Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 29


__ADS_3

Anna menyenderkan tubuhnya pada kursi dengan sampanye yang masih di tangan nya. Sedangkan tangan yang lain masih terulur itu tak ia tanggapi.


"Baiklah." Ucap Anna lalu memalingkan wajahnya kesamping tanpa mau membalas tangan itu.


Tanpa tahu jika gadis itu meremas tangan nya yang menggantung. Memalukan! Xavier diam-diam menahan senyum nya karena melihat Na-ri yang memerah wajahnya.


"Hei.! Kau fikir kau siapa hah.! Kau fikir dirimu tuan putri kerajaan?! Sombong sekali.!! " Gadis itu berteriak hingga para tamu menatap mereka.


Ibunya memukul gadis itu karena berteriak dan jadi sorotan. "Kau ini! Ish. Pelan kan suaramu!! " Desis wanita itu.


Anna tak mendengarkan suara di samping nya. Matanya masih menelusuri dan menatap pelayan yang sedang mengelilingi para tamu dengan nampan diatasnya sampanye.


Pelayan pria itu membalas tatapan Anna dan menganggukan kepalanya sekilas. Wajahnya memakai masker hitam, jadi tidak tahu siapa pelayan pria itu. Tapi Anna membalas anggukan itu dengan hal yang sama.


Gadis itu menangkis tangan ibunya yang mau menyeretnya pergi dari sana. "Tidak eomma.! Wanita ini harus diberi pelajaran. Dia belum tahu siapa yang dia hadapi.! " Gadis itu menatap tajam Anna dari samping.


"Hei.! Kau benar-benar mengacuhkanku.! Hei.! " Gadis itu berteriak frustasi pada Anna.


Anna seakan tak mendengar suara yang terus berdengung itu. Matanya masih menelisik apa yang dilakukan oleh pelayan itu. Tiba-tiba dia merasakan wajahnya tersiram air. Dan suara terpekik di sekitarnya.


Byur.


Xavier kaget dan berdiri. Dia menatap Na-ri dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan?! " Desis Xavier.


Na-ri kaget dengan suara Xavier dan juga tatapan nya yang tajam. Anna mengecap bibirnya. Ahh sampanye. Pikir Anna. Manis juga.


Elena langsung membersihkan wajah Anna dengan tisu. "Astaga sayang. Kau tidak apa-apa? Gadis itu keterlaluan.! " Desis Elena kesal sambil membersihkan wajah Anna.


"Keluar." Xavier menahan amarahnya yang siap keluar itu.


Na-ri kaget dengan Xavier yang mengusirnya. "Ta---pi kak___"


"Keluar aku bilang.! Dan jangan perlihatkan wajahmu itu padaku Na-ri.! " Xavier menunjuk wajah Na-ri yang sudah siap menangis.


Gadis manja itu akhirnya pergi dari pesta itu. Di ikuti dengan ibunya yang juga keluar. Xavier berbalik memastikan istrinya.


"Kau tak apa? " Xavier merangkum wajah Anna.


Anna menatap wajah Xavier yang khawatir. Dia tersenyum agar Xavier tenang. Ini bukan apa apa bagi Anna. Tapi yang membuat ia kesal ialah gadis itu membuat nya sedikit melenceng.


"Aku tak apa. Ayo pulang X. Lengket semua wajahku. " Hoho apa yang terjadi. Anna sedikit merengek pada Xavier sekarang. Apakah, sudah tumbuh cinta?


Xavier pun langsung membuka jas nya lalu membungkusnya dengan tubuh Anna. "Ayo."


Xavier merengkuh tubuh Anna. Dia menatap orang tuanya untuk pamit. "Kami pulang dulu, dad mom. " Lalu pergi setelah mereka menganggukan kepalanya.


Brian melangkah di belakang Xavier. Sedari tadi dia ada, hanya saja dia sedikit menjauh. Mereka pun keluar dari hotel itu dan masuk ke mobil.


Bodyguard sudah sigap karena Brian mengatakan lewat alat yang tersambung agar menyiapkan mobil karena mereka akan pulang.


"Kau benar tidak apa-apa? " Tangan Xavier sekali lagi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Anna tersenyum melihat betapa khawatir nya Xavier padanya. "Aku tak apa X. Hanya sampanye bukan. Manis. " Ucap Anna santai.


Xavier yang tadi nya khawatir berubah tertawa kecil. Istrinya itu benar-benar spesies langka. Dia belum terlalu dalam mengetahui sifat Anna yang kadang membuatnya kaget.


Anna menyenderkan kepalanya pada dada Xavier. Xavier pun memeluk pinggang Anna agar merapat.


"Sepertinya gadis itu menyukai mu " Ucap Anna pelan.

