Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 19


__ADS_3

Xavier menutup pintu kamar mertuanya dan Anna berada di samping nya. Mereka keluar karena Savannah sudah tidur. Mereka pun melewati ruang tamu dan melihat David dan Maggie masih berada di sana.


Xavier pun mengajak Anna menghampiri mereka. Walau Anna terlihat enggan, tapi akhirnya dia ikut juga.


"Mommy sama daddy belum pulang? Maaf atas kejadian tadi. " Kata Xavier dengan sopan.


David berdiri dan menatap Anna. "Tak apa. Tapi Anna, bukankah lebih baik ibumu di rawat di rumah sakit? " Usul David karena dia merasa anaknya terlalu berat jika terus merawat Savannah sendiri.


Anna yang tadinya enggan saat mendengar ucapan David yang mengatakan usulan nya membuatnya marah.


"Apa? Di rawat di rumah sakit? Maksudmu rumah sakit jiwa?! " Anna menatap tajam David.



"Anna, kau masih belum pulih. Dan.. "David mencoba membuat Anna mengerti dengan maksudnya.


" Apa?! Kenapa sekarang kau peduli.! Urusi urusanmu sendiri.! Jangan mengangguku dan ibuku.! "Anna memotong ucapan david yang memuakan.


" Aku daddy mu. Jelas jika--"


"Apa? Daddy?! Hah jangan melucu.! Selama ini aku mengurusi diriku sendiri dan juga ibuku.! Jadi sekarang urusi urusanmu juga.! Kata-kata mu benar-benar membuatku tertawa.! " Anna tertawa terpaksa.


"Jangan sekali kali kau menggangguku David.! Atau kau tahu akibatnya.! Jangan pernah menyentuh ibuku sedikitpun.! Atau kau ingin semuanya hancur.! " Anna menatap tajam David.


David memandang wajah Anna, ada rasa penyesalan yang amat di dalam hatinya. Apa yang kulakukan hingga membuat putriku seperti ini. Pikir David sendu.


"Kau memang putriku. " Gumam David. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca menatap putri kecilnya.


"Kenapa? Kau membenciku?! Aku bahkan membenci darahmu yang mengalir dalam tubuhku.! " Giginya bahkan terkatup karena menahan amarah di dalam dadanya.


Xavier mendekat dan merangkul Anna. "Sebaiknya kalian pulang. Ini sudah malam. Anna perlu istirahat. " Kata Xavier memandang David dengan tatapan memohon..


Xavier tak ingin kesehatan istrinya menurun karena emosinya yang tidak stabil. Bahkan perban nya harus ia ganti karena darah di kening nya.


David pun mengangguk dan mengandeng Maggie keluar dari mansion. Anna mematung dengan pikiran yang entah kemana mana. Xavier mengusap lengannya memberikan rasa hangat.


"Kendalikan emosimu sayang. Kau dengar dokter berkata apa bukan.? "Kata Xavier mengingatkan.


Tapi Anna hanya mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya sakit, amat sakit. David bahkan tak memperdulikan ibunya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan itu membuatnya marah.


Anna melepas tangan Xavier dan berbalik ke arah kamarnya. Tapi baru dia langkah, tapi buahnya ambruk karena lemah.


" Anna.! Astaga. Apa yang kau lakukan. Kau masih belum sehat. "Xavier langsung menggendong Anna dan menuju kamar.


Anna hanya terisak pelan dan merapatkan tubuhnya pada Xavier. Xavier hanya diam saat merasakan bajunya basah. Dia masuk kamarnya dan menurunkan Anna dengan tetap memeluknya.


" Sst.. Tenangkan dirimu sayang. Kau bisa sakit jika terus menangis. Kita lepas dulu perban nya ya. "Bujuk Xavier melepas rengkuhanya.


Anna menurut dan Xavier segera mengambil kotak P3k. Setelah selesai, Xavier memandang wajah Anna yang sendu.


" Tenanglah. Ada aku disini. "Xavier mengusap pipi Anna dengan lembut.


