
Anna memandang Xavier dengan tatapan tak percaya. Sementara Xavier memberikan senyum mengerikan padanya. Ini bukan Xavier. Pikir Anna.
Anna mundur selangkah demi selangkah, pikiranya berkecamuk. Banyak yang Anna pikirkan tentang Xavier yang berada di hadapannya. Dan entah kenapa matanya berkaca kaca dan hatinya sakit. Seolah ada kesalahan yang ia buat hingga membuat orang yang dia cintai terluka.
Anna berbalik dan berlari keluar dari perpustakaan dengan cepat. Xavier yang melihat Anna berlari malah mengerutkan dahinya seolah tidak tahu kenapa Anna berlari darinya. Hingga tiba-tiba kepalanya sakit dan ia mengerang kesakitan.
"Arghh.. Hah hah hah.. Apa.. Apa yang terjadi? " Xavier terlihat bingung. Ia mengedarkan matanya dan melihat sekitar. Dirinya masih di perpustakaan, tapi kenapa dirinya tiba-tiba seperti hilang ingatan?
Xavier mencoba mengingat sebelumnya ia bertemu dengan Anna. Tapi Anna kemana?
Seketika saat itulah Xavier sadar jika tadi tubuhnya diambil alih oleh orang lain. Xavier segera pergi dari perpustakaan dan menuju kelasnya. Sesampainya tiba disana hanya ada Eve yang sedang duduk bersama teman nya.
"Eve kau tahu dimana Anna? " Tnya Xavier dengan nafas yang menderu.
"Tidak. Tas nya saja masih disini. Aku pikir dia bertemu dengan mu tadi. " Balas Eve.
Xavier mengacak rambutnya frustasi, dia menelfon Anna tapi hanya suara operator yang terdengar.
Tiba-tiba mereka mendengar suara decitan mobil dari luar. Mereka melihat dari jendela, Xavier pun ikut melihat dan ia melihat mobil Anna keluar dari sekolah degan kecepatan diatas rata-rata.
Xavier pun membola dan berlari keluar dari kelas menuju parkiran. Sampai di parkiran, Xavier langsung tancap gas menyusul Anna.
"Ada apa sebenarnya.? " Gumam Xavier sendiri.
Dia menatap wajahnya sendiri di spion dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan pada istriku brengsek!! " Umpat nya pada orang yang bersemayam didalam dirinya.
Xavier memukul kemudi nya dengan keras. Dia terus menelfon Anna, berharap jika istrinya itu mau mengangkatnya. Tapi, lagi lagi hanya suara operator yang ia dengar.
"Sayang, kau dimana?! Sial.!! Tidak! Tidak! Aku tak boleh berfikiran buruk. " Gumam Xavier mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ia harus berfikir dengan tenang sekarang, Kira-kira kemana Anna akan pergi. Apa dia akan pergi kerumah orang tuanya? Tidak mungkin.! Tapi patut dicoba.
Xavier akhirnya menelfon mommy nya.
"Haloo mommy, apa Anna berada disana? " Xavier berharap Anna berada disana.
"Tidak? Oh bukan apa-apa. Tidak mommy. Aku hanya.. Aku hanya ingin mengajaknya makan siang, tapi telfon nya tidak aktif. " Ucap Xavier beralasan.
"Baiklah mommy.. Xavier tutup dulu. " Ia pun menutup telfon nya dan melemparnya sembarang. Sekali lagi, Xavier memukul kemudi nya karena frustasi. Dirinya tahu kemana lagi harus mencari Anna.
Akhirnya Xavier memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk menetralkan emosinya agar bisa berfikir jernih.
Kepalanya ia rebahkan di kemudian dengan menutup matanya. Ia khawatir dengan Anna, dia belum sembuh. Ia tak ingin Anna kenpa napa. Melihat cara Anna mengemudikan mobilnya hingga ia bahkan tak bisa menyusulnya, malah semakin membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu pada Anna.
"Kau kemana sayang? " Ucap Xavier pilu.
Sementara itu di sebuah rumah mewah, Elena duduk menatap seseorang di hadapannya. Ia meletakan ponselnya di meja setelah menjawab telfon dari Xavier.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Anna? " Tanya Elena pada Anna.
Ya, Anna sudah berada di rumah Xavier sejak laki-laki itu menelfon mommy nya menanyakan keberadaan dirinya. Tapi Anna berkata jika Xavier tak boleh tahu dirinya disini. Dan Elena mengabulkan hal itu karena dirinya juga penasaran dengan menantunya itu.
