Jejak Sadin

Jejak Sadin
10. LATHI dan Kuntilanak Merah


__ADS_3

"Eh, Bro gue mau kasih tau rumor tol yang bakal kita lewati!" Ucapan dari Saben berhasil membuat semua yang tadinya fokus pada kegiatan masing-masing, kini mulai menoleh ke arahnya.


"Kenapa? Setiap tempat ada penunggunya, 'kan?" tanya Dinda dengan tak acuh.


"Bukan gitu. Jadi katanya–"


Cit...


"Loh, loh, e–eh? Kok berhenti?" tanya Saben yang lumayan terkejut.


"Jangan cerita itu, dong. Gembul takut," ucap Gembul yang langsung dibalas dengan lemparan remahan ciki dari Dinda.


"Alay lo!" Sahut Saben sambil tertawa.


"Lo pakai earphone aja sana. Kita kalau di jalan memang suka bicara tentang mistis gitu," saran Sadin sambil memainkan ponselnya.


"Aku lupa enggak bawa."


"Pakai punya gue nih." Dengan cekatan Rafles langsung melemparkan sebuah earphone ke arah Gembul.


"Oke, makasih." Gembul langsung memakai earphone tersebut dan kembali menyetir.


"Jadi gini, kata orang-orang kalau lewat tol itu harus kasih klakson dan lempar rokok kretek. Kalau enggak, katanya bisa celaka." Ucapan Saben itu berhasil mendapatkan lemparan botol mineral kosong dari Sadin.


"Ya Ampun, itu mah demennya orang-orang yang tinggal di sekelilingnya. Lumayan dapat rokok gratis, 'kan?" Sadin terlihat geleng-geleng dan enggan mempercayai perkataan dari Saben.


"Eh, enggak baik bicara seperti itu, Din. Itu kan kepercayaan masyarakat setempat," tutur Rafles sembari menempeleng kepala Sadin.


"Oh, soal cerita ini Hyu pernah dengar. Katanya ada sebuah truk rokok yang menabrak bahu jalan. Supir dan beberapa orang di dalamnya tewas mengenaskan. Untungnya tidak terjadi sebuah kebakaran. Butuh waktu lama saat itu untuk memungut rokok-rokok yang bisa mencapai lebih dari dua ribu bungkus itu," jelas Hyu sembari melahap makanannya.


"Alasan itu yang ngebuat kita harus buang rokok kretek pas lewat?" tanya Dinda dengan jengah.


"Iya," sahut Hyu.


"Sekarang gini, ada enggak yang punya rokok kretek? Kita-kita kan mahasiswa produktif yang enggak pernah kenal rokok. Sementara udah enggak ada lagi warung yang bisa temui di dekat sini." Ucapan dari Sadin tersebut berhasil membuat para sahabatnya ikut kebingungan juga.


"Gembul punya kali," celetuk Rafles sambil melirik ke arah orang yang sedang fokus menyetir.


"Masa iya dia punya?" tanya Saben tidak percaya.


"Coba aja tanya dulu. Siapa tau ada nyelip di mobil," saran Sadin.


"Gembul!"


"Woy, budek!"


"Lu rada sableng, ya? Dia kan pakai earphone! Gimana mau denger coba?" tukas Rafles kepada Saben yang kian hari kian miring.


"Oh, lupa gue." Saben menarik earphone yang dipakai Gembul.


"Ada Setan!"


Cit...


Teriakan Saben yang tepat mengenai telinga Gembul berhasil membuat lelaki itu terlonjak kaget dan mengerem mobilnya mendadak hingga hampir menabrak bahu jalan.


"Saben, gila lo!" maki Sadin sembari memegang dadanya.


"Saben kalau kita tabrakan tadi, bagaimana?" protes Hyu sembari memijat pelipisnya yang seketika merasa mual.


"Gila lo!"


"Eh, maaf, ya, Gembul kaget," kikuk Gembul sembari mengelus dadanya yang terasa tersetrum.


"Lo gak salah, Mbul. Yang salah Saben," ujar Sadin sembari melotot ke arah Saben.


