Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 23


__ADS_3

Sebentar lagi ujian kelulusan akan dimulai. Hal itu menjadi beban tersendiri bagi siswa yang akan menghadapinya nanti. Stres melanda para siswa untuk belajar mati-matian. Apalagi untuk masuk Universitas ternama butuh nilai yang bagus. Tak hanya itu, koneksi dan uang adalah hal yang terpenting di Korea.


Tapi Anna, menyikapinya dengan santai. Bukan karena sekolah ini milik Maggie, dia pasti diluluskan. Tapi, Anna yakin jika dirinya bisa menyelesaikan ujian ini dengan lancar. Dirinya sudah pernah mengalami hal ini dulu di New York, hanya beda tipis. Tapi, menurut Anna di New York lebih ketat daripada Korea soal pendidikan.


Anna melirik Eve yang sedang belajar di samping nya dengan serius. Sedang dirinya sekarang sedang membaca novel dengan kaca mata bundar nya. Mereka belajar dirumahnya, karena usulan Eve yang menginginkan belajar dirumahnya. Dan Anna hanya mengiyakan saja.


"Astaga. Kepalaku serasa mau pecah.! " Eve mengeluh dengan soal yang dia kerjakan.


Eve melirik Anna yang diam tanpa sekalipun membantunya. Tatapannya hanya pada buku yang ia baca sekarang.


"Anna.. Bantu aku.. " Rengek Eve pada Anna.


Anna menghembuskan nafas nya dan menutup bukunya. Dia menatap Eve yang tersenyum lebar padanya.


"Apa?! " Tanya Anna ketus.


"Ini.. Bantu aku selesaikan.. Oke? " Eve menggeser bukunya.


"Aishh.. Kau menyusahkan.! " Ucap Anna kesal. Wajahnya tertekuk, walau begitu soal yang susah itu ia kerjakan juga. Membuat Eve tersenyum senang.


Walau kadang Anna sering dingin dan ketus, tapi dia tetap akan membantunya. Kata kata yang keluar dari mulut Anna selalu kebalikan dari hatinya. Itukah mengapa Eve yakin jika semua yang Anna tunjukan pada orang tuanya dan semuanya hanya topeng yang ia buat untuk dirinya sendiri. Agar dirinya tak melebur dalam kesakitan.


"Ahh akhirnya selesai. Ternyata sudah malam.. Anna suamimu kemana? Sepertinya aku tidak melihatnya dari tadi." Ucap Eve dengan mengerutkan dahinya.


"Cih. Mendengar kata suami membuatku geli. Dia ke perusahaan ayahnya. " Ucap Anna mengedikan bahunya.


Eve menoleh menatap Anna dengan heran. "Untuk apa? " Tanya Eve.


"Kau tahu Xavier anak tunggal. Setelah lulus mungkin ayahnya akan melatih dirinya menjadi pimpinan nantinya. " Ucap Anna cuek.


"Bukankah kau juga Anna? Lalu kalian berdua akan berkerja sendiri-sendiri? " Tanya Eve.


"Aku tidak tahu. Kau tahu sendiri bagaimana hubungan ku dengan David. " Ucap Anna kembali membuka novel nya.


Eve menganggukan kepalanya mengerti. Hubungan Anna dengan ayahnya masih tidak baik. Bahkan mungkin tak akan bisa. Eve menatap Anna yang larut dalam novel yang ia baca.


Sampai kapan kau akan begini Anna.? Kenapa hidup mu begitu menyedihkan? Aku ingin membantumu, tapi aku tak tahu bagaimana. Aku berharap suatu saat nanti kau bahagia Anna. Saat itu tiba, aku yakin aku juga bisa hidup bahagia.


"Hei... Apa yang kau lakukan?! " Eve tersentak saat Anna menepuk bahunya.


"Ahh bukan apa-apa. " Balas Anna tersenyum.


"Ahh baiklah Anna. Aku pulang dulu. " Eve membereskan bukunya.


"Emm hati-hati dijalan. " Pesan Anna.


Eve menganggukan kepalanya dan pergi. Anna mengantarnya sampai didepan rumahnya. Eve masuk mobilnya dan melambaikan tangan nya pada Anna. Setelah Eve pergi, Anna masuk kerumahnya kembali.


Ia memasuki ruang kerjanya dan duduk. Ia membuka laptopnya dan mengetikan sesuatu. Wajahnya tetap datar tak berubah.


"Sampah di mana mana. " Gumam nya lalu menekan tombol enter.


