
Langit cerah di sore hari ini berhasil membuat suasana hati semakin kelabu. Tim Jejak Sadin diam-diam memperhatikan pembawaan jenazah menuju ke area pemakaman dari jauh. Hyu menangis di pelukan Dinda. Hyu adalah seseorang yang mampu menahan emosi dengan baik, namun saat bersama dengan sahabatnya, Dinda, ia akan menjadi penahan emosi yang sangat buruk.
Peti mati itu perlahan di keluarkan dari mobil ambulance. Semua ikut menangis meratapi kepergian sahabat tercinta itu. Saben hanya bisa terduduk di tanah dan menunduk dalam-dalam. Baginya, ia yang berdosa, ia yang salah.
Upacara kematian Rafles diadakan dengan sangat sakral. Sadin dan kawan lainnya pun tak mengerti, tetapi mungkin ada pengecualian bagi Hyu yang pernah menyaksikan upacara kematian saudaranya yang berbeda agama.
Yang datang ke pemakaman ini tak hanya ratusan orang. Kalau bisa dikira-kira, mungkin mencapai hampir seribu orang. Ya, mendiang adalah orang baik yang mungkin memang sering membantu orang semasa hidupnya.
Semua menangis. Semua terpukul atas kepergian Rafles yang tanpa sakit itu. Memang jodoh, rezeki, dan kematian itu ada di tangan Tuhan. Kalaupun Tim JS tau akhirnya akan seperti ini, mungkin mereka tidak akan pernah sedikit pun menginjakkan kaki di rumah sakit terkutuk itu.
Setelah upacara selesai dan semua orang telah pergi –termasuk kedua orang tua Rafles– Tim JS pun segera mendatangi makam dari salah satu sahabatnya itu. Tangis kencang pun langsung pecah seketika. Tak sadar bila salah satu sahabatnya tidak akan pernah bisa dijumpai lagi. Kini semua tinggal kenangan. Tak ada yang bisa dirubah lagi. Ini mutlak sudah menjadi takdir Tuhan.
"Rap, gue nyesel. Gue nyesel dengan kebodohan gue yang mengorbankan sahabat sendiri demi perempuan. Gue enggak tau harus gimana, Rap. Gue udah dibutakan oleh cinta. Gue janji sama lo, Rap, gue akan berusaha untuk jadi lelaki yang taat beragama dan tidak mengikuti aliran sesat lagi. Semoga lo bahagia di sana, Rap," ucap Saben sembari menangis dan memeluk nisan bergambar salib milik mendiang sahabatnya itu.
Dinda mendekat ke arah Saben. Ia mulai tersadar, yang sedih tidak hanya dia saja. Yang merasa kehilangan bukan hanya dirinya saja. Ia mulai mengelus pundak Saben.
"Ben, maafin gue. Gue enggak seharusnya mukul lo waktu itu. Gue takut, Ben. Gue takut kehilangan sahabat gue. Kalaupun ini takdirnya, gue udah bisa terima, kok. Lo jangan ngerasa sedih terus. InsyaaAllah, Allah akan maafin kesalahan lo kalau lo mau bertaubat dengan sungguh-sungguh," ucap Dinda sembari tersenyum.
"Makasih, Din," sahut Saben yang langsung membuat semuanya berpelukan.
"Gembul, gabung!" ajak Dinda sembari tersenyum.
"E–eh? Gembul bukan sahabat kalian," ucap Gembul sembari menunduk.
"Kata siapa? Semenjak lo gabung dengan kita, lo sahabat kita, kok!" Sadin mulai merangkul Gembul dan mereka semua mulai menghangatkan suasana lagi.
"Rap, tenang di sana, ya."
👀
Sadin membuka pintu rumahnya dengan lemas. Rasa berkabung masih menyelimuti dirinya. Ia langsung masuk ke dalam kamar. Kebetulan rumahnya sedang sepi. Mungkin Embu dan Sami tengah pergi ke luar.
Ceklek ....
Dia langsung menutup pintu kamarnya dan segera merebahkan diri. Pikirannya selalu melayang ke satu titik. Bagaimana bisa dia mengikuti nafsu setan yang berakhir seperti ini? Kini ia benar-benar kehilangan sosok berharga dalam hidupnya. Sahabat yang selalu mendukung dalam suka maupun duka.
