
7: 15 KST
Suasana Galaxy High School pagi ini mendadak heboh, karena kemunculan Anastasia dan Evelyn. Kedua gadis ini menjadi magnet para siswa yang sedang bersantai menunggu bel masuk. Laki laki ataupun perempuan, mereka sama sama terpesona dengan kecantikan Anastasia dan Evelyn. Gadis bermata biru itu mempesona satu sekolah hanya dengan wajahnya. Walau hanya dengan hotpants dan kaus putihnya, Anastasia bisa membuat para laki laki itu tidak berkedip.
'Gila! Itu malaikat dari mana'
'Cantik banget'
'Sumpah itu cantik'
'Aku aja yang perempuan lihatnya cantik banget'
'Anak baru? '
'Ehh bukanya katanya ada anak kepala sekolah yang mau masuk ya? '
'Iya tuh. '
'Apa dia? '
Mereka semua berspekulasi sendiri sendiri, tentang Anastasia yang mereka lihat. Ana pun mendengar apa yang mereka bicarakan tapi dia hiraukan. Merekapun memasuki ruangan kepala sekolah, Brian sudah masuk ke kelasnya sendiri karena tak mungkin dirinya ikut Ana ke ruang kepala sekolah.
Setelah mereka masuk, Maggie mempersilahkan mereka duduk di sofa yang sudah disediakan di ruangan itu.
"Berkas kalian sudah diserahkan oleh administrasi sekolah, besok kalian tinggal berangkat dan masuk kelas. "
"Kelas kita sama kan bibi? Ahh haruskah aku panggil songsaenim? " Tanya Evelyn ragu ragu.
Maggie pun terkekeh pelan mendengar itu. "Kau bisa panggil aku bibi saat seperti ini Ev. Tapi jika di luar kau bisa panggil aku songsaenim" Ucap Maggie.
Anastasia yang duduk disebelah Evelyn tak menghiraukan percakapan mereka. Matanya masih menelusuri ruangan yang tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Ruangan ini terdapat jendela kecil yang dapat memasukan cahaya matahari saat pagi seperti ini. Ada juga lemari yang berada di pojok kanan untuk berkas seperti arsip siswa dan lainya. Lumayan bagus menurut Anastasia.
"Kalian nanti akan menelusuri sekolah ini dengan salah satu siswa yang berprestasi. Dia ketua kelas yang akan nanti menjadi kelas kalian. Sebentar lagi dia akan datang. " Ucap Maggie.
Sesaat setelah beberapa menit akhirnya orang yang di sebutkan tadi oleh Maggie pun datang.
Tok tok tok
"Masuk"
Ceklek.
Mereka menoleh saat ada orang yang masuk. Seorang laki laki tinggi tegap, tampan, rambutnya yang cepak dan juga hidungnya yang mancung. Rahang yang tegas dan mata biru itu membuat Anastasia mengernyit karena melihat ternyata ada siswa bule di sekolah ini.

"Ohh kau sudah datang. "
Maggie pun berdiri dan menyambut siswa nya yang tadi dia minta datang.
"Ibu meminta saya datang? " Tanya laki laki itu.
"Iya. Kau antar mereka berkeliling sekolah ini. Mereka adalah anak baru dan yang kiri adalah anak saya. Tolong ya Xavier "
Laki-laki itu, Xavier hanya memandang dua gadis yang berbeda menanggapinya. Evelyn yang berdiri dan Anastasia yang hanya duduk tanpa mau melihat laki-laki itu. Membuat Xavier bertanya tanya, apakah dia tidak menarik? Pikir Xavier.
Evelyn pun langsung mengeluarkan tanganya, "Hai. Aku Evelyn. Dan sebelahku ini Anastasia. Dia memang seperti itu, jadi hiraukan saja dia. Oke" Ucap Evelyn sambil berjabat tangan dengan Xavier.
Anastasia yang mendengar pun hanya mendengus karena perkataan Evelyn yang tidak menganggapnya.
Merekapun akhirnya keluar dari ruang kepala sekolah.
"Oh ya Xavier, aku lihat kau bukan orang Korea asli. " Evelyn sudah mulai bertanya tanya.
"Yah. Aku dari Inggris. "
"Inggris? Lalu kau kemari bersama siapa? "
"Keluargaku. Kami pindah karena nenek ku tinggal disini dan ingin cucunya tinggal bersamanya. "
"Ohh. Begitu. Disini masih ada yang sepertimu tidak?"
