
David dan Maggie langsung menuju rumah sakit saat mendengar putrinya mengalami petaka. Mereka khawatir pada putrinya. Setelah sampai, mereka langsung bergegas ke ruangan Anna dan melihat kondisi putrinya.
Maggie menutup mulutnya dan berkaca kaca matanya. Melihat kondisi putrinya yang mengenaskan membuat ulu hatinya terhantam kuat.
"Apa... Apa yang terjadi Xavier? Apa yang terjadi pada putriku.! " Tanya Maggie berteriak frustasi pada Xavier.
David mencoba menenangkan maggie dan keluar dari ruangan itu. Dia tak ingin membuat kegaduhan di ruangan putrinya.
"Tenang sayang. Kita dirumah sakit. Kau tak boleh berteriak seperti itu. Kasihan Anna. " Ucap David mengusap punggung istrinya.
"Putriku David. Putriku. Kau lihat, putriku wajahnya penuh lebam dan kepalanya di perban. Apa yang terjadi David. Apa nyang terjadi? Kenapa aku tak bisa melindunginya. Aku ibu yang jahat. " Maggie terus meracau menyalahkan dirinya karena tak ada di tempat kejadian.
"Ini bukan salahmu. Hei, lihat aku. Ini bukan salahmu sayang. Jangan menyalahkan dirimu seperti ini. Aku tak suka. " Ucap David mengusap wajah Maggie dengan sayang.
"Jika saja aku tadi ada di sekolah, ini pasti tak akan terjadi, jika saja aku tak keluar ini semua pasti tidak akan terjadi David. " Ucap Maggie yang masih menyalahkan dirinya.
"Ini sudah takdir Maggie. Kau tak bisa menghentikan takdir apa yang akan terjadi nantinya. Kita hanya manusia biasa. " Ucap David mengingatkan Maggie.
Maggie terus menangis dalam pelukan David. Sedangkan Xavier tergugu di samping ranjang Anna dengan tatapan kosong.
Matanya mendongak menatap Anna dengan lembut. Tanganya mengusap wajah Anna dengan hati hati. Hingga matanya tertuju pada bibir Anna yang terluka. Seketika darah Xavier terasa mendidih saat membayangkan bagaimana Anna mendapatkan luka itu.
Rahang nya mengeras dan giginya bergemalatuk karena menahan amarah.
"Apa yang terjadi Xavier? " Suara bariton di belakang nya membuat Xavier menoleh.
Xavier berdiri dan menatap orang itu.
"Bantu aku, daddy.! " Pinta Xavier penuh penekanan.
Andrew menatap putranya. Dia tak pernah melihat Xavier begitu mengerikan seperti ini. Apa yang ada di pikiran putranya itu, membuatnya merinding.
"Apa yang bisa daddy bantu? " Tanya Andrew.
"Hanya bantuan kecil. " Ucap Xavier dengan datar.
Xavier sudah memikirkan bagaimana memberikan pelajaran pada mereka yang sudah membuat Anna seperti ini. Mereka sudah membangkitkan iblis yang ada di dalam diri Xavier. Jadi, jangan salahkan dirinya jika mereka akan mendapatkan hadiah kecil darinya.
***
Xavier memasuki ruangan Anna dan melihat istrinya masih terbaring di ranjang dengan lemah. Membuka mantelnya dan menyampirkanya di sofa, Xavier ingin menghampiri Anna tapi sebelum itu dirinya harus membersihkan tangan nya terlebih dahulu.
Xavier memasuki kamar mandi dan membasuh tangan nya, ada luka di tangannya. Dia memandang tanganya dengan datar dan membasuh nya. Tak ada rasa perih yang dia rasakan. Bahkan hatinya terasa hampa dan kosong.
Setelah membasuh tangan, dirinya membasuh muka dan menatap cermin didepan nya. Kilasan ingatan yang tiba-tiba datang dalam pikiran Xavier membuatnya mengeram.
Apapun yang menjadi miliku, tak ada yang boleh menyentuhnya. Tak akan kubiarkan orang-orang itu hidup Anna. Kau tak akan pergi dariku, malaikat maut pun tak akan kubiarkan mengambilmu dariku. Tak akan pernah.!
Tanganya mencengkram wastafel dengan kuat. Matanya menatap wajahnya dengan tajam. Hingga seringaian itu muncul di wajahnya. Senyum mengerikan yang sudah lama tak muncul.
"Hallo Jekyll. Lama tak bertemu. " Dengan senyum mengerikan, Xavier berbicara pada dirinya sendiri.
