Jejak Sadin

Jejak Sadin
14. Kata Orang


__ADS_3

Pagi ini pukul lima, tim Jejak Sadin baru saja bangun. Mereka mulai bersiap-siap meninggalkan villa ini dan bergegas pergi ke Hospital Guard. Tak lupa mereka izin kepada Pak Kades untuk pamit. Mereka juga mampir terlebih dahulu di warung bubur yang paling laris di daerah itu. Karena walaupun di desa yang sama, jarak tempuh dari villa ke Hospital Guard bisa mencapai sejam lantaran desa yang sangat luas ini.


"Permisi, Mas." Sadin mulai duduk disusul oleh temannya yang lain.


"Monggo, Mas. Mau pesan apa? Ada bubur ayam, bubur kacang hijau, wedang jahe, mie rebus, mie goreng."


"Hyu mau bubur ayam spesial, deh," ujar Hyu sembari melihat-lihat ke arah menu makanan.


"Gue mau mie goreng dua porsi dan es susu," ujar Saben sembari duduk dan memainkan rubik lagi.


"Lo mau apa, Gembul?" tanya Sadin ke arah Gembul yang masih berusaha diajak bicara oleh Dinda.


Nampaknya lelaki itu masih syok dengan kejadian semalam. Dia masih membalas pertanyaan yang Dinda ajukan dengan senyuman saja. Dinda sempat menyerah untuk membujuk Gembul bicara, namun jelas saja Sadin tetap menyuruh Dinda untuk berusaha mengajak lelaki itu bicara.


"Mie rebus pakai telur," sahutnya sembari menunduk lagi.


"Lo mau apa, Dinda?"


"Samain kayak Hyu!" Dinda mulai mengajak Gembul bicara lagi.


"Rap?"


"Seblak."


"Eh? Mana ada seblak di sini?" tanya Sadin dengan terheran-heran.


"Eh, maksud gue mie rebus aja sama bubur ayam. Gue laper banget soalnya," ujar Rafles sembari menggaruk kepalanya.


Karena keasyikan lihat instagram yang rata-rata menampilkan gambar seblak, seketika yang dipikirkannya hanyalah makanan khas Bandung saja.


"Kalau saya bubur ayam telur puyuh dan es teh manis, ya, Mas," pesan Sadin sembari membuka ponselnya.


"Iki Mas Sadin, e?" Sadin menoleh saat seseorang memanggil namanya.


Ia terlihat sangat kagok dan tersenyum secara perlahan kepada salah satu mas-mas penjual bubur.


"Kenal saya?" tanya Sadin sambil terkekeh.


"Kenal. Mas selebgram, 'kan?" tanya Mas itu sembari duduk di sebelah Sadin.


Sadin hanya tersenyum sambil menanggapi.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Sayo." Mas Sayo mulai menjabat tangan Sadin.


"Asli sini, Mas?" tanya Sadin.


"Injih, Mas. Mas ini mau ke mana?" Mas Sayo nampak tersenyum ke arah teman Sadin yang lain.


"Saya ingin melakukan penelusuran, Mas," sahut Sadin sambil tersenyum dan meneguk teh tawar yang sudah disiapkan terlebih dahulu.


"Oalah. Ke mana?"


"Ke Hospital Guard, Mas."


"Se–serius, Mas?" tanya Mas Sayo sembari menutup mulutnya.


Teman Mas Sayo yang sedari tadi asik bermain ponsel pun terkejut dan langsung ikut duduk di dekat Sadin.


"Mas yakin?" Pertanyaan dari teman Mas Sayo mulai membuat Sadin dan temannya mulai bingung.


"Kenapa memang, Mas?" Sadin menampakkan wajah serius ke arah mas-mas tersebut.


"Di sana banyak kasus pembunuhan katanya, Mas. Pembunuhan dari pihak rumah sakitnya. Tumbal kalau tidak salah. Jadi, tidak heran kalau setiap tahun bahkan bulan bisa menghasilkan angka kematian yang tinggi. Itu kata bapak saya yang waktu itu sempat tinggal dekat rumah sakit. Sekarang sudah pindah ke sini karena kawasan di sana angker sekali, Mas," ungkap Mas Sayo.


"Mungkin kesalahan tenaga medisnya, Mas," sangkal Rafles yang berusaha ber-positive thinking.


"Ah, serius? Apa karena alasan itu rumah sakit tersebut ditutup?" tanya Hyu dengan wajah yang setengah tidak percaya.


"Tidak. Ada yang lebih jahanam dari itu. Setelah peristiwa kesurupan massal, semua dokter dan tenaga medis lainnya dikerahkan untuk membuang para bayi ke sungai. Tujuan utamanya untuk tumbal dan juga menghilangkan apes dan kutukan dari kesurupan massal tersebut."


