Je Te Protégerai

Je Te Protégerai
Chapter 10


__ADS_3

David dan Maggie masih terdiam di ruangan VVIP itu. Sedang Anna sudah pergi sedari tadi. Hingga tangis Maggie pecah dan David merengkuhnya.


"Bagaimana bisa.. Bagaimana bisa kita mengabulkan hal itu David. Tidak. Aku tidak rela jika itu terjadi. Tidak David. Jangan lakukan itu. Aku tak bisa jauh darinya. " Ucap Maggie sambil menangis keras.


"Tenanglah sayang. Kita coba cara lain. Oke. Jangan menangis. " Ucap David mencoba menenangkan Maggie.


David pun merasakan hal yang sama. Permintaan Anna di luar kendali. David mengira jika Anna akan meminta mommynya kembali padanya. Tapi ternyata, sebaliknya Anna menginginkan mereka terlepas darinya.


Dan David tak bisa mengabulkan hal itu. Tidak.! Tidak akan! Anna akan tetap bersamanya. Jika savana bisa membuat Anna berada disampingnya, maka hal itu akan David lakukan. Walau dirinya harus mengurung savana selamanya di Korea.


***


Anna terdiam di mobil, menatap diluar jendela. Ingatan nya kembali saat tadi di dalam sebelum dia keluar dengan jawaban David yang membuatnya marah.


"Tidak akan pernah.! Camkan itu Anna. Sampai kapanpun, mommy mu tak akan bisa lepas dariku!! "


Mengingat itu membuat Anna kembali mendidih. Anna benar-benar kecewa dengan David.


Sampai dirumah, Anna bergegas masuk. Anna melihat Brian yang menyambutnya.


"Tidak sekarang. " Ucap Anna sebelum Brian bertanya lebih lanjut.


Brian yang melihat wajah Anna kacau pun hanya diam. Brian tahu, pertemuan itu pasti membuatnya kacau. Brian akan memberi waktu Anna agar bisa tenang.


Pagi nya Anna sudah bersiap berangkat sampai tiba-tiba ada suara mobil didepan rumahnya. Satpam depan mengatakan jika Xavier yang datang. Anna pun menyuruhnya tetap disana.


"Aku akan pergi bersama Xavier. " Pamit Anna pada Brian yang sudah menunggunya sarapan.


Sesampainya di mobil, Xavier pun menghidupkan mobilnya dan pergi.


"Ada apa kau kemari? " Tanya Anna.


"Tentang pernikahan kita. Apa yang akan kau lakukan? " Tanya Xavier.


"Apa lagi? Bukankah tak ada pilihan bagi kita? " Ucap Anna santai.


"Apa kau benar benar akan melakuan hal itu? Kita masih muda Anna. Apa kau tak merasa ini terlalu cepat? " Tanya Xavier yang tak habis fikir dengan Anna yang mudahnya meng iyakan pernikahan itu.


"Kau punya ide? " Tanya Anna balik.


"Tidak." Ucap Xavier.


Anna pun menghela nafasnya kesal.


"Kau bisa mengatakan hal itu padaku lagi jika kau sudah punya ide untuk membatalkan pernikahan ini. Kau mengerti!! " Bentak Anna kesal.


"Kau saja yang mencari ide untuk membatalkan pernikahan kita. " Ucap Xavier.


"Aku?! Wuah apa kau benar-benar laki-laki?! " Ucap Anna sengit.


Xavier tergagap mendengar pertanyaan Anna.


"Apa kau mengujiku? Kau mau melihat seberapa lelakinya aku?! Hah kau benar benar nakal Anna. " Ejek Xavier.


Mata Anna melebar mendengar ucapan Xavier yang seperti menghinanya berpikiran kotor.


"Apa?! Nakal?! Kau fikir apa yang ada di dalam otakmu yang pintar itu X. Kau benar benar bodoh!! " Umpat Anna kesal.


"Ishhh siapa yang kau bilang bodoh?! " Bentak Xavier.


"Kau! Tentu saja kau bodoh.! Gunakan otak pintar mu itu agar kita bisa terlepas dari pernikahan itu. Bukankah kau pernah bilang punya pacar? Gunakan pacarmu itu agar pernikahan ini tidak terjadi. "


"Kapan aku pernah mengatakan hal itu? " Tanya Xavier sambil mengerutkan keningnya.


