
Suara riuh orang yang baru kembali dari masjid berhasil memecahkan keheningan malam. Ba'da maghrib ini, tim JS menepati janjinya masing-masing untuk membahas konten YouTube yang akan dilaksanakan sekitar beberapa hari ke depan. Mereka lebih memilih nongkrong di bale-bale ketimbang di bawah pohon beringin kalau malam.
"Masya Allah, Akhi Sadin. Mau dong dedek Dinda dihalalkan," ledek Saben yang matanya melirik ke arah Dinda.
"Dia masih pakai sarung, Guys! Ganti aja dulu, Din," saran Rafles yang tak kuat menahan tawanya.
"Kata Embu, gue kalau begini cakep, Bro," sahut Sadin dengan lantang.
"Kata Dinda juga, Bro."
Pletak.
"Auh, Dinda kasar!" hardik Saben yang mendapat pukulan maut dari Dinda.
"Udah, woy! Jadi, gimana?" tanya Rafles yang mulai membuka jalannya percakapan.
"Jadi aja! Katanya JS pemberani. Masa gitu aja mundur, sih," komentar Saben sambil menampakkan gaya tengilnya.
Rafles tiba-tiba saja diam.
"Suth! Sumpah, kalian enggak dengar apa-apa?" tanya Rafles dengan sorot mata yang sudah ke mana-mana.
"Hah? Apa sih, Rap! Emang suara apaan? Gue enggak denger, deh," ucap Dinda sambil ikut mendengarkan dengan seksama.
"Ada yang bilang–"
"Jangan.. jangan... Begitu, 'kan?" tebak Sadin yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Rafles.
"Gue udah ngomong tadi, 'kan? Ada yang enggak suka kalau kita ke sana," ujar Sadin.
"Gue enggak denger," celetuk Dinda dengan cuek.
"Apakah tidak ada tempat lain yang bisa kita kunjungi? Kalau tempat ini hanya bisa membahayakan kita, untuk apa?" tanya Hyu sambil memegang tangannya yang mulai dingin.
"Kalau menurut gue, kita gak akan tau apa yang terjadi kalau kita enggak ke sana. Kalau di sini kita cuma tebak-tebak aja, ya enggak akan ada hasilnya, 'kan?" tutur Saben sambil membuka kameranya.
"Setuju! Gila, gue setuju banget sama yang Saben ucapkan!" ujar Dinda sambil tersenyum menang.
"Suara jangan itu–"
"Suth! Makhluk halus itu kerjaannya mengerjai dan menipu daya manusia, 'kan? Nah, siapa tau aja suara itu tipuan," ucap Saben.
Sadin dan yang lainnya terlihat setuju dengan perkataan yang dilontarkan Saben tadi.
"Huwaaaaa!!!"
"Sadin, adek lo kenapa?" tanya Saben yang mungkin juga terlihat kaget.
"Sebentar." Dengan cekatan, Sadin langsung berlari ke dalam rumah.
"Sami? Mi? Kenapa?" tanya Sadin pada adiknya yang tengah berada di pojok ruang tamu sembari menunduk dan menutup telinganya erat-erat.
Memang dasarnya rasa ingin tahu adalah sifat manusiawi, semua teman-teman Sadin langsung masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi.
Sadin mulai membawa sang Adik ke dalam pelukannya.
"Sami kenapa?" tanya Sadin dengan lembut.
"Tadi di pojok dapur ada mbak-mbak pakai baju kebaya hijau. Mukanya seram, Kak. Dia diam, tapi seperti ingin menyentuh Sami. Sami takut, Kak," ucap Sami sambil terus menangis.
Sadin tersenyum sambil membenarkan rambut Sami yang berantakan.
"Gapapa, sayang. Kita hidup berdampingan dengan makhluk lain, 'kan? Siapa tau dia hanya iseng," ujar Sadin yang berusaha menenangkan Sang Adik.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia sempat curiga jika makhluk yang dimaksud Sami adalah si pengucap kata 'jangan' itu.
"Assalamu'alaikum, loh, Sami kenapa?" tanya Embu yang baru saja datang.
