
Mereka saling memandang dengan hati yang berdebar. Walau Xavier sudah mengetahui jika ini akan terjadi, tetap saja hatinya berbunga-bunga, bahkan jika dirinya tidak sadar mungkin Xavier akan loncat kegirangan. Ucapan Anna yang mengatakan jika wanita itu menerima Xavier itu artinya Anna sudah menyerahkan semuanya pada Xavier.
Dan itu juga artinya jika Anna percaya dengan Xavier. Bagaimana Xavier tidak berbunga bunga jika penantian nya akhirnya tercapai?
Xavier tak kuasa menahan air matanya, perasaan nya benar-benar bahagia. Xavier memutus pandangan mereka dan menunduk dia tidak ingin Anna melihat air matanya.
"Terimakasih. Terima kasih Anna. " Ucap Xavier dengan suara bergetar.
Anna merasa jika Xavier menahan tangisnya. Anna tak tahu jika sebesar itu perasaan Xavier terhadap nya. Apakah selama ini Anna begitu buta hingga tidak melihat upaya Xavier yang mencoba merebut hatinya?
Apakah sekarang Anna merasa seperti penjahat? Anna merasa buruk ketika seseorang begitu tulus padanya tapi Anna tak menghiraukan nya.
"Kenapa harus berterima kasih? Sudah sepatutnya bukan? Aku adalah istri mu. Jadi wajar jika aku membuka hatiku untukmu. " Ucap Anna mencoba membuat suasana menjadi normal.
Xavier tersenyum dan menatap Anna. "Benar. Tapi Terima kasih karena mengatakan hal itu. Lalu, apakah kau juga akan melayani ku seperti kewajiban istri? " Goda Xavier.
Anna gugup mendengar hal itu, dia tak tahu harus jawab apa. Sedangkan Xavier mati-matian menahan tawanya melihat Anna yang salah tingkah.
"Jika kau menginginkan nya, maka-- aku bersedia. " Ucap Anna gugup.
Xavier memajukan wajahnya untuk melihat Anna secara dekat. Begitu dekat hingga hembusan nafas mereka pun terasa hangat. Anna benar-benar gugup, bahkan saat Xavier menatapnya dengan dekat, mata itu membuatnya terpesona.
Hingga tawa Xavier terdengar dan Anna terlihat bingung dengan perubahan Xavier.
Xavier terkekeh " Tidak sayang. Aku tidak akan melakukan hal itu, walaupun kau istriku. Aku tidak ingin melakukan hal itu jika hatimu belum mencintai ku. Tidak ada artinya jika aku memiliki tubuhmu tapi tidak bisa mengenggam hatimu. Terasa lebih menyakitkan. "Ucap Xavier menatap Anna yang terlihat bingung.
Anna pun kaget dengan jawaban Xavier. Dia pikir, Xavier tak akan berfikir lama dan mereka akan melakukan hal itu malam ini. Tapi ternyata pikiran Xavier begitu dewasa. Xavier tidak seperti laki-laki di luar sana yang hanya mengandalkan ************ mereka tanpa melihat lawan nya.
Xavier memegang tangan Anna dengan lembut. Mengusapnya dengan pelan. Menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dengan tersenyum. Cincin pernikahan mereka. Mengingat hal itu, membuat hati Xavier merasa hangat.
"Kau adalah hal terindah yang pernah ada dalam hidupku sayang. Kau tidak tahu kehidupan ku yang dulu dan sekarang jauh lebih berwarna dengan adanya dirimu. Memegang hatimu jauh lebih berarti bagiku ketimbang memiliki tubuhmu. Walau aku akui jika aku pun juga menginginkannya. Tapi itu adalah hal terakhir sebelum hatimu menjadi milikku. " Ucap Xavier dengan terus memandang cincin pernikahan mereka.
Anna terharu mendengar penuturan Xavier padanya. "Ajari aku bagaimana mencintaimu X. " Ucap Anna menatap Xavier.
Xavier pun mendongak dan tersenyum. "Baiklah. Akan kuajari bagaimana mencintaiku. Istriku. "Ucap Xavier memandang Anna dengan tersenyum.
***
Kedua insan itu berpelukan dengan erat di balik selimut yang hangat. Pakaian mereka masih utuh. Hanya hembusan nafas yang terdengar dari mereka.
Sang istri terlihat memeluk suaminya dengan erat mencoba mencari kehangatan di malam yang dingin ini. Sedangkan suaminya mengusap kepala istrinya dengan lembut. Tangan satunya mengusap punggung istrinya agar merapat padanya.
