
Sinar matahari pagi menembus kamar, membuat Anna membuka matanya karena terusik dengan sinar nya. Matanya menelusuri ruangan yang dirinya kenali. Benar ini adalah kamarnya. Anna ingat, tadi malam dirinya tertidur di mobil karena terlalu lelah. Tapi bagaimana dirinya bisa di kamarnya?
Saat akan beranjak, sebuah tangan besar merengkuh nya. Anna membelakan matanya kaget dan ingin menoleh sebelum suara erangan terdengar di belakangnya.
"Ini masih pagi. Tidurlah. " Gumam orang itu sambil mengeratkan rengkuhanya.
Anna mengenali suara itu. Setelah mengingat Anna pun akhirnya tersadar jika dirinya sudah menjadi istri dari seorang Xavier.
"Tidur." Suara gumaman itu membuat Anna tersadar dari lamunannya.
"Lepas X. Aku ingin ke kamar mandi. " Kata Anna sambil melepas tangan Xavier.
Tapi Xavier tak melepaskan nya. Malah semakin mengeratkan tanganya dan mencium leher Anna.
"X.! " Bentak Anna karena kaget dengan apa yang di lakukan Xavier padanya.
Xavier pun mendongak melihat Anna yang cantik walau baru bangun tidur. Wajahnya yang natural dan rambutnya acak acakan malah membuatnya sexy.
"Cantik." Ucap Xavier dengan menyingkirkan rambut Anna yang menghalangi wajahnya.
Anna mencoba menahan wajahnya agar tetap datar. Dirinya tak boleh tersipu hanya dengan gombalan Xavier di pagi hari ini. Walau tidak seperti jantungnya yang seperti lomba lari. Tapi Anna mencoba tetap datar.
Xavier mencoba maju dan mngecup bibir Anna. Anna tersentak karna ciuman itu. Segera ingin melepas tapi Xavier malah menahan tengkuk nya menekan bibir mereka, bahkan Xavier seperti kehausan. Hingga tepukan Anna yang berada didadanya menyadarkan Xavier jika Anna butuh oksigen.
Segera Xavier melepas dan mereka berdua meraup nafas bersama. Nafas mereka terengah engah dan Xavier menempelkan dahi mereka. Meresapi perasaan mereka berdua, Xavier yakin jika ini adalah awal yang bagus karena Anna membalas ciumannya.
Xavier membuka matanya dan tersenyum melihat bibir Anna yang bengkak karena dirinya. Bibir sexy itu akhirnya menjadi miliknya.
Anna pun membuka matanya dan bersitatap dengan Xavier yang juga menatapnya. Waktu terasa berhenti saat mereka bertatapan. Ada getaran di dalam hati mereka berdua.
Segera Anna tersadar dan menegakan tubuhnya. "Ehem. Aku ke kamar mandi dulu. " Ucapnya terbata bata karena gugup dan melesat pergi meninggalkan Xavier yang geli melihat gelagat Anna.
Anna langsung masuk ke kamar mandi dan menutupnya. Sambil memegang dadanya yang terus berdetak lebih cepat jika didekat Xavier.
"Kenapa denganku.? Ahhh ini gila. Tidak. Tidak boleh.! " Anna terus mengoceh dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya kepalanya harus disiram air dingin agar sadar.
***
Xavier turun dan melihat Anna yang sudah duduk di meja makan sambil memegang ponselnya. Ini adalah hari pertama mereka menjadi suami istri. Rasanya ada yang berbeda walau tak ada yang namanya malam pertama seperti pengantin lainya. Tapi Xavier merasa hangat saat melihat wajah Anna saat pagi dan malam sebelum tidur.
Xavier duduk di kursi kepala keluarga kerena memang itu adalah kursinya dan Anna tak protes. Anna pun hanya melirik dan meletakan ponselnya. Dirinya masih canggung karena ciuman Xavier tadi. Dirinya tak ingin memulai percakapan karena terlalu canggung.
Anna mengulurkan tanganya untuk mengoleskan roti untuk Xavier. Walau bagaimanapun dia adalah suaminya, jadi sebisa mungkin dirinya melaksanakan tugasnya.
"
coklat atau stroberi? " Tanya Anna tanpa menatap Xavier. Dan Xavier tahu kenapa Anna bersikap seperti itu. Dirinya menatap geli Anna yang tak menatapnya.
"Coklat." Ucap Xavier menahan senyumnya.
Anna mengoleskan selai coklat ke dalam roti Xavier dan meletakan di piringnya. Anna pun juga mengoleskan rotinya sendiri. Hingga tiba-tiba ada seseorang duduk di depan Anna.