Sepertinya beliau habis mengaji di surau dengan Ibu-ibu lainnya.
"Waalaikumussalam. Gapapa, Embu. Sami cuma kelelahan saja mungkin," ucap Sadin yang tidak ingin masalah ini jadi panjang.
__ADS_1
Klontang...
Semua orang menoleh ke arah dapur. Tiba-tiba Rafles berlari ke arah tersebut tanpa meminta izin kepada pemilik rumah terlebih dahulu.
"Rap, kenapa?" tanya Dinda yang ikut mendekat.
Rafles terlihat mematung.
"Demi Tuhan, tadi gue lihat mbak-mbak yang dimaksud Sami, tapi bajunya berdarah-darah gitu," ungkap Rafles.
"Kayaknya ada sesuatu yang dia cari di sini. Sebenarnya dia baik. Dia hanya mau mengambil barangnya yang berada di sini," jelas Rafles sambil mencoba membuka pikirannya kembali.
"Barang? Barang apa? Gue gak pernah sedikit pun ngambil barang orang," ucap Sadin sambil berusaha berpikir keras.
Rafles hanya bisa mengedikkan bahu tanda tak tahu.
"Jangan.. jangan..."
Lagi-lagi suara itu berhasil membuat orang yang berada di dalam rumah melongok dengan heran.
"Siapa sih?" Rafles mulai geram dan berusaha membuka penglihatannya lagi.
Namun kali ini hasilnya nihil, tidak ada apa-apa.
"Huwaaaaa!"
Semua orang langsung menoleh ke arah langit-langit ruang tamu. Di sana sudah banyak darah berceceran.
"Ben, close up!" perintah Sadin ke arah atap rumahnya.
Ternyata sedari tadi Saben tengah membuat rekaman.
"Konten?" tanya Saben
"Boleh."
"Lur! Sorry sebelumnya tanpa ba-bi-bu dulu, sekarang kalian liat deh di atas atap rumah gue tiba-tiba keluar darah. Keliatan gak sih di kamera?" tanya Sadin.
"Sumpah, dari tadi udah banyak keganjilan," timpal Rafles sambil memegang tengkuknya.
"Jadi, Rafles dan adiknya Sadin melihat hantu berkebaya hijau dan juga penuh darah di sekujur tubuhnya, Lur. Kita semua tidak tahu ada maksud apa kedatangan makhluk itu," jelas Hyu di kamera.
"Gua juga mulai merasa enggak enak," ucap Dinda sambil melihat ke arah lain.
"Berhubung darah yang di atas sana masih basah, jadi yang cowo mau langsung naik ke genteng untuk memastikan apa yang ada di atas sana. Jalan sekarang aja, ya?" Tanya Sadin ke arah teman-temannya.
"Iya."
"Embu, tangga di mana?" tanya Sadin sambil melongok ke arah luar.
Suasana malam ini terasa sepi. Hanya jangkrik saja yang menemani sunyinya malam ini.
"Di luar samping gudang," ucap Embu dari dalam kamar sembari mengeloni Sami.
"Oke, sekarang kita mau naik ke atas. Doakan supaya enggak ada apa-apa ya," ucap Sadin yang mengajak teman-temannya untuk berdoa dulu.
Dibantu dengan Rafles, Sadin pun mengangkat tangga dengan perlahan.
"Bismillah."
"Nyangkut gak sarung lo?" Tanya Rafles yang terlihat khawatir.
"Kaga, Bro!"
Satu-persatu anak tangga berhasil dilalui Sadin dan teman-temannya.
"Berdasarkan hasil analisa kalau kita mengambil dari segi letak darah tadi, dibalik tempat terpal-terpal ini adalah sumber darahnya," terang Sadin.
"Coba zoom, Ben," pinta Rafles.
"Bismillahirrahmanirrahim."
__ADS_1
Srek...
"Demi apa pun di sini gak ada apa-apa, Lur!" Teriak Sadin.
Ting..
"Bentar ini ada pesan dari Dinda."
"Rap, Ben, baca ini!" Perintah Sadin.
"Eh, masa?" Rafles dan Saben terlihat berpandangan.
