
Drt... Drt...
Satu notifikasi bertengger di papan pemberitahuan pesan masuk.
Hyushi Arigana
Dindaaa, temani aku beli jajanan untuk di jalan besok, yuk!
Dinda yang sedang melahap sebuah keripik kentang pun terdiam sesaat.
Dinda Delia
Di mana, Hyu?
Hyushi Arigana
Katanya ada pasar sore di kampung sebelah. Baru buka kemarin. Sekalian refreshing dulu. Mau?
Tawaran tersebut langsung membuat mata hazel milik Dinda berbinar seketika. Ia tersenyum sembari melahap habis kripik kentang disuapan terakhir.
Dinda Delia
Wah, ayo! Ajak yang lain, enggak?
Hyushi Arigana
Tidak usah. Laki-laki itu ribet, tau! Di sana banyak permainan. Aku ingin mencobanya satu-persatu. Nanti kalau mereka ikut, yang ada kita tidak akan diperbolehkan.
Dinda Delia
Betul juga, sih.
Hyushi Arigana
Ya sudah ganti pakaianmu sekarang! Kujemput pukul setengah tiga, ya!
Dinda Delia
Sip!
Dinda langsung membanting ponselnya di atas kasur. Ia bersorak dengan girang sembari mengganti pakaiannya.
"Waktu kecil, biasanya gue pergi ke pasar malam bukan ke pasar sore. Terakhir kali pergi ke sana kapan, ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dan membuat Dinda sedikit bernostalgia.
Dinda memutuskan untuk memakai hijab pashmina berwarna cream juga kaus lengan pendek warna putih polos dibalut dengan jaket jeans. Rok tutu berwarna hitam terlihat menarik perhatiannya untuk dipakai.
Ia mulai bercermin. Ootd hijabnya memang benar-benar sempurna! Ya, Dinda adalah seorang yang berhijab. Walaupun ia tomboi, ia lebih memutuskan berhijab karena baginya cantik pada dirinya akan melejit ratusan kali lipat.
Ia berniat mengambil sebuah lipbalm. Saat tangannya tengah lihai memoles benda kecil itu ke bibirnya, tiba-tiba saja Dinda melihat hantu kebaya hijau pada cerminnya.
Zleb...
Dinda segera menoleh ke belakang, namun ia tidak menemukan apa-apa.
Bulu kuduknya mulai berdiri.
Drt... Drt...
Ia mulai mengambil ponselnya ketika sebuah panggilan masuk berbunyi.
"Aaaa!"
Dinda terkejut saat layar ponselnya memperlihatkan gambar hantu kepala buntung.
"Astaghfirullah, siapa yang nge-prank gue, sih?" Dinda masih memegang dadanya karena rasa takut yang mulai menelusup ke pikirannya.
Suasananya mulai memanas dan membuatnya tergeming di tempat. Sekelebat bayangan dengan cepat melewatinya.
"Aaaaa! Ini apa, sih?!"
Saat bunyinya selesai, ia langsung mengecek ke riwayat panggilan dengan tangan yang cukup bergetar. Namun anehnya, tidak ada riwayat telepon apapun sekitar satu menit yang lalu, baik di WhatsApp ataupun telepon biasa.
"Sumpah enggak lucu banget! Ini maksudnya apa?" maki Dinda seraya membanting ponselnya ke atas kasur lagi.
Tiba-tiba benda pipih tersebut mulai menampakkan bunyi kembali. Bunyi panggilan tersebut semakin lama semakin kencang. Dinda tak berani untuk melihat ke arah layarnya. Ia menutup telinga rapat-rapat.
Tiba-tiba suaranya berubah menjadi lagu sinden Jawa.
"Mamah, huwaaaaa!!!"
Dinda langsung melempar bantalnya ke segala arah dengan gerakan yang cukup cepat.
"Pergi hantu sialan!"
"Hos.. hos.. Lo siapa? Jangan ganggu hidup gue!" gertak Dinda kepada siapapun yang iseng dengannya.
Nafasnya terlihat memburu karena rasa takut yang begitu besar. Sumpah demi apapun, Dinda tak pernah setakut ini.
Bodoh! Kenapa dia tidak ke luar kamar saja sejak tadi?
Tok.. tok.. tok...
"Akh, siapa?" tanya Dinda dengan kalut.