Anna hanya memandang datar Elena sambil menyilangkan tanganya didepan.
"Apa yang terjadi pada Xavier? "
Elena mengerutkan dahinya karena bingung dengan pertanyaan Anna.
"Memang apa yang terjadi dengan nya sayang? " Elena benar-benar tidak tahu maksud Anna padanya.
"Jekyll, siapa? " Tanya Anna memandang tajam Elena.
Elena pun kaget mendengar nama itu disebut oleh Anna. Tangan nya tiba-tiba bergetar dan dirinya gugup. Bahkan ia sangat syok mendengar nama itu disebut oleh Anna. Nama yang bahkan sudah ia lupakan karena Elena pikir, Jekyll sudah tak pernah lagi muncul. Apa yang terjadi? Pikir Elena.
Anna melihat Elena yang gugup dan berkeringat dingin.
"Si.. Siapa .Jekyll itu sayang? " Elena menatap Anna dengan pandangan seolah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Anna. Tapi Anna buka orang bodoh yang tak tahu jika Elena berbohong.
Anna mendengus dan menyilangkan kakinya. "Sebaiknya kau katakan yang sebenarnya Elena.! "Ucap Anna.
Elena mengusap tangan nya yang berkeringat dingin. Ia bingung sekarang, apa yang akan dia katakan pada Anna? Elena yakin jika Anna bukan orang yang bisa ia bohongi dengan karangan cerita. Anna juga bukan orang yang akan menyerah begitu saja. Elena tahu itu.
__ADS_1
" Kau tak akan bercerita padaku? Baiklah, mungkin dengan caraku bisa membongkar semua ini.! "Tekan Anna.
Elena memandang Anna panik. Tidak! Jika Anna bertindak maka bukan hanya rahasia Xavier yang terungkap, tapi rahasia Anna juga. Elena sudah berjanji pada Maggie jika rahasia nya harus aman.
" Baiklah. Aku akan cerita padamu. "Ucap Elena memantapkan hatinya.
" Jangan mencoba membohongiku mrs. Andrew.! "Ucap Anna dengan memiringkan kepalanya.
" Tidak.! Aku tak akan membohongi mu. "Balas Elena.
" Baiklah. "
***
Xavier kembali kerumah Anna setelah berkeliling ke semua tempat tapi tak menemukan istrinya. Dia masuk dan bertanya pada maid disana.
"Apa Anna sudah pulang? " Tanya Xavier dengan penampilan acak acakan. Kancing atas sudah lepas dan lengan seragamnya sudah ia gulung. Bahkan rambutnya sudah tak tapi.
"Belum tuan muda. Kami belum melihat nona pulang. "Jawab maid itu dengan menundukan kepalanya.
Xavier menghembuskan nafasnya frustasi. Ia sudah tak tahu lagi harus mencari kemana. Anak buahnya sudah ia kerahkan untuk mencari keberadaan Anna. Tapi sampai sekarang belum ada informasi dari anak buahnya.
Xavier masuk dan melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Dirinya sangat takut jika Anna akan meninggalkan nya saat tahu rahasia terbesarnya. Dia tak bisa membayangkan jika Anna pergi dari hidupnya. Membayangkan nya saja sudah membuatnya sesak nafas.
"Kau.! Kenapa kau hadir.! Kenapa kau membuat hidupku hancur.! " Teriak Xavier pada dirinya sendiri.
Ia memandang wajahnya dengan tatapan tajam. Ia membenci dirinya yang seperti monster.
"Arghhh.! "
Prang.
Xavier memukul cermin itu hingga retak dengan tangan nya. Nafasnya memburu, matanya memerah bahkan tanganya berdarah. Darah itu mengalir ke sela sela jarinya. Xavier meneteskan air matanya, bukan karena darah ditangan nya, melainkan hatinya yang sakit.
Bahkan untuk bernafas saja susah rasanya bagi Xavier, hingga ia memukul dadanya dengan keras. Agar rasa sesak itu bisa keluar dari tubuhnya. Tapi hanya sia-sia, bahkan malah membuatnya semakin sakit. Hingga Xavier meraung di kamar mandi. Ia menangis untuk pertama kalinya hanya untuk Anna.
"Kembalilah sayang. Aku butuh dirimu. Kumohon. " Ucap Xavier dengan pilu.
Semua yang terjadi hari ini membuatnya pusing. Ia merenungkan apa yang Elena ceritakan padanya. Kenapa hatinya sakit? Pikir Anna mengusap dadanya.
