Jejak Sadin

Jejak Sadin
1. Konten baru?


__ADS_3

Drt... Drt...


Suara lantang dari ponsel Sadin berhasil membuat si empunya menoleh seketika.


"Woy, bro!" sapa seseorang dari seberang telepon.


"Gimana-gimana? Dapat tempat syuting baru?" tanya Sadin sambil menyesap secangkir kopi buatan Embu.


"Dapat, Bro! Konten paling mantap, nih. Hospital!"


"Rumah sakit maksud lo?"


"Iya, gila, sih ini angker banget. Gak sia-sia gua search sampai pagi buta."


"Send pict dan loc ye," ucap Sadin pada temannya itu.


"Tapi, Bro." Ucapan temannya itu terdengar terputus.


"Kenapa lagi?"


"Kamera Saben lagi bermasalah. Takutnya–"


"Tenang aja! Nanti gue bantu benerin di sana. Siapin alat-alat aja. Btw, kapan kita mau ke sana?"


"Cek schedule kuliah dulu, deh. You know, lah kalau gue ini orang sibuk."


"Gaya Lo segaban, Rap."


"Udah dulu, Bro. Gue hubungin yang lain ya."


"Sip."


Tut.. tut.. tut...


"Emang enggak punya adab anak satu ini kalau telepon," monolog Sadin sambil bersiap meninggalkan bale-bale kesayangannya.


Ia berniat jalan ke arah kamar. Melewati Embu yang sedang mengupas wortel.


"Sadin? Kamu mau bikin konten yusup lagi?" tanya Embu yang membuatku geleng-geleng kepala.


"YouTube, Embu, bukan yusup," sahut Sadin sambil tertawa.


Langkahnya mulai terhenti dan sejenak menghampiri embunya.


"Ada yang bisa Sadin bantu, Embu?" tanya Sadin dengan penuh rasa hormat kepada orangtuanya itu.


"Gak usah, Din. Sebentar lagi juga Embu selesai."


"Din." Panggilan Embu berhasil membuat Sadin menatap ke arah Embu.


"Embu rasa kali ini kamu jangan bikin konten yusup dulu, deh." Ucapan Embu yang awalnya serius lagi-lagi membuat gelak tawa Sadin pecah.


"Aduh, Embu. YouTube bukan yusup," ralat Sadin sambil terkekeh.


"Iya itu pokoknya."


"Kenapa, Embu?" Tatapan Sadin mulai fokus ke arah Embu.


"Embu ngerasa enggak enak, Din. Embu takut kamu kenapa-kenapa," ucap Embu sambil mengusap lembut kepala anaknya itu.


"Embu, Sadin bikin konten YouTube kan untuk Embu juga. Semenjak Sadin dan teman-teman jadi YouTubers, Alhamdulillah, Embu sudah tidak letih-letih jualan lagi, 'kan? Gapapa kok, Embu. InsyaaAllah Sadin dijaga Allah," ucap Sadin sambil mencium tangan Embu dengan tulus.


"Ya sudah, Din. Embu hanya bisa mendoakan." Ucapan Embu langsung disambut senyuman hangat dari Sadin.


"Sadin izin ke kamar dulu ya, Embu."


Sadin mulai melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia sibak gorden yang digunakan sebagai pengganti pintu. Direbahkannya badan yang rasanya sangat pegal. Padahal ini masih pagi. Waktu pun masih menunjukkan pukul sembilan.


Seakan teringat oleh sesuatu, Sadin mulai terbangun dari rebahannya dan mengecek ponselnya. Ternyata Rafles telah mengirimkan nama rumah sakit beserta alamatnya.


Tangannya mulai lihai mengetikkan satu-persatu huruf tersebut pada laptop.


"Wouh, sudah kosong tiga belas tahun yang lalu!"


Segala informasi gedung tua itu dia cari hingga ke ujungnya.


Kresek.. kresek...


Suara plastik yang bergerak mulai terdengar di telinga tajam milik Sadin. Dengan cekatan, ia langsung menoleh dan mencari sumber suara tersebut.

__ADS_1


"Jangan."


Glup...


Sadin meneguk ludahnya sendiri saat suara halus sampai di telinganya.


"Jangan."


Suara itu asli! Tidak mungkin bila Sadin salah dengar.