"Kau lupa? Saat pertama kali kita bertemu di restoran. " Ucap Anna.


"Hei aku tak pernah mengatakan hal itu. Kau saja yang berasumsi sendiri. Saat itu aku bertanya padamu apakah kau tidak mempunyai teman spesial, dan kau malah balik bertanya padaku saat itu. Dasar! Jangan memutar balikan fakta! " Ucap Xavier berdecak kesal.


"Benarkah? Ah lupakan. Yang terpenting, kau harus menemukan jalan keluar agar kita tidak menikah. " Ucap Anna telak.


"Kenapa harus aku! Kau juga harus memikirkan hal ini.! " Ucap Xavier tak Terima.


"Aku sudah mencoba. Tapi gagal! " Ucap Anna datar.


"Benarkah? Apa yang kau lakukan? " Tanya Xavier penasaran.


"Bukan urusanmu! " Ucap Anna yang langsung menoleh kesamping jendela.


Xavier pun cemberut mendengar jawaban Anna. Perjalanan mereka pun hening hingga sampai ke sekolah.


***


Sudah dia minggu berlalu setelah makan malam itu terjadi. Tapi Anna ataupun Xavier belum menemukan jalan keluar dari permasalahan mereka.


Anna mengajak Xavier bertemu untuk mendiskusikan hal ini.


Anna duduk di samping jendela cafe. Mereka akan bertemu di cafe itu. Sayup sayup Anna mendengar ocehan orang yang melihatnya.


'Bukankah itu Ashlyn? Model terkenal itu? '


'Benar! Itu dia'


'Wah cantik sekali. Bahkan dari dekat pun dia benar benar cantik'


'Benar! Ah aku ingin sekali foto denganya'


Banyak lagi ocehan yang Anna dengar sari mereka. Anna melihat jam di pergelangan tanganya.


'Sial! Dia sudah terlambat 5 menit! Awas saja kau X'


Tak lama Anna melihat Xavier masuk ke cafe.


"Maaf menunggu lama. " Ucap Xavier yang langsung menduduki kursinya.


Anna menatap Xavier tajam.


"Kau membuatku menunggu 5 menit X.! " Ucap Anna kesal.


"Maaf. Tadi aku harus ke perpustakaan dulu mengembalikan buku. " Ucap Xavier.


"Baiklah. Kau mau pesan apa? " Tanya Anna seraya memanggil pelayan.


"Es Americano saja. " Ucap Xavier pada pelayan itu.


Setelah pelayan itu pergi Xavier pun menatap Anna.

__ADS_1


"Apa yang kau mau bicarakan? " Tanya Xavier.


"Tentu kau tahu X. Ini tentang pernikahan kita. Tiga minggu dari sekarang kita akan menikah. " Ucap Anna.


"Lalu? " Tanya Xavier.


Xavier sengaja tidak memikirkan jalan keluar tentang pernikahan itu. Jauh dalam hatinya, Xavier benar-benar ingin menikah dengan Anna. Walau waktunya terlalu cepat, tapi jika memang sudah takdir maka Xavier akan menyetujuinya.


"Kita sama sama tidak punya pilihan lain bukan? Maka dari itu aku ingin beberapa syarat sebelum kita menikah! " Ucap Anna tenang.


"Syarat? " Gumam Xavier


"Iya. Aku mempunyai beberapa syarat sebelum kita menikah. "


"Baiklah. Akan aku dengarkan dulu syarat yang kau minta. Setelah itu akan aku pikirkan. " Ucap Xavier bijak.


"Satu. Aku ingin setelah kita menikah kita tinggal di rumahku. Dua. Kita harus tidur terpisah. Walau bagaimanapun kita masih muda dan aku tak mau hamil dulu. Ketiga. Aku rasa pernikahan ini hanya sampai satu tahun. Setelahnya kita bercerai. Walau aku sebenarnya yang rugi karena jadi janda di usia muda. Tapi tak apa lah. Ke empat. Urusi urusan masing-masing. Karena aku tak suka orang yang mengusik pribadiku. Bagaimana? "


Anna menatap Xavier penuh harap. Anna berharap Xavier mau mengabulkan syaratnya.


"Syarat pertama. Kenapa kita harus tinggal dirumahmu? " Tanya Xavier tenang.