"Maksudnya? "
"Bule. Bukan orang Korea asli. "
__ADS_1
"Ada. Beberapa ada yang dari luar Korea. Sekolah ini bertaraf internasional jadi banyak yang dari luar negeri. "
Kedua orang itu seperti nya langsung akrab. Berbeda dengan Anastasia yang seperti bosan dengan mereka yang terlalu bising menurutnya. Xavier pun melirik Ana yang hanya diam melihat sekeliling tanpa minat untuk bertanya. Dan sepertinya Evelyn tahu jika Xavier sering melirik Ana yang diam saja.
"Ehem. Ana kau tahu tidak jika sekolah ini sama dengan sekolah Hanlim yang juga banyak melahirkan Idol tampan dan cantik itu? "
"Semua sekolah sama menurutku. Membosankan. " Ucap Ana.
"Ahh kau tidak seru" Ucap Evelyn sebal.
Xavier pun yang mendengar jawaban Ana hanya mengedikan bahunya dan menlanjutkan perjalanan mereka.
Saat Xavier menerangkan semua ruangan yang ada di sekolah itu, Ana melihat ada taman di ujung sekolah. Tanpa memberitahu kedua orang yang asyik mengobrol --walau hanya di dominasi oleh Evelyn yang selalu bertanya karena Xavier ternyata sedikit dingin terhadap wanita- Ana pergi sendiri.
Taman ini lumayan indah, dan sepertinya Ana mendapat tempat yang nyaman nanti jika dirinya ingin menyendiri. Ada pohon yang paling besar dan di bawahnya ada meja panjang yang sepertinya di siapkan jika ada orang yang datang. Tak banyak meja panjang yang terdapat di taman itu. Mungkin hanya sekitar 5 meja panjang yang berada di sisi jalan setapak yang di tumbuhi bunga bunga yang berwarna warni.
Merebahkan tubuhnya, Ana pun menutup matanya dengan lengannya untuk menghalau matahari yang memang sudah menampakan diri semakin tinggi dan panas.
"Dimana temanmu? "
Xavier sepertinya orang pertama yang mengetahui jika Ana sudah pergi dari mereka.
Evelyn pun menoleh kesamping melihat posisi Ana tadi. Dan ternyata tidak ada.
"Astaga!. Dimana gadis itu.! Ana kau benar-benar!" Umpat Evelyn yang melihat kelakuan Ana yang suka menghilang tiba-tiba.
"Mungkin dia ke taman. "
"Taman? Memang tadi kita melewati taman? " Tanya Evelyn yang tidak tahu jika ada taman.
"Ehm. Ada taman yang berada di pojok sekolah. Tak besar. Hanya taman kecil "
"Mungkin Ana berada di sana. Ayo kita cari dia. "
Xavier pun mendahului Evelyn yang tidak tahu letak taman sekolah Galaxy. Memasuki taman, Xavier bisa melihat jika Ana, gadis itu tertidur di meja panjang di bawah pohon.
"Astaga. Anak ini benar-benar. Sepertinya dia sudah menemukan tempat yang nyaman" Gumam Evelyn melihat Ana yang tertidur lelap.
"Hei.. Ana..!Ana..! Ana bangun..!! " Teriak Evelyn yang membuat Ana pun membuka matanya.
Ana pun bangun dari tidurnya dan mendudukan tubuhnya.
"Kalian sudah selesai berkeliling? Jika sudah aku mau pulang" Ucap Ana menatap mereka berdua tajam.
Rasanya kepalanya pusing karena baru sebentar dirinya tidur sudah di bangunkan.
"Heist. Kau ini selalu saja pulang. Kita bahkan belum melihat semuanya Ana. Kau malah kabur kesini, membuat kita khawatir saja. " Ucap Evelyn kesal.
Ana pun hanya mendengus mendengar Evelyn yang menggerutu.
Setelah melanjutkan berkeliling, Ana dan Evelyn pergi ke kantin yang lumayan besar dan rapi. Disini seperti saat di New York, kantinya menyediakan makanan yang lezat. Berbeda negara berbeda makanan bukan. Hanya saja suasana kantin masih seperti kantin sekolah lainya yang mempunyai meja panjang dengan kursi berjumlah 6 atau 10. Tidak seperti saat di New York yang mempunyai meja bundar dengan kursi sekitar 5 saja.
Mereka pun duduk di salah satu meja yang tidak banyak kursinya.
