Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 28


__ADS_3

Anna menatap dirinya yang sudah berbalut gaun merah nya. Gaun itu melekat pada tubuhnya yang langsing. Walau tidak terlalu mengumbar tubuhnya, tapi hanya dengan melihat nya saja mungkin para lelaki sudah berfantasi liar.


"Jika saja perayaan ini tidak penting, aku tidak akan membuatmu keluar dengan baju itu. "


Anna mendengar suara yang menggerutu di dibelakang nya. Dia berbalik dan melihat Xavier menekuk wajahnya kesal. Laki-laki itu memakai kemeja putih di dalamnya dan memakai tuxedo berwana hitam.


Tubuh tegapnya membuat para wanita pasti menjerit melihat ketampanan Xavier.


Anna terkekeh melihat wajah Xavier yang seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainan.


"Sudahlah, ayo berangkat. Nanti kita terlambat. " Anna mengulurkan tangan nya pada Xavier yang di balas oleh laki-laki itu dengan menggenggamnya erat..


"Sampai disana jangan pergi jauh-jauh dariku. " Bisik Xavier pada telinganya.


Anna tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Di luar sudah ada beberapa bodyguard yang sudah menunggunya dengan seragam hitamnya. Anna menoleh dan melihat Brian yang juga sudah siap dengan tuxedo hitam nya.


Mereka masuk kedalam mobil dan menuju tempat pesta.


***


Hotel itu sudah rame dengan mobil yang terus berdatangan. Mereka berdandan dengan memamerkan apapun yang mereka punya. Make up tebal dan juga suara yang dibuat seolah olah terlihat baik.


Di dalam sudah banyak tamu yang berpakaian mewah, memamerkan tubuh mereka. Saling bersapa bercanda dan juga saling sindir dengan cara halus.


Atensi orang-orang diluar di buat berhenti saat mobil Rolls-Royce hitam mengkilap dengan sentuhan emas asli berhenti di depan hotel megah bertuliskan 'Hotel GreyGroup' dengan besar.


Disusul dengan mobil hitam lainya yang berjumlah lebih dari tiga. Mobil hitam itu langsung terbuka dan mengelilingi mobil Rolls-Royce itu.


Sang sopir membuka pintu belakang dan terlihat pergelangan kaki seseorang yang bahkan hanya melihat kakinya saja sudah mereka bayangan bagaimana wajahnya.


Parawak media menunggu siapa orang yang berada di dalam mobil mewah yang harganya bisa membuat mereka pingsan. Ketika kedua kaki itu sudah menapak, tubuh itu pun juga keluar dari mobil.


Mata mereka langsung melebar saat melihat siapa orang yang di hadapan mereka. Gaun merah yang membentuk tubuhnya dengan pas itu membuat air liur mereka menetes.


Diri nya tak sendiri, laki-laki yang memakai tuxedo itu langsung merangkul pinggang nya dengan erat. Seakan tak mau dia lepas.


Rambut yang sudah dirias sejak tadi sore pun membuatnya luas karena terlihat cantik. Dengan riasan tipis saja sudah membuat para laki-laki itu meleleh.


"Ayo." Ucap Xavier menuntun Anna masuk.


Kamera langsung menyerbu mereka dengan kilatan blitz yang membuat Anna silau. Inilah yang ia tidak sukai jika harus berhadapan dengan media.


'Nona Ashlyn, apakah kedatangan mu untuk mengambil alih? '


'Nona, bukankah laki-laki di samping anda adalah putra tunggal keluarga Xeon? '


'Apakah kalian mempunyai hubungan? '


'Nona tolong jawab. '


Berbagai pertanyaan para wartawan langsung saja terlontar. Para bodyguard langsung membuka jalan untuk majikan mereka.


Anna menatap laki-laki yang sudah menanti dirinya di depan sana. Rahang nya mengeras saat melihat laki-laki itu justru tersenyum padanya.


"Selamat malam nona muda, tuan muda. " Sapa laki-laki dengan ramah.


Berbeda dengan Anna yang sudah mengepalkan tangan nya. Walau wajahnya tetap tak berubah.


"Kau siapa? " Tanya xavier.


Laki-laki itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Xavier. Yang malah membuat Anna muak dengan senyum palsunya.


"Saya Erick. Asisten tuan David. Salam tuan muda. " Laki-laki itu menundukan kepalanya usai memperkenalkan dirinya.


Xavier menganggukan kepalanya dan Erick kembali menaikan kepalanya.


Erick langsung mempersilahkan Anna dan Xavier masuk ke ballroom. Tempat acara berlangsung.


Mereka melangkah masuk kedalam hotel itu. Mata Anna menelisik interior hotel yang cukup mewah. Erick memandu kedua orang itu dibelakang nya.


