
Anna benar-benar menepati janjinya untuk membuat orang-orang yang telah membuatnya menderita. Brian dan Evelyn tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bagaimanapun ini sudah keputusan Anna. Dan mereka menghargainya. Bukan mendukung, hanya saja jika ini bisa membuat Anna senang maka mereka akan melakukan ya.
Dan contohnya sekarang, di kantin sekolah sedang ramai. Bukan karena antrian yang panjang hanya untuk makan siang. Melainkan ada sebuah drama pembullyan yang sedang di lakukan oleh Anna.
Byurrr...
Minuman berwarna kuning itu melumuri wajah siswa yang menjadi target bully Anna.
"Ini akibatnya jika kau membuatku kesal. " Desis Anna di depan wajahnya.
Kejadian yang menurut Eve terlalu kejam karena kesalahan siswa itu yang tidak sengaja menyenggol bahu Anna. Yang berakibat membuat Anna kesal dan menyiram minuman itu ke wajah nya. Tapi Anna tetaplah Anna. Dirinya tak ingin di hentikan jika sudah terlanjur marah.
Tiba tiba tangannya di cekal oleh seseorang. Menoleh, Anna melihat jika orang itu adalah Xavier. Wajah laki-laki itu terlihat menyimpan amarah. Dan Anna tak tahu apa penyebabnya.
"Ikut aku! " Titah Xavier menyeret Anna pergi dari kerumunan.
Anna pun hanya mengikuti arahan Xavier. Sampai akhirnya mereka sampai di taman belakang sekolah yang sepi. Taman ini memang tak banyak yang mengunjungi. Karena taman ini berada di ujung sekolah ini. Jadi banyak siswa yang enggan berada disini. Selain karena jauh, juga karena taman ini tidak terawat.
Setelah sampai, Xavier melepas tangan Anna. Dan Anna bisa melihat bahu Xavier yang naik turun dari belakang. Terlihat jika memang Xavier memendam amarah. Dan lagi lagi Anna tak tahu apa itu.
"Kenapa? " Tanya Xavier setelah sekian lama mereka diam.
Anna merasa aneh dengan pertanyaan ambigu Xavier.
"Maksudmu? "Jawab Anna tak mengerti.
Dengan membalik badanya Xavier menatap Anna dengan pandangan kecewa? Mungkin?
" Kenapa kau seperti ini? "Tanya Xavier mendekati Anna.
Ahh. Anna sekarang tahu.
" Why? Are you shock? "Tanya Anna dengan senyum meremehkan.
" Pasti ada sesuatu yang membuatmu seperti ini. Right? Tell me! "Ucap Xavier.
Dengan terkekeh Anna menjawab " Kau seperti mengenalku X. But, you don't know me so well. Jangan berkata seolah kita ini dekat. "
Ucapan Anna seolah menegaskan jika walaupun mereka dijodohkan, bukan berarti mereka dekat. Anna seolah mengatakan pada Xavier jika hubungan mereka hanya sebatas kata perjodohan.
Tapi, entah kenapa justru Xavier ingin Anna bersandar dan berkeluh kesah padanya. Xavier merasa Anna berubah drastis. Anna sering terlambat, dan membolos. Bahkan sekarang dirinya jadi tukang bully. Hal yang di benci oleh Xavier. Cara ber pakainya saja sekarang seperti bad girl.
"Kau tidak cocok dengan sikapmu yang sekarang. "
"Lalu? Aku cocok seperti apa? Di tindas? Di bully? Atau..
Wajah Anna berubah keras ".. Menderita?! ". Mata Anna menatap Xavier tajam.
Seringaian itu muncul di wajah Anna seraya berkata " Jangan pikir aku akan seperti itu X. Dengan gadis lemah dan kau yang akan menyelamatkan nya?! Jangan melucu. Ini bukan drama melow yang sering kau tonton. Aku bukanlah gadis lemah.! Memang inilah aku. Dan kau baru saja melihatnya. Nikmati tontonan yang akan kau lihat nantinya.! " Ucap Anna seraya pergi dari hadapan Xavier.