Ia sangat takut bilamana yang menerornya itu berada tepat di depan pintu kamarnya.
"Dinda, ada Hyu di bawah." Ucapan Mamah berhasil membuat Dinda langsung lari ke luar kamar.
Ceklek...
"I–iya, Mah," sahut Dinda yang masih saja melongok ke arah kamar dengan agak takut.
__ADS_1
Kerudung yang dipakai Dinda terlihat tak serapih sebelumnya. Matanya masih menelusuri setiap inci ruangan kamarnya dengan raut wajah ketakutan.
"Kamu kenapa, Dinda?" tanya Mamah dengan nada khawatir.
"Eng–enggak apa-apa, Mah," jawab Dinda sambil menoleh ke sana - ke mari lagi untuk memastikan bahwa hantu iseng tersebut tidak ada di kamarnya.
"Enggak apa-apa, gimana? Kamu sampai keringat dingin seperti ini, loh! Muka kamu juga pucat." Benar kata orang, Ibu adalah orang yang paling peka terhadap apa yang dirasakan anaknya.
"Dinda lihat hantu kebaya hijau, Mah. Habis itu Dinda diteror via telepon," ujar Dinda sambil memegang tangannya yang masih terasa merinding.
"Terus handphone kamu mana?" tanya mamah Dinda sembari melihat-lihat ke dalam kamar.
"Dinda tinggal saja di kamar, Mah. Kalau gitu, Dinda pergi dengan Hyu dulu," pamit Dinda sembari bersalaman dengan Mamahnya.
"Hati-hati, sayang," ucap mamah Dinda sembari tersenyum dan mengusap kepala Dinda.
"Assalamu'alaikum," salam Dinda.
"Waalaikumussalam."
Dinda mulai ke luar rumah dan menghampiri Hyu yang tengah asik memainkan ponselnya dari dalam mobil.
"Halo!" sapa Dinda sembari tersenyum hangat, berusaha menutupi ketakutannya.
"Kamu kenapa, Din? Kata Rafles, kalau mukanya pucat, matanya ke mana-mana, dan bibirnya selalu digigit, itu merupakan sebuah kemungkinan kalau orang tersebut habis 'diganggu'," terang Hyu sembari memeragakan tangannya yang seolah-olah menjadi tanda kutip.
Dinda mulai menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. Niat awalnya, sih, tidak ingin memberitahukan Hyu soal ini, tetapi apa boleh buat jika Hyu sudah terlanjur membaca gerak-geriknya.
"Iya, benar," sahut Dinda sambil menutup pintu mobil Hyu.
"Are you seriously? Bagaimana bentuknya?" tanya Hyu dengan penasaran.
"Hantu kebaya hijau."
"What? Perempuan itu lagi?" tanya Hyu setengah tak percaya.
Dinda manggut-manggut dan berusaha menetralkan perasaannya.
"Ya sudah jangan dipikirkan. Pak Jek, tolong jalankan mobilnya, ya. Bawa kami ke pasar sore kampung sebelah," perintah Hyu pada supirnya itu.
"Baik, Non."
Mobil Hyu mulai membelah jalanan desa. Hyu memang anak dari orang terpandang di desanya. Beda dengan teman-temannya yang mayoritas berasal dari kaum biasa. Hal tersebut yang terkadang membuat orang-orang di sekitarnya menuduh bahwa teman-temannya hanya memanfaatkan harta Hyu. Padahal kenyataannya selama bersahabat, tak ada satu pun dari sahabatnya yang meminta uang ataupun barang mahal pada Hyu. Mereka tulus bersahabat dengan gadis bermata sipit nan manis itu.
"Jam segini sudah buka?" tanya Dinda yang berusaha memecah keheningan yang ada.
Biasanya tak pernah sehening ini. Mungkin karena Hyu sedang memberikan waktu kepada Dinda untuk menetralisirkan rasa takutnya itu.
"Sudah. Bukanya sudah dari jam dua siang tadi," sahut Hyu sambil tersenyum.
"Tutupnya?"
Pak Jek memberhentikan mobilnya di sebuah parkiran sempit. Suara ramai pasar sore terdengar sangat menggembirakan di telinga Dinda.
"Ayo, keluar!" ajak Hyu sambil membuka pintu mobilnya.