Xavier menyingkirkan kotak itu dan ikut tidur disamping Anna. Memeluknya erat dan mengusap punggung istrinya dengan pelan. Hingga terdengar nafas yang beratur. Menandakan jika Anna sudah terlelap.


Xavier menunduk dan mencium bibir Anna sekilas. Dan ikut menutup matanya.


***


Anna terbangun di tengah malam. Dia bngun dan melepas tangan Xavier yang berada di perut nya. Anna keluar dari kamar menuju ruang kerja nya.


Dia membuka laptop nya dan mengetik sesuatu. Saat apa yang dicari sudah dia temukan, wajahnya menyeringai.


" Syok terapi bagus juga. "Ucapnya pelan lalu menekan enter.


Merebahkan tubuhnya untuk melihat progres nya hingga terlihat di layar kata sukses. Bukankah Anna pernah bilang jika dia akan membalas apa yang mereka lakukan pada dirinya dan juga ibunya? Mungkin hadiah kecil seperti ini menarik juga.


Anna menutup laptop nya dan keluar dari ruang kerjanya. Kembali ke kamar dan masuk dalam rengkuhan Xavier yang juga dibalas olehnya. Anna menikmati irama jantung Xavier yang menenangkan dan nyaman.


Xavier tersenyum dalam mimpinya merasa Anna menyusup dalam pelukan nya.


Pagi tiba, saat Xavier membuka matanya Anna sudah tak ada disamping nya. Dia pun langsung bangun dan bergegas mencari Anna. Di dalam kamar mandi dan juga walk in closet tak ada. Xavier turun dan melihat Anna sedang memasak bersama para maid di dapur.


Para maid kaget saat melihat tuan nya turun hanya dengan celana pendek. Saat akan memanggil nona nya Xavier sudah menyuruh mereka diam dengan isyarat tangan.


Para maid itu langsung menyingkir dan memberikan privasi pada majikan nya. Anna belum menyadari nya hingga sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.


" X kau mengagetkan ku.! Apa yang kau lakukan.? "Ucap Anna saat Xavier mencium tengkuk nya.

__ADS_1


" Selamat pagi sayang. "Sapa Xavier menghiraukan perkataan Anna.


" Selamat pagi. Sudah lepaskan. Aku tak bisa masak jika kau terus memelukku. "Anna memegang tangan Xavier mencoba melepasnya.


Tapi Xavier malah mengeratkan tanganya. " Kau meinggalkanku. "Ucapnya pelan tapi sexy menurut Anna.


" Kapan? "Anna megerutkan dahinya mengingat kapan dirinya meninggalkan Xavier.


" Tadi. Di tempat tidur. "Balas Xavier tersenyum.


" Hah kau ini. Lepas X. "Anna memutar bola matanya mendegar gombalan Xavier di pagi hari.


" Tunggu.! Kau.! "Anna memutar tubuhnya dan menatap Xavier.


" Apa? "Tanya Xavier dengan polos.


" Kemana bajumu.! Kau sedaritadi seperti ini? Astaga X. Kau tidak malu di lihat oleh para maid disini.! "Anna membola saat melihat Xavier hanya mengenakan celana pendek nya tanpa baju. Terlihat tubuh Xavier yang berotot dan kencang pasti membuat para maid menelan ludahnya. Memikirkan hal itu malah membuat Anna kesal.


" Kenapa? Kau cemburu tubuhku dilihat orang lain? "Goda Xavier pada istrinya yang imut itu.


" Astga X! Cepat pakai bajumu lalu turun! Cepat sana.! " Anna mengusir Xavier dari dapur.


Xavier pun menurut dan pergi sebelum terkena amukan istrinya. Setelah memakai pakaian nya, Xavier turun dan melihat jika Anna sudah menyiapkan makanan di atas meja.


"Duduk lah. " Ucap Anna langsung memberikan sarapan ya.


"Dimana Brian? Aku tak melihatnya dari semalam. " Tanya Xavier.


"Dia dirumah utama. " Balas Anna singkat.


Rumah utama? Rumah David dan Maggie.


"Kenapa Brian disana? " Xavier bertanya kembali karena merasa aneh.


"Kau ingat saat aku menyuruhnya untuk ikut ayahnya? " Ucap Anna lalu duduk di samping Xavier.