Xavier melirik dan mengerutkan dahinya.
"Kau tinggal disini? " Tanya Xavier pada Brian yang duduk dan mengoleskan rotinya.
Brian menatap Xavier dengan datar. "Ya. Sejak Anna kembali dari New York aku sudah tinggal disini. " Ucapnya tanpa ekpresi.
"Benarkah? Kenapa aku tak melihatmu tadi malam? " Xavier mencoba mengingat semalam memang mereka tak bertemu.
Brian tak menjawab dan melanjutkan kegiatannya. Anna melihat sikap Brian dengan tatapan datarnya.
"Sudah kubilang nanas tak baik bagi perutmu. " Ucap Anna menatap Brian datar dan mengambil roti lain dan mengolesinya selai coklat. Lalu di taruhnya di piring Brian.
Xavier mengamati Anna yang perhatian pada Brian. Cara Anna memang terlalu kaku, tapi perhatian kecil seperti itu bisa membuat hati seorang pria tergerak. Dan Xavier tidak suka hal itu.
Mereka sarapan dengan hening. Tak ada percakapan dan hanya suaranya orang mengunyah saja. Setelah selesai Anna langsung berdiri dan keluar. Sebelum keluar Anna menatap Xavier.
"Kita bawa mobil sendiri sendiri. " Ucapnya lalu pergi.
"Kau tak mau pergi bersamaku? " Balas Xavier mencekal tangan Anna.
"Bukankah sudah kesepakatan jika kita harus menyembunyikan pernikahan ini? " Kata Anna mengingatkan Xavier.
"Oh ayolah Anna. Kau bisa menutupi wajahmu atau kita bisa mengatakan jika kita bertemu di jalan? " Bujuk Xavier.
"No.! Sesuai kesepakatan kita, kau dan aku tidak boleh terlihat dekat. Mengerti.! " Balas Anna langsung pergi.
Dan Xavier hanya bisa menghembuskan nafasnya karena gagal berangkat bersama. Baiklah, mungkin Xavier harga berusaha lebih keras lagi. Sekeras apapun batu jika air terus jatuh di atasnya batu itu akan berlubang juga nantinya. Semua butuh waktu dan tidak dalam sekejap.
__ADS_1
***
Anna memejamkan matanya menghalau sinar matahari yang menusuk matanya. Dirinya membolos dan sekarang berada di rooftop. Dia malas untuk masuk kelas. Dia tak peduli jika nanti ada yang memarahinya.
Seseorang berdiri di belakangnya dan menatap Anna yang tertidur di sofa yang sudah lusuh itu. Dia menghampiri dan berdiri di sampingnya, membuat sinar matahari menghalangi wajah Anna.
Anna yang merasa ada orang di depan nya pun menurunkan tangan nya dan membuka matanya. Ternyata Xavier yang datang dan menatap Anna dengan menyilangkan tangan nya di depan.
"Kenapa? " Tanya Anna dengan datar. Dia tahu pasti dia akan di omelin oleh Xavier.
"Kau membolos? "
"Aku malas X. Masuk atau tidak aku tetap pintar. " Ucap Anna bangga.
Xavier tahu jika perkataan Anna benar adanya. Tapi membolos juga akan membuat absen nya terlihat jelek. Walau Anna tak memperdulikan ya.
"Baiklah. Tapi ini sudah jam istirahat. Kau makan siang dulu. " Xavier akhirnya mengalah karena berdebat dengan Anna hanya sia-sia saja.
"Oke. " Anna beranjak dari sana untuk turun.
Saat turun dia bertemu dengan Evelyn.
"Kau pasti dari rooftop. Ya kan. Baiklah aku tak akan berkomentar, karena aku lapar " Ucap Evelyn dengan cengiranya.
Eve pun mengajak Anna ke kantin bersama Xavier yang mengikutinya dari belakang. Saat masuk kantin semua menatap Anna yang masuk bersama Xavier dan itu membuat Anna merasa risih dengan tatapan para gadis yang tak suka denganya. Walau dirinya merasa masa bodoh, tapi tetap saja itu mengganggunya.
Setelah duduk Anna, Eve dan juga Xavier memesan makanan mereka. Setelah memesan Anna menatap Xavier yang duduk disampingnya.
"Kau tak punya teman? " Tanya Anna.
Xavier mendongak menatap Anna. "Punya. Kenapa? "
"Lalu kenapa kau ada disini. Pergi sana.! " Usir Anna.
"Apa salahnya jika aku ingin makan bersamamu. " Balas Xavier dengan Nanda yang seolah memohon. Membuat Anna sedikit merasa bersalah.