Ia mulai meletakkan laptopnya di atas kasur. Ia terlihat merogoh tempat yang sekiranya menjadi sumber dari suara aneh tersebut.


"Aneh, sih. Suaranya dari mana, ya?" gumamnya sambil melongok ke arah pintu.


"Enggak ada orang," monolognya sambil memegang leher.


"Perasaan saja mungkin." Dia memutuskan untuk fokus lagi.


"Jangan.. jangan..."


Glup.


Suara yang mirip rintihan itu terdengar tepat berada di bawah meja belajar yang sudah hampir reyot.


Secara perlahan lelaki itu mulai menyingkirkan plastik-plastik dan koran bekas yang menutupi.


Hingga akhirnya..


Slap.


"Meong."


"Ya Allah! Tumi! Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Sadin yang mulai menenangkan degup jantungnya yang lumayan tak terkondisi.


Ia mulai mengangkat Tumi, si kucing peliharaannya adiknya itu.


"Lain kali jangan main di sini, ya. Nakutin saja kamu."


"Kakak?" Tanya Sami–adik Sadin—sembari menyibakkan gorden penghalang kamar Sadin dengan ruang tamu.


"Liat Tumi, 'ndak?" Sami terlihat berwajah sangat polos ketika melontarkan pertanyaan itu.


Sami terlihat terkekeh.


"Maafin Tumi, Kak. Tumi kan bukan manusia," ucap Sami sambil memperlihatkan gigi ompong nya.


Sadin hanya bisa menahan gelak tawanya yang tetap saja pecah.


"Assalamu'alaikum, Sadin!" Suara panggilan dari temannya membuat Sadin berhenti tertawa.


"Kakak ke luar dulu, ya," ucap Sadin sambil mengecup puncak kepala adiknya yang masih duduk di bangku SD kelas empat.


"Iya, Kak."


Sami masih setia mencium kucingnya yang sangat terlihat manis.


"Push.. push.. kenapa kamu sangat manis?" tanya Sami pada Tumi.


"Jangan.. jangan..."


Suara merintih itu kini menghantui indera pendengaran Sami.


"Siapa?" tanya Sami sambil menoleh ke segala arah.


"Jangan..."


Suara itu lagi-lagi terdengar dari bawah meja belajar Sadin. Dengan sigap Sami langsung membuka beberapa koran bekas yang menutupi.


"Wah, ada boneka kucing! Tumi, sekarang kamu ada temannya, nih!"


"Eh, tapi kenapa boneka kucing ini bisa bersuara 'jangan', ya? Terus kenapa bisa ada di kamar Kak Sadin?" tanya Sami.


"Ah, gapapa, deh. Yuk kita keluar!" Ajak Sami kepada Tumi.


Sementara itu tepat di pojok ruangan, ada seorang wanita tak kasat mata yang menangis sambil melihat kepergian boneka kesayangannya yang dibawa oleh orang lain.


👀


"Hai!" Sapaan dari beberapa temannya itu disambut hangat oleh Sadin.

__ADS_1


"Bagus! Completed sekali kumpulnya. Mau ngomong tentang jejak, 'kan?" Tanya Sadin to the point.


Semua yang hadir manggut-manggut.


"Di basecamp saja."


Jejak Sadin. Sebuah channel YouTube yang awalnya dibuat iseng-iseng oleh lima remaja ini. Berisi konten horor yang siap uji nyali dan mencari sebuah teka-teki di tempat misterius juga menggali informasi seputar kematian dari arwah-arwah yang masih penasaran.


Sadin Anugerah sebagai pelaku utama. Lelaki yang satu ini agak jayus dan juga humble.


Rafles Demian, seorang lelaki yang peka terhadap kedatangan makhluk halus. Kalau diibaratkan dalam film, dia adalah tokoh kedua yang berperan penting dalam kisah "Jejak Sadin".


Saben Develni, seorang kameraman handal yang sedang aktif di setiap komunitas photography. Hasil videonya sudah tidak diragukan lagi, Bro!


Dinda Delia, seorang anak tomboi yang lebih kerap dekat dengan lelaki dalam artian teman. Ketika kalian tanya apa kelemahannya, pasti tidak akan ada satu pun yang bisa menjawab. Eits, ada satu, deh. Jomblo akut!


