Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 18


__ADS_3

Setelah kejadian rusuh di ruang rawat nya, Anna kembali menjadi seperti dulu. Dia tak ingin berpikir keras dulu. Kepalanya terasa akan pecah jika terus memikirkan hal itu.


Mungkin setelah nanti dia keluar dari rumah sakit, dia akan memikirkan hal itu lagi. Untuk sekarang dia ingin cepat pulih karena dirinya merindukan mommy nya.


"X kapan aku pulang. Ayo pulang X. " Anna merengek karena dia bosan.


"Kau belum sembuh. Nanti jika sudah sembuh kau pasti akan keluar. " Balas Xavier.


"Tapi aku mau pulang sekarang. Mommy pasti mencariku. Ayolah X. Ayolah. Please. " Ucap Anna dengan memelas.


Xavier memandang nya dengan lembut. Baiklah mungkin tak apa pikir Xavier.


"Baiklah. Aku akan minta dokter untuk mengeluarkanmu. Kau tunggu disini. " Ucapnya mengusap kepala Anna.


Anna pun senang karena di turuti oleh Xavier. Setelah pengakuan Xavier yang mencintainya, Anna terlihat membuka diri. Walau tidak semuanya, tapi Anna berpikir jika ini pantas untuk Xavier yang terus berkorban untuk nya.


Xavier masuk bersama dokter dan mengatakan jika dirinya boleh pulang, dengan catatan tidak boleh terlalu berpikir berat. Karena itu akan membuat otot pada otaknya mengencang dan itu tidak baik.


Xavier pun menyimak apa yang dikatakan oleh dokter itu dengan seksama. Setelah dokter itu keluar, perawat melepas infus nya. Anna pun berganti pakaian dan Xavier mengepak barang Anna.


Setelah ganti Xavier langsung menggendong Anna apa bridal untuk keluar dari rumah sakit. Sebenarnya dia meminta kursi roda tapi itu nanti saat dirumah saja pikirnya. Kapan lagi dirinya bisa romantis dengan istrinya pikir Xavier.


"X kau bisa turunkan aku. Aku malu" Anna berontak karena terus di lihat oleh orang-orang.


"Jika kau malu, kau tinggal bersembunyi Anna. " Ucap Xavier menahan senyum nya.


"Ish kau ini suka mencari kesempatan dalam kesempitan. " Gerutu Anna dengan menyembunyikan wajahnya di leher Xavier.


Xavier hanya tersenyum melihat Anna yang mengeratkan tanganya. Setelah sampai Anna turun dari mobil dan duduk di kursi roda.


Kepulangan nya yang mendadak membuat rumah masih sepi, jika Eve tahu mungkin rumahnya akan di hias seperti pesta ulang tahun.


Xavier masuk ke dalam lift bersama Anna. Mansion ini sebenarnya terdapat lift, hanya saja Anna tak pernah memakainya. Karena Anna merasa lebih enak pakai tangga dari pada lift. Toh juga hanya dirinya dan Brian yang tinggal pikir Anna waktu itu.


Tapi sekarang lift itu berguna juga. Setelah lift terbuka, Anna dan Xavier masuk ke kamar. Xavier meletakan Anna dengan hati-hati. Menyelimuti nya dan mengecup kening nya.


"Istirahat lah. Aku mau mandi dulu. " Ucap Xavier langsung masuk ke kamar mandi.


Anna berpikir jika tadi mereka tak melihat minah dan mommy nya. Anna pun menelfon minah untuk menanyakan keberadaan mommy nya.


"Hallo minah. Mommy dimana? " Tanya Anna tanpa basa basi.


"Oh kami sedang jalan jalan nona. Ada apa? " Ucap minah di sebrang sana.


"Tidak. Hanya saja aku tadi tak melihat mommy di rumah. " Ucap Anna pelan.


"Apa nona sudah pulang? Astaga nona. Kami akan kembali. " Ucap minah panik langsung mematikan sambungannya.


Anna tersenyum mendengar nada panik minah. Ditengah dirinya sedang tersenyum, Xavier keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk di pinggang nya.


"Apa yang kau fikirkan hingga tersenyum seperti itu? " Tanya Xavier membuat Anna menoleh pada Xavier yang langsung menjerit kaget.


"Ahhh X! Apa yang kau lakukan.! Pakai pakaian mu. Dasar cabul.! " Teriak Anna menutup matanya.


"Kenapa? Tubuhku bagus. Untuk apa di tutupi. " Ucap Xavier bangga dengan bentuk tubuhnya yang sixpack.


"Aku mengerti. Sekarang pakai pakaianmu. " Ucap Anna masih menutup wajahnya dengan tangan.