Eve yang memandang kedua orang itu tersenyum geli. Anna tak pernah mengijinkan orang lain makan bersamanya kecuali dirinya dan juga Brian. Tapi Anna membiarkan Xavier duduk disamping nya, dan itu kemajuan bagi Eve yang tahu betul bagaimana sifat Anna.
"Ahh aku ingat. Brian juga tak masuk hari ini. " Ucap Eve karena teringat satu orang yang dari tadi tak terlihat.
Anna menoleh ke arah Eve mendengar Brian juga tak masuk. Tadi pagi sepertinya Brian memakai seragamnya.
Anna pun mencoba menelfon Brian tapi tak diangkat. Anna mencoba kembali tapi tetap tak di angkat. Anna gusar, Brian tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia mengingat kembali sikap Brian akhir-akhir ini yang seperti dingin padanya.
"Kau mau kemana? " Tanya Evelyn saat melihat Anna berdiri.
"Aku ada urusan. Aku pergi dulu. " Ucap Anna lalu bergegas pergi.
Xavier yang melihat itu langsung mengikuti Anna. "Kau mau kemana Anna? " Tanya nya saat melihat Anna pergi ke area parkir.
"Aku harus mencari Brian X. " Ucapnya gusar.
"Brian? Untuk apa? " Tanya Xavier heran karena Anna begitu khawatir dengan Brian.
"Brian tak pernah seperti ini. Walau tak masuk, setidaknya dia selalu mengangkat telfon ku. " Ucapnya gelisah.
Anna sampai didepan mobilnya. Saat akan membuka mobil, pintunya di tahan oleh Xavier.
"Apa yang kau lakukan?! "Bentak Anna saat pintunya di tutup kembali oleh Xavier.
" Dia laki-laki Anna. Mungkin saja dia sedang bersenang-senang dengan teman nya. Kau tak perlu khawatir seperti itu "ucap Xavier merasa tak suka jika istrinya khawatir dengan laki-laki lain.
" Astaga X.! Jangan membuat ku marah. Jika kau tak mau ikut dengan ku cukup diam disini. "Kata Anna kesal.
Baiklah, Xavier akan mengalah dan menuruti Anna. Dia ikut bersama Anna untuk mencari Brian. Anna tak tahu kemana Brian sekarang, dirinya hanya terus menelfon Brian tapi tetap tak diangkat.
" Shit.! "Umpat Anna memukul kemudian karena kesal.
Xavier melihat jika Anna frustasi sekarang.
" Coba kau telfon teman nya Anna. Mungkin mereka sedang bersamanya. "Ucap Xavier mereka beri pendapat walau berbanding terbalik dengan perasaanya yang kesal.
Anna berusaha mengingat teman Brian yang Xavier katakan. Tapi sejak Anna kembali ke Korea, Anna tak pernah melihat Brian bersama teman nya kecuali bersama dirinya dan juga Eve.
" Biasanya kemana laki-laki jika sedang frustasi? "Tanya Anna pada Xavier.
" Mungkin club. Walau aku tak pernah ke sana, tapi biasanya mereka suka kesana. "Ucapnya cuek.
" Brian belum cukup umur untuk masuk club X. Mana mungkin mereka kesana. "Balas Anna.
" Aku juga cuma mengeluarkan pendapatku. Well, mungkin area balap? "Balasnya sambil mengedikan bahunya dan menatap kesamping.
Area balap? Mungkinkah? Jika di pikir tak mungkin Brian ke sana. Walau punya motor sport, dia tak pernah melakukan hal itu. Dan bukan Brian sekali.
__ADS_1
Tapi boleh di coba, karena area balap tak harus menunjukan kartu Identitas nya. Sekumpulan anak nakal pasti kesana, tapi apakah Brian kesana?
" Baiklah, dimana tempat itu? "Putus Anna ke area balap.
" Aku tak tahu. Sebentar aku tanya teman ku dulu. "Balas Xavier menelfon teman nya yang sering kesana.
Setelah menelfon, Xavier mengatakan tempat nya pada Anna. Dan mereka meluncur ke tempat itu.
Butuh 10 menit untuk sampai ke tempat area balap. Sesampainya mereka di sana, Anna melihat banyak orang berkerubung.
" Apa yang terjadi di sana.? "Gumam Anna keluar dari mobil.
Saat Anna mau melihat kerumunan, tanganya di cekal oleh Xavier.
" Kau di sini saja. Di sana terlalu berbahaya. "Xavier mencegah Anna yang mau menghampiri kerumunan itu. Bisa saja jika ada perkelahian atau orang itu memakai senjata tajam. Xavier tak ingin istrinya terluka
" Aku harus tetap kesana X. Aku harus tahu apa yang terjadi, dan apakah Brian ada di sana atau tidak. "Kata Anna membantah perkataan Xavier.
