
"Anna, ayo ke kantin. " Ajak Eve saat bel istirahat berbunyi dan siswa lainya sudah keluar dari kelas.
Anna menganggukan kepalanya dan membereskan bukunya. Xavier ikut menghampiri Anna untuk makan siang.
Mereka keluar dari kelas bertiga, sampai ke kantin mereka duduk di tempat yang kosong dan Eve memesan pesanan mereka.
"Brian kemana Anna? Kenapa aku tak melihatnya? Apa dia tak berangkat lagi? " Tanya Eve saat duduk setelah memesan makanan untuk mereka.
Mengingat nama Brian Anna ingat jika dirinya juga belum bertemu dengan nya lagi setelah insiden dirinya memarahi Brian.
Tadi pagi pun dirinya tak melihat Brian sarapan. Mungkinkah dia tak berangkat? Apa dia sakit? Memikirkan itu membuat Anna gelisah dan Xavier mengetahuinya.
"Aku tak tahu. Aku tak melihatnya tadi pagi. " Ucap Anna cuek.
"Benarkah? Aneh sekali. Bocah itu selalu memberi kabar jika ada sesuatu. " Ucap Eve membuat Anna semakin gelisah.
Mencoba menghubungi Brian menggunakan ponselnya dan tersambung. Tapi tak di angkat, Anna sekali lagi menelfon ya dan pada sambungan ketiga baru di angkat.
"Hallo. Kau dimana? " Tanya Anna saat telfon nya di angkat.
"Aku dirumah. Aku tak berangkat.. Maaf Anna aku lupa memberitahumu. " Ucap Brian disebrang sana.
Anna menghembuskan nafas lega nya saat mengetahui Brian ada disekolah.
"Em. Tak apa. Makan dan minum obatmu. Setelah itu tidur. " Balas Anna langsung memutuskan panggilannya.
Pesanan mereka tiba dan mereka siap memakan nya. Jika saja tak ada orang asing yang tiba-tiba duduk di depan Xavier.
"Xavier sayang, kenapa kamu selalu makan sama dia sih. Aku kesepian. " Ucap gadis bernama eun jae itu dengan wajah yang dibuat sedih.
Anna meletakan sumpitnya dan menghela nafas karena tidak nafsu lagi.
"Kesepian? Astaga. Lalu dayang-dayang itu kau anggap apa? Hantu?! " Ucap Eve sinis.
"Ishhh diam kau. Ayolah honey, kita makan disana ya? " Ajak eun jae menyentuh tangan Xavier.
Xavier langsung melepas tangan nya dan menatap eun jae dengan tajam.
"Pergi. Jangan mengangguku! " Kata Xavier kesal.
"Ayolah sayang. Biarkan saja dia makan bersama teman nya itu. Kita berdua saja okay. " Ucap eun jae tak mau menyerah.
Anna meminum air putih dan meletakan nya dengan keras.
Brak.!
Mereka semua langsung memandang meja Anna.
"Kau yang pergi, atau aku yang pergi?! " Ucap Anna memandang botol nya lalu melirik eun jae dengan tajam.
Eun jae menyilangkan tangan nya dan memandang Anna dengan senyum miring.
"Kenapa? Jika aku tak mau pergi? " Ucap eun jae menantang Anna dengan senyum remeh nya.
Anna memainkan lidahnya di dalam mututnya dan mengetuk ngetik jarinya di meja. Menatap eun jae yang tidak takut padanya membuat Anna semakin tertantang dengan permainan ini. Anna menyeringai. "Okay. Jika kau tak mau pergi. Biar aku yang pergi. "Ucapnya lalu berdiri dan melangkah pergi.
Xavier menahan tangan Anna. " Anna. Duduklah. Biarkan dia yang pergi. "Bujuk Xavier, bukan apa hanya Xavier tahu jika Anna belum makan sama sekali.
Eun jae melotot pada Xavier tak percaya dan Anna tersenyum senang. " Kau dengar tadi, jika dia tak mau pergi. Dan aku muak X. Aku tak selera sekarang. "Balasnya dengan nada merajuk.
Eve mengerjapkan matanya tak percaya dengan Anna yang berubah manja. Bahkan dirinya sampai terbatuk karena kaget.
Xavier menatap tajam eun jae. " Pergi. Kau tahu jika aku tak suka berbicara panjang lebar. Pergi lah saat aku memintanya dengan baik. Atau kau mau dengan cara menyeretmu keluar?! "Ancam Xavier pada eun jae tak main main.