" Terimakasih X. Kau tak memaksa ku. "Anna menghirup aroma suaminya yang terasa memabukkan.
" Anything for you, honey. "Ucap Xavier mencium puncak kepala Anna.
Tak terjadi apa-apa antara mereka. Hanya tidur dengan pelukan saja, dan itu permintaan Xavier. Karena selama ini Xavier hanya memeluk Anna saat sang istri sudah terlelap.
***
Xavier menggerutu pagi ini karena ayahnya mengacaukan suasana hatinya yang sedang senang. Rencana nya yang ingin mengajak istrinya kencan jadi batal karena ayahnya pagi-pagi susah menelfon nya untuk pergi meninjau lokasi proyek lainya. Alhasil, rencana kencan nya jadi berantakan.
Anna yang melihat Xavier terus menggerutu jadi heran. Setelah menerima telfon dari ayahnya, laki-laki itu terus menggerutu sepanjang sarapan. Menimbulkan pertanyaan di benak Anna.
__ADS_1
"Kau kenapa X? " Tanya Anna sambil menyuapkan rotinya.
Xavier menoleh dan mendapati wajah Anna yang sedang menaikan alisnya. "Tidak. Bukan apa-apa. " Ucap Xavier melanjutkan sarapan nya menelan umpatan di dalma hatinya untuk ayahnya yang tidak mengerti anaknya yang sedang jatuh cinta itu.
Anna pun tak ambil pusing dengan hal itu. Mungkin memang bukan apa-apa batin Anna. Mencoba percaya dengan apa yang di katakan oleh Xavier walau masih penasaran. Tapi Anna tidak akan memaksa.
Setelah selesai sarapan Anna berdiri dari kursinya dan mengambil tasnya yang berada di samping nya.
"Aku berangkat dulu. " Ucap Anna pada Xavier yang masih sarapan.
Xavier hanya menganggukan kepalanya karena masih kesal dengan ayahnya. Tiba-tiba dirinya kaget dengan benda kenyal yang hinggap di pipinya. Wajah Xavier langsung membeku dan menoleh melihat Anna yang tersenyum dan berlalu.
Xavier mengerjapkan matanya tak percaya, tangan nya menyentuh pipinya dan mengusapnya.
"Apa---tadi dia menciumku? " Gumam Xavier tak percaya.
Umpatan untuk ayahnya menjadi hilang tak berbekas hanya dengan ciuman sekilas dari Anna. Bibirnya pun tersenyum lebar hingga jika orang melihatnya bisa di kira bibir itu bisa robek karena saking lebarnya dia tersenyum.
Anna menuruni tangga menuju mobil yang setiap hari mengantarnya ke kampus. Sudah ada sopir yang berdiri di samping mobil dengan membukakan pintu mobil untuknya. Sedangakan dua bodyguard itu juga sudah standby di samping mobil dengan berbaris.
Anna melihat Brian juga sudah standby di badan belakang mobil dengan pakaian casual nya. Walau begitu, alat di telinganya tak pernah lepas darinya. Langkahnya mendekati mobil Rolls-Royce itu dan kedua bodyguard dan sopir itu membungkuk saat dirinya melintas.
"Kau tidak bersama Xavier? " Tanya Brian saat melihat Anna sendirian.
Anna berhenti dan menoleh pada Brian yang bertanya pada nya. "Tidak. Dia ada urusan di perusahaan. " Ucap Anna lalu masuk ke dalam mobil.
Sebelum pintu ditutup Anna mengatakan sesuatu pada Brian. "Masuklah. Hari ini tak perlu pakai motor mu. " Ucap Anna.
Brian berhenti saat akan berbalik. Hatinya ingin sekali dekat lagi dengan Anna. Tapi, Brian sudah meneguhkan akan menjaga jarak dengan nya. Jika tidak, perasaan nya akan terus mengacaukan dirinya. Sebelum dirinya gila karena tidak bisa menahan perasaanya, Brian harus menjaga jarak.
Anna membeku, inikah rasanya saat orang yang selalu berada disamping mu menjadi orang asing saat status menjadi halangan? Anna tahu, lambat laun kedekatan dirinya dengan Brian akan mengusik David. Dan Anna juga tahu jika hubungan itu akan menjadi hambar.
Wajahnya kembali mengarah ke depan dengan wajah datar. "Tutup pintunya. Kita berangkat. " Ucap Anna dengan datar.