"Kau tergoda kan. " Pancing Xavier dengan menahan tawanya.


Anna kesal dan membuka tanganya menatap Xavier.


"Siapa yang tergoda.. Kau! Aish... X tutupi tubuhmu itu.! " Anna menutup kembali matanya saat Xavier ingin membuka handuknya.


Xavier melipat bibir nya krena menahan tawa mlihat reaksi Anna yang lucu menurutnya.


"Kau boleh menikmati nya sayang. Tubuh ini milik mu. Begitu jga kau. Kita suami istri kan. " Ucap Xavier santai laku pergi ke walk in closet untuk berpakaian.


Kalimat santai itu membuat Anna tersadar jika dirinya belum menyerahkan dirinya pada Xavier. Walau bagaimana pun dirinya sudah menjadi istri Xavier. Seperti kata Xavier, jika tubuhnya adalah milik ku, seperti hal nya tubuhku adalah punya Xavier. Tapi sampai sekarang dirinya belum menjadi istri seutuhnya bagi Xavier.


Xavier keluar dengan pakaian santai dan melihat wajah Anna yang kosong. Xavier mengerutkan dahinya mencoba mencari tahu kesalahanya.


"Kau kenapa Anna? " Tnya Xavier membuat Anna kaget.


"Eoh. Tidak. Bukan apa-apa. " Ucap Anna cepat.


Xavier sudah memakai pakaian casual nya. Dia menghampiri Anna dan mencium kening nya. Yang mungkin akan menjadi kebiasaan nya mulai sekarang.


"Aku turun dulu. Kau mau makan apa? "Tanya Xavier sambil mengusap wajah Anna.


__ADS_1


" Aku masih kenyang X. Kau saja yang makan. Oh ya nanti setelah minah pulang tolong beritahu aku. Aku mau tanya keadaan mommy. "Pesan Anna saat Xavier mau turun.


" Baiklah. Aku turun dulu. Kalau ada apa-apa kau tinggal teriak atau telfon. Oke. "Kata Xavier mengusap rambut Anna dan keluar dari kamar.


Anna menatap pintu dengan memegang dadanya. Jantung nya terus berdetak kencang saat bersama Xavier. Anna bahkan harus berusaha biasa saja saat perlakuan Xavier yang hangat padanya.


" Ahhh aku bisa jatuh cinta dengan nya dengan cepat jika begini terus. "Gumam Anna.


***


Anna terbangun dan dia melihat jendela sudah malam. Ternyata dirinya tertidur saat membaca novel tadi. Anna bangun dan ingin turun dari ranjang. Tapi baru menginjak kan kakinya pandangannya langsung kabur.


Bruk!


Xavier yang mau masuk kamar mendengar sesuatu yang jatuh langsung bergegas masuk kamar. Dia melihat Anna yang jatuh dari ranjang.


" Astaga. Kau kenapa turun! Sudah kubilang jika kau butuh sesuatu panggil aku.! "Xavier mengangkat Anna kembali ke tempat tidur.


" Kau tak apa? Kepalamu sakit? Mau kupanggil dokter? "Xavier panik saat melihat Anna meringis memegang kepalanya.


" Jangan. Aku tak apa. Hanya pusing sedikit. Maaf, tadi aku hanya ingin kekamar mandi. "Ucap Anna menyesal karena tak mendengarkan perkataan Xavier.


" Baiklah. Aku antar ke kamar mandi. "Xavier menggendong Anna menuju kamar mandi.


Setelah mendudukan nya di kloset, Xavier tak bergerak. Anna pun memandang Xavier dengan raut bertanya karena Xavier tak keluar.


" Kau tak keluar? "Tanya Anna dengan alis terangkat sebelah.


" Tidak. Nanti kalo terjadi sesuatu padamu bagaimana? "Xavier menyilangkan tanganya menatap Anna.


Anna tercengang, hingga mulutnya menganga. " Ehem. X aku bisa sendiri. Kau keluarlah. "Usir Anna karena bagaimanapun dia malu jika buang air kecil di tatap seperti itu.


" Tidak Anna.! Aku tak bisa meninggalkanmu sendiri disini. Jika nanti kau terpeleset bagaimana?! "Xavier tetap Bersikeras tidak akan pergi.


Anna menghembuskan nafas dengan keras dan mendongakkan kepalanya karena sikap keras kepala Xavier.


" Dengar X. Aku tak apa. Biarkan aku buang air kecil. Aku sudah tak tahan. "Anna mengeram karena dirinya sedari tadi menahan diri.