Eun jae kesal dan pergi dari sana. Xavier menghela nafas dan menarik Anna untuk duduk.
" Aku benar-benar sudah tidak selera X. "Keluh Anna saat Xavier menyuruhnya duduk dan makan.
" Kau tetap harus makan. Bagaimana jika kau makan punyaku saja. Atau kau mau makan apa, biar aku pesankan. Hem. "Bujuk Xavier.
" Kau tetap akan memaksaku? "Kata Anna melotot pada Xavier.
" Em. Kau tetap harus makan. Ini coba makan punyaku. "Xavier mengambil makanan nya dan menyuapi Anna.
Anna tetap dia dan Xavier menaikan alisnya karena Anna tak membuka mulutnya.
" Ayolah Anna. Kau akan sakit jika tak makan. Cobalah. "Xavier terus membujuk Anna agar mau makan.
Dan Anna akhirnya pasrah dan membuka mulutnya menerima makan Xavier. Eve memperhatikan mereka dengan senyum tipis.
Romantis sekali mereka pikir Eve. Belum pernah Eve melihat Anna kalah seperti ini. Kalah dalam artian lain, karena Anna termasuk keras kepala. Tak ada yang bisa membuatnya mengalah seperti ini jika bukan ibunya dulu. Bahkan Brian pun tak akan bisa, walau Brian teman kecilnya.
__ADS_1
***
Eun jae kesal dan marah karena Xavier mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang. Dan dia akan membalas semua yang dia Terima.
" Aku butuh bantuanmu. "Eun jae menatap Barbara yang sedang duduk bersama teman-teman nya dengan kaki nya di naikan ke meja. Mereka sedang berada di belakang gedung sekolah. Tempat di mana Barbara menghabiskan waktunya untuk merokok. Karena disana tak ada yang pernah masuk.
Barbara tetap di tempat dan hanya melirik eun jae dengan sinis. Walau bagaimanapun mereka adalah musuh. Dan meminta bantuan adalah hal terakhir yang akan mereka fikirkan. Jika eun jae meminta bantuan padanya, itu berarti dia tak bisa menangani masalahnya.
" Apa? "Ucapnya cuek dengan menghembuskan asap rokok nya.
" Anna. Kau tahu dia bukan? "
Anna? Ahh barbara ingat. Wanita yang sejak pertama kali dia lihat mempunyai aura yang kuat. Wanita itu bisa menjadi lawan yang tangguh baginya. Walau sejak pertama kali mereka bertemu, Barbara sudah mengingatkan dia untuk tidak berbuat ulah.
Ternyata, wanita itu juga musuh eun jae? Menarik!
"Lalu? Bantuan apa yang kau inginkan? " Ucap Barbara menurunkan kakinya dan berdiri di hadapan eun jae.
Dengan senyum remeh eun jae sudah membuat rencana untuk Anna. "Kita habisi dia. " Ucap eun jae dengan mata berkilat dan suara penuh penekanan.
"Caranya? "
"Ikuti rencanaku. " Ucap eun jae dengan menyeringai.
Eun jae dan Barbara saling tatap dan menyeringai dengan pikiran jahat masing-masing.
Jam pelajaran hari ini tidak ada guru karena sedang berhalangan hadir. Membuat para siswa di kelas menjadi heboh.
"Aku ke toilet dulu. " Anna berdiri dan pergi ke toilet sendiri.
"Mau aku temani? " Tanya Eve pada Anna.
"Tidak. Kau disini saja. Hanya sebentar. " Tolak Anna dan keluar dari kelas.
Saat masuk ke toilet, Anna merasa aneh. Biasanya toilet tak pernah sepi seperti ini. Setidaknya ada satu atau dua siswa yang sedang tuch up. Mencoba menghalau perasaan tidak enak, Anna tetap melanjutkan kegiatannya untuk membasuh mukanya.
Klik!
Anna menghentikan tanganya ketika mendengar suara pintu di kunci. Anna membuka matanya dan melihat seseorang di belakang nya.
"Kita ketemu lagi. " Sapanya pada Anna dengan menyeringai.
"Hah lucu. Kalian ingin mengeroyok ku disini? " Ucap Anna terkekeh melihat banyak nya orang di toilet itu sedang mengepungnya.
"Kenapa? Takut? " Balas eun jae tersenyum remeh.