"Karena... Karena aku tak bisa meninggal kan rumah itu. " Ucap Anna tergagap.


"Benarkah!? Bukan karena seseorang? " Tanya Xavier dengan menaikan alisnya.


Anna menatap Xavier, begitupun dengan Xavier.


'Baiklah mungkin ini saatnya'


"Kau mungkin sudah tahu bagaimana keluargaku. Baiklah. Kau benar! Karena seseorang yang ada dirumah itu. Aku tak bisa meninggalkan mommy ku. Wanita yang mengamuk saat kau melihatnya kalau itu adalah ibu kandungku. "


Xavier masih memandang Anna tanpa merubah wajahnya.


"Mommy ku adalah wanita simpanan David. Maka dari itu, keberadaan nya tidak boleh di ketahui oleh orang lain. " Ucap Anna.


Xavier menatap wajah Anna. Wajah itu, benar benar tak bisa terdeteksi. Selalu datar, membuat Xavier harus ekstra berpikir apa yang sedang di pikirkan atau apa yang sedang dirasakan oleh Anna.


Dinding itu benar-benar kokoh. Sampai kapan dinding itu bisa bertahan? Sampai kapan dinding itu berdiri? Apakah dirinya bisa merobohkan dinding itu?


"Lalu, kenapa kita tidur terpisah? " Tanya Xavier setelah memandangi wajah Anna.


"Kau tahu kita tidak seakrab itu untuk tidur bersama X. " Ucap Anna santai.


"Benarkah? Kita bisa akrab jika terus bersama. " Ucap Xavier kekeh.


"Kita masih muda. Dan hal seperti itu belum saatnya. " Ucap Anna mencoba membuat Xavier mengerti.


"Itu hak ku Anna. Dan kau tidak bisa menolak! " Ucap Xavier telak.


"Dan untuk tidak saling mengurusi urusan masing-masing, aku juga keberatan.! " Ucap Xavier membuat Anna melebarkan matanya.


"Jadi kau menolak semua syarat ku begitu?! " Ucap Anna dengan suara tinggi.


"Ya.! "


"Kau benar benar keterlaluan X. Okay.! Syarat yang satu ini harus kau kabulkan.! "Ucap Anna pantang menyerah.


" Apa? "


"Aku tak ingin satu sekolah tahu jika kita susah menikah. Walau itu sekolah milik David, tapi aku tak ingin ada yang tahu. " Ucap Anna bernegosiasi.


Xavier bergidik membayangkan hal itu. Tidak. Dirinya laki terhormat. Dirinya tak menyentuh wanita yang bukan dia inginkan.


"Kau kenapa? " Tanya Anna melihat Xavier bergidik.


"Tidak. Baiklah jika hanya itu syaratmu. Kita rahasiakan hal ini. " Ucap Xavier menyetujui syarat yang diberikan Anna.


"Okey. Deal!! " Ucap Anna.


***


Anna pulang ke rumahnya setelah bertemu dengan Xavier. Tiba-tiba Anna mendengar kegaduhan di kamar mommy nya.


Anna masuk dan melihat jika mommy membuang semua barang yang ada di kamar. Mommy nya mengamuk dan berteriak.


"David. Aku butuh David.! Panggilkan David kemari!! " Teriak Savannah menggila.


"Ada apa ini minah? " Tanya Anna disamping minah.


"Sepertinya nyonya kambuh lagi nona. " Ucap minah khawatir.


Anna menghela nafasnya kasar.


"Cepat siapkan obat mommy. Aku akan mendekatinya. "


" Baik nona. "


Anna pun perlahan mendekati Savannah.


"Mom, ini Anna mom. Tenanglah. " Ucap Anna perlahan lahan mendekati mommy nya yang masih berteriak.


Savannah mendongak menatap Anna benci.


"Kau! Kau perusak rumah tangga ku. Dasar wanita murahan! Pergi kau! Wanita ular!! Kembalikan David padaku.! Kembalikan!! " Savannah menarik rambut Anna dengan kencang dan menampar nya.


"Mom, lihat baik baik. Ini Anna mom. Anak mommy. " Ucap Anna pada mommy nya.