Hingga matanya tiba-tiba berubah lebih pekat, menandakan ada seseorang yang mendiami tubuh Xavier.
"Sudah lama sekali kau tak memanggilku. Dan yah, aku menikmati sajian yang kau berikan padaku. " Suara itu berasal dari Xavier, tapi dengan nada tenang dan berat.
"Yah, hadiah untuk mu. Sekarang kembalilah. Aku ingin bersama istriku. " Ucap Xavier cuek.
Jekyll merasa kesal. "Dia juga istriku bukan? Kita satu tubuh. Aku juga bisa merasakan nya" Dengus Jekyll.
"Sial.! Dia istriku. Sekarang kembali lah.! " Umpat Xavier.
"Baiklah. Tapi jika ada hadiah lagi panggil aku. " Ucap Jekyll lalu menutup matanya.
Saat membuka, mata Xavier kembali seperti semula. Wajahnya tetap datar. Setelahnya dia keluar dari kamar mandi dan duduk disamping istrinya.
Mengusap pelan tangan yang dingin itu dengan lembut lalu mengecupnya. Menempelkan nya di pipi dan menoleh menatap wajah istrinya yang lelap.
"Kenapa lama sekali kau bangun Anna? Aku sungguh merindukanmu. Aku merindukan matamu yang indah itu, omelan mu dan juga sikapmu. Bangunlah dan kita bertengkar seperti dulu. " Xavier mengusap wajah Anna dengan hati-hati seolah dirinya takut jika mengenai alat yang tertempel di tubuh istrinya.
Lagi-lagi air matanya tak bisa dia bendung. Kelemahan nya ada pada Anna. Apapun yang Anna lakukan pasti akan terasa bagi Xavier.
"Kumohon, kembalilah. Kumohon. Aku mencintaimu Anna. " Pinta Xavier putus asa.
Isak tangis nya membuat dadanya terasa sesak. Xavier bahkan sampai memukul dadanya agar tak terasa sesak.
Hingga akhirnya dirinya tertidur dengan tangan Anna yang dia dekap dengan erat. Dia takut jika saat dia bangun nanti, Anna akan menghilang.
***
__ADS_1
Anna merasa badan nya kaku dan kebas. Dia ingin membuka matanya, tapi terasa berat sekali. Bahkan tangan nya juga susah untuk dia gerakan.
Anna mencoba kembali, dengan sekuat tenaga Anna mencoba menggerakan apapun yang bisa dia gerakan pada tubuhnya.
Hingga tangan nya bisa bergerak walau sedikit. Tapi itu membuat orang yang tidur mendekap tangan nya menjadi bangun.
"Anna. Anna. Kau sudah sadar? Anna kau dengar aku? "
Suara itu Anna kenal, itu suara Xavier. Anna semakin semangat untuk membuka matanya. Sedikit demi sedikit matanya bisa terbuka. Walau sedikit rabun tapi lama kelamaan pandangan nya jelas. Hingga dia bisa melihat Xavier yang terlihat khawatir dan lega saat melihatnya.
"Oh Tuhan. Kau sadar Anna. Sebentar aku panggilkan dokter. " Xavier langsung keluar dan berlari.
Anna menatap langit-langit, dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Kilasan itu membuat kepalanya sakit hingga dia menggerang.
Suara nya tak bisa keluar, dia merasa ada yang masuk ke dalam tenggorokan nya. Hingga dokter tiba bersama perawat dan juga Xavier.
Dokter memeriksanya dengan hati-hati. Dirinya tak mau menjadi amukan Xavier lagi.
"Syukur lah, nona Anna sudah sadar. Nona baik-baik saja. Tapi setelah ini, nona masih harus kita periksa MRI untuk cedera kepalanya. " Ucap dokter itu.
Xavier hanya menganggukan kepalanya. Dia tetap berada disamping Anna dengan menggenggam tangannya.
Anna ingin berbicara, tapi suara nya tak bisa keluar, dan itu terlihat oleh Xavier. Dokter itu pun juga melihat dan mencopot alat pernafasan nya.
"Baiklah, saya akan melepaskan alat ini. Nona tarik nafas ya, saat saya mencopot alat ini, nona harus menghembuskan nafas nona lewat mulut. Oke. Siap. " Dokter itu bersiap untuk mencabut alat yang berada di tenggorokan.
Hingga saat alat itu lepas dari kerongkongan nya, Anna batuk hebat. Xavier tentu panik dan mencengkram kerja dokter itu.