" Ya sudah aku tunggu disini. Silahkan kalau mau buang air kecil. "Xavier tetap tak mau pergi.


" X aku malu jika di lihat.! "Bentak Anna kesal.


" X keluar atau kau tak boleh tidur dengan ku malam ini.! "Ancam Anna.


Xavier memasang wajah mengejek saat mendengar ancaman Anna yang bahkan bisa Xavier patahkan.


" Benarkah? Kau bahkan tak bisa mengusir ku sayang. Sudahlah kau tak perlu malu padaku. "Kata Xavier


Anna sudah tak bisa lagi menahan nya. Akirnya dengan sangat terpaksa dirinya buang air kecil di tatap oleh Xavier. Setelah selesai xavier langsung menggendong Anna kembali ke tempat tidur.


Xavier ikut menyelimuti tubuh mereka berdua. Merengkuh tubuh Anna dengan dekapan hangat. " Kau tak perlu malu seperti itu padaku sayang. Ingat aku ingin suami mu bahkan kotoran mu sekalipun akan ku bersihkan jika kau tak mampu. "Ucap Xavier mencium pucuk kepala Anna.


Anna memukul dada Xavier karena perkataan nya yang jorok. " Kau jorok X. "Dengus Anna.


Xavier terkekeh melihat Anna tersipu. " Tak apa. Apapun akan kulakukan untuk istriku ini. "Ucap Xavier mencium bibir Anna sekilas.


Mereka terhanyut oleh kehangatan masing-masing. Sampai Xavier teringat jika Anna belum makan malam.


" Kau belum makan malam bukan? Aku ambilkan dulu. Kau tunggu disini. "Xavier mengurai pelukan mereka dan turun dari ranjang. Sebelum keluar, Xavier merapikan selimut Anna dan mencium kening nya. Lalu keluar dari kamar.


Anna tersenyum kecil saat mengingat perkataan Xavier. Dirinya tak pernah di perlakuakan seperti putri seperti ini. Tapi Anna tak mau terlena oleh hal hal manis yang akan membuatnya lupa dengan tujuan awalnya.


***


Kabar kepulangan Anna pun terdengar. Andrew dan Elena segera pergi ke mansion Anna. Begitupun dengan David dan Maggie. Walau mereka terlihat canggung saat masuk ke dalam mansion itu.


Anna sedang bercengkerama dengan Elena, bahkan tertawa saat Elena menceritakan masa kecil Xavier yang memalukan. Xavier sudah tidak punya muka lagi saat mommy nya membongkar masa kecilnya pada Anna.



" Kalian sudah lama disini? "Tanya David saat melihat Andrew dan Elena audah duduk disofa.


Senyum Anna langsung pudar saat mendengar suara David.


" Kau sudah baikan sayang? "Tanya Maggie pada Anna.


Tapi Anna tak menjawab dan Xavier yang menjawab. " Dia sudah baikan mom. "


Xavier memeluk pinggang Anna dengan erat. Takut jika Anna akan meluapkan emosinya. Karena itu hal yang tidak bagus untuk kesehatan nya. Xavier mencoba untuk membuat Anna nyaman.


"Benarkah? Mommy bawa makan kesukaan kamu. Nanti di makan ya. "

__ADS_1



Anna mengacuhkan nya dan malah asyik chat dengan Evelyn. Mereka menatap Anna yang terkikik dengan isi chat Eve. Xavier mengintip ponsel Anna dan melihat jika Anna sedang chat dengan sahabat nya.


Suasana menjadi canggung dan hening. Hingga Anna teringat jika dirinya belum menemui mommy nya.


"Aku kedalam dulu. " Pamit Anna pada mereka semua.


David mengusap tangan Maggie mencoba memberikan kekuatan agar tetap kuat mengahadapi sikap Anna. Maggie pun hanya tersenyum getir melihat sikap putrinya yang semakin dingin padanya.


"Aku akan melihat Anna sebentar. Takutnya dia butuh sesuatu. " Kata Xavier menyusul Anna ke dalam di angguki mereka semua.


Xavier masuk kekamar nya tapi dia tak melihat Anna. Masuk ke walk in closet pun dia tak melihat nya. Dia pun berinisiatif ke kamar mertuanya.


Dan benar saja, Anna bersama dengan ibunya di kamar.


"Mom, mommy sudah makan? Kenapa makanan mommy tidak berkurang? " Anna berbicara dengan mommy yang sedang bermain rambut.


Anna memegang wajah mommynya agar melihatnya. "Mom, kau harus makan. Aku suapin ya. " Bujuk Anna dengan senyum.


Mommy nya melihat Anna dan menatap wajahnya dengan berkerut. Tanganya menunjuk kepala Anna yang masih berbalut perban.