"Kalian sudah di tunggu sejak tadi. Acara tidak akan mulai jika kalian belum datang. Tapi syukurlah, akhirnya kalian datang. " Ucap Erick.


Yang tidak di tanggapi oleh Anna ataupun Xavier. Xavier tidak tahu mau menjawab apa karena mereka tak begitu dekat dan baru kenal. Sedangkan Anna malas menganggap laki-laki itu.


Mereka masuk ke lift khusus presdir. "Tunggu " Anna menahan pintu lift yang akan tertutup.


Erick menoleh mengapa Anna dengan bingung.


"Biarkan Brian ikut. " Ucap Anna tanpa mau menatap Erick.

__ADS_1


Erick mengerutkan keningnya dan menatap laki-laki yang di tatap oleh Anna. Bukankah dia bodyguard?


"Maaf nona muda. Tapi dia tidak boleh masuk ke ballroom. " Ucap Erick menundukan kepalanya.


Anna menatap tajam Erick yang membantahnya. "Dia pengawal ku.! Dia harus selalu disampingku.! " Desis Anna tidak suka.


Xavier menatap Anna dan juga Erick dengan mengerutkan dahinya. Anna seolah membenci Erick. Tapi apa alasan nya?


"Tapi nona___"


"Aku bilang dia harus ikut.! Apa kau tidak dengar?! " Anna menggertak kan giginya.


Erick membuang nafasnya lalu menganggukan kepalanya. Dia menyuruh Brian ikut ke dalam lift. Sedangkan bodyguard lainya berada di bawah.


Lift itu langsung naik.


Ting.


Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan mengikuti Erick dari belakang. Sesampainya di pintu kembar yang besar terdapat dua bodyguard yang langsung membuka pintu itu.


Anna menghela nafas dengan pelan. Setelah pintu itu terbuka, maka hidupnya akan berubah menjadi sandiwara. Xavier merasakan jika Anna tertekan dengan pesta yang akan berlangsung. Tangan nya mengerat kan agar tubuhnya merapat.


Pintu itu terbuka dan suara gelas berdenting juga tawa merasuk ke dalam indera pendengaran nya. Tawa mereka pun seketika hilang dan pandangan mereka langsung tertuju pada mereka berdua.


Anna dan Xavier memasang wajah datarnya. Mereka ini pasangan yang cocok. Karena sama-sama dingin dan datar. Anna dan Xavier melangkah kan kakinya masuk dan disambut oleh seseorang yang paling Anna benci.


"Oh kalian sudah datang. Hampir saja aku mengerahkan anak buahku untuk menjemput kalian. " Anna menatap wajah yang sudah tak muda lagi itu dengan benci.


Kata-kata nya selalu mengandung arti tersirat. Contohnya saja yang baru ia katakan. Walau dengan nada bercanda, tapi mata itu seolah mengancam.


"Karena kalian sudah datang, ayo kita mulai acaranya. "


Mereka di giring sampai ke podium. Laki-laki itu memegang mic yang sudah berada disana.


"Tes.. Okey. Terimakasih untuk kalian yang sudah bersedia memenuhi undangan saya ini. Saya sangat berterima kasih karena kalian meluangkan waktu kalian. Acara ini saya buat untuk memperkenalkan putri saya." Ucap David dengan suara menggema.


"Mungkin ada yang sudah tahu ada yang belum. Maka dari itu saya akan memperkenalkan putri tunggal saya. "


David mengulurkan tanganya pada Anna. Dan dengan terpaksa, tangan itu harus ia genggam.


David menarik Anna di sampingnya. "Perkenalkan Anna Ashlyn Greyson. Putri tunggal saya. Dan disebelahnya, putra tunggal Andrew Dominic Xeon. Xavier Dominic Xeon mereka baru saja melangsungkan pernikahan mereka. "


Suara riuh langsung menggema di dalam ballroom. Lalu tepuk tangan dan kata-kata selamat terlontar dari siapa saja.


Cih.! Politik lagi.! Pikir Anna.


"Baiklah kalau begitu nikmati pestanya. " Ucap David menutup pidatonya.


Mereka turun dari podium yang langsung dikerubungi orang-orang yang mengucapkan selamat pada mereka.


Xavier bisa membawa dirinya, dia membalas ucapan yang terlontar dari orang-orang yang tidak ia kenal. Dan Anna bersyukur dengan hal itu.


Anna menyapukan matanya ke seluruh ballroom. Menyampirkan rambutnya kebelakang dengan gerakan perlahan. Terlihat dirinya memakai gelang yang cantik berkilau.


Saat matanya masih menjelajah atensinya teralihkan saat ada suara yang menyapanya.