"Apa yang kau lakukan brengsek.! " Bentak Xavier menatap dokter itu dengan tajam.
Dokter itu ketakutan, jelas karena Anna batuk hebat. Tapi itu memang prosedurnya. Dan itu tak apa apa.
"X sudah. Aku tak apa. " Ucap Anna serak mencoba melerai Xavier dengan dokter itu.
Xavier melepas kerah dokter itu dan mengusap wajah Anna.
"Kau tak apa? " Tanyanya khawatir.
"Aku baik baik saja. Aku butuh air. " Balasnya lemah.
Xavier langsung memberikan air pada Anna dengan pelan pelan. Setelah meminumnya Anna merasa lega.
"Apakah... Apakah nona mengeluh sesuatu? " Tanya dokter itu terbata bata.
"Tidak. Hanya sedikit pusing. " Ucap Anna lirih.
"Kau membuatnya takut X. " Ucap Anna pada Xavier yang tidak di pedulikan oleh laki-laki itu.
"Aku tak peduli. " Ucapnya cuek. Matanya terus mengawasi Anna.
Tiba-tiba Xavier memeluknya, kepalanya ia sandarkan di bahu Anna.
"Jangan seperti ini Anna. Kau tak tahu bagaimana aku melewati hal berat ini. Aku bisa gila. Kumohon. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu. Sangat." Pinta Xavier dengan Nada bergetar.
Anna terpaku mendengar ucapan Xavier yang menahan tangisnya. Bahunya terasa basah dan bahu Xavier bergetar.
Mata Anna berkaca kaca, tak pernah ada yang bisa membuat hatinya bergetar seperti ini. Dan Xavier adalah orang pertama yang mengetuk pintu hati Anna.
Anna mengusap lengan Xavier yang mengungkung nya. Walau pelukan itu tidak erat, tapi Anna merasa hangat.
"Baiklah. Aku tak akan pergi. Kau puas? " Jawab Anna dengan pelan.
Xavier tak menjawab, hanya nafasnya yang tercekat karena menahan tangisnya.
"Keluarkan semua X. Jangan menahan nya. Kau akan sesak nanti. " Anna tahu jika Xavier menahan tangisnya karena malu. Tapi Anna ingin dia mengeluarkan semuanya.
Seketika itu Xavier langsung menangis dengan kencang, menutupnya dengan bantal hingga tak terdengar dari luar.
Anna hanya menepuk lengan Xavier dengan lembut. Dia bisa merasakan perasaan Xavier padanya, tapi apakah dirinya juga mempunyai perasaan yang sama? Dia merasa bersalah karena membuat Xavier seperti ini.
Walau berada di samping Xavier terasa lebih nyaman dan hangat. Tapi, apakah itu dinamakan cinta?
Hinggaentah berapa jam Xavier menangis sampai orang tua mereka yang berada di luar tersenyum maklum.
Berbeda dengan Andrew dan Elena, mereka seling tatap. Putra mereka tak pernah menangis seperti ini. Dan ini pertama kalinya Xavier menangis hebat.
***
Kondisi Anna sudah stabil, bahkan tadi hasil MRI nya baik-baik saja. Dan itu membuat Anna lega. Sekarang Anna sedang bersandar di ranjang rumah sakit yang bahkan seperti ranjang di rumahnya.
Anna tak perlu bertanya, karena sudah pasti Xavier yang memintanya. Seperti sekarang, laki-laki itu sedang mengupas apel untuknya.
"Kau tak masuk kelas? " Tanya Anna basa basi.
Dirinya bosan walau baru dia hari dirinya di rumah sakit. Setelah dirinya sadar, Eve dan Brian langsung menemuinya. Tapi hanya sebentar karena dokter mengatakan untuk lebih banyak istirahat. Dan Xavier juga menyetujui hal itu.
__ADS_1
Walau harus mendengar gerutuan Eve karena waktunya bertemu denganya di batasi.
"Tidak. Masuk tau tidak aku tetap pintar. " Ucap Xavier bangga.
Anna mengerutkan kening nya, seolah kata-kata itu pernah ia dengar.
"Ish.. Kau meniruku.! Atau kau mengejek ku. Hah. " Ucap Anna kesal.
Xavier tersenyum saat melihat bibir Anna yang maju karena kesal.
"Em. Aku mengejek mu. Kau puas? " Balasnya dengan senyum. Xavier memberikan apel yang sudah terkuras dan menyuapkan nya.