Hyushi Arigana atau akrab disapa dengan sebutan Hyu. Namanya boleh seperti orang Jepang, tapi wajah gadis manis ini lebih terlihat ke arah Jawa. Dia ini adalah pacar dari Rafles.


Basecamp mereka tepat berada di bawah pohon beringin yang terlihat lebat. Seram dan terlihat angker tentunya, tetapi memang dasarnya mental mereka semua sangat kuat, jadilah mereka tidak pernah takut dengan gangguan seperti apapun. Sejauh ini, begitulah kenyataannya.


"Kalian semua yakin mau ke sana?" tanya Hyu yang terlihat tepat berada di samping Rafles, bucinannya.


"Lo takut?" tanya Dinda dengan gaya khas seperti lelaki.


"Enggak seperti itu, Din. Kata uncle aku, rumah sakit itu angker sekali. Apa lagi sudah lama tidak dipakai. Yang masih dipakai saja terkadang seram. Bagaimana yang sudah terbengkalai beberapa tahun?" Ucapan Hyu memang terdengar terlalu baku di telinga orang-orang, tetapi bagi komplotan JS, hal itu sudah menjadi ciri khas dari Hyu.


"Hyu, semua rumah sakit itu angker. Kalau lo mau yang enggak angker, di masjid aja!" sindir Sadin sambil terkekeh.


"Benar, sayang. Kalau kamu takut, jangan ikut," ucap Rafles sambil mengelus kepala Hyu.


Tuk!


"Aw!"


Satu botol berhasil mengenai kepala Rafles.


"Bucin teros! Geli banget dengernya," komentar Dinda sambil menoleh dengan tatapan sinis.


"Makannya cari cowo, Din!" celetuk Rafles dengan sewot.


"Sama Sadin saja, Din. Sama-sama Din-Din. Nanti nama anaknya Sadinda. Asik!" ledek Saben.


"Cih." Decihan Dinda disambut kekehan oleh semua orang yang ada di sana.


"Eh, lanjut cerita Your Uncle, Hyu," pinta Saben sambil menatap ke arah Hyu.


"Jadi, Uncle pernah kerja di rumah sakit itu sebagai office boy. Gaji yang ditawarkan di sana memang cukup besar. Hal itu yang menyebabkan uncle tergiur, tetapi usut punya usut, rumah sakit ini kalau malam suka ada kejadian ganjil. Entah itu suara kucing merintih ataupun suara kuda yang ternyata memang tidak ada wujudnya," jelas Hyu dengan wajah yang terlihat takut.


"Sekarang Your Uncle umur berapa?" tanya Sadin yang terlihat serius.


"Hampir lima puluh tahun." Ucapan Hyu dijawab sahutan membeo dari teman-temannya.


"Oh iya, lo semua tau gak, sih? Masa tadi tuh kayak ada yang sebut kata 'jangan.. jangan...' suara itu enggak hanya sekali, tetapi berkali-kali, Bro!" Terang Sadin.


"Mungkin halusinasi, Din," tanggap Dinda sambil memakan kuaci yang ada di depannya.


"Sumpah, gue beneran dengar! Lo tau kalau telinga gue ini punya pendengaran yang tajam, 'kan?" Pertanyaan retoris dari Sadin berhasil membuat semua yang ada di sana terpaku.


"Ambu juga gak setuju kalau gua ke sana," ucap Rafles sambil merenung.


"Embu juga, Bro!" timpal Sadin.


"Batalin?" Tanya Saben yang mulai terlihat bingung.


"Masa cuma masalah gitu aja dibatalin? Wajar aja dong kalau semua orang tua khawatir dengan anaknya. Cupu kalian!" sindir Dinda.


Drt.. drt...


"Bentar," izin Saben pada kawan-kawannya.


"Oh, iya."


"Sip, Mah."


"Waalaikumussalam."


"Eh, gue balik duluan, ya. Besok lagi aja bahasnya. Mamah gua minta tolong antar ke tukang perabot dulu. Duluan, ya," pamit Saben sambil berjalan meninggalkan yang lainnya.


"Ya sudah. Kita akhiri, deh. Besok abis maghrib kalau bisa kumpul, ya. Pagi semua kuliah, 'kan?" tanya Sadin sambil menaruh ponselnya ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Ya sudah besok!" Sahut teman-temannya.


__ADS_2