Xavier mengangguk mengingat saat Anna marah pada Brian.


"Dia sekarang masuk pelatihan. " Ucapnya lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Ah sekarang Brian masuk pelatihan, pikir Xavier. Baguslah karena tak ada yang mengganggunya kalau begitu. Xavier tersenyum senang saat merencanakan hal apa dengan Anna nantinya.


PIP..


Anna mematikan TV yang menayangkan berita tersebut. Melanjutkan sarapanya yang tertunda karena berita skandal itu. Xavier pun hanya mengerikan bahunya karena belum tahu yang sebenarnya terjadi. Anna menunduk menyembunyikan serigaianya.


Dilain tempat, seorang pria paruh baya sedang marah-marah di ruangan nya karena berita skandalnya terkuak.


"Sial.! Siapa yang membocorkan foto itu?! Siapa?! " Teriak Hwang Deuk-gu pada bawahannya.


Mereka menunduk karena takut dengan atasanya yang sedang marah.


"Kami tak bisa melacak IP nya tuan. " Balast salah satu bawahannya dengan takut.


"Apa?! Kalian bodoh! Cari sampai dapat! Atau kalian tanggung akibatnya.! " Bentak nya lalu bawahannya langsung keluar dari ruangannya.


Hwang Deuk-gu duduk di kursi nya dengan lemas. Kepalanya berdenyut, dia melihat kembali foto-foto yang beredar. Dan menelfon seseorang.


"Cari wanita itu dan bawa padaku.! " Perintah nya pada orang tersebut.


Baru Hwang Deuk-gu menghela nafas nya, telfon nya kembali berdering.


"Hallo."


"Cepat kemari, brengsek.! " Umpat sesorang disana.


PIP.


Panggilan itu langsung di putus secara sepihak.


Dia tahu siapa yang menelfon ya. Dan itu membuatnya tambah frustasi. Segera, Hwang Deuk-gu pergi dari kantornya dan pergi ke suatu tempat.


Setelah sampai, Hwang Deuk-gu menghadap seseorang yang sedang berdiri dengan kokohnya menghadap jendela. Dia menunduk saat melihat orang itu berbalik.


Orang itu langsung menghantam wajah Deuk-gu dengan keras hingga dirinya mundur.


"Maafkan saya Presdir. Maafkan saya. " Hwang Deuk-gu langsung bersimpuh di hadapan orang yang dia sebut Direktur.

__ADS_1


"Kau mau mati!! " Ucap Presdir tersebut dengan suara bariton nya bahkan membuatnya merinding.


"Tidak. Tidak Presdir. Ampuni saya. " Hwang Deuk-gu memegang kaki presdir tersebut.


"Cari tahu asal mula foto-foto itu tersebar. Dan pastikan kau membungkam semua yang berhubungan! Kau mengerti!! " Bentak presdir itu.


Hwang Deuk-gu mendongak dan menatap presdir dengan memohon.


"Baiklah Presdir. Saya pastikan semua itu tidak akan berlangsung lama. " Janji Hwang Deuk-gu.


Presdir itu menatap Hwang Deuk-gu dengan tajam. "Jika sampai kau tak bisa melakukannya. Kau yang akan mati.! " Kata Presdir itu dengan rendah.


Hwang Deuk-gu langsung menganggukan kepalanya dan pergi dari sana. Presdir itu menghela nafas dan berjalan ke arah meja kebesarannya.


Terlihat nama Presdir David William Greyson diatas meja tersebut. Meja yang penuh dengan foto-foto Anna dan juga Maggie.


David membuka matanya dan menatap foto Anna yang tersenyum. Mengusapnya pelan, tersirat kerinduan yang teramat dalam di mata David saat mengingat bagaimana kenangan mereka dahulu.


David tak menyesal saat putrinya lahir didunia ini. Dirinya hanya merasa gagal menjadi ayah saat melihat kekecewaan di mata Anna. Bahkan kebencian itu semakin besar hingga jarak diantara mereka semakin jauh.