"Manis kan.? " Tanya Xavier yang ikut makan apel itu.
"Em manis. " Balas Anna memasukan sepotong apel kedalam mulutnya.
Anna mendengar suara gaduh di luar, hingga tiba-tiba pintu rumah sakit terbuka dengan keras. Membuatnya kaget.
Para pria paruh baya masuk ke dalam ruangan nya. Wajah mereka pun kacau semua. Bahkan babak belur.
Anna menatap mereka dengan bingung. Dan menolehkan wajahnya pada Xavier yang terlihat cuek.
"Tolong. Tolong tuan. Jangan ambil perusahaan kami. Tolong kembalikan perusahaan kami. Kami mau makan apa tuan. Tolong kasihani kami. " Ucap salah satu pria paruh baya yang Anna kira berumur 40 tahun.
"Tolong maafkan anak-anak kami tuan. Kami akan menghukum mereka. Tapi tolong jangan buat perusahaan kami hancur. "
Mereka semua berlutut bersama dan mengusap tangan mereka memohon pada Xavier.
"X apa kamu yang kau lakukan?! " Tanya Anna mengintimidasi.
"Hanya hadiah kecil sayang. " Jawab Xavier dengan mengedikan bahunya.
"Hadiah? " Gumam Anna memicingkan matanya.
Anna menatap para pria yang sedang berlutut didepannya. Hingga dia melihat salah satu pria paruh baya yang dia pernah lihat.
Matanya melebar dan menoleh kesamping. Menatap Xavier dengan pandangan yang tak terbaca..
"Kau.. Kau siapa? " Ucap Anna pada Xavier. Anna merasa merinding jika memang apa yang dipikirkan olehnya adalah benar.
Mata Anna menatap Xavier yang masih menatap ke depan. Hingga tatapan nya jatuh pada buku tangan Xavier yang terluka.
"Tangan mu kenapa? " Tanya Anna pada Xavier. Xavier pun langsung menyembunyikan tanganya.
"Bukan apa-apa. " Jawab singkat.
Anna merasa kepalanya terasa berat lama kelamaan.
"Kau kenapa? Apa yang sakit? " Tanya Xavier panik melihat Anna mengerutkan keningnya dengan menutup mata. Menandakan jika Anna merasa kesakitan.
Anna membuka matanya dan menatap Xavier. "Kau.. Siapa? " Ucap Anna lirih.
Xavier mengalihkan tatapannya, agar tak menatap mata Anna yang bisa menggoyahkan nya.
"Suruh mereka keluar X. " Pinta Anna dengan menutup matanya.
Xavier memanggil bodyguard nya untuk menyeret mereka keluar.
"Kau juga. Keluar. " Ucap Anna pelan.
Xavier menatap Anna tak percaya.
"Tapi Anna---"
"Keluar X. Tinggalkan aku sendiri. " Anna memotong ucapan Xavier.
"Kau kesakitan Anna. Aku tak bisa meninggalkanmu sendirian. Kau--"
"Keluar X, apa kau tak mendengar ku. Kau--arghh-.... "Anna memegang kepalanya yang berdenyut.
Xavier panik, dia khawatir jelas itu. Tapi Anna menyuruhnya keluar. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
" Anna... "
"Keluar X. Kumohon. " Pinta Anna dengan suara lirih.
Xavier menundukan wajahnya mendengar permintaan Anna yang terlihat putus asa.
"Baiklah. Aku akn keluar. Kalau ada apa-apa, aku ada di balik pintu itu. " Ucap Xavier menunjuk pintu.
Anna tetap menutup matanya menghalau rasa sakit pada kepalanya. Hingga 10 menit kemudian, Anna membuka matanya.
Anna masih ingat wajah pria itu. Pria paruh baya itu adalah ayah dari park eun jae. Donatur terbesar di sekolahnya. Tapi, kenapa bisa ayah eun jae menjadi seperti itu? Apakah karena kejadian di toilet waktu itu? Jika salah satu diantara pria-pria tadi ada ayah dari eun jae, kemungkinan mereka semua adalah orang tua dari murid yang membully nya.
Apa yang terjadi pada mereka? Dan jika ini semua perbuatan Xavier, bagaimana bisa meruntuhkan perusahaan besar dengan hitungan hari? Bahkan bukan hanya satu perusahaan, tapi ini lebih dari 5 perusahaan yang diruntuhkan.
__ADS_1
Orang seperti apa Xavier? Hingga bisa membuat perusahaan bangkrut dalam sekejap? Anna benar-benar merinding.