'Apa yang sudah kau lalui X.? Apa yang kau rasakan setelah hal itu terjadi? Kenapa aku merasakan sakit yang sama seperti saat melihat ibuku melihat menderita? Kenapa harus kau? '
Anna menghembuskan nafasnya dan keluar dari mobilnya. Pantai itu sangat sepi, bahkan rumah pun tak ada disekitarnya. Anna memandang laut itu dengan datar. Rambutnya terbang hingga menutupi wajahnya. Dia berpikir apakah dirinya akan mengatakan pada Xavier jika dirinya tahu akan rahasianya? Atau dirinya akan pura pura tidak tahu.?
Atau dirinya membantu Xavier? Anna pusing dengan semua ini. Dia menutup matanya mencoba merasakan angin yang menerpa dirinya. Cukup lama ia menutup mata nya hingga matahari sudah tenggelam. Anna merasakan hawa dingin pada lengan nya.
Ia membuka matanya dan melihat jika hari sudah malam. Anna pun masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan nya. Anna keluar dari pantai itu. Saat di perjalanan ia menghidupkan ponselnya, seketika banyak notifikasi yang muncul. Kebanyakan Xavier yang menelfon hingga chat yang berkali kali menanyakan keberadaanya.
Ia menghiraukan chat Xavier dan menelfon seseorang.
"Hallo. Kau dimana? "
"Ada apa Anna? " Balas orang di sebrang sana.
"Nanti ku jelaskan. Aku tunggu di cafe biasanya. " Ucap Anna lalu memutuskan panggilan nya.
Setelah sampai di cafe, Anna masuk dan duduk di alah satu sudut yang ia anggap tak terlihat.
Setelah memesan minum, tak lama orang yang ia tunggu akhirnya datang.
"Ada apa? " Tanya orang itu langsung duduk di hadapan nya.
Anna memandang orang di hadapannya itu dengan bimbang. Haruskah? Atau dia tanya orang lain?
"Anna? Hei. " Anna terhenyak saat orang itu menjentikan tangan nya.
"Aku ingin tanya sesuatu padamu. " Ucap Anna.
"Apa? " Tanya orang itu penasaran.
Baiklah, Anna sudah yakin jika orang ini adalah orang yang tepat ia tanyai. Dan orang ini bisa ia percayai. Anna yakin jika rahasia ini tidak akan menyebar.
***
__ADS_1
Xavier duduk di tepi ranjang nya dengan menopang kepalanya. Ia menunduk sambil memejamkan matanya. Waktu sudah menunjukan pukul 23: 13 tengah malam. Dan Anna belum juga pulang.
Tangan nya yang berdarah tak ia hiraukan. Bahkan darah itu mengering dengan sendirinya. Ia juga tak mandi karena takut jika sewaktu waktu Anna pulang ia tak tahu.
Hingga ia mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Xavier membuka matanya dan membuka tirai jendela. Ia bisa melihat mobil Anna masuk. Xavier segera keluar kamar dan turun dengan terburu buru.
Ia bahkan tak memakai sendal saat keluar rumah dan berlari memeluk Anna dengan erat.
Anna yang pada saat itu keluar dari mobil kaget dengan Xavier yang tiba-tiba memeluknya. Anna bisa merasakan nafas Xavier yang memburu dan pelukan nya yang erat sekali. Bahkan Anna sampai merasakan sesak.
"Ada apa x? " Tanya Anna pura-pura tak tahu dengan keadaan Xavier.
Tapi Xavier tak menjawab dan terus memeluk erat Anna. Hingga Anna merasakan bahu Xavier bergetar dan bahunya basah. Hingga terdengar isakan Xavier yang memilukan.
Hatinya bergetar mendengar tangisan Xavier yang menyakitkan. Air matanya ikut menetes, menyesal karena membuat Xavier begitu kesakitan. Ia meminta maaf dalam hati karena membuatnya seperti ini.
Anna membalas pelukan itu dan mengusap punggung Xavier dengan lembut. Ia mencoba untuk mengendalikan hatinya. Ia tak boleh terlihat mengasihani Xavier. Karena ia tahu, itu adalah hal yang Xavier benci.
"Ada apa X? Kau kenapa? " Tanya Anna lagi dengan lembut.
Anna mengusap matanya yang berair agar Xavier tak tahu ia menangis. Tak ada yang bersuara, mereka terus berpelukan hingga Xavier reda tangisan nya.
Laki-laki itu merenggangkan pelukan nya dan menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu nya.