"Ini... Kenapa.? " Tanya Savannah dengan wajah polosnya.


Anna bergeleng, "tak apa mom. Ini hanya luka kecil. Mommy tak perlu khawatir. Aku suapi ya mom. " Anna mengambil makanan yang berada di samping ranjang dan menyuapkan ke arah mommy nya.


Tapi Savannah menangkis piring nya dan pecah. Anna kaget, Xavier pun langsung masuk saat Anna akan membersihkan piring yang pecah itu.


"Biarkan maid yang membersihkan, kau nanti terluka. " Xavier mencegah tangan Anna saat akan memungut pecahan piring.


Anna menatap mommy nya yang menangis. Anna bergerak untuk memeluk mommy nya, tapi lagi-lagi mommy nya memberontak dan membuat Anna hampir jatuh jika Xavier tak menangkapnya.



"Jangan dulu sayang. Kau akan terluka nanti. " Cegah Xavier saat Anna kembali bergerak maju.


"Tidak X. Aku sudah pernah mengalami hal ini. Ini sudah biasa bagiku. " Bantah Anna yang tetap bergerak maju.


"Anna.! Kau lihat jika kau saja belum sembuh. Bagaimana kau bisa... " Xavier tak bisa berkata-kata lagi. Keras kepala Anna benar-benar membuatnya tak bisa berfikir lagi.


"Aku bisa. Dan menjauhlah. " Ucap Anna dengan datar.


Anna maju dan menenangkan mommy nya yang masih menangis bahkan memukul kepalanya.


"Mom.. Lihat.. Lihat Anna mom.. Ini bukan salah mommy.. " Savannah terus memberontak saat Anna mencoba menyentuh tangan nya.


"Mom.. Tenang oke... Mommy harus tenang.. Mommy.. " Anna terus mencoba membuat Savannah tenang.


Savannah terus berontak saat Anna mencoba memeluknya, bahkan dengan tenaga nya Savannah mendorong Anna hingga kepalanya terbentur.


"Arghhh... "


"Anna..! "


Anna memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Xavier langsung mendekap Anna dan melihat kepalanya yang terbentur.


Anna pun melihat tanganya dan berdarah. "Sudah kubilang untuk mundur Anna. Biarkan dokter mommy yang menanganinya. " Kata Xavier kesal bercampur khawatir.


Tapi Anna tetap keras kepala dan menyingkir dari Xavier. Dia mendekati mommy nya lagi tapi di tahan oleh Xavier.


"Kau gila.! Jika kau terus keras kepala seperti ini, kau akan ku kurung di dalam kamar selama seminggu Anna.! " Ancam Xavier.


"Kau tak tahu apa-apa X. Aku bisa! Dan jangan halangi aku.! " Anna menyingkirkan tubuh Xavier.


"Mom.. Mommy jangan nangis... Anna baik-baik saja mom.. Lihat.. Mom.. " Anna memegang wajah Savannah, tapi mommy nya terus bergerak seolah tak mau melihat wajah Anna.


"Mom.. MOMMY.! " Savannah berhenti bergerak saat Anna berteriak padanya.


Dia menghela nafas dan memeluk mommy nya dengan erat. Mengusap punggung nya dengan lembut dan terus membisikan kata-kata yang menyejukan.


"Tak apa. Semua baik-baik saja mom. Aku baik-baik saja. Mommy tak perlu menyalahkan diri mommy. Semua akan baik-baik saja mom. Aku janji. Semua baik-baik saja. " Anna terus membisikan kata-kata itu pada mommy nya agar tenang.


Matanya memanas saat mengatakn semua baik-baik saja, bahkan Anna tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi dia hanya berharap ibunya terus bersamanya.


Pemandangan itu di lihat oleh mereka semua. Mereka berlari kearah suara jatuh yang membuat mereka khawatir. Dan melihat bagaimana Anna yang terus mencoba menenangkan Savannah.


Maggie menangis melihat bagaimana Anna yang berusaha menjaga ibunya, dia bahkan bisa melihat cinta seorang anak yang begitu besar kepada ibunya. Dia merasa seperti penjahat yang terus membuat mereka sengsara.


David menoleh menatap Maggie yang menangis. David tahu apa yang ada di fikiran istrinya. Dia memegang tangan Maggie dan memeluknya. Berharap jika semua ini segera berakhir.


Xavier pun berharap kesakitan istrinya cepat berlalu dan bisa hidup bahagia. Xavier ingin Anna bisa tersenyum kembali, dan mata itu terlihat hidup.

__ADS_1


__ADS_2