
Sudah seminggu rasanya Ana berada di Galaxy School dan Ana belum melaksanakan misi untuk membuat wanita perusak hidupnya menderita. Tapi cukup puas karena semua murid sudah mengetahui jika dirinya adalah anak pemilik sekolah ini. Jadi banyak yang segan padanya dan ingin berteman padanya. Hanya saja Ana yang tidak suka dengan penjilat seperti mereka yang suka bebicara manis didepannya tapi busuk dibelakangnya.
Seminggu ini juga sikap Xavier --laki-laki itu sedikit berubah. Entah karena apa Ana tak tahu, hanya saja Ana merasakan jika Xavier sedikit perhatian padanya. Tapi jangan harap jika Ana akan luluh hanya dengan perhatian kecil seperti itu. Bagi Ana, laki-laki seperti Xavier hanya pria brengsek yang bersembunyi dibalik wajah tampannya itu.
'Apa dia bilang Xavier tampan?? Astaga. Aku pasti sudah gila.!! '
Brakkkk
Seseorang mengebrak meja Ana saat dirinya masih termenung di dalam kelas. Ana menatap tangan yang sudah berada tepat di depan nya dan mendongak melihat siapa pemilik tangan yang sudah kurang ajar membuatnya emosi.
Gadis pembuat onar itu lagi. Dan yah, dia bersama dengan dua budaknya yang selalu berada disisinya. Ana menatap wajah yang menurut Ana sedang mengeram marah. Dan Ana hanya menanggapi dengan menaikkan alisnya tanpa mau berbicara.
"Jangan karena kau anak pemilik sekolah ini, kau bisa seenaknya. Posisimu hanya sebagai anak pemilik sekolah, sedangkan aku? Aku anak donatur terbesar sekolah ini. Jika aku mau, aku bisa membuat sekolah ini tutup sekarang juga!! " Ucap Cha Eun Jae menahan amarah.
Ana masih bergeming saat tangan gadis itu menunjuk wajahnya. Bahkan Ana menyandarkan punggung dan melipat tanganya. Ana tak pernah takut hal apapun didunia ini. Hanya satu yang dia takutkan. Ditinggalkan oleh ibunya. Itu adalah mimpi buruk yang mengerikan.
Melihat lawanya hanya bergeming membuat Eun Jae mengeram marah. Rasanya dia ingin menjambak rambut pirang Ana dan membuat wajahnya rusak.
"Apa kau tidak mendengarkanku?! Atau kau bisu?! "
"Apa kau bisa? "
Eun Jae mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Ana.
"Apa maksudmu? "
"Kau tadi berkata jika kau bisa saja menutup sekolah ini bukan? Aku ingin melihatnya. Bisa kau buktikan ucapanmu itu? "
"Jangan meremehkan ku. Kau tak tahu siapa aku sebenarnya. "
"Oh ya? Dan aku tak peduli sama sekali. Jangan hanya berkata omong kosong didepanku. Aku muak dengan orang yang suka berkata omong kosong. Aku tunggu ucapanmu itu. " Ucap Ana dengan santai.
"Kau! "
"Sebenarnya apa yang membuatmu suka berurusan denganku? Seperti nya aku tak pernah mengganggumu. Namamu saja aku tak tahu. "Ucap Ana memicingkan matanya.
" Apa?! Kau! Astaga!!! Kau benar-benar membuatku darah tinggi. "
Eun Jae rasanya ingin melempar Ana keruang angkasa karena ucapnya tadi. Eun Jae begitu famous, tapi Ana tak tahu namanya.? OMG!!
"Ada hubungan apa kau sebenarnya dengan Xavier? Hah! "
Ana mengerutkan keningnya mendengar nama Xavier. Apa hubungan nya dengan gadis ini?
"Apa hubungannya denganmu? Kau pacarnya? " Tanya Ana balik.
"Semua orang juga tahu jika Eun Jae menyukai Xavier. " Ucap salah satu budaknya.
"Diem! " Bentak Eun Jae.
"Ahhhh jadi kau menyukai batu es itu. "
'Batu es? ' Eun Jae mengerutkan keningnya mendengar panggilan Ana pada Xavier.
"Dengar ya nona berambut merah--"
"Siapa yang kau bilang 'nona berambut merah? "
"Kau. Lihat dirimu nona. Rambutmu merah bukan? Aku tak tahu namamu, dan aku tak mau tahu jadi aku panggil kau 'nona berambut merah' right. Jika kau menyukai si es batu itu, silahkan. Aku dan dirinya tak mempunyai hubungan apapun. Jelas?! Jadi jangan ganggu aku lagi. Pergi sana!! " Usir Ana.