"Jadi gini, Lur, kata Dinda, tiba-tiba darah yang ke luar tadi terserap ke dalam plafon atap ini lagi. Sekarang gue lagi minta pap ke Dinda.
Ting..
Sadin langsung menyuruh Saben untuk Meng-close up kamera ke arah ponselnya.
"Sekarang gue mau coba video call Dinda supaya kalian semua percaya." Sadin terlihat memencet tanda memanggil.
"Speaker, Din," saran Rafles.
"Halo?"
"Halo, Din. Coba gue minta lo buat close up ponsel Lo ke arah atap yang tadi ke luar darah," pinta Sadin sambil memfokuskan ponselnya ke arah kamera.
Dan benar saja, rupanya atap yang semula terdapat darah, kini sudah tak berbekas lagi
"Bagi kalian yang bisa merasakan makhluk halus, pasti kalian tidak akan bicara kalau hal ini merupakan hal rekayasa. Gue yang mengalaminya sendiri pun belum bisa percaya dengan apa yang terjadi," jelas Sadin ke arah kamera.
"Dinda matikan saja sambungan teleponnya."
"Oke."
Tut.. tut.. tut...
"Mending turun dulu aja, ya?" tawar Rafles yang sudah merasakan hal yang tidak mengenakkan.
"Iya," sahut Sadin dan juga Saben.
Mereka menuruni tangga dengan perlahan. Akhirnya Tim JS memutuskan untuk melanjutkan kontennya kali ini di bale-bale yang sempat menjadi tempat pembicaraan hangat sebelum kejadian tadi.
"Jadi, awal cerita mulanya tuh gini, kita di sini mau membahas rencana konten selanjutnya. Tiba-tiba adik Sadin teriak kencang. Jelas aja kita kaget," ujar Rafles yang memulai bahan pembicaraan.
"Iya dan waktu kita hampiri dia, dia tuh kayak lagi nutup telinga. Lebih tepatnya, sih menekan telinga ya dengan cukup kencang," terang Dinda.
"Katanya dia melihat hantu berkebaya hijau ingin menghampiri dia. Aku, sih, lumayan terkejut saat melihatnya, tetapi ya namanya juga anak kecil, kadar kepekaannya terhadap makhluk lain memang lebih besar," jelas Hyu.
"Enggak hanya itu, Rafles yang kita kenal peka terhadap 'Mereka' pun melihatnya. Bedanya kalau yang dilihat Rafles itu berdarah-darah," terang Sadin.
"Ya sudah, tiba-tiba kejadian atap berdarah terjadi begitu saja," lanjut Sadin.
"Intinya ini semua bukan rekayasa, ya. Wallahu'alam kita juga enggak tahu maksud dari ini semua. Semoga saja hanya sebuah keusilan dan gak lebih," ucap Sadin lagi sambil mengacak rambutnya.
"Oh iya, sebagai tambahan aja, kemarin si Sadin dengar bunyi rintihan 'Jangan' hingga berulang kali. Suara itu baru hadir ketika Sadin dan Rafles membahas mengenai konten di sebuah rumah sakit yang sudah terbengkalai hingga tiga belas tahun yang lalu. Bagi kalian yang mau tau alamat rumah sakit itu, silakan nanti bisa di cek langsung di description box," tutur Saben.
"Kayak dihalau gitu enggak, sih?" Tanya Dinda.
"Semacam itu."
Allahu Akbar.. Allahu Akbar...
"Cut," ucap Sadin ke arah Saben.
"Langsung ke masjid saja, yuk! Sumpah ini perasaan hati udah gak enak," ucap Sadin sambil menutup pintu rumahnya.
"Kalau gitu, gua sama Hyu pulang, ya. Gak mungkin kalau kita ikut sholat, 'kan?" ujar Rafles sembari terkekeh.
Rafles dan Hyu merupakan dua orang Non-muslim. Rafles Kristen Katolik dan juga Hyu Konghucu. Selebihnya adalah Islam, tetapi mereka tidak pernah memperdebatkan soal agama.
"Hati-hati," ujar Dinda sambil melambaikan tangan ke arah Hyu lebih tepatnya.
__ADS_1