Jejak Sadin

Jejak Sadin
16. Hanya Sebuah Penelusuran


__ADS_3

Sesosok makhluk itu langsung mendekat ke arah mereka berdua. Harum melati seketika masuk ke dalam indera penciuman Dinda. Gadis itu terseok-seok mundur ke arah belakang. Ia tak kuat melihat makhluk itu.


"Ja–jangan!"


"Kenapa kalian berada di sini?! Kalian mau menyerahkan diri sebagai tumbal?"


"Tidak! Kami hanya ingin melakukan penelusuran saja," sahut Dinda dengan mata yang sudah tak kuat membendung air di sekitar kelopaknya.


"Bagaimana rasanya jika rumahmu diusik maling? Akankan kalian marah dengan maling itu?"


Dinda dan Gembul sama-sama terdiam di tempatnya.


"Jawab!"


"Ya, kami marah," sahut Gembul sambil membekap erat tubuh Dinda.


"Kalian harus menerima konsekuensinya!"


Sosok itu tiba-tiba berubah menjadi manusia jadi-jadian. Ular sebagai kepalanya dan tubuhnya berbentuk manusia. Taringnya panjang dengan ekor yang siap membelit kedua insan yang sudah tak berdaya itu.


"Anu mulia Ratu Karsa, ieu aya mangsa manungsa nu bisa dijanten tumbal. Nu maha agung, terimalah persembahan ieu!"


Sosok itu berjalan mendekati Dinda dan Gembul. Suntikan besar yang ada di tangannya mulai diarahkan ke arah mereka.


"Hahahaha"


Prank.


Sadin terlihat berdiri di ambang pintu dengan pisau belati yang dipegangnya. Pandangannya tajam ke arah sosok menyeramkan itu.


"Jangan ganggu teman-teman gue!"


"Siapa kamu?!"


"Pergi atau kukupas kelemahanmu!"


"Siapa takut!"


Sadin mendekat ke arah makhluk jadi-jadian itu tanpa rasa takut sedikit pun. Pisau belati yang sudah dibacakan doa olehnya mulai ditodongkan ke arah makhluk itu.


"Jantung atau hati?!" tanya Sadin kepada makhluk itu.


"A–apa? Dari mana kamu tau ke–kelamahanku?!"


"Jantung atau hati?!"


"Ti–tidak!"


"Hiyaaaaaaa!"


Sadin berlari menghampiri makhluk itu.


Sret...


"Arghhh!"


Sadin menusuk tubuh makhluk itu tepat di jantungnya. Tak lupa dia mencabutnya dan mulai ditusukkan ke arah hati dari makhluk itu. Bau anyir seketika memenuhi ruangan.


"Arggghhh."


Makhluk itu mulai lenyap dan menyisakan benda berupa jarum suntik tadi.


"Kalian kenapa masuk ke dalam sini?" tanya Sadin yang napasnya masih belum teratur.


Ia langsung membantu Dinda dan Gembul untuk bangun. Nampaknya kalau Sadin tidak datang tadi, mereka tidak akan tau apa yang terjadi selanjutnya.


"Ta–tadi kita enggak tau harus bagaimana," sahut Gembul yang masih memegang lengan Dinda.


Entah mengapa jauh di dalam lubuk hati Sadin, ada rasa mengganjal saat melihat Dinda yang sangat dekat dengan Gembul itu. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran yang tidak seharusnya ada. Dia tersenyum.


"Ya sudah kita cari yang lain," ajak Sadin sembari membuang wajahnya ke segala arah.


"Lo kenapa?" tanya Dinda sembari melepaskan lengannya dari Gembul.

__ADS_1


"Eh? Enggak apa-apa," sahut Sadin sambil menutupi hati yang nampaknya sedang patah itu.


"Hiks..."


Semua langsung terdiam sembari memasang telinga baik-baik.


"Hiks.. tolong."


"Suaranya kayak gue kenal." Dinda langsung berlari ke sumber suara yang diyakini berada di dekat jendela kamar kosong nomor 116.


"Tolong..."


"Din, hati-hati," ujar Sadin sembari berjalan di belakangnya.


Perlahan Dinda mulai memegang gagang pintu yang terasa sangat dingin. Ia mencoba untuk membuka pintu kamar dengan perlahan. Rasa takut seketika menyelinap masuk dan membuat suasana semakin tegang. Gembul terlihat sudah komat-kamit membaca doa dengan Sadin yang menjadi korban peluknya.