"Apa? Takut? Apa yang aku takutkan pada kalian? "Balas Anna tak kalah sinis.
" Kalian, hanya sekumpulan anak manja yang hanya bertindak di belakang nama orang tua kalian. Orang seperti kalian ini hanya sampah.! "Ucap Anna.
Eun jae mengeram kesal dan maju untuk menampar wajah Anna. Tapi sebelum bisa menampar wajah Anna, tangan nya di cekal Anna dan di pelintir. Tangan satunya langsung memukul wajah eun jae dengan sikunya.
Eun jae langsung ambruk dan di tangkap oleh teman nya.
" Arghhhh... Kau..! Brengsek..! Apa yang kalian lihat.! Serang dia.! "Umpat eun jae melihat hidung nya berdarah.
Mereka langsung maju satu per satu yang langsung di hajar oleh Anna. Dia menendang perut mereka dan memutar tubuhnya yang langsung melayangkan pukulan kakinya.
Bruk! Bruk! Bruk! Brak! Bugh!
Suara gaduh itu terdengar dari dalam toilet. Siswa yang mau ke toilet pun mendengar suara itu dan berlari ke kelas untuk mengatakan suara gaduh itu.
Brak!
" Itu.. Itu.. Toilet... Toilet nya di kunci.. Terus... Aku... Aku mendengar suara orang berkelahi di dalam. Tolong siapapun disini, dobrak pintu itu.. "Ucap siswa itu terbata bata karena nafasnya tersenggal senggal.
Xavier dan Eve saling tatap dan berlari. Sampai di depan pintu toilet, Xavier berteriak memanggil Anna.
" Anna.! Kau di dalam.! Anna.! Kau dengar aku! Sial.! "Xavier mengumpat karena hanya suara yaudh yang terus terdengar.
Sedang Anna di dalam menatap wajahnya yang berdarah di bagian bibir. Tanganya menekan kepala seseorang ke dalam wastafel yang penuh dengan air.
" Jangan berurusan denganku.! Kau akan tahu akibatnya.! Kau kira aku lemah.! Hah kau akan mati disini.! "Tekan Anna terus menekan kepala Barbara yang terus berontak karena akan kehabisan nafas.
Di belakang nya anak buah barbara dan eun jae sudah terkapar. Eun jae berdiri mencoba mencari cara untuk melepaskan Barbara dari cengkraman Anna.
Dia melihat ada vas dan mengambilnya. Tangan nya langsung mengayun ke arah Anna.
Buah!
Pyar!
__ADS_1
Anna merasakan hantaman kuat pada kepalanya dan melihat eun jae di belakang nya. Matanya mengabur dan tanganya melemah. Anna memegang kepalanya dan melihat ada darah di tanganya.
Matanya buram dan tenaga nya hilang. Bersamaan dengan itu Xavier berhasil mendobrak pintu dan membelalakan matanya melihat Anna ambruk.
" Anna.! "Teriak Xavier langsung menghampiri Anna dan memegang kepalanya.
Xavier melihat Anna sudah terpejam dan tangan nya terasa basah. Saat melihat, tanganya sudah berdarah. Xavier kaget, jantung nya serasa berhenti saat melihat darah itu.
" Tidak.! Anna..! Bangun Anna.! Anna.! "Xavier memegang wajah Anna dengan tangan nya yang berdarah. Mencoba membangunkan Anna. Tapi Anna tetap menutup matanya.
Segera, Xavier langsung membopong Anna untuk langsung ke rumah sakit. Sebelum itu, Xavier memberikan tatapan death Clare pada dua orang menjadi penyebab Anna seperti ini.
" Tunggulah. Hukuman kalian akan datang nanti.! "Xavier berjanji akan membuat perhitungan dengan mereka berdua jika terjadi sesuatu pada Anna.
Xavier langsung berlari dan membawa Anna ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Xavier terus memegang tangan Anna yang semakin dingin. Xavier terus berdoa memohon untuk bertahan.
" Tolong. Tolong bertahanlah Anna.! Kumohon! "Pinta Xavier dengan lirih. Air matanya sudah mengenang di pelupuk matanya.
Sesampainya di rumah sakit, Xavier langsung masuk ke UGD dan berteriak.
" Tolong.! Dokter.! Tolong istri saya dok.! "Xavier meletakan Anna di atas ranjang.
