Jejak Sadin

Jejak Sadin
8. Teror Hantu Kebaya Hijau


__ADS_3

"Pah, ini boneka pesanannya." Selepas makan malam, Hyu langsung memberikan boneka tersebut pada Pak Joan.


"Terima kasih. Anak Papah memang yang paling cantik," puji Pak Joan kepada anaknya.


"Sama-sama, tapi kenapa bonekanya aneh, ya, Pah?" tanya Hyu sambil duduk di samping Pak Joan yang tengah asik berkutat dengan laptopnya.


Pak Joan mulai mengalihkan pandangannya pada anaknya itu.


"Aneh kenapa, sayang?" tanya Pak Joan sembari melihat ke arah bonekanya.


Hyu mengeluarkan boneka miliknya.


"Jadi, aku beli ini supaya couple sama Papah. Waktu aku dan Dinda hendak membeli jajanan, tiba-tiba boneka ini mengeluarkan bunyi bel. Awalnya kukira itu suara orang lain, tetapi ternyata itu suara dari boneka ini, Pah," papar Hyu.


"Tiba-tiba di bagian perut boneka ini terbuka. Dari perutnya ke luar kertas. Nih, kertasnya masih Hyu simpan sampai sekarang." Hyu menunjukkan kertas tersebut pada Papahnya.


Papahnya mulai membaca dengan rinci tulisan aksara Cina dari kertas tersebut.


"不要去那边。那里有一个危险的分隔线。 ." Pak Joan terlihat membaca tulisan tersebut dengan cukup fasih.


"Jadi, dia seperti melarang Hyu untuk beli jajanan di sana?" tanya Pak Joan memastikan.


"Iya, Pah. Boneka ini sebetulnya jahat atau tidak? Yang Hyu takutkan adalah bila boneka ini merupakan boneka pembawa sia–"


"Hush! Enggak baik bicara seperti itu, Hyu. Ini boneka keberuntungan namanya. Bawa ini kalau kamu ke mana-mana, ya," pesan Papah sembari tersenyum dan mengelus kepala Hyu dengan penuh kasih.


"Berarti boneka ini enggak apa-apa, Pah?" Hyu masih terlihat was-was dengan boneka tersebut.


"Enggak apa-apa, sayang," sahut Pak Joan sambil tersenyum lagi.


"Terima kasih, Papah. Kalau gitu Hyu masuk ke kamar, ya," pamit Hyu sembari mengecup pipi Pak Joan.


"Sama-sama. Selamat tidur, Hyu," ujar Pak Joan sambil terfokus pada laptopnya kembali.


"Papah jangan tidur malam-malam, ya!" perintah Hyu sambil melambaikan tangannya.


Karena kurang konsen, tiba-tiba Hyu menabrak sesuatu yang ada di belakangnya.


Brug...


"Auh!" Rintihan kecil dari bibir Hyu spontan membuat Pak Joan menoleh.


"Jalan hati-hati, dong," ledek Julian kepada adiknya itu.


"Koko mah jahat! Sakit kepala Hyu nabrak Koko!" Makian dari Hyu itu justru membuat Julian tertawa.


"Iya, maaf. Itu boneka cuma buat Papah aja? Koko enggak dibelikan?" tanya Koko sembari melihat ke arah boneka yang Hyu pegang.


"Koko tidak menitip, sih. Awalnya Hyu tidak ingin beli, tapi akhirnya Hyu tertarik. Ya sudah Hyu beli," sahut Hyu dengan enteng.


"Oh," beo Julian ke arah adiknya itu.


"Dinda apa kabar?" Pertanyaan dari mulut Julian berhasil membuat Hyu memutar bola matanya dengan jengah.


"Dinda terus! Sudah Hyu bilang ke Koko kalau Dinda itu tidak suka Koko!" jelas Hyu sambil menepuk jidatnya.


"Kurangnya Koko apa, Hyu? Koko tampan, cerdas, kaya–"


"Yang kaya itu Papah bukan Koko," potong Hyu yang tidak terima dengan perkataan kakaknya itu.


"Ah, iya itu maksud Koko."