"Tidak! Kau wanita ular itu.! Kau yang menghacurkan hidupku dan putriku.!! Kau membuatnya tak semangat hidup! Kau membuat putriku semakin jauh dariku! Dasar brengsek?! Wanita keparat!! " Teriak Savannah mengumpat.


Minah masuk dan segera menyuntikan obat tidur pada mommy nya. Setelah nya mommy nya lemas dan tak sadarkan diri.


Minah dan Anna membopong tubuh Savannah yang ringan itu ke tempat tidur. Meyelimutinya dan merapikan rambut yang berantakan.


Anna menatap tubuh ringkih itu. Semakin lama tubuh itu semakin seperti tulang yang tersisa. Anna benar-benar miris.


"Aku keluar dulu. Bereskan kekacauan ini minah. " Ucap Anna pada minah.


"Baiklah nona. "


Anna keluar dari kamar mommy nya dan masuk ke kamarnya. Anna menghadap cermin, melihat wajahnya yang berantakan dan pipi yang merah karena di tampar oleh mommy nya.


Yang hanya bisa Anna lakukan hanya menghela nafas dan pergi ke kamar mandi. Setelah mandi dan mamakai pakaiannya Anna bersiap tidur setelah mengecek ponsel nya. Hanya ada beberapa pesan dari Eve dan Brian. Selain itu hanya pesan tak penting.


Anna ingin mengistirahatkan badan dan juga pikiranya. Dirinya benar-benar lelah.

__ADS_1


Hingga pagi menjelang Anna bangun dari tidurnya. Jam sudah menunjukan pukul 7 lewat dan Anna dengan santai mandi lalu turun ke bawah.


"Nona. Kau baru bangun? Brian sudah berangkat dari tadi. Karena nona sedari tadi di bangunkan susah. " Ucap minah memberi tahu Anna.


"Tak apa minah. Toh sekolah itu milik David. " Ucap Anna santai sambil mengoleskan rotinya.


Setelah sarapan, Anna berangkat dengan mobilnya sendiri. Bahkan Xavier dia larang menjemputnya hari ini. Anna hanya ingin sendiri dulu.


Setelah sampai Anna tidak masuk ke kelas. Dirinya malas untuk masuk. Dan akhirnya dirinya ke kantin.


Saat sedang menikmati minumannya, Anna melihat ada beberapa anak yang sedang masuk. Tapi anak rasa mereka anak baru karena mereka tak memakai seragam. Tanpa menghiraukan, Anna tetap menikmati minumannya dan bersandar sebentar.


Setelahnya bel istirahat berbunyi dan anak anak segera memasuki kantin beramai ramai. Anna pun memberi tahu Eve dan Brian jika dirinya ada di kantin.


"Kenapa kau tak masuk? "


Anna mendongak melihat Eve sudah duduk dihadapanya dengan Brian di sampingnya.


"Aku malas. Toh belajar atau tidaknya aku tetap lulus. " Ucap Anna santai.


"Ya ya ya. Kau benar. Tanpa masuk pun kau sudah pintar Anna. " Ucap Eve sedikit mengejek.


Anna hanya terkekeh melihat Eve yang kesal.


"Kau pesan apa? Biar aku pesan kan. " Ucap Eve sambil berdiri.


"Tetaplah disitu! Lihat apa yang bisa aku lakukan dengan kekuasaan David miliki.! " Ucap Anna yakin.


Eve dan Brian saling tatap mendengar perkataan Anna.


Prok prok prok


Seketika mereka hening dan menoleh saat mendengar suara tepukan itu.


"Kalian yang berada di sana. Minggir! " Teriak Anna menunjuk stand yang sedang di keributan banyak siswa.


"Anna. Kau mau apa? " Bisik Brian.


Tanpa menghiraukan Anna bertanya pada Eve dan Brian yang mau pesan makanan. Brian dan Eve sudah menolak dan akan pesan sendiri. Tapi dengan sedikit paksaan, akhirnya Eve dan Brian pun menurut


"Baiklah! Bibi buatkan nasi goreng dua dan jus jeruk dua!! Antarkan kesini! Mengerti! " Teriak Anna pada salah satu stand.


"Siap nona. " Ucap bibi stand dengan sigap.


Mereka semua tahu siapa Anna. Dan apa resikonya jika melawanya.


Hingga salah satu dari mereka berteriak pada Anna.