"Eh, maaf semua." Saben terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Di satu sisi ia merasa bersalah, di sisi lainnya ia hanya bisa cengengesan saja.


"Lain kali lo begitu lagi, abis lo!" Ancaman dari Rafles tiba-tiba saja membuat Saben menciut.


"Eh, Gembul punya rokok kretek enggak?" Pertanyaan dari Sadin langsung membuat Gembul mengerutkan keningnya.


"Maaf, Sadin. Gembul enggak ngerokok," jawab Gembul.


"Nyimpen rokok, enggak? Kali aja ada di selipan dashboard," tanya Rafles sembari menyuruh Saben yang duduk di depan untuk mengeceknya.


"Seingat aku sih enggak ada," sahut Gembul sembari mengecek beberapa tempat selipan di dalam mobil.


"Yah, terus ini kita gimana?" tanya Dinda dengan bingung.


"Ya, namanya juga enggak ada. Mau diapain lagi?" Sadin terlihat tak acuh dan enggan mengambil pusing.


"Demi keselamatan–"


"Keselamatan, hidup, mati, jodoh, rezeki, adanya di tangan Allah, Ben!" kritik Sadin sembari melirik sinis ke arah Saben.


"O–oke terserah kalian saja. Seenggaknya gue bakal lempar koin kalau tidak ada rokok," ujar Saben yang tetap kekeh terhadap pendiriannya.


"Sok, weh! Gue seumur-umur jalan-jalan sama Abah waktu masih hidup enggak ada kayak begituan!" maki Sadin sembari memasangkan headset bluetooth ke telinganya.


Semuanya hanya diam ketika perdebatan kecil tersebut terjadi. Memaksakan orang untuk percaya takhayul memang tidak mudah. Karena kita ini hidup pada zaman modern yang rata-rata orangnya lebih percaya pada teknologi daripada takhayul yang sekilas dilihat hanya sebagai hal gaib semata.


Setelah lima menit saling diam, kini mereka sampai di tol yang dimaksud oleh Saben. Suasananya terlihat ramai oleh pengendara mobil. Semua orang yang berlalu lalang terlihat melemparkan beberapa buah koin dan juga rokok.

__ADS_1


"He'eh, takhayul kok dipercaya," remeh Sadin sembari menatap jendela dengan miris.


Kencleng...


Suara koin yang dilempar Saben terdengar seperti masuk ke dalam sebuah kaleng.


"Kenapa kedengarannya masuk ke dalam kaleng? Bukannya jatuh ke rumput, ya?" Pertanyaan Hyu berhasil menyadarkan yang lainnya.


"Betul juga, tuh. Seperti ditadahi," timpal Rafles.


Saben yang mendengarnya hanya bisa mengedikkan bahunya tanda tak acuh.


"Itu cuma akal-akalan saja, Bos!" timpal Sadin sembari menertawakan kebodohan teman-temannya.


"Sudah jangan bertengkar lagi," lerai Hyu sembari tersenyum.


Suasana mendadak jadi hening. Tak lama kemudian mulai terlihat area pepohonan hutan di tepian jalan. Kendaraan semakin sedikit berlalu-lalang. Pohon-pohon di sekitaran jalan terlihat menjuntai tinggi dan lebar-lebar. Terutama untuk pohon pinus, cemara, cendana, dan juga sebagian pohon kelapa.


Suasananya terasa agak mencekam. Ditambah lagi tidak ada hilir mudik orang lewat. Bagi Sadin, Rafles, dan juga Gembul, ini adalah kedua kalinya mereka lewat. Jadi, mereka sudah tak heran dengan pemandangan yang kalau malam benar-benar sangat gelap gulita ini. Mereka hanya berpikir selama masih menjaga sopan santun dan adab, perjalanan pasti akan berjalan dengan lancar.


"Rest area enggak ada, ya? Gue mau pipis, nih," keluh Saben sambil menahan rasa ingin buang hajat yang sebentar lagi bisa saja lepas kendali.


"Gila, ya? Mana ada rest area di tengah jalanan hutan begini. Lo mau buang air di pinggiran hutan? Mau dihantui lo?" Pertanyaan dari Dinda tentu saja disahut dengan gelengan kepala oleh Saben.


