
Perjalanan semakin lama semakin masuk ke dalam pelosok desa. Tanaman-tanaman asri semakin terlihat. Ternyata rasanya aman dan tentram. Sangat jauh berbeda dengan suasana di jalan tadi.
"Rasa-rasanya gue ogah buat lewat jalanan tadi. Serem banget. Emang enggak ada jalan lain selain itu?" Saben terlihat asik memainkan rubiknya.
"Itu jalan cepat. Lo mau kalau lewat jalanan ramai harus muter balik yang nambah waktu tiga jam? Gue sih, ogah!" tegas Rafles sambil meminum air dan kembali fokus menyetir.
"Ya enggak, sih. Terus itu lo kemarin sama yang lain gimana?" tanya Saben sambil menoleh ke arah Rafles.
"Kan gue bilang kalau gue sama yang lain itu diganggu dan diikuti. Untung ketemu Pak Ustadz yang bisa usir," tutur Rafles.
"Pagi-pagi aja liat tuh suasana seram banget. Gimana malam, Ya Ampun! Btw, kalau tadi kita sambil ngevlog mungkin YouTube kita bisa semakin terkenal, deh. Tiba-tiba ada Mbak Kun muncul, duh, enggak kebayang gue gimana hebohnya," ungkap Saben.
"Kamera lo mau meninggal sebelum waktunya?" Dinda terlihat kesal ketika mendengar lontaran aneh dari Saben.
"Pecah gitu? Wes, gue kan kameraman handal. Pasti becus kalau disuruh pegang kamera." Saben terlihat congkak sembari menyelesaikan target rubiknya dengan tepat.
"Idih, angkuhnya dia. Bukannya kamera lo lagi ngadet?" tanya Sadin sembari memainkan pulpen milik Hyu.
"Kadang-kadang aja, sih. Semoga saja nanti enggak. Mau diservis sayang. Soalnya masih bisa dipakai dengan baik," sahut Saben sembari membawa kamera kesayangannya dalam pangkuan.
"Kenapa enggak beli baru?" Rafles terlihat menoleh.
"Si Cameer ini peliharaan gue dari masih SMP. Dia yang selalu nemenin gue disaat buat video atau foto sampai akhirnya menang lomba. Sayang banget kalau sampai gue ganti." Penjelasan dari Saben membuat teman-temannya mengangguk mengerti.
Cameer itu adalah panggilan sayang Saben untuk kameranya.
"Sebentar lagi kita sampai, Bro!" teriak Rafles sembari membelokkan mobilnya perlahan.
"Kita istirahat dulu, 'kan? Di mana?" tanya Hyu sembari melihat-lihat ke arah sekeliling.
"Di villa. Gue udah sewa. Tenang aja," sahut Sadin sembari membuka pintu saat mobil telah terparkir dengan sempurna.
"Wih, udaranya sejuk banget. Enak dihirup," puji Dinda sembari menutup matanya dan menikmati semilir angin yang membuatnya merasa nyaman.
"Enak, dong! Ini villa gua yang milih. Untungnya ini bangunan baru. Jadi, penunggunya pasti enggak aneh-aneh, deh," sahut Rafles.
"Segala ngomongin penunggu. Semua tempat itu ada penunggunya," celetuk Saben sembari menggosok tangannya karena hawa dingin yang semakin menelusup ke tubuhnya yang tak kuat dingin.
"Iya, sih."
"Eh, nanti gue sama Hyu izin ngevlog, ya. Villanya lumayan bagus," pinta Dinda sambil tersenyum.
"Ayo, masuk!" ajak Rafles sembari membuka pintu villa yang terlihat sangat terawat dan apik.
Ceklek...
"Gila, bagus banget! Feed Instagram gue bakal penuh, nih!" sorak Dinda sembari duduk di sofa yang terlihat sangat nyaman dan mewah.
"Iye, mbak selebgram," sindir Sadin sambil terkekeh.
