
"Duh, gue kebelet pipis," keluh Sadin saat semua teman-temannya sudah siap untuk tidur.
"Mau kuantar, Din?" tawar Gembul.
"Enggak usah, gue sendiri saja," sahut Sadin sembari berlari ke arah luar.
"Loh, loh, akang Sadin acan sare?" tanya Ibu Hantar yang masih berada di ruang tamu sembari tersenyum ramah.
"Belum, Bu. Saya ingin izin ke kamar mandi," sahut Sadin yang berusaha ramah di tengah panggilan alam yang semakin menyiksa.
"Geus peuting ieu. Jambanna aya di luar. Naon henteu iseng?" Ibu Hantar mulai mematikan lampu yang tak terpakai.
(Sudah malam ini. Kamar mandinya ada di luar. Apa tidak iseng?)
"Enggak apa-apa, Bu. Sudah, ya, saya ke kamar mandi dulu," pamit Sadin sembari berlari ke arah pintu belakang.
Ia membukanya dan segera menuruni sebuah tangga kecil yang menghubungkan kamar mandi tersebut. Di bawah kamar mandi yang tak terlalu tertutup itu terdapat air sungai yang mengalir. Hampir mirip seperti suasana desa yang masih jauh dari kata modern.
"Auh, akhirnya lega," ujarnya sembari tersenyum dan menutup resleting celananya.
Ia mulai membuka pintu bilik dan menutupnya kembali. Sawah di belakang rumah ini terbilang cukup gelap dan menyeramkan di malam hari. Ditambah dengan beberapa pohon kelapa di tepian sawah yang menjuntai ke arah bawah.
Satu titik terang berhasil membuat Sadin menyipitkan matanya. Rasa penasaran akan titik tersebut semakin membuat Sadin tak mau beranjak dari tempat pijakannya. Ia masih fokus melihat titik tersebut.
Titik tersebut berputar-putar di tengah gelap gulita malam. Sadin masih belum bisa melihat benda apa itu. Hawa dingin semakin menusuk tulangnya. Rasa kantuk yang tadi sempat singgah, kini hilang tak berbekas.
Puk ....
Sebuah tangan menjalar di pundaknya. Sadin diam membeku tanpa berani menengok. Mulut dan hatinya sudah komat-kamit karena membaca doa.
"Aa Sadin kunaon?" Suara Bapak Hantar langsung membuat Sadin mengeluarkan napasnya yang hampir tersendat.
Bibirnya yang sempat kelu, kini sudah bisa digerakkan kembali.
"Aa Sadin nempa titik terang eta?" tanya Bapak Hantar yang langsung membuat Sadin mengangguk.
"Itu santet, A. Mari asup heula." Ajak Bapak Hantar yang langsung membuat Sadin menurut.
(Itu santet, A. Mari masuk dulu.)
Bapak Hantar mengajaknya duduk di bale-bale dalam rumah di suatu ruangan paling depan yang biasanya digunakan sebagai tempatnya bekerja sebagai tukang kayu. Ia mulai menyingkirkan kayu-kayu yang telah selesai diamplas dan tinggal diolah di hari esok.
"Pakai bahasa Indonesia saja bicaranya, Pak. Takut saya kurang mengerti kalau bahasanya sudah agak rumit," pinta Sadin ketika Bapak Hantar bersiap memulai pembicaraan.
"Oh, iya atuh. Jadi, di sini memang masih kental dengan hal-hal yang seperti itu, A. Alhamdulillah saya tidak pernah kena hal semacam itu. Toh, saya dan istri juga tidak cantik ataupun ganteng. Kaya saja tidak. Jadi, siapa yang mau menyantet?" ungkap bapak Hantar sembari melanjutkan mengamplas sebuah kayu yang sempat tertunda karena kedatangan Tim Jejak Sadin.
"Apa itu sering terjadi, Pak?" tanya Sadin sembari memainkan serbuk kayu yang berjatuhan di tanah yang beralaskan tikar robek.
"Sering, A. Apa lagi setiap malam Jum'at. Paling langganan. Saya sih hanya bisa mendoakan agar santet itu tidak terjadi kepada yang disantet."
"Memang bisa, Pak?" Sadin menatap wajah yang hampir menua milik Bapak Hantar.
"Bisa. Kalau dibacakan doa dan ... eum, Bapak, sih, kurang tau, A. Jadi, Bapak hanya bisa bantu doa saja," terang Bapak Hantar sembari membalikkan papan kayunya.