"Rap, maafin gue yang punya banyak salah sama lo, maafin gue yang kadang selalu buat lo marah, dan juga jangan pernah lupakan persahabatan kita di alam sana, ya. Kita enggak ada yang sempurna, 'kan, Rap? Jadi wajar saja kalau Saben pernah melakukan kesalahan, tapi dia sekarang sudah taubat, Rap. Doakan agar kami berdua dapat bersahabat hingga surga nanti, ya," ucap Sadin sembari menengadah wajah agar air matanya tak turun.
Ia mengambil sebuah album foto berisikan kebersamaan ketiga sahabat itu. Saat-saat duduk di sekolah SMP, mereka mulai dipertemukan oleh takdir. Dan hari ini, salah satu dari mereka pun berpisah karena takdir pula.
Brek ... gebreg ....
Meja kamar Sadin tiba-tiba saja bergetar dengan cukup kencang. Hal itu menyebabkan buku-bukunya jatuh tak terkendali.
"Eh, siapa yang acak-acakin kamar gue?!" teriak Sadin sembari berdiri dan berusaha menahan buku lain agar tidak jatuh.
"Hihihihi!"
__ADS_1
"Tampakin wujud! Siapa lo?!"
"Sekarang kamu sudah menyesal, hm? Waktu kuberitahu jangan ke sana, kamu ke mana saja?" Hantu kebaya hijau itu tersenyum tipis dari pojok ruangan.
Yang berbeda darinya adalah kini ia tak berdarah-darah seperti yang dilihat pagi tadi.
"Lo itu sebenarnya siapa?" Gertakan Sadin itu berhasil membuat sang hantu kebaya hijau itu menatap wajahnya.
"Apa perlu aku jelaskan? Untuk apa? Menuruti kataku saja kamu tidak mau. Begini jadinya, 'kan?" Ucapan Hantu kebaya hijau itu terasa memojokkan Sadin.
"Siapa lo?!" teriak Sadin sekali lagi.
"Kamu ingat pernah menemukan sebuah boneka kucing?" Pertanyaan dari hantu kebaya hijau itu langsung membuat Sadin berusaha mengingat sesuatu.
"*Waktu itu Sami menemukan boneka ini di kamar Kakak. Sami ambil dan lupa izin ke Kakak. Maaf, ya," lirih Sami sambil mengelus kepala Tumi, si kucing.
"Eh, Kakak enggak pernah ingat kalau punya boneka itu. Buat kamu saja gapapa," ujar Sadin sambil tersenyum.
"Terima kasih, Kak." Sami terlihat tersenyum*.
"Waktu itu adik gue yang nemu boneka kucing itu. Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Sadin yang berusaha memalingkan wajahnya saat hantu itu mulai kembali ke wujud asli ketika dia meninggal, penuh darah.
"Kamu tak ingat di mana kamu menemukan boneka itu?" Ucapan hantu kebaya hijau itu dijawab dengan gelengan tegas oleh Sadin.
"Kamu menemukan boneka kucing milikku itu di dekat sebuah rumah kosong di ujung kompleks. Saat itu kamu sangat menyukai boneka kecil itu. Tanpa kamu sadari boneka itu punya pemilik. Ya, pemiliknya adalah aku." Penjelasan dari hantu kebaya hijau itu nampak disimak dengan saksama oleh Sadin.
"Aku mengikutimu. Walaupun dari situ aku tidak berani menampakkan wujudku."
"Lalu kenapa sekarang lo nampakin wujud lo?" Pertanyaan Sadin itu langsung dibalas dengan senyuman.
"Karena aku ingin mengingatkanmu, tapi nampaknya kamu menyepelekanku," ujar hantu itu sembari menunduk dalam-dalam.
"Waktu itu gue enggak ngerti sama apa yang lo lakuin. Lo cuma ngasih tanda-tanda keberadaan lo. Sekalipun lo bicara, yang lo keluarkan itu bahasa Jawa. Lebih parahnya lagi, lo ngomong ke temen gue yang enggak ngerti bahasa Jawa. Jadi, siapa yang salah di sini?" tanya Sadin sembari mengacak-acak rambutnya.
"Maaf, makhluk seperti aku ini terbatas dalam bertindak. Apapun yang kulakukan memang tak selamanya bisa tersampaikan dengan baik ke manusia, tetapi setidaknya aku sudah memberikan simbol dan tanda bahwa hal itu tidak baik untuk kalian," lirih hantu kebaya hijau itu sembari menunduk lebih dalam.
"Kenapa lo baik? Eum, maksud gue, kenapa lo mau bantu gue agar selamat saat itu? Bukankah kita enggak pernah kenal sebelumnya?" Sadin nampak menjaga pandangannya lagi dari wujud asli si hantu kebaya hijau itu.