Sedangkan Xavier menatap punggung Anna yang semakin terlihat kecil dan hilang dari pandangan ya. Entah kenapa, Xavier melihat dari tatapan Anna yang terlihat ada kerapuhan di balik mata biru itu.
***
Suasana sepi terasa di dalam mobil Xavier. Xavier menoleh ke samping, melihat Anna yang duduk disampingnya dengan wajah yang datar, atau lebih tepatnya kesal? Yah, karena Xavier memaksa Anna pulang bersamanya. Bahkan mobil Anna yang berada di sekolah nanti akan di antar oleh sopirnya.
Sampai didepan rumah, Anna pun langsung keluar jika tidak di cekal oleh Xavier.
"Apa?! " Ketus Anna.
"Tidak mengucapkan terimakasih? " Ucap Xavier dengan tatapan jahil nya.
"Kau memaksaku bodoh! " Ucap Anna kesal.
"Setidaknya mengucapkan terimakasih bukan hal yang berat bukan? " Tuntut Xavier.
"Kau! Mana ada seorang pemaksa menginginkan kata terimakasih dari orang yang di paksa?! Kau ini bodoh atau *****! " Desis Anna.
Anna benar-benar kesal dengan Xavier yang selalu mengganggu nya. Hidupnya benar-benar tidak tenang setelah kenal dengan Xavier. Laki-laki itu selalu membuat emosi nya keluar disaat yang tidak tepat.
Mengabaikan permintaan konyol Xavier, Anna melepas kan tanganya dari tangan Xavier dan keluar dari mobil.
Baru beberapa langkah, Anna mendengar suara benda yang di banting di dalam rumahnya. Segera, Anna bergegas masuk ke dalam rumahnya. Namun, sebelum itu Anna melihat mobil putih yang Anna kenal siapa pemiliknya.
'Sial! '
Xavier melihat ada kejanggalan saat Anna berhenti sebentar saat akan masuk rumahnya. Dia bisa melihat jika tubuh Anna terlihat tegang. Xavier pun keluar dari mobilnya dan mengikuti Anna masuk.
Saat Anna masuk, dia melihat banyak benda yang sudah hancur dengan mommy nya yang mengamuk dan laki-laki yang Anna benci mencoba menghentikan mommy nya.
__ADS_1
"Kau meninggalkanku karena wanita murahan itu. Kau jahat. Kau jahat David.! "
Anna bisa melihat mommy nya memukul David dan menangis keras. Hal seperti ini yang Anna benci. Disaat ingatan mommy nya pulih, hal yang menyakitkan justru yang dia ingat. Kenapa bukan hal yang indah saja? Seolah ini hukuman bagi mommy nya yang terus di hantui oleh kesakitan.
"Dia bukan wanita murahan.! Kau yang murahan Savana. " Ucap David membuat Anna marah.
Tidak! Cukup! David sudah keterlaluan.!
"Lepaskan mommy ku.! " Ucap Anna.
David menoleh dan mendapati Anna menatapnya penuh kebencian. Sedang Savannah masih menangis tanpa tahu jika Anna sudah berada di rumah.
"Anna."
"Lepaskan mommy ku! " Desis Anna.
David pun melepas savana yang membuat savana mendongak dan melihat Anna.
Wajah savana berubah kesal dan benci.
"Kau! Kau lah pembawa sial!! " Tunjuk savana pada Anna.
Anna mengerjapkan matanya. Hatinya seolah terpukul dengan keras saat mommy nya memaki nya seperti itu. Ini kali pertama savana mengatakan hal itu. Karena selama ini savana tidak merespon apa pun. Dan saat mommy nya sadar, kenapa ini yang Anna dapat?
Matanya buram karena air mata yang selalu ingin keluar dari matanya. Mulutnya pun tak bisa berkata apapun saat mommy nya yang membuatnya hidup di dunia ini justru menyesal telah melahirkan ya.
"Mom.. " Lirih Anna.
Dengan emosi savana melepas vas yang berada di samping nya ke arah Anna.
Sretttt.. Pyarrrrr...