"Mengenai Hospital Guard itu ... apa saja yang menimpa babaturan kamu?"
__ADS_1
"Banyak, Pak. Kalau hanya sebatas ditakuti, sih, tidak jadi masalah, ya, Pak, tetapi tadi itu, teman saya hampir mau kena imbas dari–"
"Berlian? Eta berlian?" Bapak Hantar nampak memperlihatkan wajah terkejut miliknya.
"Bapak tau?"
"Siapa yang tidak tau tentang berlian itu? Semua warga, baik yang di desa maupun yang di kota, sudah tau semuanya. Sudah hampir empat ratus jiwa menjadi korbannya. Beruntunglah kalau temanmu itu masih bisa kembali dengan selamat, A," terang Bapak Hantar sembari menyingkirkan hasil amplasan kayunya itu.
"Sampai separah itu, Pak?"
"Iya, A. Semoga saja Tuhan memberkatinya. Emosinya pasti menjadi tidak stabil, ya?" tebak Bapak Hantar sembari menepuk pundak Sadin.
Sadin mengangguk sembari menundukkan kepalanya.
"Dia bukan seperti sahabat saya lagi."
"Sabar, Nak. InsyaaAllah, kalau dia terus ibadah, pasti Tuhan membersihkannya. Kalaupun dia muslim, pasti lebih cepat hilang guna-guna dari dirinya. Hanya dengan sholat, baca Al-Qur'an, dan berdzikir, namun sayangnya, dia harus pergi ke gereja dulu. Yang Bapak takutkan adalah, makhluknya masih menempel, tetapi InsyaaAllah tidak, kok," jelas Bapak Hantar sembari tersenyum menguatkan Sadin.
"Bapa, ieu kopina– eh, aya A Sadin di dieu? Hoyong nginum kopi oge, 'teu?" tanya Ibu Hantar sembari menyodorkan segelas kopi ke arah Bapak Hantar.
(Bapak, ini kopinya– eh, ada A Sadin di sini? Ingin minum kopi juga, tidak?)
"Eh, enggak usah repot-repot, Bu. Saya harus istirahat. Nanti kalau minum kopi, malah enggak bisa tidur," tolak Sadin dengan halus seraya tersenyum hangat.
"Teh deui, hoyong? Pikeun haneutkeun awak. Tiis ieu teh." Tawaran dari Ibu Hantar dibalas anggukan ragu-ragu oleh Sadin.
(Teh lagi, mau? Untuk menghangatkan badan. Dingin ini.)
"Boleh, deh, Bu. Maaf merepotkan," jawab Sadin sembari tersenyum.
"Ah, henteu atuh. Antos heula atuh, nyak."
"Muhun, Bu."
"Ibunya ramah, ya, Pak," ucap Sadin sembari tertawa ke arah Bapak Hantar.
"Alhamdulillah, sholehah pisan ibu teh. Semoga A Sadin dapat yang seperti itu nanti, ya," harap Bapak Hantar yang langsung membuat Sadin teringat akan sosok Dinda.
"Pernah dengar pasien yang tertabrak kereta di dekat Hospital Guard sana, teu?" Pertanyaan Bapak Hantar seketika membuyarkan lamunan Sadin.
"Pernah, Pak, tapi hanya sekilas saja," sahut Sadin.
"Jadi, beberapa puluh tahun silam, ada sebuah kecelakaan. Seorang lelaki yang meninggal karena tertabrak kereta api listrik yang sering berlalu lalang di sekitar rumah sakit tersebut. Katanya lelaki itu sedang berjemur di sekitaran rel kereta. Panas mataharinya sangat terasa di dekat sana. Menurut saksi, lelaki tersebut tiba-tiba saja berdiri dan mondar-mandir seperti orang yang panik dan kebingungan. Hingga saat ada kereta, dia berlari menuju kereta tersebut seperti hendak mengambil sesuatu. Naasnya, dia langsung hancur saat kereta melintas dengan kecepatan yang lumayan penuh. Semenjak saat itu, semakin banyak korban yang tertabrak di sana. Apalagi setelah rumah sakit itu resmi ditutup," ungkap Bapak Hantar sembari membuka bungkusan rokok Djarum super miliknya.
"Sering ada arwah gentayangan?" tanya Sadin sembari menatap ke arah wajah Bapak Hantar.
"Wuih, jangan ditanya. Kalau setiap malam Jum'at Kliwon, rasa-rasanya seperti pasar malam. Ramai sekali," ungkap Bapak Hantar sembari mengisap tembakau yang terasa nikmat baginya.
