Jejak Sadin

Jejak Sadin
18. Gangguan Sholat


__ADS_3

Namun belum sempat ia berdiri, sebuah batu besar tiba-tiba saja menghantam tubuh Dinda dengan cukup keras.


Bugh ....


"DINDA!" teriak Hyu yang langsung syok ketika mata Dinda melotot dan berusaha menahan perih yang dirasa.


Gembul terlihat menggertakkan giginya. Sudah cukup dia bersembunyi di balik rasa takutnya. Sudah cukup dia diam saat orang-orang di sekitarnya perlahan disakiti oleh para makhluk yang selama ini menakutinya. Ia mulai berdiri dan berusaha menahan rasa takut yang berdebar di dadanya. Kini hanya dia sendiri yang bisa melawan makhluk itu. Makhluk yang tengah melempar Dinda hanya bisa dilihat oleh dirinya, bukan yang lain.


"Bismillahirrahmanirrahim. Din, pisaunya lempar!" perintah Gembul dengan semangat yang nampak berapi-api.


"Fokus dan tangkap!"


Hap ....


Gembul berhasil menerima lemparan pisau belati itu dengan sangat baik. Kalau sampai salah tangkap sedikit saja, maka dia akan terluka.


"Hiyaaaaa!"


Gembul mengarahkan pisaunya ke arah makhluk halus yang nampak menyeramkan itu. Kepala makhluk itu nampak botak, namun memiliki rambut tipis di sekitar bagian telinganya. Bola matanya jereng dengan gigi taring seperti drakula. Badannya terlihat sangat kotor dan dipenuhi dengan bulu-bulu halus yang hampir mirip dengan seekor kera. Kakinya menyerupai **** hutan.


Makhluk itu berusaha untuk menghindari serangan Gembul. Ia melayang-layang dan melompat dengan sangat cekatan, tetapi Gembul dan amarahnya ternyata jauh lebih gesit dari makhluk itu.


Saat kesempatan berada di depan mata, makhluk itu berhasil mengelak dan mementalkan Gembul sampai dengan beberapa meter. Ia dihujani dengan banyak barang-barang yang dilemparkan makhluk itu. Rasa sakit yang luar biasa seakan ia tepis dengan baik. Ia tidak peduli dirinya. Ia hanya tak ingin teman-temannya menjadi korban lagi.


Gembul melakukan taktik perlawanan dari belakang saat makhluk itu nampak lengah. Tak ingin salah ambil jalan lagi, Gembul pun segera menikam makhluk besar itu.


"Argh ... sial! Panas!"


Gembul tersungkur di tanah saat melihat keberaniannya sendiri. Pernapasannya sudah naik turun tak karuan. Ia lemas bukan main.


"Audzubillah himinassyaiton nirrajim..


Bismillahhirrahmannirrahim.


Alhamdulillahi rabbil 'alamin.


Arrahma nirrahim. Maliki yaumiddin.


Iyyaka na'kbudu waiyyaka nasta'in.


Ihdinassiratal mustaqim.


Siratal lazina an'amta'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladdhalin."


"Arghhhh! Pergi kalian semua! Dasar manusia bodoh!"


Makhluk itu tak bisa menahan rasa sakitnya saat ditambah dengan bacaan ayat suci yang dilontarkan oleh Sadin.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.


Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum.


Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh."


"Kalian ke sini mengganggu kami! Kalian tidak berhak atas tempat ini! Arghhhh."

__ADS_1


"Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih.


Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum."


Racauan demi racauan semakin ke luar dari mulutnya. Sadin semakin gencar untuk memperkeras suaranya.


"Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min 'ilmihii illaa bi maa syaa-a.


Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal 'aliyyul 'azhiim."


"ARGHHHH! TIDAK!"


"Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammad wa alaa Ali sayyidina Muhammad."


"PANAS! HUARGGH."


"Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammad wa alaa Ali sayyidina Muhammad."


"TIDAK!"


"Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammad wa alaa Ali sayyidina Muhammad."


Blus ....


Atas seizin Allah, makhluk tersebut hilang dan sudah tak menampakkan diri lagi. Gembul terlihat pingsan sementara Sadin masih syok saat detik-detik arwah tadi menghilang. Awalnya ia memang tak dapat melihatnya, tetapi entah dorongan dari mana dia bisa melihat langsung lenyapnya arwah itu.