Tubuh Anna didekap seseorang menghalangi vas itu. Anna termenung menatap mommy nya dengan kasihan. Tidak. Anna sudah pernah mengalami hal ini. Tapi dalam pandangan mommy nya dirinya adalah David. Orang yang dia benci. Anna sering mendapat kan pelampiasan mommy nya. Tapi ini, savana dengan sadar ingin melukai putrinya. Dan itu menyakiti hati Anna.
David kaget dengan kejadian tadi. Jika saja Xavier telat mendekap Anna, mungkin vas itu sudah menghancurkan wajah Anna. Dan David tidak akan memaafkan savana jika itu terjadi.
Tapi..
"Anna..! Wajahmu.. " Ucap David shock.
Xavier yang mendengar perkataan David langsung melepas pelukannya dan melihat wajah Anna yang tergores dan berdarah. Tapi sang pemilik wajah terlihat tidak kesakitan. Saat akan menyentuh wajahnya, Anna menepis tangan Xavier.
"Kau gila?! Kau ingin membunuh anakmu?! Kau benar-benar keterlaluan savana.! " Teriak David pada savana.
"Ya aku gila! Aku gila karenamu! Kau yang membuatku menderita!! Kau! Dan wanita murahan itu yang membuatku menderita bersama anak pembawa sial itu!! "
"Kau! Dia anakmu. Dan dia bukan pembawa sial!! Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?! "
"Diam!! Diam kau!! Kau tak tahu apa apa!! " Teriak savana dengan menutup telinganya.
Tangan Anna terkepal erat. Bahkan ototnya ikut menonjol. Anna mencoba menahan semua amarah yang dia rasakan saat ini. Anna mencoba maju tapi ditahan oleh Xavier.
"Tidak Anna. Jangan kesana dulu. " Ucap Xavier khawatir.
"Kau tidak tahu apa apa X. Biarkan aku menenangkan ibuku. " Ucap Anna lirih.
"Hanya aku. Hanya aku yang dia punya. " Ucapnya seraya melihat savana yang kalut.
Anna pun menepis tangan Xavier dan melangkahkan kakinya ke arah mommy nya.
Dengan senyum yang di paksakan Anna berdiri di depan savana dan menyentuh tangan savana dengan lembut.
"Mom.. " Lirih Anna.
Savana mendongak dan melihat Anna dengan air mata bercucuran. Dirinya bisa melihat ada darah yang berada di pipi sang anak. Membuat savana terpukul dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Pipimu.. "
Savana mencoba menyentuh pipi Anna yang berdarah tapi di tahan oleh Anna.
"It's okay mom. I'm fine. " Ucap Anna dengan senyum palsunya.
"Maaf. Maafkan aku. Aku bukan ibu yang baik. Maafkan aku. Maaf. "Savana menangis histeris mengetahui apa yang dia lakukan tadi.
Dengan segera Anna mendekap tubuh rapuh ibunya bersamanya. Mencoba tidak mengeluarkan air matanya, nyatanya air mata itu tetap keluar dari persembunyian ya.
Kenapa harus seperti ini hidupnya?
Pertanyaan itu terus menghantuinya. Kenapa? Kenapa?! Apakah di masa lalu dirinya membuat kesalahan yang fatal hingga hidupnya yang sekarang teramat sakit?
__ADS_1
"Keluar! "
Suara Anna terlihat lelah. Dirinya hanya ingin ketenangan.
"Anna." Suara David mengintrupsi nya.
"Keluar! " Ucap Anna penuh penekanan.
Anna masih mendekap ibunya yang masih menangis menyesali perbuatannya. Anna melirik kang minah yang berdiri di samping pojok. Dengan menganggukan kepalanya, minah tahu apa yang di inginkan oleh majikanya.
Minah pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu.
"Apa harus ku panggil security untuk mengawalmu?! "
"Biarkan daddy berbicara denganmu nak. " Ucap David memohon.
"Melihatmu saja aku muak.! Bagaimana aku mau berbicara denganmu?! Keluar! " Ucap Anna tanpa melihat bagaimana terpukul nya David dengan ucapanya.
David pun akhirnya mengalah dan pergi dari sana. David sempat berpapasan dengan Xavier dan mengatakan "tolong jaga putriku" Dan menepuk pundak Xavier.