"Aku sudah selesai membawa kalian berkeliling. Kalian bisa makan disini dan kembali ke ruang kepala sekolah. Akan kutinggal. " Ucap Xavier yang berlalu dari kantin meninggalkan mereka berdua.
Ana diam tak merespon dan Evelyn hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Dia tampan kan Ana. " Tanya Evelyn masih melihat punggung Xavier yang menjauh dari mereka.
"Biasa. Bukankah saat kita di New York wajah mereka seperti itu semua?" Tanya Ana dengan ketus.
"Heiy. Mana ada sama Ana. Wajah mereka berbeda beda. Wajah Thomas berbeda dengan Xavier. Kau ini. " Gerutu Evelyn.
"Jangan menyebut nama bastard itu. Aku bahkan sudah terbebas dari cowok bastard itu. Ah lega nya" Ungkap Ana dengan bersender.
"Kau senang sekali tidak bertemu lagi dengan Thomas. "
"Sangat! Tiap kali lihat Wajah Thomas rasanya pengen aku rusak itu wajah agar dia tidak sombong hanya dengan wajah biasa itu. " Gerutu Ana kesal saat mengingat kelakuan Thomas dulu saat mendekatinya.
Laki-laki itu selalu memberi bunga yang tidak disukai oleh Ana. Dan selalu berakhir di tempat sampah. Tapi Thomas tetap tak terpengaruh dengan perlakuan Ana yang selalu menginjak injak harga diri Thomas. Dia akan terus dan terus memberi bunga pada Anastasia sampai Ana menerimanya.
'Jangan harap! '
***
__ADS_1
Paginya setelah kemarin berkeliling Galaxy High School, Ana berangkat bersama Brian menggunakan motor sport hitamnya. Mungkin pagi ini akan jadi pagi yang heboh bagi Galaxy High School yang melihat Ana bersama Brian.
Walaupun Brian bukan anak orang yang berpengaruh, tapi pesonanya bisa membuat para siswi menoleh dua kali saat Brian lewat di depan mereka. Wajah tampan Brian tak bisa dipungkiri jika memang laki-laki yang selalu tak bisa jauh dari Ana itu mempunyai pengagum banyak. Ana pun mengakui jika Brian banyak fans nya. Tapi untuk wajah tampan nya, Ana tak akan mengakuinya. Kenapa? Karena Ana tahu jika Ana mengakui ketampanan Brian maka laki-laki itu akan mempunyai kepala besar.
Dan Ana akan sangat kerepotan jika Brian sudah besar kepala. Dia akan selalu minta Ana untuk mengatakan jika dirinya tampan. Childish memang!
Benar saja, baru Ana membatin jika paginya akan merepotkan. Suasana saat dirinya dan Brian masuk ke parkiran sekolah sudah heboh. Para siswa itu terpekik dan heran karena seorang Brian yang dinginya minta ampun pada siswi Galaxy High School itu terlihat bersama dengan anak baru yang diketahui sebagai anak kepala sekolah sekaligus pemilik sekolah itu.

Ana pun turun dari motor dan membuka helm yang langsung di bantu oleh Brian untuk melepasnya. Sontak hal itu membuat para gadis yang sedari tadi melihat itu menjadi terpekik kaget.
"Kau benar-benar membuat pagi ku buruk Brian.! " Umpat Ana kesal yang di tanggapi oleh Brian dengan terkekeh dan gemas.
"Tidak akan. Aku akan mengembalikan mood mu yang buruk itu. " Ucap Brian sembari mengusap rambut Ana dengan lembut.
"Oh ya.? Kita lihat saja. Jika kau tak bisa mengembalikan moodku ini. Awas saja kau.! " Ancam Ana dengan menaikan dagunya.
Setelah itu mereka masuk bersama dengan tatapan para siswa dan siswi yang beragam. Ada yang mengejek ada pula yang terperangah tak percaya. Tapi, baik Ana maupun Brian mengacuhkan mereka semua. Ana sudah biasa jika di gosip kan seperti itu dan Brian sudah biasa jadi bahan gosip mereka.
"Kau sudah tahu kelasmu? " Tanya Brian saat di lorong kelas.
"Belum. Aku harus menunggu Evelyn di ruang kepala sekolah terus masuk bersama. Anak itu mau aku bersama denganya. Dasar! Sudah dari jaman kapan aku tak pernah lepas dari Evelyn. " Gerutu Ana mengingat jika memqng mereka tak pernah terpisahkan.
Brian pun tersenyum mengingat jika memang itu benar.