"Kau fikir siapa berteriak seperti itu dan membuat mereka semua menghentikan pesanan mereka?! "


Anna menoleh dan mendapati jika Eun Jae yang berbicara.


Dengan menyeringai Anna menjawab "aku anak pemilik sekolah ini. Dan aku bisa saja membuat kalian tidak bisa diterima disekolah manapun! "


Mereka semua takut dengan ancaman Anna yang tak main main.


"Dan kau tahu bukan siapa aku? Aku anak donatur terbesar di sekolah ini. Jika aku mau, aku bisa meminta ayahku untuk menghentikan donatur ke sekolah ini dan di tutup!! " Kata Eun Jae tersenyum miring.


Anna tersenyum remeh dan berjalan ke arah Eun Jae. Anna tertawa pelan dan menatap Eun Jae.


"Dan bukankah sudah kubilang untuk membuktikannya?! Kau hanya pandai ber omong kosong Eun Jae. Semua kata katamu hanya kebohongan.! "


"Siapa bilang. Aku bisa saat ini juga menelfon ayahku dan mengatakan hal itu. " Ucap eun jae membantah.


"Telfon dan aku ingin dengar apa yang akan kau katakan?! " Tantang Anna.


Eun jae gelagapan. Dia tak mungkin menelfon ayahnya hanya karena masalah sepele ini. Apalagi ayahnya sangat sibuk. Tak mungkin telfonnya di angkat.


"Ayo. Apa perlu aku yang menelfon ya? " Ucap Anna mengejek.


"Baiklah. Lihat saja nanti saat aku menelfon ayahku. " Ucap eun jae sambil mencoba menelfon ayahnya.


Terdengar hanya suara tersambung tapi tak di angkat. Percobaan sekali gagal. Kedua kali gagal juga. Hingga ketiga kali tetap sama.


Anna tertawa melihat hal itu.


"Lihat. Ayahnya yang selalu di banggakan bahkan tak menjawab telfon putrinya? Ohh apa kau tak di anggap nya? Sayang sekali. " Kata Anna meremehkan eun jae yang selalu menyebut ayahnya dengan bangga.


Eun Jae mengumpat lalu menatap Anna tajam. Yang di balas dengan tatapan remeh lalu berbalik seraya berkata pada bibir stand agar cepat membuat makan siang untuk teman nya.


"Kau seperti pelayan. "Ucap Eun Jae membuat Anna berhenti berjalan dan berbalik.


"Apa kau bilang.? "


"Pelayan! Kau seperti pelayan bagi mereka. Bukankah terbalik? Harusnya mereka yang melayanimu. Dilihat dari mereka berdua hanya anak bodyguard dan anak karyawan saja sudah sombong. " Ucap Eun Jae merendahkan Eve dan Brian.


Anna marah saat seseorang merendahkan kedua temanya itu.


"Berkatalah sekali lagi.! Apa kau bilang?! " Ucap Anna menggeram.


"Aku bilang mereka berdua harusnya jadi....


"


Bruk


Terdengar pekikan siswa yang melihat Anna menyerang Eun Jae hingga terjatuh. Brian dan Eve pun berlari menuju Anna.


"Bilang sekali lagi. Akan ku robek mulutmu! " Teriak Anna dengan menjambak rambut Eun Jae.


Eun jae berteriak kesakitan dan membalas jambakan Anna. Kedua gadis itu berkelahi saling jambak dan saling tampar. Brian dan Eve melerai mereka.


"Anna sudah! " Brian menarik Anna melepaskan kedua gadis itu.


"Lepas Brian. Biar kuberi pelajaran pada dia. Kesini kau! " Anna mencoba melepaskan tangan Brian yang merengkuh tubuhnya.


Keributan itu membuat Maggie keluar dari ruanganya karena laporan dari salah satu siswa.


"Apa apaan kalian.! " Teriak Maggie hingga mereka terdiam.


"Anna.! " Xavier menatap Anna yang terlihat kacau. Dirinya tadi bersama Maggie di ruang kepala sekolah.


Anna pun mengacuhkan mereka dan pergi dari sana jika saja tidak ada yang berteriak memanggil namanya.


"Anna! Kau kah itu?"

__ADS_1


Suara itu, seperti Anna kenal. Berbalik Anna melebarkan matanya melihat siapa disana.


"Thomas?! "


__ADS_2