"Pak, titip mobil, ya. Hyu pulang mungkin sekitar waktu maghrib, Pak," pesan Hyu sembari menyisir rambutnya dengan kedua tangan.
"Siap, Non Hyu!"
Dinda dan Hyu mulai bergandeng tangan menuju ke dalam pasar sore. Bagi Dinda, pasar sore ini tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Mungkin hanya berbeda pada waktu pelaksanaannya saja.
"Oh iya, Din. Aku diberi pesan sama Papah untuk membelikan sebuah boneka pahatan dari batu giok. Kira-kira di sini ada tidak ya?" tanya Hyu sembari melihat-lihat ke segala arah.
Dinda ikut mencari-cari yang sekiranya dimaksud oleh Hyu tadi. Ia mulai memicingkan mata saat melihat sebuah tenda bertuliskan "Jual Berbagai Macam Boneka".
"Hyu! Coba kita lihat di sana! Siapa tau ada," saran Dinda sembari menggandeng tangan Hyu.
"Excuse me, Mr. Can I ask you?" tanya Hyu kepada seseorang yang terlihat berwajah kebarat-baratan.
"Bahasa Indonesia saja. Saya mengerti, kok," sahut lelaki itu sembari tersenyum.
"Uh, oke. Bisakah kau membantuku untuk mendapatkan boneka pahatan dari batu giok?" tanya Hyu sembari menatap mata hazel lelaki itu.
"Aha, kau datang di tempat yang tepat, manis. Mari masuk!" ajak lelaki itu sembari membuka tirai tendanya.
"Ada beragam boneka yang kamu cari di sini. Kamu boleh memilihnya dan minta harga yang kamu mau. Bernegosiasi rasanya cukup baik," terang lelaki itu sembari menunjukkan sebuah laci yang dilapisi kaca bening.
Ia mulai membuka laci tersebut.
"Boleh kuambil gambar? Aku ingin menanyakan dulu kepada Papah," pinta Hyu sembari menyingkirkan poninya yang hendak menutupi mata.
"Oh, silahkan. Dengan senang hati," sahut lelaki itu sembari tersenyum ramah.
Hyu terlihat mengambil gambar dengan ponselnya. Sekitar lima menit kemudian, ia mulai tersenyum.
"Aku pilih ini untuk Papahku. Dan yang ini untukku. Sepertinya menarik," ujar Hyu sembari tersenyum.
Gadis itu terlihat menunjuk ke arah boneka bergambar lelaki untuk Papahnya dan boneka perempuan manis untuknya.
"Berapa?" tanya Hyu sembari bersiap membuka dompetnya.
"Karena kamu beli dua, saya berikan padamu satu setengah juta saja," ucap lelaki itu.
Dinda yang mendengar nominal dari harga boneka tersebut pun terkejut bukan main.
"Oke, deal!" sahut Hyu tanpa menolak ataupun berbicara sepatah kata pun.
Dinda bingung. Di mana unsur negosiasinya?
"Terima kasih. Seneng berjumpa denganmu. Jangan lupa untuk kembali lagi lain kali," ucap lelaki tersebut sembari menunduk hormat.
__ADS_1
"Sama-sama."
Hyu mengajak Dinda ke luar dari tenda tersebut.
"Lo serius beli itu? Apa enggak kemahalan?" tanya Dinda dengan heran.
"Tidak. Tenang saja. Oh iya, kita akan ke mana sekarang?" tanya Hyu.
"Lapar," sahut Dinda sembari memegang perutnya.
"Oh, makanan Chinese, mau?" tawar Hyu kepada Dinda.
Dinda nampak menimang-nimang tawaran dari Hyu.
"Halal, kok, Din. Orang yang menjual itu teman Mamahku. Mamahku bilang dia orang Islam. Makanannya enak sekali!" terang Hyu yang mungkin telah mampu membaca pertanyaan yang bersarang di otak Dinda itu.
"Ya sudah, deh," sahut Dinda sambil tersenyum.
Mereka menuju tempat makan itu. Ternyata benar kata Hyu, yang berjualan makanan Chinese ini adalah orang Islam. Wanita berkerudung tersebut menyambut ramah kehadiran mereka.
Puas dengan makanan Chinese yang lumayan banyak dihidangkan, Hyu langsung mengajak Dinda berbelanja makanan untuk persiapan penelusuran besok.