"Karena kamu orang baik. Percaya enggak kalau semasa hidupku, aku selalu berbuat kebaikan? Contohnya seperti menolong orang gitu."
"Terus?" Sadin nampak bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh si hantu.
"Nah, ketika aku sudah meninggal, sifat baikku masih sama. Masih ingin menolong orang lain."
"Nolong, sih, nolong, tapi keadaan lo saat nolong itu kadang nyeremin. Lo enggak sadar, 'kan? Kalau saat menolong orang, yang lo tolong itu jantungan karena lihat wujud asli lo, gimana?" Pertanyaan Sadin langsung membuat si hantu kebaya hijau itu terdiam.
"Kenapa gue jadi akrab gini sama hantu? Udah jangan ganggu gue lagi. Gue udah enggak kuat liat wujud asli lo."
__ADS_1
"Aku mau jadi temanmu, Din."
"Hah? Menjadi teman setan? Setan itu musuh terbesar bagi kaum manusia! Enggak mungkin gue bisa berteman sama lo. Mau lo baik ataupun jahat, setan tetap sesat!" Tolakan dari Sadin yang terkesan sangat kasar itu langsung membuat si hantu kebaya hijau itu tersenyum tipis dengan darah yang seakan-akan terus mengalir dari sudut bibirnya.
"Kalau kamu tidak mau, tak apa-apa, tetapi aku akan terus mengikutimu. Aku janji akan membantumu menolong orang lain," ujar hantu itu sembari kembali ke wujudnya yang tak menyeramkan.
"Terserah lo mau ngomong apa. Gue enggak peduli ... eh, lo di mana?" Hantu kebaya hijau tadi langsung hilang seketika.
"Ya Allah! Bisa-bisa gue selalu diteror dan dihantui selamanya, nih."
"Hihihi." Suara cekikikan itu berhasil membuat Sadin menoleh dan terlonjak kaget.
"Ha– han– ngapain lo di sini?!" Sadin menutup matanya karena hantu sundel bolong yang waktu itu membawa Rafles tengah berada di depannya dengan wujud aslinya.
Ya, perut bolong dengan darah yang menetes di sebelahnya.
"Main," sahutnya sembari tersenyum menyeringai.
"Setelah apa yang lo lakukan ke Rafles, lo bisa seenak jidat bilang main? Dasar hantu gila! Pergi!" Sadin menutup wajahnya karena tak ingin melihat apapun di depannya itu.
"Semua permainan ini sudah berakhir, tetapi Elin malah menyukaimu. Apakah kamu mau ikut dengan Elin?" Pertanyaan Dari Elin itu langsung membuat bulu kuduk Sadin meremang.
Badannya sudah panas dingin ketakutan. Hatinya sudah berusaha membaca doa dan surat-surat pendek, namun ia mengingat kata Pak Ustadz yang selalu memberikan materi dalam sebuah kajian rutin.
"Setan tidak akan kepanasan dengan bacaan Al-Qur'an yang sengaja kamu baca karena takut kepadanya, tetapi setan akan kepanasan saat kamu membaca Al-Qur'an dengan tujuan beribadah kepada Allah."
"Hihihi."
Suara cekikikan itu seketika membuat telinga Sadin memanas.
"Astaghfirullahal'adzim, Sadin? Sadin kenapa?" Seseorang yang baru saja datang itu berhasil membuat Sadin membuka mata secara perlahan.
"Em–bu?"
"Iya ini Embu, Din. Sadin kenapa?" tanya Embu sembari mengelus kepala Sadin.
Sadin langsung memeluk embunya. Hatinya mulai tenang dan rasa takutnya perlahan menghilang.
"Sadin lihat hantu, Embu. Sadin–"
"Astaghfirullah. Makannya sekarang kamu mandi, ya. Sudah hampir maghrib, nih. Baca doa terus agar terhindar dari yang seperti itu, ya." Ucapan dari Embu membuat Sadin langsung mengangguk.
"Nanti ba'da maghrib, Sadin mau dengar bacaan Al-Qur'an Embu, ya. Sadin ingin lebih tenang," pinta Sadin.
"Iya, Sadin. Sekarang mandi habis itu sholat ke masjid. Anak lelaki ndak boleh takut," ucap Embu sembari mengelus kepala Sadin lagi.
Sadin mengangguk dan bertekad untuk melupakan kejadian tadi dan belajar untuk lebih menaruh keberanian lagi. Karena yang harus ditakuti di dunia ini hanyalah Allah swt.
__ADS_1