Sopir pun menutup pintu itu dan masuk kedalam kemudi. Kedua bodyguard itu masuk kedalam mobil mereka yang memang disiapkan. Sedangkan Brian memakai motor kesayangan nya.
Keheningan melanda di dalam mobil Anna. Biasanya ada Xavier yang terus mengajaknya berbicara. Tapi hari ini dia sendiri. Eve pun pasti juga sudah berada di kampus, sedang Sahabat lainya malah menjauh.
Sang sopir pun juga terlihat bingung dengan hawa canggung yang dia rasakan. Ingin mencoba membuat santai dengan mengobrol dengan majikannya tapi butuh beribu kali ia berfikir. Walau baru beberapa hari menjadi supir majikan nya, tapi dia sudah lama bekerja dengan keluarga Greyson. Jadi dia pernah mendengar jika anak dari majikan nya itu dingin dan ketus.
Sampai di kampus, Anna keluar saat pintu mobil sudah di bukakan oleh sang sopir. Kakinya menapak dan menatap kampus yang sudah mulai ramai. Dua bodyguard itu sudah berada di samping nya dan juga Brian yang berada di belakang nya.
Anna melangkah memasuki kampus dengan dua bodyguard dan Brian di belakangnya. Semua mata tertuju pada Anna saat dirinya memasuki pintu masuk kampus. Anna mendengar bisikan dan cibiran yang tertuju padanya. Anna tak peduli karena itu tak mempengaruhinya.
Langkahnya sudah berada di lorong, jalan pun sudah otomasi terbuka untuknya. Dan Anna pun dengan santai nya berjalan menuju kelasnya. Dia berbelok saat melihat kelasnya sudah tak jauh lagi. Pandangan nya menunduk karena melihat ponselnya melihat pesan Xavier yang mengatakan jika malam ini dia akan pulang malam.
Tiba-tiba tubuhnya di tabrak seseorang hingga dia terhuyung sedikit. Untung nya dia tidak terjatuh, dia mendengar gerutuan seseorang di hadapan nya yang ia yakin itu adalah wanita. Anna tak menghiraukan kicauan yang membuatnya sakit telinga, dia lebih memilih mengambil ponselnya yang terjatuh dan membersihkan nya.
Melihat itu, wanita yang menabrak nya semakin naik pitam karena merasa di hiraukan.
"Hei, apa kau tidak mau meminta maaf?! Dasar tuli.! " Umpat wanita itu.
Anna mendongak menatap wanita itu dengan datar. Wanita itu memiliki wajah asli Korea. Anna yakin jika tak ada darah lain selain Korea yang berada di tubuh wanita itu. Mata yang terlihat sipit dan juga bibir tebalnya membuat Anna yakin jika wanita ini suka sekali mengoceh seperti Eve.
__ADS_1
Di belakang wanita itu terdekat dua wanita lainya yang ia yakini jika mereka adalah anak buah dari wanita di hadapan nya. Terlihat jika wanita yang sekarang memerah wajahnya itu dengan rambut di ombre se punggung berwarna coklat karean pewarna itu lebih menonjol dari dua wanita itu.
Satu wanita yang juga seperti asli Korea dengan rambut hitam nya sebahu dan juga wajah oriental diam saat wanita di hafalannya itu uring-uringan. Dan satu wanita lain juga yang berada di samping kanan nya dengan rambut se punggung berwarna pirang sepertinya dia perpaduan antara Korea dan Amerika. Terlihat kulitnya yang tidak terlalu putih dengan bintik yang identik dengan Amerika. Bibirnya mencibir saat menatapnya.
"Hei.! Dasar tuli.! " Umpat wanita itu dengan nada melengking.
Anna kembali menatapnya, mencoba mendalami ekspresi wanita yang benar-benar sedang marah itu dengan datar. Anna melirik sekitarnya karena bisikan yang mengganggunya. Anna membuang nafasnya kesal karena paginya semakin memburuk. Tak mau meladeni wanita yang sedang naik pitam itu, Anna memilih pergi dan masuk ke kelasnya.
Tapi, ternyata wanita itu tak mau melepasnya. Tangan nya di cekal dengan erat dan menariknya. Anna menghadap menatap wanita yang sudah mencapai batasnya, terlihat jika nafasnya memburu dan wajahnya semakin memerah.
"Kau belum tahu siapa aku?! Di kampus ini, tidak ada yang berani mengacuhkanku.!! " Ucapanya dengan mengertakkan giginya.