Sejujurnya Ana merasa jengkel karena harus berbicara panjang lebar dengan gadis pembuat onar ini. Tapi mau bagaimna lagi, jika itu perlu untuk membuatnya pergi dari hadapannya. Mungkin Ana harus menambah energinya.
Dan kemana sebenarnya Evelyn dan Brian yang dari tadi tidak kembali dari kantin. Memang dua orang itu selalu membuat Ana naik darah.
"Awas saja jika kau merebut Xavier dariku. Akan kupastikan hidupmu akan hancur! " Ancam Eun Jae.
Mata mereka bertemu dan berkilat. Ana pun memasang wajah datarnya, tentu Ana tahu jika apa yang diucapkan oleh gadis itu tak main main dan Ana akan dengan senang hati menerima tantangan itu.
Selepas perginya ketiga ondel ondel yang membuat sakit mata untuk Anna pergi, Ana pun masih bergeming dan berfikir. Jika Eun Jae bisa dia jadikan alat untuk membuat seseorang marah.
Beberapa menit setelahnya, Evelyn dan Brian datang membawa hot dog dan juga minuman.
"Aku melihat Eun Jae dan pembantunya pergi dari kelas ini. Apa mereka mendatangimu? " Tanya Evelyn saat menyerahkan hot dog dan juga minuman di depan Ana.
__ADS_1
Brian pun ikut duduk disamping Anna dan membuka hot dog itu agar Anna memakannya.
"Yah. Aku mendapat ancaman darinya. " Ucap Anna santai sambil memakan hot dog.
"Ancaman? "
Brian dan Evelyn saling pandang dan mengerutkan dahinya saat mendengar kata ancaman dari mulut Anna.
"Dia mengancam apa Anna? " Kali ini yang bertanya adalah Brian.
"Dia mengancam ku agar aku menjauh dari batu es. " Ucap Anna.
"Maksudmu Xavier? " Tanya Evelyn mendengar julukan baru es itu untuk Xavier.
Dan Anna menjawab hanya dengan gumaman.
"Bukankah kau dengan Xavier mempunyai hubungan? Bagaimana kau menjauh dari Xavier? " Ucap Evelyn bingung.
Mendengar itu membuat Brian kembali mengingat saat Anna menjelaskan padanya waktu itu.
*Flasback.
Mereka berdua sekarang sudah berada dirumah Anna. Brian menghadap ke arah Anna untuk meminta penjelasan tentang hubungan nya dengan Xavier.
"Oke baiklah. Jangan menatap ku seperti itu. " Ucap Anna menggerutu karena di tatap tajam oleh Brian. Mungkin jika Anna di tatap tajam oleh daddy nya mungkin dirinya tak akan terpengaruh. Tapi berbeda jika orang itu adalah orang yang Anna sayangi.
"Jadi sebenarnya aku dan Xavier itu dijodohkan... "
"APA?! DIJODOHKAN?! "
Dan Anna hanya bisa menganggukan kepalanya melihat Brian syok saat mendegar penjelasanya.
"Dan kau menerimanya? " Tanya Brian.
"Lalu? Aku harus apa? Aku sudah mencoba menolak. Kau tahu bagaimana pria tua itu berlaku padaku. " Ucap Anna menjelaskan jika dirinya juga sudah berusaha menolak. Tapi pri tua yang enggan dia sebut daddy itu membuatnya harus mengikuti perintahnya. Dan mau tidak mau, Anna harus mau dijodohkan dengan batu es itu.
"Apakah Xavier juga menerima perjodohan ini? " Tanya Brian penasaran.
"Awalnya dia juga menolak sama sepertiku. Tapi dia juga tidak bisa melawan orang tuanya. Cih! Laki-laki seperti itu memang lemah! " Ucap Anna sambil mengumpat karena Xavier --laki-laki itu juga tidak mempunyai kekuatan untuk melawan orang tuanya.
"Tidak! Kami memilki perjanjian jika kita hanya mengikuti perjodohan ini, tapi kami seperti dia orang tak kenal. Tak boleh mengurusi urusan pribadi kami masing-masing. Dan masing-masing dari kami boleh jika harus memiliki pasangan. " Ucap Anna.
Dan itu sukses membuat Brian menganga. Perjodohan macam apa ini. Dua orang ini tidak setuju dengan perjodohan tapi tetap mau mengikuti keputusan orang tua mereka. Dan yang lebih aneh lagi, dua orang ini saling bertolak belakang. Tapi itu sukses membuat Brian diselimuti rasa aman. Karena Anna tak menyukai Xavier dan Xavier sepertinya juga sama. Walau perjodohan itu tetap terlaksana tapi Brian tak akan berhenti.