"Langsung ke kamar saja, yuk!" ajak Hyu kepada Dinda.
Nampaknya gadis itu sudah lumayan lelah dan butuh sedikit waktu rebahan.
"Itu kamar kalian di tengah. Kanan pojok itu kamar gue sama Sadin. Gembul dan Saben di pojok kiri," jelas Rafles sambil menggendong tas besarnya.
"Eum, aku boleh sekamar sama Sadin saja, tak? Aku takut diisengin sama Saben." Ungkapan frontal itu langsung dibalas kekehan dari Saben.
"Ya Ampun, gue enggak sampai segitunya kali, Bro! Tenang aja!" protes Saben sambil tertawa.
"Rap, Gembul biar tidur sama gue aja. Daripada nanti kalau dia kebelet kencing enggak ada yang menemani. Saben kan orangnya mageran," ungkap Sadin sambil tertawa.
"Yeu, sialan!"
__ADS_1
"Eh, kita di sini sehari doang untuk penginapannya. Besok pagi kita langsung ke arah rumah sakitnya. Jadi, selesai penelusuran, kita langsung pulang," jelas Rafles sembari meminum jus jambu dalam kemasan.
"Yah, enggak seru banget! Masa sebentar doang," keluh Dinda sembari berfoto ria dengan Hyu.
"Hus! Bayarnya mahal, tau!" celetuk Rafles.
"Sudah sana para gadis masuk kamar! Gue sama yang lain mau ngambil surat izin dulu untuk besok," ujar Sadin sembari menghabiskan tegukan kopi yang dibawanya dari rumah.
"Gue enggak ikut. Pengen rebahan aja di kamar," sahut Saben dengan tak acuh sembari menggendong tasnya ke kamar.
"Ya udah suka-suka lo!" sahut Rafles sembari memakai jaketnya.
"Gembul ikut?" tanya Rafles kepada Gembul yang tengah memainkan game.
"Ikut!"
đŸ‘€
"Halo, guys! Bertemu lagi dengan gue Dinda dan itu Hyu lagi makan!" Dinda sangat bersemarak sekali dengan vlog-nya kali ini.
"Halo, teman-teman! Apa kabar semua?" Ternyata sedari tadi Hyu makan sambil melakukan siaran langsung di Instagramnya.
"Pasti baik, 'kan? Jadi, kali ini kita mau ngapain, Din?"
"Hari ini kita mau buat persiapan untuk syuting Jejak Sadin. Lokasinya di mana? Wah, kita belum bisa beri tau, ya, Hyu."
"Iyaps, betul sekali, guys! Tenang aja, InsyaaAllah pasti secepatnya bakal di upload ke YouTube. Setelah selesai pengeditan tentunya." Dinda terlihat membenarkan letak kerudungnya.
Mata Hyu tertuju pada sebuah komentar di live ignya.
@syrendon_ Kakak ada personel baru? Siapa?
"Hah? Personel baru apa? Kita di sini cuma berdua aja, kok." Dinda terlihat bingung sembari mengarahkan kamera ponsel Hyu ke arah belakang.
"Enggak ada, 'kan?"
"Eh, kalian jangan mengada-ada, dong. Serius ini enggak ada siapa-siapa, cuma kita berdua aja di kamar ini. Adanya Saben, itu pun dia di kamar sebelah." Dinda terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hyu jadi takut, Din," lirih Hyu sembari menatap layar handphonenya.
@clanvi34._ Itu di belakang, Kak!
Hyu dan Dinda langsung menoleh ke arah belakang, namun tak mendapati apapun.
"Enggak ada apa-apa, hei."
"Nanti lihat di hasil rekaman kamera aja," usul Hyu yang berusaha tetap tenang.
@santihanafi1934 Kak Sadin!!!!
@kalanaxx_ Ah, rindu Kak Sadin! Kenapa cuma lewat aja, Kak?
@erenihuf87_ Kak Sadin nongol lagi dong!
@heldooyoung.1 Kenapa lewat doang, duh, Bang Sadin!