"Sepertinya itu enak, deh," ucap Hyu sembari melihat ke arah sebuah tenda yang menjual aneka makanan ringan.
Krincing.. krincing.. krincing...
"Suara apa, Hyu?" tanya Dinda sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Orang lewat saja, maybe," sahut Hyu yang langsung menggandeng tangan Dinda menuju tenda jajanan ringan tersebut.
Krincing.. krincing.. krincing...
"Kok suaranya makin jelas? Seperti dari dalam tas lo, Hyu," terka Dinda sembari melihat ke arah tas Hyu.
"Oh, ya? Biar aku cek dulu, ya," sahut Hyu sembari membuka tasnya.
Krincing.. krincing...
Ternyata benar. Suara itu berasal dari boneka batu giok gambar wanita milik Hyu.
"Kenapa bisa bunyi?" tanya Hyu dalam hati.
Seketika perut dari boneka tersebut terbuka. Sebuah kertas ke luar dari tempat tersebut. Hal tersebut sontak membuat Hyu dan Dinda terkejut.
"A–apa ini?" tanya Hyu dengan bingung.
"Coba buka kertasnya, Hyu!" pinta Dinda sembari membantu Hyu memegang bonekanya.
"Aksara china. Aku tidak terlalu paham maksudnya," ujar Hyu seraya menggaruk kepalanya karena kebingungan.
不要去那边。那里有一个危险的分隔线。
"Translate saja pakai google translate via kamera," saran Dinda.
"Oh, iya iya!" Hyu langsung membuka aplikasi google translate dan mengarahkan kameranya ke arah kertas itu.
Hyu langsung membaca arti dari aksara tersebut.
"Jangan pergi ke sana. Di sana terdapat sebuah penglaris berbahaya," ucap Hyu sembari menutup mulutnya dan menampakkan wajah melongo saking terkejutnya.
"I–ni tidak salah translate-nya, bukan?" tanya Hyu sembari menggigit bibirnya karena terlihat bingung bercampur takut.
"Jangan-jangan boneka ini..."
"Kenapa bonekanya?" tanya Hyu dengan hati yang tidak tenang.
"Boneka ini kayaknya keramat, deh." Dinda mulai mengotak-atik perut boneka tersebut.
"Ini enggak bisa dibuka, loh bagian perutnya," ujar Dinda sembari menampakkan bagian perut boneka tersebut.
Dinda dan Hyu saling bertatapan.
"Cari tempat lain saja, yuk!" Ajakan dari Dinda langsung disetujui oleh Hyu.
Mereka sama-sama diam sembari mencari tempat jajanan lain.
"Kalau di sana bagaimana?" tanya Dinda sembari menatap boneka itu lagi.
"Sepertinya tidak apa-apa. Bonekanya tidak berbunyi lagi, kok," ungkap Hyu sembari menggandeng Dinda untuk jalan.
Beruntunglah boneka tersebut tidak berbunyi lagi. Dinda dan Hyu segera memilih makanan yang sekiranya bisa dibawa untuk dimakan selama perjalanan menuju tempat tersebut.
"Oh iya, Papah mau dibawakan makanan tidak, ya?" Monolog Hyu sembari mengambil ponselnya.
"Yah, baterai ponselku habis. Boleh aku pinjam ponselmu?" pinta Hyu sembari menoleh ke arah Dinda.
"Eh, ponsel gue sengaja gue tinggal di kamar," ujar Dinda sembari menggaruk kepalanya.
"Eum, ya sudah enggak apa-apa," sahut Hyu sembari tersenyum.
Setelah mencari cukup banyak makanan, Dinda dan Hyu langsung menaiki wahana satu-persatu. Tak terhitung sudah berapa wahana yang mereka naiki.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Langit sudah mulai menggelap menandakan azan maghrib akan segera berkumandang.
"Itu apa?" tanya Hyu sembari menunjuk ke arah sebuah tenda besar bertuliskan 'Ramal Masa Depanmu Di Sini!'.
"Gue enggak tau, Hyu. Kalau Lo mau coba, coba aja, tapi kalau gue pribadi enggak percaya begituan," sahut Dinda sembari mengemil popcorn yang baru dibelinya tadi.
Entah mengapa seperti ada yang menarik Hyu untuk mencobanya.
Ya, dan semua kekhawatiran itu pun dimulai.
__ADS_1