David bahkan ragu jika dia bisa meraih putrinya kembali seperti dulu. Sangat mustahil baginya. David merasa kekayaan nya bahkan tak ada artinya sekarang, hatinya kosong dan berlubang. Bahkan rasa penyesalan terhadap Maggie pun masih berbekas.


Penyesalan yang tiada akhir membuat hidupnya di gerogoti oleh penyakit.


***


Anna duduk di kelas mendengarkan lagu dengan earphones di telinganya. Setelah seminggu, akhirnya dirinya bisa masuk sekolah kembali. Walau dahinya masih tertempel plaster.


Saat Anna menutup matanya tiba-tiba earphones nya di lepas sebelah, membuatnya membuka matanya dan melihat Eve datang dengan makanan.


"Ini makanlah. Kau juga harus minum obat bukan? " Kata Eve membuka makan itu lalu menyodorkan nya pada Anna.


"Terimakasih."


Eve hanya menganggukan kepalanya dan ikut makan.


"Kau tahu Anna. Barbara dan eun jae menghilang tiba-tiba, para siswa juga masih bergosip tentang hal itu. " Ucap Eve.


"Apa? Hilang? " Tanya Anna bingung.


"Iya. Hilang. Bahkan perusahan mereka langsung bangkrut dalam beberapa jam. " Jawab Eve.


Anna bergeming saat Eve mengatakan kalau perusahaan mereka juga bangkrut. Anna mengingat saat dirinya masih di rawat dan ayah eun jae bersujud di hadapan nya memohon ampun. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Xavier? Mungkin kah?


"Tapi Anna, yang lebih heboh lagi bukan hanya mereka berdua tapi anak buah mereka juga hilang. "


Anna terhenyak dan menatap Eve. Membuat Eve kaget dengan tatapan Anna padanya.


"Kenapa? Kenapa kau melihatku seperti itu? " Tanya Eve terbata bata.


Anna tak menjawab nya dan bergegas keluar kelas untuk mencari Xavier. Dia berlari ke kantin, hingga ke taman. Tapi tak ada. Satu-satunya tempat yang belum dia datangi adalah perpustakaan. Dengan cepat Anna langsung masuk perpustakaan dengan membuka pintu dengan keras. Menimbulkan suara yang membuatnya akan di marahi oleh penjaga perpustakaan jika tak melihat siapa Anna.


Anna tak memperdulikan hal itu, dia terus mencari Xavier hingga dia melihat sosok Xavier sedang membaca buku.


Anna berjalan dan berhenti di depan Xavier. Xavier mendongak melihat siapa yang ada di depan nya.


"Anna. Ada apa? Apa kepala mu sakit? " Tanya Xavier saat melihat Anna terlihat terengah-engah dengan keringat bercucuran.


"Kau.! Apa yang kau lakukan X.! Kau-- kau siapa sebenarnya? "


Wajah Xavier mengerut dan datar. Anna menatapnya dengan tajam. Mereka terdiam saling bertatapan, hingga sebuah senyum terbit di bibir Xavier.


Anna menatap senyum itu, senyum yang Anna rasa berbeda seperti senyum Xavier padanya. Senyum itu terlihat dingin dan menyeramkan.


"Hallo Anna. Senang bertemu denganmu. " Ucap Xavier dengan nada yang berbeda.


Anna masih menatapnya dengan bingung.


"Kau bingung.? Namaku Jekyll. Dan ini pertama kali kita bertemu. " Ucap Xavier tenang.


Anna terus menatap Xavier hingga dia tersadar saat mata itu terlihat berbeda. Lebih pekat dari warna asli Xavier. Apa yang terjadi?


Anna mencoba mencari tahu di dalam pikiranya hingga satu yang terlintas didalam pikiranya. Mata nya membola dan menatap Xavier tak percaya.


"Kau... Kau... "


Anna tergagap, bahkan suaranya tercekat. Dirinya tak percaya dengan apa yang difikiran ya. Selama ini, yang dia lihat Xavier terlihat baik-baik saja. Lalu, bagaimana. Bagaimana bisa.?

__ADS_1


Hatinya terasa tercubit saat kilasan senyum Xavier yang menenangkan nya. Hingga rasa ragu itu muncul.


__ADS_2