Dokter memeriksanya dan langsung memasukan Anna ke dalam ruang operasi. Xavier terus gelisah di depan pintu ruang operasi. Bahkan tanganya masih berdarah karena darah Anna. Dirinya bahkan tak mau membersihkan darah istrinya.
Dia terus begerak kesana kemari, hingga Eve dan Brian datang.
" Bagaimana? Anna belum keluar? "Tanya Eve khawatir.
Xavier hanya geleng geleng kepala dan menundukan wajahnya.
" Bagaimana ini bisa terjadi? "Tanya Brian tentang kejadian Anna.
" Eun jae dan Barbara mengeroyok nya di toilet. Pantas saja Anna lama sekali di toilet. Aku sudah khawatir denganya. "Jawab Eve frustasi.
" Apa? Jadi wanita-wanita itu yang membuat Anna seperti ini.! Brengsek! Keparat!! "Umpat Brian meninju tembok karena kesal.
Xavier tak menggubris mereka, sekrang fokusnya hanya pada Anna yang berada di dalam sana. Tangan nya gemetar dan pakaian nya pun berantakan. Darah dimana mana, membuat Eve ngeri melihat bagaimana darah itu adalah darah Anna. Seberapa parah Anna sampai darah pekat itu banyak sekali.
Xavier duduk dengan lemas, ini sudah lewat 2 jam mereka melakukan operasi. Tapi kenapa belum selesai juga. Xavier benar-benar frustasi.
Lampu operasi padam dan pintu terbuka. Xavier, Eve dan Brian langsung berdiri dan menghampiri dokter untuk menanyakan soal operasinya.
" Bagaimana dok? Istri saya baik baik saja kan?! "Tanya Xavier tak sabar.
Sesaat dokter itu kaget dengan perkataan Xavier. Tapi dirinya tak mau memperpanjang hal itu.
" Operasinya lancar. Dan Pasien akan di pindahkan di ruang rawat. "Ucap dokter itu.
Xavier merasa lega saat mendengar operasinya lancar.
" Ruang VVIP dok. "Pinta Xavier.
" VVIP? "Ulang dokter itu tak salah dengar.
Xavier menatap dokter itu dengan datar. " Oh. VVIP. Kenapa? Apa kau pikir aku tak bisa membayarnya? Kau tak tahu siapa aku? "Kata Xavier pada dokter itu.
" Aku Xavier Dominic Xeon dan di dalam sana istriku Anna Ashlyn Greyson. Kau paham?! " Ucap Xavier mengintimidasi dokter itu.
Dokter itu langsung tergagap dan membungkukan kepalanya meminta maaf.
"Ahh maaf tuan. Maafkan kelancangan saya. Siapkan ruang VVIP untuk nona Anna. Cepat! " Suruh dokter itu pada perawat.
Xavier melihat Anna keluar dari ruang operasi dengan peralatan medis yang tertempel di tubuhnya. Hatinya terasa sakit melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah seperti itu.
Xavier mengikuti Anna tapi di cegah oleh Eve.
"Basuh dulu darah di tangan mu. " Ucap Eve lalu meninggalkan Xavier.
Setelah membasuh tangan nya, Xavier langsung masuk dan melihat Anna yang terbaring di ranjang dengan alat bantu pernafasan di mulutnya.
"Kapan dia bangun? " Tanya Xavier tanpa memandang dokter itu.
"Dia akan bangun dalam 24 jam tuan. " Ucap dokter laki-laki itu menundukan kepalanya. Dirinya masih menyesal dengan perlakuannya tadi.
"Pergilah." Usir Xavier pada dokter itu.
Setelah dokter itu pergi, Xavier menghampiri Anna dan duduk di sebelah ranjangnya. Memegang tangan Anna yang bebas infus dengan lembut.
Mencium nya dngan lembut dan menempelkan nya di pipinya.
"Bangunlah sayang. Jangan buat aku khawatir seperti ini. Jangan tinggalkan aku. Kumohon. " Pinta Xavier dengan lirih.
Dadanya terasa sesak memikirkan bagaimana hidupnya tanpa Anna disisinya. Bahkan tanpa terasa air matanya pun luruh saat membayangkan hal mengerikan itu. Tidak! Bahkan untuk membayangkan saja sudah membuatnya sesak nafas. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Mungkin Xavier sudah mengikuti Anna ke Liang lahat.
__ADS_1
Isak tangisnya terdengar oleh Eve dan Brian yang menunggu di luar. Mereka termenung saat mendengar isak tangis itu yang begitu pilu.