"Selamat malam nona muda dan tuan muda. "


Anna memandang sepasang suami istri yang sudah berumur tapi bisa Anna lihat jika aura mereka masih kuat. Pria paruh baya yang memakai tuxedo hitam dengan kemeja abu-abu dengan rambut yang sudah keputihan. Anna bisa memperkirakan jika umur nya sekitar 40-an. Disampingnya ada wanita paruh baya yang sangat nyentrik dengan baju yang ia kira seperti anak abg saja.


Sepertinya wanita itu tidak mengakui umurnya yang susah berkepala empat. Make up tebal nya dan juga perhiasan mencolok nya membuat mata Anna silau.


"Dan selamat atas pernikahan kalian. Maaf jika kami tidak ikut acara pernikahan itu. Saat itu kami ada di New Zealand. Berlibur. " Ucap pria itu seolah menyesal karena berlibur dan meninggalkan pesta pernikahan nya. Cih.! Siapa juga yang ingin dia datang.


Anna tersenyum membalas "terimakasih Perdana Menteri, saya sungguh terharu. " Ucap Anna.


Sang Perdana Menteri Moon Guk Jae terkekeh dan mengibaskan tangan nya. "Tidak perlu terharu nona muda. Tapi hadiah pernikahan kalian akan menyusul. Maaf jika terlambat. " Ucap nya terdengar menyesal.


"Tidak perlu hadiah Perdana Menteri. Ucapan kalian sudah lebih dari cukup. " Ucapan Anna tersenyum.


Xavier hanya diam melihat Anna yang selalu menanggapi ucapan lelaki yang Anna panggil Perdana Menteri itu.


Wajah Anna tiba-tiba berubah bingung dan seperti berfikir. "Tapi aku bingung__" Ucapnya menggantung.


"Bingung kenapa nona muda? " Tanya pria itu.


Dengan wajah imutnya dia menatap pria itu. "Kenapa kau begitu berani ke luar didepan media? Bukankah kau terlibat___ups.maaf" Anna menutup mulutnya yang lancang.


Tanpa tahu bahwa kata-kata nya itu membuat suasana menjadi kaku. Wajah suami istri itu pun langsung berubah dingin. Tapi hanya beberapa menit, setelah itu mereka kembali ceria.


"Ahh.. Itu hanya orang-orang yang tidak menyukai diriku. Wajarlah jika orang seperti saya ini banyak yang membenci. " Ucapan pria itu dengan tawa hambarnya.

__ADS_1


"Orang seperti apa? " Tanya Anna penasaran.


"Yah. Nona muda tahu lah jika orang seperti saya ini selalu salah dimata masyarakat. Walaupun apa yang saya lakukan untuk kebaikan, tapi pandangan mereka tetap saja buruk. " Ucap nya dengan seolah pria itu telah banyak berkorban untuk masyarakat. Yang malah membuat Anna semakin membencinya.


Anna menahan semua umpat an yang sudah di ujung lidahnya agar tidak keluar. "Kau benar. Yang terlihat baik kadang ternyata buruk. Begitupun sebaliknya. Manusia tidak ada yang sempurna bukan? " Ucap Anna dengan senyum menawan nya.


Pria itu membalas dengan anggukan kepala dan juga kekehan.


"Ahh apakah anda masih kuliah? " Anna menatap istrinya yang sekarang bertanya padanya.


"Ya, kami masih kuliah. " Balas Anna.


"Kalian kuliah dimana? " Tanya nya lagi.


"Yonsei Universitas. " Jawab Xavier setelah sepanjang Anna berbicara baru kali ini dia menjawab.


"Wah. Kebetulan sekali, putri kami juga kuliah di sana. Mungkin kalian sudah mengenalnya, sebentar dimana anak itu. " Wanita itu terlihat menengok kebelakang untuk mencari seseorang.


"Ah itu dia. Sebentar aku panggilkan dia. " Wanita itu berjalan menghampiri seseorang yang dia katakan sebagai putrinya.


Wanita itu kembali lagi tapi bersama seorang wanita muda yang mengenakan gaun berpotongan line dengan belahan dada yang turun dan juga area kaki yang terekspos. Wanita muda itu menundukan wajahnya saat mereka sudah sampai.


"Kenalkan putri kami, Jessica Moon. "


Anna menatap mereka dengan wajah yang masih sama. Senyum palsu itu masih tercetak jelas di bibirnya.


"Hai, senang berkenalan dengan mu. " Anna mengulurkan tangan nya.


Anna bisa merasakan jika tangan Xavier meremas pinggang nya. Dia tahu jika Xavier sedang menahan amarah yang sedang tertanam dalam dirinya.