"Bapak sering ke sana, kah?"
"Bapak sering mencari siput sawah di dekat sana. Lumayan jauh, tetapi hasilnya banyak. Ya, resikonya, sih, sering diganggu, tapi InsyaaAllah kalau kita mendekatkan diri kepada Tuhan, ya, kita enggak akan takut ataupun kena gangguannya," papar Bapak Hantar sembari mengepulkan asap rokok ke udara.
"Mau?" tawar Bapak Hantar sembari menyodorkan sebungkus rokok ke arah Sadin.
Sadin menolak tawaran Bapak Hantar sembari tersenyum.
"Saya enggak merokok, Pak," sahut Sadin.
__ADS_1
"Oh, maap atuh."
"A Sadin, ieu tehna." Ibu Hantar menyerahkan sebuah gelas yang lumayan hangat ke arah Sadin.
"Terima kasih, Bu," sahut Sadin sembari menerima uluran gelas tersebut.
"Lamun kitu mah, Ibu izin ke kamar heula, nyak." Ibu Hantar tersenyum sembari ke luar dari ruangan.
Gedebug ....
Bapak Hantar langsung berlari melihat ke arah jendela.
"Dia datang." Ucapan Bapak Hantar berhasil membuat Sadin mengerutkan keningnya.
Bapak Hantar menoleh ke arah jam di dinding yang terbuat dari bambu.
"Pukul sepuluh. Pantas saja."
"Siapa, Pak?" tanya Sadin dengan heran.
"Makhluk halus yang sering membuat onar warga yang masih di luar rumah saat pukul sepuluh. Jangan ada yang ke luar. InsyaaAllah kita akan kalau tetap di dalam rumah. Maaf kalau mengganggu kenyamanan kalian," terang bapak Hantar sembari tersenyum hangat.
"Saya boleh lihat rupanya?" tanya Sadin yang sudah sangat penasaran.
"Silahkan."
Sadin menuruni bale-bale dan mulai membuka tirai penghalang jendela plastik yang ada. Sebuah makhluk bertubuh hitam legam dengan otot-otot bercula itu nampak nyata dihadapannya. Rambutnya gimbal seperti genderuwo. Jalannya mengangkang dengan sebuah senjata tajam ditangannya.
"Astaghfirullah." Sadin mengelus dadanya ketika melihat rupa makhluk itu.
"Arghhhh!"
"Mana makanan saya!"
"Jangan didengarkan. Makhluk itu sudah diusir oleh beberapa paranormal, tetapi tidak mau pergi."
"Kenapa tidak ke Ustadz atau Kiyai?"
Bapak Hantar mulai menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Susah. Mereka tidak percaya dengan Ustadz. Mereka hanya percaya paranormal dan segala macamnya itu." Bapak Hantar terlihat tersenyum.
"Aaaa! Apa-apaan nih?" Teriakan dari kamar yang ditempati teman-teman Sadin pun langsung membuatnya dan Bapak Hantar saling bertatapan.
"Mari ke sana," ajak Bapak Hantar sembari berlari lebih dulu ke arah kamar tamu.
"Ben? Kenapa?" tanya Sadin yang kaget ketika melihat wajah pucat milik Saben.
"Te–ternyata ka–mera ini enggak berhenti merekam sedari tadi pagi," ungkap Saben sembari menghapus keringatnya.
"Dan yang menyeramkannya itu, saat gue lihat adegan waktu gue menyembahkan sesaji, ada sesosok makhluk yang menguasai diri gue. Sumpah serem banget, Din. Gue takut," ujar Saben sembari mengacak-acak rambutnya sendiri dan menangis sejadi-jadinya.
"Gue nyesel, Din. Gue nyesel," ucap Saben sembari bersujud dan meminta ampunan.
"Udah, Ben. Gue yakin Allah pasti akan ampuni dosa lo. Lebih baik lanjut nontonnya besok saja. Tidur sudah malam," ajak Sadin sembari menoleh ke arah Bapak Hantar.
"Kalau saya izin tidur, enggak apa-apa, Pak?" tanya Sadin yang merasa tidak enak dengan Bapak Hantar.
__ADS_1
"Teu nanaon, A. Sare wae. Bapa Oge hoyong sare. Wilujeng peuting atuh, nyak," ujar Bapak Hantar sembari tersenyum dan menutup tirai kamarnya dan segera pergi ke luar kamar.