"Beda agama, Ko! Jelas Dinda tidak mau terjerat cinta beda agama. Dinda itu agamis!" berang Hyu kepada kakaknya.


"Masalah itu gampang. Koko tinggal pindah aja ke agama dia," jawab Julian dengan enteng.


"Koko!" Pak Joan dan Hyu terdengar memanggil namanya sebagai tanda peringatan.


"Kenapa? Habis yang baik dan cantik kayak Dinda itu langka. Semua cewek yang Koko pacari itu matre," lontar Julian tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Kalian berdua masuk ke kamar atau Papah siram pakai air?" Bentakan dari Pak Joan berhasil membuat kedua anak itu lari ke kamarnya masing-masing.


Pak Joan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


Hyu memperlambat jalannya saat berada di dekat kamarnya.


"Boneka cantik, sekarang Hyu akan menamaimu dengan sebutan Herang. Comel, 'kan?" monolog Hyu dengan dirinya sendiri.


Ia tersenyum sembari memeluk boneka kecil yang terbuat dari batu giok itu. Sesampainya di depan kamar, Hyu mulai membuka pintunya.


"Ck, kenapa panas?" decak Hyu sembari melihat ke arah AC-nya.


Seingatnya sebelum tidur, ia selalu menyalakan AC agar ruangan dingin terlebih dahulu.


"Eh, sudah enam belas derajat. Rusak mungkin AC-nya ya?" terka Hyu sembari membanting remote AC-nya.


Ia membuka ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.


Hyushi Arigana

__ADS_1


Pah, AC kamarku mati. Besok tolong dibetulkan, ya.


Send.


Pa Jo ♥️


AC kamarmu baik-baik saya, Hyu. Tadi sore Papah udah cek semua AC. Lagipula AC baru diperbaiki minggu kemarin.


Hyushi Arigana


Masa iya? Di sini panas sekali, Pah. Padahal Hyu sudah menaikkan sampai enam belas derajat.


Pa Jo ♥️


Nyalakan kipas saja. Biar Papah cek besok.


Hyushi Arigana


Oke, Pah. Terima kasih ♥️


Pa Jo ♥️


Sama-sama 🙂


"Papah kebiasaan. Kalau Hyu kirim emot love, pasti Papah balasnya pakai emot senyum. Atau jangan-jangan emot love itu hanya untuk Mamah seorang?" gumam Hyu sambil terkekeh.


Hyu segera mengarahkan kipas ke arahnya. Hawanya mulai mendingin dan kali ini ia memutuskan untuk merebahkan dirinya.


"Apakah ramalan dari Madam Yet akan benar-benar terjadi? Tapi siapa orangnya?" Pertanyaan itu selalu saja berputar-putar di pikiran Hyu.


Kekhawatiran dan juga kecemasannya terus-menerus membuncah di kepala. Ia memutuskan untuk searching di google mengenai siapa sebenarnya Madam Yet itu.


Sebuah blog tertutup mulai diretas oleh Hyu. Ia bisa melakukannya sedikit demi sedikit karena sering diajarkan oleh Rafles.


"Rupanya aku sudah mahir dalam membuka blog tertutup ini," pujinya untuk diri sendiri.


Madam Yet.


"Nama aslinya adalah Yety Amelia. Seorang peramal handal yang enggan mempublikasikan data dirinya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan data dirinya. Hm, cukup unik," puji Hyu sembari men-scroll lebih lanjut.


"Lahir pada tahun 1961. Apa? Mustahil sekali! Umurnya hampir enam puluh tahun, tapi wajahnya sekitar dua puluh tahun? Uh, impossible!" lontar Hyu yang merasa sangat tidak percaya.


"Ramalannya akan sesuatu nampak tak pernah melesat. Dia benar-benar peramal yang hebat." Tulisan tersebut seketika langsung membuat Hyu menggigit bibirnya.


"Kalau sampai benar, bagaimana?" Ia mulai memegang dadanya yang sudah khawatir akan ramalan dari Madam Yet tersebut.