Hyu langsung berusaha untuk menyodorkan wangi-wangian aromaterapi ke hidung Gembul. Badan lelaki itu nampak membiru dengan wajah yang benar-benar pucat pasi. Bibirnya tak henti-hentinya bergetar. Semua yang ada nampak khawatir dengan keadaan Gembul itu.


"Semua gara-gara lo, bodoh!" maki Dinda sembari mendorong-dorong tubuh Saben.


"Din, gue cuma sayang sama lo. Gue cuma pengen lo peka aj–"


"DIAM! KALAU LO SAYANG GUE, BANTU CARI KEBAHAGIAAN GUE. BUKAN MALAH MENJEBLOSKAN GUE KE DALAM LUBANG GUNA-GUNA SEPERTI INI! ORANG YANG BENERAN SAYANG ENGGAK AKAN MUNGKIN MAU MENYAKITI ORANG YANG DIA SAYANG!" Omongan Dinda yang berapi-api itu seketika membuat Saben tersadar jika jalan yang ditempuhnya itu salah.


Saben mulai berlutut di bawah kaki Dinda dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


"Gue sadar, Din. Gue sadar apa yang gue lakukan ini salah. Maafin gue," sesal Saben sembari menunduk dalam-dalam.


"Cih, sekarang lo nyesel, 'kan? Lihat! Semuanya sudah kena imbas karena kegiatan gila lo ini. Kita juga enggak tau gimana keadaan Rafles sekarang! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Rafles, bagaimana?" Pertanyaan dari Dinda tiba-tiba saja membuat Hyu menangis dengan cukup keras.


Wanita itu langsung mengingat pacarnya yang sekarang tidak tahu ada di mana, bagaimana keadaannya, dan juga keselamatannya. Bagaimana kalau nanti ambu Rafles tau kalau anaknya hilang dan belum sempat ditemukan hingga sekarang?


"Ambu! Maafin Hyu yang tidak bisa jaga Rafles dengan baik. Sekarang Rafles hilang dan belum ditemukan," frustasinya sembari memegang dadanya menahan sesak kerinduan dari sosok pacarnya yang seharusnya tidak berpisah di tempat berbahaya ini.


"Enggak ada gunanya kita menangis seperti ini. Lebih baik kita cari jalan ke luar. Kita sholat zuhur lebih dulu. Kalaupun kita tidak bisa ke luar, kita cari ruangan yang lumayan bersih saja. InsyaaAllah pasti Allah memahami," saran Sadin yang membuat Dinda tersenyum.


Apa yang kurang dari Sadin? Lelaki itu tampangnya memang tidak terlalu agamis, tetapi hatinya lah yang selalu diselimuti dengan kebaikan. Wajah tampannya selalu ramah dan tersenyum ke semua orang. Berbakti kepada embunya adalah tujuannya di dunia dan tentunya tak lupa untuk selalu mendoakan abahnya yang sudah tenang di alam sana. Semua pun mengangguk untuk mengiyakan ajakannya terkecuali dengan Hyu.


"Lo enggak mau ikut?" tanya Sadin kepada Saben yang nampaknya masih menyesal dan menatap kosong lantai kotor di depannya.


"Makhluk berdosa seperti gue masih bisa diampuni?" tanya Saben dengan nada suara yang terdengar pilu.


"Semua orang punya dosa dan juga khilaf. Enggak ada di dunia ini yang sempurna. InsyaaAllah, Allah akan ampuni dosa-dosa kita semua," ujar Sadin sembari mengelus pundak Saben yang nampak rapuh.


"Tetapi setauku, ya, kalau orang yang melakukan hal syirik itu dosanya tidak akan pernah diampuni oleh, Din. Aku pernah baca-baca aja di artikel," sahut Gembul yang membuat Saben semakin menundukkan kepalanya lebih dalam.

__ADS_1


"Hus! Tetap ingat bahwa yang punya maaf paling besar hanya Gusti Allah. Kita tidak berhak menghakimi. Kita sebagai manusia harus saling menasehati dan mengantarkan kepada kebaikan. Biar Alah nanti yang mengurus diampuni atau tidaknya dosa itu." Sadin segera bangkit melihat Gembul yang nampaknya sudah mulai membuka mata.


Tangannya masih agak dingin, tapi warnanya sudah tak sebiru yang tadi.


"Udah lumayan sadar?" tanya Sadin pada Gembul yang belum bisa berbicara.


Gembul tampak mengangguk-angguk dan tersenyum perlahan.


"Sini gue gendong," ajak Sadin sembari jongkok dan menyuruh Gembul untuk naik di atas badannya.