" Kau lihat Anna, disana banyak laki-laki yang mungkin membawa senjata tajam. Kau disini saja, biar aku kesana.! "Balas Xavier menatap tajam Anna.
" Baiklah. Aku akan di sini. "Putus Anna memilih tidak kesana.
" Bagus. Aku kesana dulu. Aku akan melihat ada Brian atau tidak. "Ucapnya lalu pergi dari hadapan Anna.
Anna memantau dari jauh, saat Xavier sudah sampai Anna melihat Xavier membelah kerumunan itu dan melihat ada perkelahian diantara dua kubu.
Mata Anna memicing saat melihat siluet wajah Brian yang sedang beradu dengan salah satu orang di sana. Segera, Anna langsung menghampiri kerumunan itu.
Saat langkahnya sudah semakin dekat, Anna melihat ada seseorang yang menyerang Xavier dari arah belakang saat Xavier mencoba memisahkan Brian dan lawanya.
Anna memutar tubuhnya dan menendang wajah orang itu.
Duggg!
Bugg!
" Wuah, ternyata ada wanita cantik yang mau ikut serta rupanya. "Ucap orang yang Anna tendang.
Mendengar kata wanita, Xavier dan Brian terdiam. Diantara mereka tak ada wanita karena mereka sekumpulan anak geng motor yang tidak menerima anggota wanita kecuali untuk senang senang.
Xavier dan Brian menoleh dan melihat Anna berdiri di depan anggota yang Anna kira musuh dari Brian.
" Anna. "Gumam Brian menatap Anna yang membelakangi nya.
" Kau,.. Bukankah sudah kubilang untuk menunggu di mobil.! "Bentak Xavier.
Anna membalikan badan nya dan melihat wajah Brian yang sudah lebam. Melihat itu, Anna langsung menatap tajam Brian dengan tatapan dingin nya.
Bibir Anna sudah merapat dan giginya bergemalatuk karena emosi. Tapi dirinya tak bisa menumpahkan emosinya di sini. Waktu dan tempatnya tidak tepat. Apalagi berada di situasi seperti ini, akan membuat Brian tidak punya harga diri jika dirinya memarahi nya di sini.
" Well. Siapa leader kalian?! "Ucap Anna dengan menatap tajam Brian yang tak berkutik di depan nya.
Mereka semua melirik satu sama lain, bahkan bisik bisik karena Anna seperti menantang ketua dari geng mereka.
" Apa yang kau lakukan Anna.! "Tegur Xavier menahan emosinya.
Tapi Anna tak menggubris perkataan Xavier dan menatap semua orang di sana.
" Aku tanya di mana leader kalian.! Kalian tidak dengar.!! "Bentak Anna pada mereka dengan berteriak.
" Aku. Aku leadernya. Kenapa? "Anna menoleh dan melihat leader mereka yang bertubuh tegap dengan tato de lengannya. Anna mendengus, Anna kira leader mereka akan bertubuh gempal dan jelek. Ternyata tampan juga, walau dia memakai jaket kukis yang menutupi tatonya, tapi Anna bisa melihat jika tato itu berada di lengannya.
" Ahhh aku kira leader mereka gendut dan juga jelek, ternyata tampan juga. "Ucap Anna menilai tampilan leader mereka. Lalu menganggukan kepalanya mengaku jika laki-laki didepannya tampan juga.
Xavier dan Brian melongo melihat Anna memuji musuh nya.
Anna mendekati laki-laki itu dan berhenti dengan jarak sau jengkal saja. Anna mendongak karena tinggi laki-laki itu lumayan tinggi.
" Nama. "Kata Anna dengan menyilangkan tanganya.
" Kenapa? Kau penasaran? Heh.. Panggil saja aku michin gae. Aku leader kapak merah. "Ucapnya bangga.
Anna terlihat menahan tawanya mendengar namanya.
" Emm tidak cocok sama sekali. Kau harusnya kim gae-ddong lebih bagus. " Anna menyunggingkan senyum remeh nya seolah mengejek nya.
Laki-laki terlihat marah dan mengangkat tangan nya ke atas. Sebelum mendarat di pipi Anna, Xavier lebih dulu menahan tangan laki-laki itu dan menatapnya tajam.
"Menyentuh sedikit saja, akan kubuat kau menyesal seumur hidupmu.! " Ancam Xavier dengan mengeratkan tanganya.
***michin gae - anjing gila.
__ADS_1
*gae-ddong - kotoran kuda.