"Hyu, itu lo?" tanya Dinda yang berusaha memastikan.


"Din–da?" Seorang perempuan dengan wajah pucat pasi dan baju yang nampak robek kini langsung memeluk Dinda.


"Hyu lo kenapa?!" tanya Dinda yang seketika geram melihat keadaan temannya yang sudah nampak ketakutan dan kondisi badannya yang tidak sebugar yang tadi.


"A–ku diserang genderuwo, Din. Seram sekali." Hyu mulai menumpahkan tangisnya.


Pelan-pelan ia mulai meringis dan memperlihatkan luka di bagian betisnya. Nampak seperti sebuah cakaran yang lumayan panjang. Dinda mengeluarkan jaket panjang dan memasangkannya pada Hyu.


"Ya Allah, Hyu. Gue pikir tadi lo kabur dengan Rafles."


"Rafles berusaha bantu aku untuk jalan, tapi tiba-tiba dia menghilang. Aku tidak tahu dia ke mana. Karena takut, aku langsung masuk ke sini. Ternyata di sini ada genderuwo."


Gembul langsung membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan sebuah obat merah dan juga kapas.


"Aku bawa ini, tapi enggak ada alkoholnya. Cara membersihkannya, bagaimana?" tanya Gembul sembari menyerahkan obat-obatan itu kepada Dinda.


Dinda terlihat mengeluarkan air mineral dan juga beberapa buah hansaplast. Dengan telaten ia mulai membasuh luka Hyu dengan air yang kemudian dikeringkan dengan kapas. Dibersihkannya luka itu dengan obat merah yang ditimpa oleh kapas. Selanjutnya ia mulai menutupnya dengan hansaplast.


"Ma–makasih, Dinda," ujar Hyu sembari tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.


Dinda dan Hyu itu bagai kembar tak seiras. Andai saja Hyu memakai kerudung, maka dua orang ini pasti agak sulit untuk dibedakan.


Diam-diam Sadin tersenyum hangat. Rasa senang menjalar di hatinya. Semulia itukah sosok Dinda? Tomboi dan galak namun hatinya hampir mirip seperti malaikat. Baik dan juga penyayang.


"Din, tolong bantu pegang Hyu, ya. Takut dia enggak kuat jalan," pinta Dinda sembari memasukkan barangnya lagi ke dalam tas.


"I–iya," sahut Sadin sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Brugh...


Pintu tiba-tiba terkunci rapat. Dinda berlari menghampiri pintu dan berusaha membukanya, namun nampaknya pintu terkunci dari luar.


Dor.. dor.. dor...


"Buka!"


"Ck, enggak usah iseng!"


Gembul berinisiatif untuk maju dan mendobrak pintu itu.


"Mau ngapain?" tanya Dinda sembari menahan diri Sadin.


"Mau dobrak," sahutnya dengan polos.


"Lo gila? Ini kan pintunya terbuka ke dalam. Kalau lo dobrak ke luar, ya mana bisa kebuka coba?" Sebuah pertanyaan dari Dinda dilemparkan dengan geram ke arah Gembul.


Gembul hanya terlihat terkekeh dengan malu dan mengurungkan niat tak bergunanya itu.


Ceklek.. ceklek...


Sadin yang baru saja menghampiri pun segera ikut untuk membantu membukakan pintu. Rasa-rasanya sangat ganjil jika rumah sakit yang sudah tidak dipakai belasan tahun lamanya masih bisa terkunci dengan baik. Terkecuali jika memang ini merupakan kerjaan usil dari si penunggu ruangan ini.


"Auh." Gembul terlihat memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Kenapa?" tanya Dinda yang dengan sigap langsung memapah Gembul yang terlihat seperti membaca sesuatu.

__ADS_1


"Pe–penunggu ruangan ini enggak suka kita di sini, tetapi anehnya dia malah mengunci kita," ungkap Gembul sembari memeluk Dinda.


Dinda terkejut dan sontak menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Gembul.


"Gue enggak lihat apa-apa, Mbul," sahut Dinda yang berusaha melepaskan pelukan dari Gembul.


Gembul membaca sebuah doa dan mulai menempelkan tangannya ke bagian pelipis Dinda dengan mata yang masih tertutup. Dinda mulai terkejut saat melihat penampakan di depannya. Sosok makhluk serupa dengan nenek-nenek berhidung besar nampak duduk di atas brankar yang sudah reot.


"L–lo transfer ilmu lo?" tanya Dinda dengan rasa takut yang luar biasa.