__ADS_1


Xavier menunduk untuk melihat wajah Anna. Tapi Anna malah menenggelamkan wajahnya kedalam dadanya. Mencoba mencari kehangatan disana.


"Siapa? Na-ri? "


"Em." Gumam Anna.


Xavier tersenyum, sepertinya Anna sedang cemburu. "Semua wanita menyukai ku. " Ucapnya bangga.


Anna mendengus. Mereka sampai di mansion dengan selamat. Para bodyguard langsung keluar, Anna dan Xavier pun keluar dari mobil.


Mereka menunduk saat Anna dan Xavier melewati mereka. Merka pun naik dan masuk ke kamar.


"Aku mandi dulu X. " Anna a langsung masuk kekamar mandi karena dia sudah merasa lengket dan itu tidak nyaman. Xavier hanya menganggukan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di sofa. Dia membuka kancing lengan nya dan menggulung kemeja nya ke atas. Rasanya tadi saat di pesta jika dia tak bisa menahan amarah nya, mungkin 'dia ' akan muncul.


Xavier menggeleng, tidak 'dia' tidak boleh keluar. Anna tidak boleh melihat hal itu lagi.


Sedangkan Anna sedang melepas semua perhiasan nya kecuali cincin pernikahan nya. Tangan nya menyentuh telinganya dan meletakan sesuatu benda yang kecil, yang di namakan earphones tapi berbentuk kecil seperti biji bersama dengan gelang nya yang bersinar.


Jika orang melihatnya sekilas, gelang itu terlihat biasa dengan diamond yang melingkar. Tanpa tahu ada sinar kerlip yang berbeda jika di lihat saat gelap.


Setelah melepas semua itu, dia masuk kekamar mandi untuk membilas tubuhnya yang lelah. Tak butuh lama, Anna keluar dari kamar mandi dengan kimono nya. Dia melihat Xavier yang terduduk di sofa dengan menyenderkan kepalanya dan menutup matanya. Sepertinya dia lelah juga.


Anna menghampiri Xavier agar laki-laki itu mandi terlebih dahulu. "X mandi dulu baru tidur. " Ucap Anna menepuk pipi Xavier pelan.


Xavier mengerjapkan matanya saat merasakan pipinya di tepuk. "Ah kau sudah selesai? " Xavier menegakkan tubuhnya.


"Em mandilah. " Ucap Anna langsung masuk ke walk in closet.


Xavier pun masuk kekamar mandi. Laki-laki itu juga tak perlu waktu lama karena tubuhnya sepertinya sedang lelah. Dia melihat Anna yang sudah berada di atas tanjang dengan buku di tangan nya dan juga kaca mata yang bertengger di hidung nya.


Dia pun ikut naik dan merapatkan tubuhnya pada sang istri, melihat buku apa yang sedang di baca hingga dirinya di acuhkan.


"Apa menarik? " Tanya Xavier meletakan kepalanya di bahu Anna.


"Tidak. Hanya saja seberapa menarik hingga aku di acuhkan.? "Gerutu Xavier pelan.


Anna terkekeh mendengar suara Xavier yang cemburu dengan novel. Ada-ada saja suaminya itu.


" Untuk apa kau cemburu dengan novel? Hm. "Anna mengusap wajah Xavier dengan tangan nya sebelah. Dia mencoba untuk bersikap manis pada suaminya itu.


Mungkin, Anna sudah merasakan cinta Xavier padanya. Selama ini dirinya hanya menutup mata dan juga telinga nya. Cukup bukan, Xavier sudah menunggu nya selama setahun pernikahan mereka.


Dan Anna akan menerima Xavier seutuhnya. Dirinya akan menyerahkan tubuhnya dan juga hatinya.


Xavier mendongak menatap Anna dengan lembut. Tangan nya terangkat, mengusap wajah Anna agar menatapnya. Anna pun menoleh dan menatap mata Xavier.


Matanya turun ke hidung Xavier yang kandung, turun lagi sampai ke bibir Xavier yang tebal dan sexy itu. Xavier pun juga menatap wajah Anna mulai dari matanya yang biru hingga bibir yang selalu membuatnya ingin ******* nya.


Wajah mereka sangat dekat, hingga nafas mereka terasa hangat di wajah. Xavier maju hingga bibir itu menempel ke bibir Anna yang selalu ingin dia kecup.


Anna hanya diam karena dirinya tidak tahu harus apa. Jantungnya serasa mau keluar saat merasakan sensasi hangat bibir Xavier yang menempel.


Xavier menggerakan bibirnya untuk ******* bibir Anna dengan lembut. Mereka hanyut dalam kehangatan. Anna pun lama -lama mengikuti bagaimana membalas pangutan bibir Xavier.