"Justru dengan adanya Evelyn kau tidak sendirian Ana. Evelyn memang bodoh, tapi dia sangat menyayangimu. Jika tidak, mana mungkin dirinya sampai ke New York dan berusaha masuk ke sekolah yang sama denganmu. Kau tahu sendiri jika sekolah yang kau masuki adalah sekolah yang bertaraf tinggi. Tak sembarang orang bisa masuk kesana. "
"Kau benar. Evelyn memang teman terbodoh ku. Tak ada orang bodoh seperti Ev di dunia ini."
Memang benar jika Ev adalah teman terbodoh nya. Tapi dengan kebodohannya itu, membuat Ana merasa hangat. Perhatian Evelyn dan juga kekonyolan nya itu membuat Ana merasa tidak sendiri. Satu satunya sahabat selain Brian yang mengerti dirinya melebihi siapapun.
Setibanya di ruang kepala sekolah, Ana menyuruh Brian untuk kembali ke kelasnya. Walau Brian memaksa untuk menemaninya sebelum Evelyn tiba, tapi Ana tetap mengusir Brian.
Karena sangat tidak nyaman saat mereka di liatin orang-orang yang lewat dengan pandangan berbeda beda. Walau dia anak pemilik sekolah tapi Ana tidak bisa bukan jika harus mengurus orang-orang untuk menatapnya dengan pandangan biasa?
Ana masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia tak peduli jika di dalam sana ada orang ataupun tidak. Dan sepertinya memang sudah ada yang menunggunya sedari tadi.
Terlihat jelas wanita itu sedang duduk di sofa melihat Ana masuk ke ruangan ya.
"Kau berangkat dengan Brian? "
Ana menaikan alisnya mendengar pertanyaan wanita yang dia benci itu.
"Ya. Kenapa? Ada masalah? " Tanya Ana dengan tenang.
Ana pun mendudukan tubuhnya di sofa yang berjarak dengan Maggie. Dengan menyilangkan kakinya yang mulus yang hanya tertutup rok diatas lututnya. Ana menatap Maggie dengan pandangan tak suka.
"Tidak. Tapi motor berbahaya Ana. " Ucap Maggie dengan lembut.
Ana mendengus melihat Maggie yang bersandiwara seperti ibu didepannya.
"Motor ataupun mobil sama saja. Tergantung orang yang mengendarainya. Jangan mencari kesalahan Brian didepanku.! " Ucap Ana dengan tajam.
"Baiklah." Maggie pun menyerah jika menasehati putrinya itu. Benar benar keras kepala. Seperti daddy nya.
Lima menit kemudian Evelyn masuk membuat heboh ruangan itu.
"Oh my god Ana! Kau meninggalkanku?! Aku bahkan kerumahmu. Tapi kau sudah berangkat bersama Brian. Kau jahat Ana!! " Teriak Evelyn marah marah pada Ana. Sedangkan Ana hanya diam tak menanggapi teriakan Evelyn yang berlebihan.
"Oh!! Ada bibi Maggie. Maaf bibi, aku tak tahu kau ada disitu. " Evelyn meringis saat melihat Maggie ternyata ada diruanganya.
Maggie pun hanya menanggapi dengan tersenyum maklum. Maggie sudah beberapa kali bertemu dengan Evelyn. Jadi tidak canggung lagi untuk mereka.
"Karena kalian berdua sudah disini, Xavier akan datang menjemput kalian untuk masuk kelas. " Ucap Maggie berdiri dan menghubungi seseorang lewat interkom.
Tak lama kemudian Xavier sudah muncul di ambang pintu. Dia pun masuk dan membungkuk pada Maggie. Kebiasaan warga Korea saat bertemu dengan orang lain. Bahkan Ana pun tak pernah melakukan hal itu pada siapapun. Entahlah. Mungkin karena dirinya bukan berasal dari Korea.
"Xavier, kau antar mereka ke kelas dan perkenalkan mereka pada teman temanmu. Kau bisa diandalkan bukan? "
"Baik bu. "
Evelyn memilih keluar lebih dahulu setelahnya Xavier dan Ana. Tapi entah kenapa, Xavier tiba tiba berhenti dan membuat Ana menabrak tubuh tegap Xavier yang lebih tinggi darinya.
Xavier menoleh dan bertatap langsung dengan Ana. Xavier bisa melihat jelas warna mata itu. Ana pun juga bisa melihat warna mata Xavier yang abu-abu. Waktu terasa berhenti saat Xavier dan Ana bertatap muka. Beku dan dingin.
__ADS_1