"Enggak. Itu biar kamu bisa lihat saja. Sifatnya sementara," jawab Gembul sembari melepaskan pelukannya dan menutup matanya dengan kedua tangan.


Sadin masih diam mengamati apa yang terjadi. Ia tak melihat sesuatu di atas brankar yang dimaksud oleh dua temannya itu.


"Lo mau lihat juga?" Gembul kini bersiap untuk membuka mata batin Sadin sebentar.


"Enggak! Lain kali aja," sahut Sadin sembari memijat pelipisnya yang sudah tak kuat menahan lelah.


Nenek-nenek itu memperlihatkan wajah marah yang kapan saja bisa dilampiaskan kepada mereka.


"Ajak ngobrol?" tanya Dinda yang takut salah mengambil langkah.


"Ajak aja. Bilang baik-baik kalau di sini kita cuma melakukan penelusuran," sahut Sadin tanpa mau menoleh ke arah Dinda.


Dengan langkah perlahan Dinda mulai mendekati sang nenek. Kakinya terlihat membiru dengan pakaian pasien yang sudah berbau tak sedap. Sorot matanya tajam mengarah pada mereka.


"P–permisi, Ne–"


"Mau apa kalian?" Dinda terbungkam sebentar saat sang nenek mengeluarkan lidahnya yang lumayan panjang.


Bagaimana dia bisa melihat hal semacam ini jika ini adalah pertama kalinya ia dibukakan mata batin oleh Gembul? Ah, rasa-rasanya lebih baik dia memilih tidak melihat saja. Rupanya hampir mirip Nenek Sihir versi lebih seramnya lagi.


"Kami hanya melakukan penelusuran," sahut Dinda yang berusaha menetralisirkan jantungnya yang sudah tak stabil lagi.


"Kedatangan kalian mengganggu. Banyak makhluk yang tidak suka kalian di sini. Akibatnya kalian tidak bisa menemukan jalan ke luar, betul?" Pertanyaan dari Nenek itu membuat Dinda mati kutu.


Pasalnya semua yang sudah dituduhkan kepadanya tidak bisa dibantah lagi.


"Kami tidak mengganggu. Kami hanya melakukan penelusuran saja–"


Brugh...


"BOHONG!!!"


Gebrakan brankar berhasil membuat Dinda dan yang lainnya terkesiap.


"Salah satu teman kalian ada yang melakukan hal tidak baik di sini. Dia sangat menggangu kami!" Sang Nenek terlihat menjulurkan lidahnya ke arah leher Dinda.


"Kyaa! Lepasin! Jijik banget gue!" maki Dinda sambil berusaha melepaskan benda kenyal nan menjijikkan itu dari lehernya.


"Hei, kita tidak main kasar!" teriak Sadin sembari mengacungkan belati itu ke arah Nenek tua.


Dengan sergap Nenek tua itu langsung melepaskan lidahnya. Ia terkejut saat melihat benda yang dipegang oleh Sadin.


"Darimana kau mendapatkan itu?" tanya Nenek tua itu dengan raut wajah ketakutan.


"Buka pintu! Atau kau akan kumusnahkan dengan ini!" Ancaman Sadin nampaknya membuat Nenek tua itu langsung beringsut.


Walaupun Sadin tak mengetahui apa yang Nenek tua dan Dinda bicarakan, ia sepertinya nampak mengetahui arah pembicaraannya.


Bragh...


Pintu terbuka dan membuat mereka semua menoleh ke arah pintu, namun saat mereka menoleh ke arah nenek tua itu, dia sudah tak ada di tempatnya lagi.


"Kenapa semua takut dengan benda ini?" tanya Hyu yang masih merasakan sakit dan berusaha untuk berdiri.


"Ini benda keramat pemberian Abahku. Roh atau arwah jahat pasti akan takut melihat ini," sahut Sadin sembari memasukkan kembali pisau belatinya ke tempatnya.


"Argh!" Gembul terlihat memegang kepalanya dengan keras.


"Mbul? Mbul?"


"Saben dalam ba–bahaya!" ujarnya yang langsung lari ke luar kamar tersebut disusul dengan Dinda dan juga Hyu yang nampak masih dalam gendongan Sadin.

__ADS_1


"Maaf Hyu merepotkan Sadin," ujar Hyu sembari tersenyum.


Sadin hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan maksud bahwa Hyu sama sekali tidak merepotkan dirinya.


__ADS_2