Bagi Brian, Ana atau tidak sama sekali. Dan itu hal yang mutlak bagi seorang Brian*.
***
Hari ini mood Xavier sedang kacau. Mommy nya tadi pagi berpesan jika nanti sepulang dari sekolah, Xavier harus membawa Anna ke rumah mereka. Mommy nya itu ingin bertemu dan berbincang dengan calon menantunya.
Huftt. Mendengar kata calon menantu membuat Xavier hampir muntah. Xavier benar-benar tidak percaya jika orang tuanya benar-benar menjodohkan nya dengan gadis kutub itu.
Walau sebenarnya lucu juga jika Xavier mengatakan jika Anna adalah gadis kutub, sedangkan dirinya sendiri juga seperti kutub. Tapi bukan tanpa alasan Xavier bersikap seperti itu pada semua orang. Hanya pada orang tuanya--tidak hanya pada mommy nya saja dia hangat. Bagi Xavier, ayahnya adalah orang yang selalu mengatur semua hal yang bersangkutan denganya. Dan Xavier sangat tidak menyukai nya. Bagi nya hidupnya adalah kehendaknya. Bukan kehendak orang lain. Yang menjalani semua adalah dirinya, jadi orang lain tidak berhak ikut campur.
Walau sekuat apapaun Xavier mencoba berontak, semua tak ada yang berubah. Xavier akan selalu kalah dengan ayahnya. Karena ayahnya tahu kelemahan Xavier jika dirinya tak mau menuruti semua perkataan ayahnya.
Dan disinilah Xavier sekarang. Setelah bel pulang berbunyi, Xavier sudah berada disamping mobil nya dengan bersender menatap orang-orang yang sedang keluar dari kelas. Matanya terus mengawasi orang-orang yang pergi menuju parkiran. Dan Xavier menemukan orang yang sedari tadi dia incar. Siapa lagi jika bukan Anna.
Xavier pun berjalan berlawanan dengan Anna dan berhenti didepannya.
"Kau pulang bersamaku! " Ucap Xavier datar.
Anna pun yang tiba tiba dihadang oleh Xavier merasa aneh. Karena setelah pembahasan tentang perjodohan sialan itu, mereka tak pernah berbicara lagi. Dan ini baru pertama kali nya Xavier berbicara dengannya. Walau mereka sekelas, tapi interaksi mereka tidak ada.
"Aku bawa mobil sendiri. Sorry! " Ucap Anna santai lalu berjalan melewati Xavier.
Xavier yang merasa ditolak pun mengeram marah, karena baru kali dirinya ditolak. Jika Xavier mau, Xavier bisa mengajak gadis lain hanya dengan satu kedipan mata saja. Tapi Anna, gadis itu sangat susah sekali. Dan bagi Xavier, ini sangat menantang.
Xavier pun mencekal tangan Anna saat Anna sudah melewatinya.
"Kau tak punya pilihan. Mobilmu bisa diambil nanti oleh supirku" Ucap Xavier menatap tajam Anna.
Anna pun menyeringai melihat Xavier begitu gigih.
__ADS_1
"Well. Katakan sejujurnya X. " Ucap Anna memanggil Xavier dengan sebutan X. Anna tak sengaja membuat panggilan itu. Hanya saja, bagi Anna sangat susah jika memanggil Xavier dengan namanya. Jadi Anna memanggil nya X.
Dan Xavier, merasa aneh dengan panggilan itu. Dua kali dirinya mendengar Anna memanggilnya seperti itu. Pertama saat di restoran itu dan kedua adalah sekarang. Walau aneh, tapi entah kenapa Xavier menyukai panggilan itu.
"Okay. Mommy ingin bertemu denganmu. Dan aku disuruh mengantarkanmu. Atau lebih tepatnya menjadi supir mu. " Ucap Xavier sambil melepaskan tangan Anna.
"Okay. Katakan sedari tadi. Kita bisa kerumahmu bersama, tanpa satu mobil. Kau bisa berkata pada mommy ku jika aku membawa mobil sendiri, karena itu sudah terbiasa. "
Xavier pun tercengang mendengar penuturan Anna tadi. Benar. Kenapa tidak sedari tadi dia memikirkan jalan itu. Kenapa harus satu mobil? Astaga. Otak Xavier sepertinya sedang konslet.
Dengan cepat Xavier mengubah wajahnya seperti tadi. Dirinya tak ingin terlihat konyol didepan Anna. Bisa di bully dirinya jika itu terjadi.