Setelah sukses, ia menelfon seseorang. "Berikan jalan yang bagus" Ucapnya lalu memutuskan panggilan.


Ia menatap ponselnya dan tersenyum menyeringai. "Bukankah sampah harus di buang pada tempatnya? " Katanya dengan terkekeh.


***


Hari ini ujian akan di mulai. Anna berangkat dengan Xavier, sedang Brian yang masih tinggal di rumah utama berangkat dengan motornya. Brian masih harus melanjutkan pelatihan nya.


"Kau gugup? " Anna sudah berada di kelas bersama Xavier dan Eve.



"Siapa? " Anna memainkan kukunya yang mulai panjang. Dirinya tak begitu suka dengan kuku panjang.



"Aku bertanya padamu sayang. " Xavier bahkan sudah tak malu lagi memanggilnya sayang jika didepan banyak orang. Itu di karenakan Xavier cemburu pada Thomas yang selalu memanggilnya baby.


"Biasa saja. Mungkin Eve yang gugup? " Anna melemparkan matanya pada Eve yang terus membaca buku itu untuk di ingat ingat.


Xavier pun juga menatap Eve yang sedang mencoba mengingat pelajaran. Mereka geli melihat Eve begitu gigih dalam hal belajar. Tapi Anna bangga dengan Eve yang tidak mau ia bantu walau ia punya koneksi di sini. Anna sudah mengatakan jika dirinya akan membantunya lulus. Tapi, Eve tidak mau. Dirinya ingin lulus dengan jerih payahnya sendiri.


Bunyi waktu ujian sudah berbunyi. Para siswa sudah duduk di meja masing-masing. Lembar per lembar di bagikan pada siswa untuk di kerjakan dalam waktu 45 menit. Setelah para siswa mendapat soal, mereka langsung menyelesaikan nya dengan cepat.

__ADS_1


Terkecuali Anna dan Xavier, mereka dengan santai menyelesaikan soal itu. Bahkan baru 25 menit, Anna sudah meletakan alat tulisnya dan bersender. Pertanda jika ia sudah selesai, siswa yang melihatnya pun merasa iri dengan nya yang begitu mudah menyelesaikan nya.


Setelahnya, Xavier juga selesai dengan soalnya. Dan tersisa waktu 10 menit. Eve sangat fokus dengan soal nya. Dia tak ingin ada yang salah. Hingga bel pertanda ujian selesai berbunyi, para guru langsung menarik soal itu.


Para siswa langsung berhamburan keluar ke kantin untuk menambah energi untuk ujian selanjutnya. Eve meletakkan kepalanya di meja dengan sendu.


"Kenapa? " Anna berdiri di depan nya.


Eve mendongak dan merengek. "Anna. Bagaimana ini.? Soal tadi banyak yang salah. Astaga bagaimana nilaiku nantinya " Rengek Eve kesal.


"Sudah jangan di pikirkan. Kita ke kantin dulu. Aku lapar. " Kata Anna menyeret Eve.


Xavier berjalan di belakang mereka dengan senyum gelinya. Melihat bagaimana Eve yang terus merengek pada Anna, dan Anna yang hanya diam dan terus merangkulnya.


Sesampainya di kantin, mereka langsung duduk. Eve yang biasanya memesan hari ini dia tak mau. Jadi Xavier yang pergi memesan makanan.


'.... Skandal yang terjadi. Foto tersebut tersebar luas. Sementara PM Moon Guk Ja belum mengkonfirmasi apapun pada media. Banyak komentar dari netizen yang mengatakan jika PM menerima suap dari seseorang yang di blur wajahnya. Sampai saat ini, belum ada yang tahu, siapa orang yang memberikan suap pada PM Moon Guk Ja. Polisi pun sedang berkerja untuk menginvestigasi PM terkait hal ini. PM di jadwalkan akan menjalani investigasi besok di dampingi dengan pengacara nya..... '


Para siswa saling bisik dan bergosip saat melihat berita di TV. Mereka menanyakan foto itu fakta atau editan. Ponsel pun langsung menyala untuk mencari foto-foto tersebut.


"Pejabat pejabat itu hanya makan uang rakyat. Bagaimana bisa orang sepertinya menjadi perdana menteri. Pasti karena koneksi. " Gerutunya Eve.


Anna menatap Eve yang sedang menggerutu. "Benar. Mereka hanya sampah kan.? " Ucap Anna.


"Kau benar. Mereka sampah masyarakat. Orang seperti mereka harus di musnahkan. " Ucap Eve menggebu-gebu.