"Lebih baik Hyu tidak pergi ke sana tadi! Ah, menyesalnya!" desahnya dengan kekesalan yang tumbuh di hatinya.


"Masuk," perintah Hyu yang masih fokus pada laptopnya.


Ceklek...


"Kamu pesan paket, Hyu?" tanya Julian sambil melihat-lihat kemasan paket yang dibawanya.


Hyu melirik sebentar ke arah Julian.


"Enggak, Koko. Punya Papah kali," sahut Hyu yang tak acuh.


"Tapi tulisannya 'To \= Hyu'. Berarti ini buat kamu," sanggah Julian sembari mendekat ke arah Hyu.


Hyu membaca baik-baik tulisan alamat penerimanya.


"Mungkin ada yang kirim paket ke Hyu, tapi belum konfirmasi ke Hyu dulu, Ko," jawab Hyu.


"Taruh saja di atas meja. Nanti biar Hyu tengok lagi," ucap Hyu sembari fokus ke laptopnya lagi.


"Uh, oke." Julian terlihat mengedikkan bahunya dan menaruh paket tersebut sesuai permintaan Hyu.


Blam...


Ia ke luar tanpa permisi terlebih dahulu.


"Semua tentang ramalan zodiak ada di sini. Lengkap. Apa yang perlu diragukan lagi?"


Hyu mulai meletakkan laptopnya dan meneguk susu yang nampaknya sudah tak hangat lagi.


"Mati dan hidup ada di tangan Tuhan. Kenapa aku harus khawatir?" Secercah harapan masih berusaha dimunculkan oleh Hyu.


"Hyu, Positive thinking, ok?" Ia mulai menginterupsi dirinya agar tidak khawatir dengan ramalan itu lagi.


"Hufft! Bisa gila lama-lama aku ini," gerutu Hyu sembari mengacak rambutnya.


Saat hendak memejamkan mata, ia baru teringat akan paket yang datang. Buru-buru ia mengambil paket tersebut dari atas meja.


"Isinya apa, ya?" tanya Hyu sembari mengocok paket tersebut untuk memastikan isinya.


"Buka saja, deh!" ucap Hyu sembari membuka paket tersebut dengan perlahan.


"Euh, harumnya macam–"

__ADS_1


"Aaaaaa! Kembang! Kenapa banyak kembang untuk orang mati?!" pekik Hyu yang langsung menjatuhkan paket tersebut ke lantai.


Di dalam paket tersebut terdapat beberapa jenis kembang, seperti kembang kantil, mawar, kamboja, melati, daun pandan, dan juga kenanga.


"Siapa yang meneror Hyu? Jahat sekali orang itu," maki Hyu sembari menggeser kembang itu agar menjauh darinya.


"Kenapa hawanya jadi panas lagi?" gerutu Hyu sembari melihat ke arah kipas yang masih menyala.


"Duh, ini kenapa, ya?" tanyanya sembari memegang lehernya yang sudah nampak merinding.


Cetak.. cetik...


Lampu meja belajarnya seketika padam dan hidup sendiri.


"Siapa yang iseng dengan Hyu?!" kesal Hyu sembari menutup telinganya.


"Menjauh!" teriak Hyu.


Tiba-tiba saja dari atas atap, Hyu melihat dengan jelas hantu kebaya hijau itu muncul.


"Aaaaa! Kamu sedang apa, sih? Kenapa selalu menggangguku dan juga teman-teman?" teriak Hyu dengan berani.


"Bebaya," lirih hantu itu sembari memainkan selendang kuning yang tengah dibawanya.


"Bebaya itu apa? Cepat pergi, huaaaa!"


Hyu membanting semua peralatan di dekatnya dan melemparkannya ke arah hantu kebaya hijau itu.


Suasana makin mencekam saat lampu kamarnya tiba-tiba padam. Hawa yang semula panas kini mendadak dingin seketika. Hyu terduduk di pojok ruangan tempat tidurnya. Sorot mata hantu kebaya hijau itu terlihat tajam.


"Kalau kamu tetap kekeh untuk ganggu aku dan teman-teman, aku akan panggil tokoh agama untuk usir kamu!" ancam Hyu kepada hantu itu.