"Ehem.. Baiklah. Jika itu maumu. Kita bisa pergi bersama. " Ucap Xavier menetralkan suaranya.
Setelahnya Xavier langsung berbalik dan berjalan-lebih tepatnya berlari -ke arah mobilnya dan masuk.
"Ada apa? "
Suara Brian membuat Anna menghilangkan senyum kecilnya yang tadi terbit karena kelakuan Xavier yang menurutnya lucu.
"Tidak. Bukan apa apa. Oh ya, aku akan pergi ke rumah orang tuanya Xavier. Ibunya ingin bertemu dengan ku. Kau bisa pulang dulu Brian. "
"What? Kerumah Xavier? Aku boleh ikut? "
"No. Kau pulang. Aku aman bersama nya. "
"Benarkah? Aku ragu akan hal itu. " Ucap Brian meremehkan membuat Anna melirik Brian kesal.
"Kau tidak mempercayaiku? "
Brian kelabakan karena lirikan sinis Anna yang dia dapatkan.
"Bukan. Bukan itu maksudku. Aku ragu dengan Xavier, bukan kau. " Ucap Brian meralatnya agar Anna tidak marah. Brian tahu jika Anna tidak suka diremehkan.
Anna pun hanya mendengus dan pergi dari hadapan Brian.
***
Sesampainya di rumah Xavier, Anna dan Xavier pun masuk bersama. Di dalam rumah yang bergaya Eropa dan klasik ini membuat Anna merasa di Eropa. Sesaat setelah masuk, Anna langsung di sambut oleh mommy nya Xavier.
"Kau datang honey. " Sambut mommy Xavier lalu mencium pipi kanan kiri Anna.
"Yah mom. " Ucap Anna. Anna memutuskan untuk memanggil orang tua Xavier seperti orang tuanya. Karena bagaimana pun nantinya mereka akan menjadi keluarganya.
"Masuklah. Mommy sedang buat makan siang untuk kalian. " Ucap sang mommy.
Anna pun masuk sedang Xavier, dia pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Anna yang tidak mempunyai kegiatan lain akhirnya pergi ke dapur untuk membantu mommy nya Xavier.
"Ada yang bisa aku bantu,mom? " Tanya Anna saat melihat mommy nya Xavier sedang meracik sesuatu.
Elena-mommy Xavier menoleh dan tersenyum melihat Anna yang menghampirinya.
"No. Kau bisa duduk di pantry itu dan melihatku masak sayang. Mommy tidak akan membiarkanmu masak. Oke. " Ucap Elena.
Anna pun hanya mengedikan bahunya setelah di tolak oleh mommy. Duduk di pantry sambil melihat sekitar, Anna bisa melihat di sudut kirinya ada sebuah taman yang luas. Mungkin taman itu di gunakan saat sore menjelang malam.
Saat Anna pergi ke dapur, dia melihat ada piano di ruang tengah. Mungkin juga itu salah satu hobi keluarga ini jika berkumpul.
Memikirkan berkumpul keluarga Xavier membuat Anna teringat keluarga nya sendiri. Dengan senyum miris, Anna membayangkan keluarga bahagia itu. Tepatnya 7 tahun yang lalu. Sebelum badai datang mengacaukan keluarganya.
Anna dan orang tuanya sering berkumpul di ruang tengah dan bercerita apa yang mereka lewati hari itu. Sambil tertawa bahagia, saling menggoda satu sama lain membuat hati Anna hangat mengingat hal itu. Tapi itu semua sudah musnah.
Yang ada hanya ruang tengah yang di isi oleh mommy nya yang duduk di kursi roda mengabaikan dunia yang sudah membuatnya seperti ini. Rumah yang dulunya hangat dan nyaman itu berubah menjadi dingin dan kosong.
Lamunan Anna buyar saat Elena memanggilnya.
"Honey. Hei. Kau tak apa? " Tanya Elena khawatir.
Dengan mengerjapkan matanya Anna pun hanya tersenyum canggung karena ketahuan melamun.
"I'm fine mom. "
Elena pun hanya menganggukan kepalanya. Memaklumi Anna yang tidak ingin bercerita padanya. Elena tahu apa yang membuat Anna melamun seperti itu.
__ADS_1
David, Andrew, Maggie dan dirinya sudah bersabar lama. Jadi Elena tahu apa yang berada dipikiran Anna. Jika bukan tentang keluarga nya. Memang cukup rumit masalah yang mereka hadapi, dan mungkin akan lebih sulit lagi jika semua terungkap. Rahasia yang selama ini mereka tutupi rapat rapat akankah terungkap? Atau akan tertutup selamanya?