"Pakai botol saja. Hyu ada botol nih." Hyu nampak dengan serius menyodorkan botolnya ke arah Saben.


Saben terlihat melongo dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ogah! Nanti kalau tumpah-tumpah kan jorok!" protes Saben sambil berusaha menahan lebih keras lagi.


"Daripada nanti batu ginjal gara-gara nahan buang air kayak gitu? Hayo!" Rafles terlihat menahan tawanya.


"Kutu kupret kalian semua! Menghadap ke sana kalian semua! Jangan ada yang ngintip gue!" Saben segera mengambil paksa botol yang tadi disodorkan oleh Hyu.


"Dih, ogah! Jijay banget!" ketus Dinda sambil mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.


"Untung waras," sahut Sadin sambil menutup matanya dengan tutupan mata untuk tidur.


"Udah belum, sih? Lama banget!" protes Rafles.


"Eh, bau pesing, ewh!" Dinda terlihat menutup hidungnya yang terasa terganggu.


"Astaghfirullah, bau banget!"


Satu mobil heboh dengan bau aneh yang tercium itu.


"Eh, bau apa, nih?" tanya Gembul yang tak tahu apa-apa karena sedari tadi masih menggunakan earphone.


Saben segera membuka jendela dan membuang botol yang baru dipakainya itu ke sembarang arah.


"Daripada nanti lo semua nahan bau enggak enak. Ya, lebih baik gue buang," tutur Saben tanpa rasa bersalah.


"Sumpah, gue punya temen pemikirannya gini banget," maki Sadin sambil menggelengkan kepalanya.


Saben terlihat tak acuh dan malah asik memainkan ponselnya.


"Setel lagu aja, kek!" pinta Dinda yang masih asik melihat ke arah jendela.


"I was born a fool.


Broken all the rules, oh-oh.


Seeing all null.


Denying all of the truth, oh-oh."


"Eh, buset, lagunya serem banget," celetuk Saben yang mulai mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"Alay! Orang ini tentang toxic relationship, kok," sahut Dinda sembari ikut bernyanyi.


"Everything has changed.


It all happened for a reason.


Down from the first stage.


It isn't something we fought for."


"Never wanted this kind of pain.


Turned myself so cold and heartless


But one thing you should know..."


Hening...


"Kok berhenti lagunya? Lo matiin lagunya, Ben?" tanya Sadin ke arah Saben yang memang letak duduknya tepat di dekat radio mobil.


"Kaga. Gue dari tadi enjoy aja, kok," sahut Saben.


"AC Lo matiin, Ben? Kok panas?" Kini gantian Rafles yang mengeluh.


"Gue terus yang disalahin, sih, astaghfirullah. Gue dari tadi diam. Sinilah kalian pindah ke depan samping Gembul!" gerutu Saben.


"Kenapa seperti ada yang mengembuskan nafas ke leher Hyu, ya?" Pertanyaan Hyu membuat yang lain langsung menoleh ke arah belakang.

__ADS_1


"KOWE RA ISO MLAYU SAKA KESALAHAN, AJINING DIRI ANA ING LATHI."


"Aaaaaa!"


"Gembul berhenti sialan!"


Cit...


Semua langsung berhamburan ke luar dari mobil dengan susah payah karena tiba-tiba pintu mobil mendadak macet.


Sesosok perempuan seperti kuntilanak berbaju merah dengan wajah penuh darah berhasil membuat semua terkesiap akan kehadirannya yang tiba-tiba. Wajahnya marah sembari tersenyum lebar dari ujung mata kanan ke ujung mata kiri. Bagian dadanya bolong seperti bekas tikaman pacul.


Dia memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat dan ke luar menembus ke atas mobil.


"Sampeyan kudu dadi tanggung jawab nganggo tumindak sing ngganggu aku lan konco-konco."


Badan kuntilanak merah itu tiba-tiba saja hancur lebur dan merayap ke arah Sadin dan yang lainnya.


"Astaga, Tuhan tolong Rafles!"


"Astaga naga, Tuhan, dewa-dewa, tolong Hyu!"