"Aku mung kene nganggo ngelingake bencana sing bakal kelakon kanggo kabeh sampeyan."


"Can you speak Indonesian? I don't understand your words!" pekik Hyu sembari menutup matanya walaupun di sekelilingnya gelap.


Entahlah, mengapa di tempat gelap seperti ini dia bisa melihat jelas hantu berkebaya hijau yang berada di depannya.


"Yen sampeyan pengin slamet, ojo lungo!" ujar hantu kebaya hijau itu yang sama sekali tak dimengerti oleh Hyu.


"Pergi! Aku takut! Pergi!" pekik Hyu yang sudah mulai menangis.


"Hihihi... Yen sampeyan ora pengin ngrungokake, sampeyan bakal rumangsa jalarane, cah ayu!" teriak hantu kebaya hijau itu sembari mengacak-acak isi kamar Hyu.


"Aaaaa! Mamah, Papah, Koko, help me!" erang Hyu sembari menendangkan kakinya ke segala arah.


Krincing.. krincing...


"Herang! Bantu aku Herang! Aku takut!" ringis Hyu sembari memeluk dirinya sendiri.


Krincing.. krincing...


"Herang, tolong!"


Ceklek...


Cetek...


"Hyu, kamu enggak apa-apa, Nak?" tanya Pak Joan dan Ibu Shima yang langsung memeluk anaknya itu.


"Tadi ada hantu! Hyu takut! Hantu itu menghancurkan barang-barang yang ada di kamar Hyu, Mah, Pah. Take a look! Now the room is messy and dirty," rengek Hyu yang seketika membuat semuanya mengiba.


"Hyu sekarang tidur bareng Koko, ya. Besok biar Bi Nik yang bersihkan kamarnya," perintah Ibu Shima sambil tersenyum dan mengelus kepala anaknya.


Hyu mengangguk dan langsung dibimbing oleh Julian dan juga Pak Joan untuk ke luar kamar.


Sebetulnya kedatangan Pak Joan beserta Ibu Shima dan juga Koko bukan karena suatu kebetulan, melainkan karena bunyi bel dari boneka batu giok yang dimiliki oleh Pak Joan terdengar sangat kencang sekali.


Ibu Shima terlihat mengarahkan pandangannya ke segala arah.


"Sopo kowe? Ngopo kowe nganggu anak wedokku?" tanyanya sembari membuka penglihatannya.


"Nopo tetep meneng? Tampilake dhewe marang aku," tantangnya sembari bersiap melihat penglihatannya kembali.


Tidak ada siapapun di sekitarnya. Hantu itu sudah pergi.


"Yen sampeyan wani ngganggu wedokku, aku bakal mateni kowe!"


Blam...


Ibu Shima menutup pintu kamar Hyu dengan kasar. Beliau adalah seorang gadis indigo keturunan Jawa-Cina. Jelas saja dia tidak akan tinggal diam saat putrinya diganggu oleh makhluk halus.


Sebenarnya sedari tadi setelah Hyu pulang dari pasar sore, ia telah menduga bahwa ada makhluk halus yang mengikuti Hyu sampai ke rumah, tetapi dia hanya bisa diam selagi makhluk itu tidak mengganggu anaknya.


Nasib buruk ternyata tidak bisa dielak, hantu itu berniat menakuti anak gadisnya.


Namun, kenyataannya tidak demikian. Hantu tersebut hanya ingin memberikan sebuah peringatan, tetapi tidak bisa Hyu pahami lantaran menggunakan bahasa Jawa.


Hantu kebaya hijau itu sebenarnya ingin berbicara langsung dengan Ibu Shima, namun sepertinya energi yang dipunyainya kalah jauh dengan energi yang ada pada diri Ibu Shima. Jadilah hantu itu tidak bisa mendekat ataupun berbicara dengan Ibu Shima.

__ADS_1


"Urus bocah wadon sing apik! Aku ora pengin sampeyan Getun!" lirih Hantu kebaya hijau tanpa bisa didengar sedikit pun oleh Ibu Shima.


__ADS_2