Anna merasakan genggaman di pergelangan tangan nya semakin erat. Tapi ekspresi Anna tetap stabil dengan datarnya dia menatap wanita itu. Dengan senyum menyungging dia balas menatap mata wanita itu. "Kalau begitu akulah orang pertama yang mengacuhkan mu. " Ucapnya santai.
Wanita itu semakin menggeram kesal hingga tangannya terus menekan erat. Anna yakin jika tangan nya akan berbekas dan itu akan membuatnya kesal karena harus menutupinya saat pemotretan lusa.
Anna menoleh ke belakang menatap bodyguard nya yang bodohnya malah memandangi mereka dengan diam. Anna menahan kesal nya dengan tetap menahan ekpresi datarnya dan menatap tajam kedua bodyguard itu.
"Kalian tidak mau melepaskan tangan sialan ini? " Desis Anna.
Kedua bodyguard itu tersentak mendengar suara majikan nya yang menyeramkan dan maju untuk melepaskan tangan majikan nya. Tapi Brian lebih dulu melepas pergelangan tangan Anna dengan cepat.
"Tolong lepaskan tangan nya nona. " Brian memegang tangan wanita itu dan menatapnya dengan tajam.
Sesaat wanita itu terpesona dengan Brian yang menatapnya. Tapi setelah itu dia sadar dan menyentak tangan Anna. Dia menatap Brian dengan sengit.
"Siapa kau? Pelayan nya? Cih. " Anna benar-benar benci dengan cara wanita itu memandang Brian. Rasanya ingin mencongkel mata itu.
Brian menundukan kepalanya. "Saya pengawal nona Anna. Jadi tolong jangan menganggu nya. " Ucap Brian tenang.
Wanita itu geram, baru kali ini dirinya di perlakukan seperti kotoran. Dia menatap Anna dengan tajam yang di balas dengan wajah dingin Anna.
"Memang dia siapa hingga aku tidak boleh mengganggunya?! Hah.! Disini aku yang berkuasa.! Kau tahu tahu.!! " Wanita itu menatap tajam Brian yang sudah lancang padanya.
Anna rasa sudah cukup mereka jadi tontonan. Sangat memalukan. Anna maju dan mendekati wanita yang sedari tadi berisik.
Menatap tepat pada matanya yang berwarna hazel dengan tajam. Tinggi mereka yang sama membuat Anna tak perlu mendongak atau menunduk. "Jika kau pintar, kau harusnya tahu perbedaan kau dan aku. " Ucap Anna pelan penuh penekanan.
Wanita itu mengerutkan dahinya tak mengerti. Membuat Anna geram dengan wanita yang tadi berkoar-koar seperti ingin menjual diri. "Lihat sekeliling mu. Apa yang ada di samping mu dan di sampingku? " Anna menaikan alisnya meremehkan wanita yang sedang berfikir.
Anna melihat jika wanita itu tersentak dengan pikiran nya dan Anna menyeringai. "Kau dan aku sangat jauh berbeda, nona Jessica. " Anna melihat wajah itu mengerjapkan matanya karena kaget.
Anna pun mundur dan melanjutkan langkah nya menuju kelas. Brian dan bodyguard nya ikut menyusul, meninggalkan wanita bernama jessica itu termenung.
Anna menderap langkahnya, dirinya masih menggeram kesal karena mood nya jadi buruk pagi ini. Dia butuh sesuatu untuk melampiaskan nya. Mereka melewati lorong yang lumayan sepi.
Anna tiba-tiba berhenti melangkah membuat ketiga orang yang mengikuti nya juga ikut berhenti. Anna berbalik dan menendang tulang kering kedua bodyguard nya dengan keras hingga menimbulkan suara.
Kedua bodyguard itu langsung mengaduh kesakitan. Sedangkan Brian hanya diam dengan wajah dingin nya.
Menatap tajam kedua bodyguard itu seraya berkata " Aku tidak suka disentuh orang lain.! Kalian mengerti.!! "Desis Anna.
Mereka mengangguk bersama dan berdiri kembali. " Jika sekali lagi ada yang menyentuhku seperti itu, kupastikan kepala kalian terlepas dengan tubuh kalian.!! "
__ADS_1
Setelah mengatakn itu Anna kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Kedua bodyguard itu langsung menyusul walau dengan kaki pincang. Brian pun menghembuskan nafasnya melihat emosi Anna yang meledak. Diangkat menyusul Anna, memastikan dia masuk kelas dan juga memastikan dua bodyguard itu tidak di hajar kembali oleh Anna.