan gontai keluar dari rumah itu dan masuk ke mobil.
Buk buk buk.
"Arghhhh apa yang kau lakukan David.! Kau tak seharusnya menampar nya. Dia putrimu!! Arghhh..! " Teriak David frustasi di dalam mobilnya.
"Maafkan daddy sayang.. Maafkan daddy. " Ujar David terisak pelan. Matanya memerah dan air matanya luruh. David menatap kamar lantai dua yang dihuni Anna dengan pandangan menyesal.
Sedang Anna yang berada di dalam kamar juga menangis tanpa suara. Air matanya terus turun tanpa ia sadari. Hatinya terasa sakit. Benar benar sakit. Hingga Anna memukul dadanya agar sakitnya hilang.
Setelah Anna mendengar suara mobil yang semakin menghilang, baru tangisan itu terdengar pilu. Bahkan minah pun ikut menangis mendengar suara tangisan itu.
Brian pun yang berada di dapur saat kejadian mendengar kesakitan Anna ikut merasakan sesak dadanya. Tangisan itu terdengar pilu dan menyayat hati. Siapapun yang mendengarnya pasti merasakan sakit yang di alami Anna.
Di kamar temaram itu, wanita yang sedang tidur itu menitikan air matanya. Seakan ikut mengalami hal yang di alami sang putri. Jauh di bawah alam sadar nya, Savannah bisa merasakan betapa sakitnya putrinya menghadapi dunia ini.
__ADS_1