Jessica menjabat tangan Anna dengan ragu.


"Silahkan nikmati hidangan nya tuan, nyonya. Kami permisi dulu. " Xavier menghentikan acara ramah tamah itu.


Dan Anna bersyukur akan hal itu. Dia sudah muak dengan keluarga itu. Mereka menemui keluarga mereka yang sedang mengobrol bersama.


"Kalian sudah mengobrol dengan para tamu? " David bertanya pada mereka setelah mereka gabung di meja mereka.


"Sudah dad. " Ucap Xavier.


"Persiapkan diri kalian. Sebentar lagi perusahaan kami akan kalian pegang dengan sendiri nya. Terutama kau Anna, perusahaan daddy bukanlah perusahaan sembarangan. " Ucap David menatap tajam Anna.


Tetapi Anna tidak peduli, dirinya lebih memilih untuk menikmati sampanye nya. Ketimbang meladeni ucapan David yang membuatnya bisa lepas kontrol.


"Kau cantik sekali malam ini sayang. " Ucap Elena membuat suasana menjadi cair.


Anna tersenyum membalas pujian Elena tadi. Berbeda dengan Maggie yang di abaikan oleh Anna. Setelah itu mereka mengobrol tentang bisnis yang tidak Anna dengar. Matanya masih melihat para tamu yang sedang berdiri berkelompok. Ada yang terang terangan melihatnya, ada juga yang membicarakan nya dengan bisik-bisik.


Anna tak peduli apa yang mereka bicarakan, toh tidak ada yang berubah dari hidupnya.


"Kakak.! "


Anna mendengar suara melengking itu seperti menuju arahnya. Tapi, suara itu suara wanita. Anna mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah suara itu. Disana, dia melihat gadis bergaun pink sedang berlari ke arah mejanya. Wajahnya cantik, tingginya pun semampai. Walau tidak lebih tinggi darinya.


Gadis itu tiba-tiba memeluk Xavier dengan erat. Seperti lama tak bertemu. Suasana pun langsung senyap saat gadis itu memeluk Xavier.


Siapa gadis itu sebenarnya? Sepertinya ia harus memeriksa semua anggota keluarga Xavier. Pikir Anna.


Sedangkan Xavier kaget dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Laki-laki itu menelan ludahnya dengan susah. Melirik ke arah sebelahnya, istri nya pasti salah paham. Astaga! Gawat! Pikir Xavier.


Seseorang berdeham dan melirik Anna. Sedangkan yang di lirik sama sekali tak merubah ekpresinya. Dia hanya mengerutkan dahinya sebentar lalu kembali lagi seperti semula.


"Astaga. Kau ini apa-apa an? Lihat istrinya ada disebelah nya. Kau malah memeluknya.! "


Anna melihat wanita yang sepertinya ibu dari gadis itu sedang memarahi gadis yang masih memeluk Xavier. Sedangkan Xavier sudah mencoba melepas tangan gadis itu dari tubuhnya.


"Ah maafkan gadis bodoh ini nona muda. Dia memang tidak tahu sikap. " Wanita itu menundukan kepala sekali pada nya. Sedangkan Anna tidak menanggapi nya.


Tanpa tahu jika sikap Anna yang mengacuhkan nya itu membuat wanita itu memerah wajahnya. Tapi dia tetap tersenyum menutupi amarah karena di permalukan di hadapan orang.


Wanita itu menarik gadis itu dan melepas tangan nya dari Xavier. Xavier pun lega karena akhirnya bisa lepas dari gadis gila itu.


"Na-ri kau tak boleh seperti itu. Xavier sudah mempunyai istri. Hormati istri nya. " Wanita memukul bahu gadis bernama na-ri itu.


Anna sekarang ingat, yah na-ri. Anna menoleh pada kedua wanita itu yang sedang berdiri.


"Perkenalkan dia adik sepupu Xavier Myeong Na-ri. " Yah, Myeong Na-ri nama gadis yang telah memeluk Xavier tadi.


Gadis manja yang selalu berbuat onar. Gadis yang selalu membuat orang tuanya sakit kepala. Anna tahu gadis itu. Dia mempunyai sifat yang juga keras kepala. Apapun yang dia inginkan harus terpenuhi. Anak satu-satunya dari adik tiri Andrew, ayah Xavier.


"Hai, aku Myeong Na-ri. " Gadis itu mengulurkan tangan nya pada Anna.

__ADS_1


Anna menatap tangan di depan ya dengan datar. Haruskah ia membalas tangan itu? Dia mendongak dan menatap ga dia yang sekarang menjulang didenda dengna angkuh. Dagunya ia angkat, menandakan jika dia tak mau kalah darinya.


__ADS_2