@fatimahali2334 Bang Sadin senyumannya. Balik ke kamera lagi, dong!
"Sadin? Kalian kenapa? Sadin lagi enggak ada di sini. Dia lagi ada di luar," papar Dinda yang langsung merinding seketika.
"Sumpah demi apapun, lo harus simpan video ini nanti!" perintah Dinda yang sudah terasa takut.
"Kalau enggak percaya, kita telepon Sadin, ya!"
__ADS_1
Dinda segera mendial nomor Sadin. Setelah diangkat, Dinda langsung menyalakan speaker.
"Apa, Din? Gue lagi sibuk, nih. Enggak enak ada kepala desanya kalau lo telepon gini."
"Din, lo lagi di villa?"
"Ngaco? Gue kan bilang kalau mau ke rumah kepala desa buat minta surat izin. Kenapa, sih? Udah deh, matiin aja," maki Sadin dari telepon.
"Kalian bisa dengar sendiri, 'kan, guys?"
"Din, bercanda lo enggak lucu! Tadi penonton live Instagramnya Hyu bilang kalau lo lewat pas kita live.
Video call...
"Rame di sini, Din. Gila kali kalau gue bercanda." Sadin memperlihatkan bapak-bapak yang tengah duduk sembari berbicara.
"Guys, Dinda tidak berbohong," ujar Hyu sembari menutup wajahnya dan mulai ketakutan.
"Huwaaaaa!"
"Siapa yang teriak?" tanya Dinda sembari menoleh ke arah belakang.
"Saben kali." Dengan gerak cepat, Mereka langsung berlari ke luar kamar dan menghampiri Saben yang tengah berkeringat dingin.
Dinda langsung mengarahkan kamera ke arah Saben.
"Kenapa, lo?" tanya Dinda.
Suara dari kamera langsung diedit untuk dihilangkan.
"Gu–gue diganggu," ujar Saben yang terlihat berwajah ketakutan dan juga malu.
"Kenapa bisa? Gue juga diganggu," sahut Dinda yang agak bingung.
"Gue nonton video," celetuk Saben.
"Video apa?" tanya Hyu dengan bingung.
"Yang aneh-aneh, ya?!" Dinda dan Hyu terlihat terkejut saat Saben mengangguk.
"Gila lo, Ben! Gara-gara lo kita berdua diganggu sama penghuni sini!" maki Dinda sembari berniat mencubit Saben.
"Auh! Ya, maaf. Namanya juga manusia," sahut Saben sambil menunduk.
"Memang Saben diganggu apa sama makhluk itu?" tanya Hyu sembari mendekat dan menepuk bahu Saben.
"Gu–gue ditindihin," sahutnya.
"Rasain! Emang enak dikawinin jin!" hardik Dinda dengan ketus.
"Sudah, Din. Ben, sudah sholat zuhur?" tanya Hyu.
Saben menggelengkan kepalanya.
"Sholat dulu sana. Minta ampun pada Tuhan. Jangan diulangi lagi. Kamu yang berbuat, nanti kita semua yang kena batunya." Hyu terlihat menasehati sembari mengambilkan sajadah dan peci untuk Saben.
"Gue juga sholat, deh. Awas lo sampai berulah lagi!" Ancaman dari Dinda hanya dibalas tundukkan kepala oleh Saben.
"Tapi tadi hantunya cantik," imbuh Saben.
"Itu hantu yang sama. Dia menakuti kita juga," ungkap Hyu.
"Pacaran aja sono lo sama hantu! Udah enggak waras. Kayak enggak ada cewe lain yang masih hidup saja, sih!" ketus Dinda sembari memijat pelipisnya yang terasa pusing.
__ADS_1
"Kenapa kalau di sini gue ngerasa mual terus, ya?" tanya Dinda sembari memegang dadanya.
"Sholat dulu, Din. Tenangi dirimu," saran Hyu sambil memapah Dinda untuk mengambil air wudhunya.