Anna tersenyum miring dan melirik TV yang masih menampilkan berita tentang skandal PM. Tiba-tiba Xavier sudah datang dengan pesanan mereka.


"Makanan datang. Kalian bahas apa? Seperti menarik. " Xavier meletakan makanan Anna di depan ya dan duduk disampingnya.


"Kau tidak lihat berita di TV? Itu skandal pejabat dan suap. " Ucap Eve cuek.


"Ahh politik? Aku tak terlalu suka dengan politik. " Xavier mengedikan bahunya.


"Kau juga nantinya akan menghadapinya X. Mungkin nanti kau juga akan terlibat hal seperti politik. " Kata Anna.


"Aku? Tidak sayang. Aku tak akan ikut dengan politik keji seperti itu. " Xavier menyangkal tuduhan Anna yang membuatnya kesal.


"Kau hanya belum tahu. Kita lihat nanti. " Anna melirik Xavier dan melanjutkan makan nya.


***


Sementara di tempat lain sedang terjadi ketegangan. Sang PM yang sedang di bicarakan seluruh Korea sedang berteriak frustasi. Asisten nya pun berdiri tegang ketakutan.


"Cari siapa yang telah berani menyebarkan foto-foto itu. Dan juga cari tahu bagaimana bisa ada kamera di tempat itu. Cari informasi nya dan tangkap siapapun yang berada di dalam foto itu. Aku tidak mau mereka membuka mulutnya! Kau mengerti.!! " Pria itu berteriak dan memerintahkan mereka semua pergi dari ruangan nya.


Pria itu memijit kepalanya nya yang serasa mau pecah. Siapa yang menyebar foto-foto itu. IP nya pun langsung hilang tanpa bisa dilacak. Seolah foto-foto itu sengaja di sebar lalu di hapus. Pelaku nya seperti profesional, apakah hacker?


Pria itu mengingat jika foto itu di blur sebagian. Dan itu hanya satu orang saja. Pria itu curiga jika di balik semua ini adalah orang yang ia kenal.


Ia pun langsung menelfon seseorang. "Kau fikir bisa lolos dariku?! Ingat kata-kata ku.! Jika aku mendapat masalah, kau pun juga akan berimbas.! David Williams Greyson.!! " Ucap pria itu lalu menutupnya dengan kesal.


Ia harus berfikir bagaimana untuk ke depan nya. Ia tidak bisa mundur, bagaimana pun jabatan ini adalah impian nya. Ia bisa melakukan semua yang ia inginkan dengan jabatan ini.


Sementara David mengumpat pada pria yang baru saja menelfon nya. Pria tua itu hanya mau enak nya saja tanpa mau berfikir. David memanggil asisten nya.


"Ada apa presdir? " Tanya asisten itu saat masuk.


"Panggil Erick kemari secepatnya.! " Perintah David.


"Baik presdir. Saya permisi. " Asisten itu menunduk dan pergi.


Tak lama setelah itu seorang pria muda datang dengan pakaian hitam nya.


"Selamat siang presdir. Anda memanggil saya? " Sapa orang yang bernama Erick itu.


David duduk di kursinya dan menatap Erick.


"Kau sudah tahu masalah yang berada di berita bukan? " David menatap tajam Erick.


Erick menganggukan kepalanya. "Sudah presdir. Apa yang harus saya lakukan padanya? " Erick bertanya dengan santai. Walau tatapan tajam David dulu sempat membuatnya takut, tapi sekarang ia sudah terbiasa.


"Pastikan masalah ini tidak lama Erick. Dan pastikan pria tua itu tidak menyebut namaku.! Kau mengerti?! " Tekan David.


"Baik presdir. Akan saya lakukan. " Ucap Erick.

__ADS_1


"Kau sudah melacak IP foto itu? " Tanya David.


"IP nya hilang presdir. Kami tak bisa melacak nya. Maafkan saya presdir" Jawab Erick membungkukan badanya.


"Cari tahu semua nya Erick. Aku ingin orang yang menyebarkan foto itu di tangkap. " Perintah David.


"Baik presdir. Saya permisi. " Erick membungkukan badan nya dan keluar dari ruangan nya.


"Siapa yang berani bermain main dengan ku. Baiklah. Ku ikuti permainan ini. Menarik. " David menyeringai.


Ia menyadari jika targetnya adalah dirinya. Kasus Hwang Deuk-gu dan juga Moon Guk Ja sama persis. Mereka di jadikan umpan baginya agar keluar dari sarang? Tapi, orang ini salah jika hanya dengan dua orang bodoh itu, dia akan keluar? Mereka tidak hanya ia anggap sebagai alat baginya.