Anna meletakan bukunya kesamping dan dengan reflek tanganya mengalung ke leher Xavier. Meremas rambut Xavier dengan pelan. Xavier yang merasa Anna menerima nya pun senang. Bibirnya tersenyum di sela ciuman mereka.


Kaca mata itu pun juga ia letakan entah dimana. Mereka terus berpangutan hingga mereka melepas karena butuh oksigen.


Xavier menatap Anna, mencoba mencari jawaban dari apa yang terjadi. Anna tersenyum melihat Xavier yang masih bingung.


"Anna.. Apakah ini artinya__"

__ADS_1


"I'm your's X" Ucap Anna lirih.


Xavier langsung ******* bibir Anna saat mendengar jawaban Anna. Dia senang karena penantian ya akhirnya berakhir.


Bibir itu serasa tidak ingin lepas. Tangan Xavier pun tak tinggal diam. Tapi sebelum itu dia menatap Anna seolah bertanya.


Anna melihat mata Xavier yang terlihat berkabut gairah. Anna tahu hanya dengan tatapan Xavier dia tahu apa yang Xavier inginkan. Anna pun menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Xavier.


Xavier mencium kembali bibir Anna, tangan nya melepas kancing piyama Anna satu persatu, ciuman itu pun turun ke leher Anna yang putih itu. Anna mendesah karena merasakan geli juga nikmat saat Xavier mencium lehernya dan juga menghisap nya.


Permainan mereka yang selama lebih dari satu jam akhirnya berakhir saat Xavier sudah tidak tahan.


"Terima kasih sayang. Dan maaf karena menyakitimu. " Ucap Xavier lirih.


Anna tersenyum menanggapi ucapan Xavier. Dia sudha tidak punya tenaga lagi. Mereka pun saling berpelukan hingga terlelap.


***


Anna terbangun, dia menoleh ke jendela yang masih menampilkan langit malam. Ternyata masih malam. Dia menatap Xavier yang memeluknya, mereka masih belum berpakaian mengingat setelah bercinta mereka langsung tidur.


Wajah Anna panas saat mengingat kata bercinta. Ah apa yang dia pikirkan. Dasar.!


Anna melihat jam masih pukul 2 pagi. Anna teringat sesuatu. Dia mencoba melepas tangan Xavier yang merengkuh nya. Dengan pelan-pelan akhirnya dia bisa bebas, dia turun dari ranjang dengan hati-hati.


Intinya masih terasa sakit dan juga mengganjal. Dia memakai piyama nya lagi. Setelah memakai piyama, Anna masuk ruang kerjanya dengan ponsel di tangan nya.


"Kenapa lama? Ini jam berapa?! " Sungut seseorang di sebrang sana saat telfon sudah diangkat.


"Aku ketiduran. Bagaimana? " Balas Anna.


Seseorang disana menghembuskan nafasnya. "Sudah. Sekarang buka laptop mu. " Ucap orang itu.


Anna duduk di kursinya pelan-pelan karena masih terasa nyeri. Ponsel nya ia apit dengan bahunya.


Setelah membuka laptop, Anna melihat beberapa foto dan juga biodata.


"Tidak ada yang terlewat? " Tanya Anna memperhatikan foto-foto itu..


"Tidak. Semua yang tertangkap kamera tersembunyi sudah aku kirimkan. "


Hening. Dia tarus menggulirkan foto-foto kebawah. Semua identitas terlihat di sana.


"Apa kau akan langsung mencabut akarnya? " Tanya orang disebrang sana.


"Tidak. Akarnya terlalu kuat bodoh.! Kita gali sedikit demi sedikit baru kita cabut. " Ucap Anna sedikit kesal.


Anna mendengar suara dengusan di sebrang. "Baiklah. Tapi bagaimana si brengsek itu? "


"Bukankah sudah kubilang untuk mengurusnya? " Manna menggeram tertahan.


"Kau tahu sendiri jika bukan kau dia tidak akan mau.! "


"Anna, kita butuh si brengsek itu. Kau harus merayunya. " Ucap orang itu mendesak Anna.


"Baiklah nanti aku hubungi dia. " Ucap Anna berdecak kesal lalu menutup panggilan.


Dia meletakan ponselnya di atas meja. Matanya masih terus menatap foto-foto itu. Foto-foto para tamu semalam. Bagaimana bisa? Bukankah sudah dibilang jika gelang itu bukan sekedar gelang?


Lama mengamati foyo itu, seringaian timbul di bibir Anna. Dia kembali menelfon seseorang.


"Lakukan sesuai rencana awal. " Ucap nya lalu menutup kembali panggilan itu.

__ADS_1


Dia akan kembali menyerang. Ini sudah lebih dari sebulan, bukankah waktu untuk beristirahat sudah lewat? Ini saat nya untuk bersenang senang.


__ADS_2