Xavier yang tak tahu harus apa karena melihat kejadian yang membuatnya bingung. Hanya bisa berdiri di sana sebelum suara Anna menyuruhnya pergi.
"Kau juga. Pergi dari rumahku. " Ucap Anna dengan membelakangi Xavier karena masih mendekap savana.
"Anna--"
"Kau bisa pergi? " Suara dari belakang Xavier mengibtrupsinya. Menoleh, Xavier melihat Brian berdiri dengan wajah datarnya.
Minah kembali dengan jarum di tangannya. Dengan hati hati minah menyuntikkan jarum itu ke savana yang langsung lemas. Brian pun maju dan membopong tubuh savana ke kamarnya dengan di ikuti oleh Anna.
Xavier melihat jika memang bukan saat nya dia bertanya tentang situasi yang membuatnya bingung ini. Anna sedang sedih dan itu bukan waktu yang tepat. Xavier pun pergi dari rumah Anna.
***
"Apa yang terjadi? " Tanya Brian pada Anna.
Brian sedang membersihkan darah yang berada di pipi Anna. Dengan hati hati Brian mengoleskan obat pada pipi Anna yang terluka. Tapi wajah Anna tak tetap datar, seperti tak merasakan sakit. Melihat itu membuat Brian takut. Takut jika Anna akan terguncang batinya. Brian akan lega jika Anna mengamuk atau menangis histeris bukan diam seperti patung yang tak bisa merasakan apa pun.
"Kau bisa menangis Anna.! Jangan seperti ini. " Dengan hati hati Brian menyentuh wajah Anna.
Menatap mata Anna yang sudah memerah, Brian menegaskan jika dirinya bisa bersandar padanya.
"Tidak. Mommy benci jika aku menangis. " Ucap Anna lirih.
Hati Brian seolah tercabik cabik mendengar penuturan Anna. Anna seperti anak kecil yang menuruti perintah orang tuanya. Sekalipun itu melawan apa yang dia rasakan.
"Mommy mu tidak akan tahu. Lihat. Dia sedang tidur. Kau bisa menangis sekarang. "
"Benarkah? "
Brian pun menganggukan kepalanya. Setelah itu terdengar tangisan yang memilukan. Tangisan yang selama ini Anna sembunyikan. Brian pun segera memeluk Anna dengan erat.
Brian bisa merasakan bagaimana kesakitan yang Anna rasakan saat ini. Hingga tanpa sadar air matanya ikut menetes.
Kedua orang yang berbeda jenis itu menangis bersama-sama. Seolah saling menguatkan.
***
Xavier termenung di kamarnya. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi tadi di rumah Anna. Wanita yang berteriak histeris itu adalah ibu Anna? Lalu Maggie? Bukankah maggie ibu kandung Anna?
Jika wanita itu memang ibu kandung Anna, kenapa David tidak memperlakukan nya dengan baik? Seolah di antara mereka berdua ada masalah. Xavier juga bisa melihat tatapan kebencian yang Anna berikan pada David. Sama seperti tatapan yang Anna berikan pada Maggie.
'Ini aneh' pikir Xavier.
Dari pada berasumsi sendiri, Xavier lebih baik bertanya pada ayahnya yang merupakan sahabat ayahnya Anna.
"Aku ingin bertanya sesuatu. " Ucapnya saat melihat ayahnya diruang kerjanya.
Andrew yang melihat putranya berdiri di ambang pintu dengan wajah seriusnya pun menyuruhnya masuk.
"Ada apa? " Tanya Andrew melepas kaca matanya dan bersandar.
"Ini tentang Anna. " Ucap Xavier.
Wajah Andrew berubah tegang.
"Apa yang ingin kau ketahui? "
Wajah mereka sama sama serius, Xavier pun tidak main main. Dirinya benar benar ingin mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Semuanya! " Ucap Xavier.
Dan hari itu juga Xavier mengetahui rahasia yang sudah terpendam selama bertahun-tahun lalu. Antara percaya dan tidak. Xavier bahkan bisa mengingat bagaimana Anna yang dingin dan tertutup itu. Bagaimana bisa takdir membuat gadis itu menjadi seperti ini?