"Ta–takut ngerepotin," sahut Gembul yang masih agak terbata.


"Kami yang ajak lo ke sini. Otomatis kami lah yang bertanggungjawab kalau lo ada apa-apa. Yuk, gapapa, kok!" Sadin berusaha untuk membujuk Gembul dengan lembut.


"Gue aja yang gendong dia. Gue yang harus tanggungjawab lebih soal ini, 'kan?" Saben terlihat ikut jongkok.


Gembul terlihat menolak secara langsung ajakan Saben itu. Dia masih trauma terhadap sikap buruk Saben. Lebih baik ia digendong Sadin agar lebih selamat daripada harus mempertaruhkan ketakutannya lagi.


Saben hanya bisa tersenyum getir saat Gembul bersikap seperti itu padanya. Ia sangat paham jika ini adalah kesalahannya. Tidak ada yang bisa disalahkan lagi selain dirinya.


Dibantu dengan Hyu dan Dinda, akhirnya Gembul bisa naik ke atas punggung Sadin. Saben terlihat mengambil kameranya yang sedari tadi menyala, tetapi ia tak sadar jika kameranya tak berhenti merekam apa yang diperbuatnya dan juga teman-temannya. Ia hanya membiarkan kameranya tersebut berada di dalam genggamannya.


Berputar-putar selama sepuluh menit nampaknya cukup membuat mereka lelah. Terutama bagi Sadin yang membawa Gembul di punggungnya. Mereka tak kunjung menemukan jalan ke luar. Akhirnya Sadin terpaksa membuka sebuah ruangan yang disegel rapat karena hanya tempat itu lah yang sekiranya bisa dipakai untuk sholat.


Kriet...


Ketika pintu terbuka, nampak sebuah ruangan yang lumayan bersih dengan berbagai peralatan dokter di dalamnya. Tentu saja peralatan itu nampak sudah sangat usang, namun anehnya tidak sedikit pun berdebu. Tak ada lampu yang menyinari. Hyu membantu menyalakan senter ponselnya sebagai sumber pencahayaan. Sadin mulai mengeluarkan sebuah botol mineral berukuran satu setengah liter. Ia mulai menempatkannya pada sebuah gelas kecil.


"Atas seizin Allah, segelas air ini bisa digunakan untuk wudhu hingga tuntas. Jangan lupa baca bismillah terlebih dahulu," perintah Sadin sembari membagikan gelas tersebut kepada ketiga temannya yang hendak melaksanakan sholat.


Ia mulai menggelar spanduk-spanduk yang ditemukannya di pinggir ruangan. Masih terlihat bersih dan apik.


Selesai semua berwudhu, Sadin langsung mengambil aba-aba sebagai imam sholat. Kalau kalian berpikir bahwa ketika sholat semua gangguan hilang, kalian salah besar. Buktinya mulai dari awal sholat hingga raka'at kedua ini mereka dikejutkan dengan berbagai macam panggilan dan juga sapaan.


"Hai .... "


"Kami di sini."


"Arghhhh, hahahahah."


"Sadin tolong Hyu, Hyu takut!" Suara yang hampir mirip dengan Hyu itu berhasil ditepis kasar oleh Sadin.


Ia tetap fokus menjadi imam sholat tanpa mau mendengarkan bisikan-bisikan halus dari mereka yang berniat mengganggu. Suara halus itu benar-benar menyerupai suara aslinya. Lelaki itu sholat sekaligus melantunkan dzikir di hatinya. Berharap semua teman-temannya tidak terpengaruh dengan suara-suara itu.


"Dinda, Saben, tolong gue! Sakit! Gue enggak kuat." Rintihan Rafles tiba-tiba membuat Dinda dan Saben kurang berkonsentrasi pada sholatnya.


Mereka malah berpikir bahwa suara itu adalah suara Rafles, tetapi kalaupun benar suara itu milik Rafles, pasti Hyu akan mencoba membantu Rafles. Buktinya tak ada suara lain selain rintihan Rafles itu.


"Kalian tega? Gue terjebak di sini arghhhh!"


Rintihan demi rintihan berhasil membuat fokus mereka buyar. Terkecuali dengan Gembul yang nampaknya benar-benar menitikberatkan Allah pada sholatnya. Suara-suara itu dihempasnya dan kalimat tauhid terus berlabuh di lisan dan hatinya.


"Assalamu'alaikum warahmatullah ... Assalamu'alaikum warahmatullah ...."


To be continued 👀

__ADS_1


__ADS_2