"Bayi? Gila?!" Dinda merasa kasihan dengan para bayi yang dibuang ke sungai tersebut. Terlebih jika orang tuanya sudah bersusah payah untuk mendapatkan anaknya tersebut.


"Gue enggak habis pikir sama pemikiran si pemilik rumah sakit. Apa dia masih ada sampai sekarang?" tanya Rafles sembari menyuapkan sesendok bubur ayam yang tampak lezat.


"Masih. Di rumah sakit jiwa. Dia selalu berhalusinasi. Semua dendam kesumat yang ada di dalam rumah sakit seakan-akan datang menghantuinya setiap hari. Dokter dan perawatnya banyak yang sudah turun tangan dalam mengurus pemilik rumah sakit itu," jelas Mas Sayo.


"Tapi apa pernah dia mau mencoba kabur dari rumah sakit jiwa itu?" tanya Sadin yang melahap setusuk telur puyuh di tangannya.


"Kalau itu saya tidak tahu. Yang saya tahu dia sering mencoba bunuh diri tapi tidak pernah bisa," papar Mas Sayo.


"Waktu itu ada temanku yang iseng pergi ke rumah sakit itu tanpa izin terlebih dahulu. Saat balik ke rumah, tiba-tiba dia menjadi linglung dan senyum-senyum sendiri. Badannya sudah kurus kerontang dan terdapat bekas cakaran di sekeliling leher dan perutnya. Ketika dibawa ke ustadz, katanya dia ketempelan setannya. Saat itu juga dia langsung dirukiah, tapi setannya enggak bisa langsung pergi karena punya energi yang besar. Selama seminggu melakukan rukiah, akhirnya temanku itu bisa sembuh dan alhamdulillah masih bisa hidup sampai sekarang," jelas teman Mas Sayo sambil mengeringkan piring bekas dengan lap bersih.


"Mungkin dia melakukan kesalahan?" Dinda terlihat masih asik makan sembari menyimak apa yang disampaikan Mas tersebut.

__ADS_1


"Katanya dia melakukan ritual. Entah, saya lupa ritual apa," jelas teman Mas Sayo sembari bergidik ngeri.


"Oh iya, kalau di dalam sana ada sebuah berlian besar, jangan coba-coba untuk pegang. Katanya, sih, penunggunya sengaja taruh di situ untuk mencari tumbal." Mas Sayo menuangkan teh tawar yang baru matang ke dalam teko.


"Berlian seperti apa?" tanya Sadin.


"Saya kurang tahu persisnya, tapi yang jelas berlian itu berwarna bening berkilau. Kalau dia kurang iman, pasti dia akan lupa dengan nasihat ini," jelas Mas Sayo.


"Auh, lumayan ngeri," sahut Dinda sembari menyesap es teh susu miliknya.


"Jadi, kalian masih tetap kekeh untuk ke sana?" tanya Mas Sayo yang merasa takut terjadi apa-apa dengan Sadin dan teman-temannya.


"Tekad kami sudah bulat dan mantap, Mas. Kalau kami urungkan, sayang sekali," sahut Rafles sambil tersenyum.


"Eum, baiklah kalau begitu. Semoga kalian semua sampai di tujuan dengan selamat dan juga kembali ke rumah dalam keadaan sehat wal'afiat," harap Mas Sayo sambil tersenyum ramah.


"Aamiin. Terima kasih banyak doanya, Mas Sayo." Sadin tersenyum dan segera menghabiskan makanannya.


"Mas Sayo, Hyu tambah donatnya, ya," ucap Hyu sambil mengambil donat rasa coklat kacang kesukaannya.


"Silakan, Mba."


Saben mulai mengeluarkan kameranya saat semua telah selesai makan.


"Foto bareng, yuk!" ajak Saben sembari berusaha mengatur pencahayaan pada kameranya.


"Wih!" Semua langsung berbaris. Tak lupa dengan Mas Sayo dan juga beberapa temannya.


"Oke. 1 ... 2 ... 3 ...."


Cekrek...


"Boleh liat fotonya, Mas?" tanya salah satu teman Mas Sayo yang sedari tadi hanya diam saja sambil menyimak.


"Silakan." Saben langsung menyerahkan kameranya ke arah orang tersebut.


Orang tersebut langsung terkejut dan menyerahkan kameranya kembali kepada Saben dengan sedikit gemetar.


"Eh, kenapa, Mas?" tanya Saben dengan sedikit heran.


"Eng-enggak apa-apa." Teman Mas Sayo itu langsung lari ke belakang. Menyisakan Saben yang masih berusaha menelaah maksudnya.

__ADS_1


Sementara itu, di belakang, pria itu langsung berdoa untuk keselamatan seseorang yang auranya sudah tak nampak lagi. Bayang-bayang raganya seperti kelabu. Menandakan sebentar lagi orang tersebut akan menghadap Sang Maha Pencipta.


Tapi, orang yang dimaksud di situ, siapa?


__ADS_2