***


Anna dan Xavier sedang dalam perjalanan menuju rumah. Sebelumnya mereka makan di cafe karena Xavier ingin suasana yang berbeda. Dan Anna pun hanya mengiyakan saja dari pada harus berdebat dengan nya.


"Anna, mungkin setelah ini aku tak bisa selalu ada di samping mu. " Ucap Xavier melirik Anna yang sedang bermain ponsel.


"Kenapa? " Anna meletakan ponselnya dan menatap Xavier yang tengah mengemudi.


"Daddy memintaku untuk terjun langsung ke lapangan. " Ucapnya pelan.


Anna menganggukan kepalanya mengerti. "Tidak apa. " Jawabnya singkat.


"Kau tidak akan merindukanku? " Tanya Xavier berharap.


"Tidak." Balas Anna cuek.


Xavier langsung cemberut mendengar istrinya tidak akan merindukan nya. Dia berharap jawaban Anna mungkin akan merindukan nya.


"Kau menyebalkan Anna. " Gumam Xavier.


Anna menoleh melihat wajah Xavier yang di Teluk. Ia terkekeh melihat Xavier begitu kekanak kanakan. Apa begitu penting jawaban nya hingga Xavier begitu kesal? Toh, Xavier bukan mau berjuang ke medan perang.


Dia hanya akan pergi ke lapangan meninjau lokasi yang sedang mengerjakan proyek perusahaan. Anna hanya bergeleng tak percaya mempunyai suami yang begitu lucu?


Astagaa! Sepertinya Anna mulai tidak waras.


Mereka pun sampai di rumah dan masuk. Anna menyempatkan ke kamar mommy nya untuk menyapanya.


"Mom.. " Sapa Anna melihat mommy nya sedang di suapin oleh minah.


"Minah. Kenapa berantakan seperti ini? " Tanya Anna pada minah melihat tubuh mommy nya pnuh dengan makanan.


Minah tak menjawab, hingga Anna menoleh dan melihat minah yang menundukan wajahnya.


"Katakan minah. " Kata Anna bingung.


Minah gugup, dirinya tidak sanggup mengatakan hal ini pada Anna. Tapi bagaimanapun Anna berhak tahu.


"Nyonya.. Nyonya sudah susah menelan sesuatu nona. " Ucapnya dengan menunduk.


Anna mengerutkan dahinya bingung. "Susah menelan? " Tanya Anna pelan.


"Iya nona. Itu bentuk dari... "


"Rusak nya sistem otak mommy? Apa kau akan bilang jika mommy akan.. " Anna tidak sanggup mengatakan hal itu. Hal yang mengerikan baginya.


Sedang minah masih menundukan kepalanya. Dia tahu nona nya shock dengan apa yang terjadi pada mommy nya.


"Bersihkan pakaian mommy. Dan hubungi dokter lym untuk datang besok. " Ucap Anna pada minah.


Anna keluar dari kamar ibunya dengan pandangan kosong nya. Begitu cepatkah? Tidak! Mommy belum boleh pergi. Dirinya belum membuat David dan Maggie menderita. Tunggu sebentar lagi mom, kumohon. Jangan pergi. Pinta Anna pilu.


Xavier keluar dari kamarnya mencari Anna. Dia melihat Anna sedang berdiri di samping tangga dengan melamun. Dirinya pun turun menghampiri Anna.


"Anna. Kau kenapa? " Xavier mengusap lengan Anna yang membuat nya tersadar dan menatap Xavier.


"Apa terjadi sesuatu dengan mommy? " Tanya Xavier menatap wajah Anna yang masih diam.


Tiba-tiba Anna memeluk Xavier dengan erat. Xavier pun kaget dengan istrinya yang tiba-tiba memeluknya. Anna bisa mendengar jantung Xavier yang berdetak cepat. Jantung itu, bisakah Anna mengklaim nya?


"Ada apa Anna? Kau membuatku khawatir. " Xavier memeluk Anna dengan lembut. Anna tak pernah seperti ini. Dan itu membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu.


"Besok. Kau akan tahu X. " Ucap Anna pelan.

__ADS_1


Besok? Ada apa sebenarnya? Kenapa Xavier begitu penasaran?! Xavier berharap semua itu bukan kabar buruk. Dirinya ingin Anna selalu bahagia. Bagaimana pun akan Xavier lakukan agar senyum di wajah istrinya itu tidak lenyap.


__ADS_2