"Allah, Allahula, Ya Allah Saben takut, Saben tobat, Ya Allah. Tolong Saben, Ya Allah!"


"Astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullah..." Sadin terlihat melawan rasa takutnya dan segera membacakan doa-doa yang diketahuinya.


"Bismillahirrahmanirrahim... Aamanar-rosuulu bimaaa unzila ilaihi mir robbihii wal mu'minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami'naa wa atho'naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir."


Kuntilanak merah itu bergelinjang kepanasan.


"Rhh... Ojo urinate kanthi peduli. Wrhh... Utamane kanggo ngremehake ngarsane sing uga butuh tentrem. Argh... Dadi manungsa sing sopan!"


"Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho'naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin."


Blush...


Tidak ada lagi gangguan. Mereka kini tersadar jika tengah berada di tepian hutan. Walaupun waktu masih menunjukkan pukul setengah sebelas siang, hawa menakutkan dari tempat ini terasa melekat kuat.


"E–eh, pesan terakhir Mbak Kun tadi itu apa, Din?" tanya Rafles disusul dengan Dinda dan Hyu yang nampak penasaran juga.


"Kurang lebihnya, jangan buang air kecil sembarangan. Apalagi sampai menyepelekan kehadiran kami yang juga butuh ketenangan. Jadilah manusia yang sopan!" jelas Sadin.


"Lu, sih, Ben gara-garanya!" ketus Dinda sambil mendorong bahu Saben.


"Makannya lain kali hati-hati. Coba kalau Sadin tadi enggak bisa baca Al-Qur'an, kita mau jadi apa di sini?" celetuk Rafles.


"Woy, gue udah bisa baca Al-Qur'an dari TK tau!" sahut Sadin sambil tertawa.


"Hapal ayatnya, gitu maksudnya," ralat Rafles sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Udeh, Sob. Gapapa, jalan lagi, yuk!" ajak Sadin sambil menepuk pundak Saben dan tersenyum.


"Gembul di mana?" tanya Hyu sembari melihat-lihat ke arah lain.


Ternyata Gembul terlihat tengah duduk di aspal dan memeluk dirinya sendiri.


"Allahula ... Allahu, Mamah, Papah, Gembul takut."


"Gembul?" Panggilan dari Sadin tak dihiraukan oleh Gembul yang nampaknya sangat ketakutan.


"Ya Allah, jangan ambil nyawa Gembul sekarang. Gembul belum bisa membahagiakan orang tua."


"Yeu, si sableng malah ngelantur," ketus Dinda sembari memutar bola matanya.


"Bujuk, Din. Kasian anak orang takut sawan," saran Rafles yang tidak tega melihatnya.


"Kok, gue?"


"Dinda!"


"Iya-iya."


"Gembul, bangun, yuk! Setannya udah enggak ada, kok," ujar Dinda dengan penuh kelembutan.


Padahal dalam hatinya dia sudah menyek-menyek bin ndumel sendiri.


Semua nampak menahan tawa ketika melihat suara lembut milik Dinda.


"Dinda? Hantu tadi sudah hilang?" tanya Gembul sambil melongok ke sana - ke mari.


"Udah enggak ada. Udah aman," sahut Dinda sembari bangkit dari jongkoknya.


"Alhamdulillah, Allah masih sayang Gembul," ujar Gembul sambil berdiri dan mengelus dadanya.


"Gembul, lo duduk di belakang aja. Biar gantian gue yang nyetir. Sebelum Zuhur kita harus sampai," ujar Rafles yang langsung masuk ke dalam mobil dan mengambil alih duduk di depan.


"Di dalam sudah aman, kan?" tanya Gembul yang masih setengah syok.


"Sudah aman, Gembul. Gembul tenang saja," sahut Hyu dengan lembut.


Gembul terlihat mengangguk dan mulai masuk.


"Yang cewek-cewek berasa pawang Gembul, ya. Untung nurut. Kalau tadi minta pulang, bagaimana?" tanya Sadin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Udah lah masuk. Bacakan doa lagi ya, Din," ucap Saben dengan cengirannya.

__ADS_1


"Iye-iye. Bismillahirrahmanirrahim."


__ADS_2