"Jangan pergi.! Jangan pergi Anna.! " Ucap Xavier lirih sambil mengusap wajah istrinya dengan lembut.
Anna menatap wajah Xavier dengan pilu. Wajahnya berantakan. Anna bisa melihat jika wajah Xavier terlihat frustasi. Matanya merah dan hidung nya juga. Berapa lama ia menangis? Pikir Anna.
Bahkan gurat lelah juga terlihat di wajah Xavier. Anna menatap tubuh Xavier yang masih sama seperti tadi pagi. Itu artinya Xavier bahkan belum membersihkan dirinya. Ada rasa yang menyakitkan yang susah Anna jelaskan saat melihat Xavier begitu kacau.
Apa begitu besar dampak yang ia buat? Pikir Anna.
"Tidak X. Aku tak akan meninggalkan mu.! " Balas Anna menatap Xavier dengan senyum.
Xavier kembali memeluk Anna dengan erat. Mereka kembali berpelukan saling menyalurkan kerinduan. Xavier lega karena Anna kembali padanya. Dan Anna, entahlah apa yang ia rasakan sekarang. Ia peduli dengan Xavier tapi cinta? Akankah? Walau Anna akui jika dekat dengan Xavier membuatnya nyaman dan damai.
"Sudah, kita masuk. Diluar dingin X. " Ucap Anna memutuskan pelukan mereka.
Xavier pun melepas pelukan nya dan memegang tangan Anna. "Kau kedinginan? " Tanya Xavier menatap tangan Anna dan mendongak tersenyum pada Anna.
"Em. Di luar dingin sekali. " Ucap Anna mengedikan bahunya.
Xavier memegang tangan Anna yang satunya dan di tangkupkan jadi satu. Dan Xavier menggosok tangan nya lalu menyalurkan pada Anna.
Perhatian tersebut tak Anna lewatkan. Anna merasa hangat, tapi saat melihat tangan Xavier yang berdarah membuatnya kaget.
"X ada apa dengan tangan mu? " Tanya Anna khawatir. Ia memegang tangan Xavier dan melihat jika darah itu sudah membeku. Itu artinya luka ini sudah lama. Tapi kenapa Xavier tak mengobatinya.
"Bukan apa-apa. " Ucap Xavier menarik tangan nya lalu menyembunyikan nya di belakang tubuhnya.
"Apa? Itu jelas berdarah X.! Jangan membodohi ku.! " Ucap Anna kesal.
Anna mencoba menarik tangan Xavier, tapi pandangan nya malah tertuju pada kaki Xavier yang tidak memakai alas kaki. Di cuaca dingin ini, bagaimana bisa laki-laki itu tak memakai alas kaki saat keluar?
Apa karena dirinya? Memikirkan hal itu, membuat Anna kembali merasakan kesakitan. Apa yang ada dipikiran Xavier? Kenapa dia begitu kacau hanya ia tinggal beberapa jam saja.
Xavier menunduk melihat Anna yang menatap kaki nya. Ia berdehem " Ahh aku lupa meletakan sendalnya dimana. "Ucap Xavier alasan.
Tapi Anna tahu jika itu hanya alasan. Jelas jika alas kaki selalu ada kamar mereka. Xavier yang tak mendengar Anna membalas membuatnya khawatir, ia pun segera menarik Anna masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, Anna langsung mendudukan tubuh Xavier.
"Kau duduk dulu. Aku ambil kotak nya. " Ucapanya
"Tak perlu Anna. " Cegah Xavier memegang tangan Anna yang akan pergi.
"Aku BILANG DUDUK X.! " Teriak Anna frustasi. Anna bingung, ia kesal dengan Xavier yang begitu bodoh menunggunya hingga tak memperhatikan kondisi tubuhnya.
Matanya berair dan nafasnya memburu. Ia menatap tajam Xavier yang juga menatapnya dengan syok. Xavier terbiasa dengan Anna yang kesal atau berteriak padanya. Tapi ia sekarang melihat Anna yang menangis. Ada apa? Pikir Xavier.
Anna melepas tangan Xavier dan keluar dari kamar. Anna bersandar di pintu dengan tangis nya. Dadanya sesak memikirkan jika suatu saat ia meninggalkan Xavier, apa yang akan terjadi pada laki-laki itu?
Sedangkan Xavier menundukan kepalanya di dalam kamar. Ia harus memikirkan rencana agar Anna tak bisa pergi darinya. Dirinya tak sanggup jika Anna meninggalkan nya.
__ADS_1