
Mereka semua menyusuri koridor rumah sakit. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, sebentar lagi azan ashar akan berkumandang. Dalam kurun waktu kurang lebih tiga jam lagi mereka harus segera sampai. Tidak boleh! Tidak boleh mereka bermalam di sini.
Bug ....
"Duh." Ringisan dari Hyu tiba-tiba saja membuat mereka menoleh.
"Kamu enggak apa-apa, Hyu?" tanya Gembul sembari membantu Hyu untuk bangun dari jatuhnya itu.
"A–aku tidak apa-apa, Mbul."
"Lepas! Biar gue yang bantu!" teriak Rafles sembari mengulurkan tangannya ke arah Hyu.
Hyu diam di tempat sembari mencerna apapun yang sebenarnya sedang terjadi.
"Kamu lupa? Kita sudah jadi mantan. Kamu katanya mau kejar Elin si sundel bolong itu," sindir Hyu sembari beranjak bangkit sendiri dan mengabaikan uluran tangan Rafles.
Rafles menarik kembali tangannya dan tak menjawab apapun. Pandangannya ia alihkan ke arah lain.
Mereka semua melanjutkan perjalanan lagi dengan langkah kaku sepelan mungkin agar tidak menggangu penunggu di sini. Mereka semua sama-sama lelah dan ingin pulang untuk istirahat. Berharap sehabis ini tidak ada masalah apa-apa lagi.
Hyu terlihat mengecek ke arah sebuah pintu.
"Terkunci," ujarnya dan kembali mengecek pintu yang lain.
Akhirnya semua memilih untuk berpencar dan membuka pintu satu-persatu, tetapi masih dalam satu tempat. Karena di sini dalam satu koridor bisa mencapai enam sampai tujuh ruangan.
"Kok ke kunci semua, ya?" tanya Gembul sembari melongok ke arah lain.
"Ekhem." Suara dehaman dari Hyu tiba-tiba saja membuat semua yang sedang sibuk mencari-cari pun menoleh ke arahnya.
"Kenapa Hyu?" tanya Sadin yang nampak melihat kelakuan aneh Hyu.
Hyu seperti menggesek-gesek sepatunya ke lantai.
"Kotor," sahutnya sambil mengecek lantai yang terlihat sangat kotor itu.
Ia mulai bergerak seperti layaknya orang yang sedang membersihkan lantai menggunakan kain pel.
"Ada So Klin (pembersih lantai), enggak? Udah lama enggak ngepel," ujarnya yang sontak membuat semua yang ada di dalam sana kebingungan.
"Ngapain? Lo mau ngepel di tempat kotor seperti ini?" tanya Sadin dengan bingungnya.
"Sebentar, deh. Hyu kan bahasanya baku. Kok itu enggak?" tanya Dinda yang sudah mulai curiga terlebih dahulu.
"Mau beli So Klin ke warung jauh. Enggak ada yang mau ngasih. Kalau ngomong aja diabaikan. Bagi So Klin, dong!"
"Astaghfirullahal'adzim, bukan Hyu ini!" teriak Gembul sembari mendekati Hyu.
"Kamu siapa?" tanya Gembul sembari memegang pundak Hyu.
"Auh, panas. Tangan masnya panas," keluh Hyu sembari tersenyum.
Benar saja jika panas saat disentuh. Toh, sebelum menyentuhnya saja Gembul sudah membaca doa terlebih dahulu.
"Kamu siapa?" tanya Gembul dengan perlahan.
"Saya OB di sini," sahutnya sembari melakukan aktivitas seperti membersihkan lantai.
"Udah lama di sini?" tanya Gembul.
"Sudah. Sejak 1967. Mas ke sini sedang apa? Ada keluarga yang sakit?" tanyanya dengan sangat polos.
Semua anggota Tim Jejak Sadin pun saling bertatapan. Mereka yakin bahwa arwah office boy ini tidak sadar bahwa dirinya sudah mati puluhan tahun yang lalu.
"Eh, iya, Mas. Ini yang sedang Mas tempeli itu sedang sakit hati," canda Gembul sembari tersenyum.
"Ah, si Mas, bisa saja," sahut office boy yang merasuki tubuh Hyu itu sambil tersenyum.
"Oh iya, Mas. Boleh tanya?" tanya Sadin yang akhirnya ikut turun tangan.
__ADS_1
"Oh, silahkan, Mas. Tanya apa?" tanya office boy itu sembari tersenyum ramah lagi dan lagi.
"Pintu ke luar ada di sebelah mana, ya?"
Office boy itu menunjuk ke arah selatan.
"Mas dari sini belok ke kanan saja. Nanti ada perempatan ambil kiri dan ikuti jalan saja. Nanti ada pintu besar," jelas office boy itu.
"Oh, gitu."
"Mas enggak ada So Klin? Saya bingung mau ngepelnya kalau begini. Siapa yang mengotori rumah sakit sampai seperti ini. Tega sekali," cerocos office boy tersebut sembari terus bergerak seperti orang yang tengah membersihkan lantai. Terus seperti itu.
"Adanya sabun, nih. Mas mau?" tawar Dinda sembari menyerahkan sabun cuci muka sachet-nya kepada office boy tersebut.
"Ampuh, Mba?"
"InsyaaAllah, ampuh." Sahutan dari Dinda itu langsung membuat office boy itu menerima sabun yang disodorkan kepadanya.
"Terima kasih banyak, Mba." Tubuh Hyu tiba-tiba saja diam membeku dan akhirnya jatuh.
Untung saja dengan sigap Gembul menangkap tubuhnya. Beruntung juga karena hal tersebut hanya sebagai refleks saja. Sehabis itu, Hyu langsung sadar dan mengerjapkan matanya.
"Tadi aku kenapa?" tanyanya yang terlihat bingung ketika melihat sabun cuci muka milik Dinda berada di tangannya.
"Loh, ini buat apa?" timpalnya lagi.
"Taruh saja di lantai. Nanti biar kita ceritakan. Lebih baik kita cari jalan yang dijelaskan office boy tadi saja," ajak Dinda.
"Nanti lo cuci muka?" tanya Sadin yang terlihat malas jika wanita itu nantinya akan merepotkan hanya karena sabun cuci muka saja.
"Itu sudah jadi milik Mas OB tadi. Sudah gue ikhlaskan," sahut Dinda sembari tersenyum.
"Yuk!" ajaknya sembari memapah Hyu dengan perlahan.
Mereka menuju ke arah selatan yang disebutkan office boy itu dalam bentuk arah kanan. Suasana semakin mencekam saat terdengar suara besi ayunan tua yang seperti sedan digerakkan. Bunyinya sangat mengiris gendang telinga. Ngilu dan menyakitkan rasanya.
Gluduk ... gluduk ....
"Denger, kok, tapi enggak ada benda yang bergerak gitu," sahut Dinda yang juga terlihat penasaran.
"Semuanya pegangan tangan, deh. Kayaknya akan ada sesuatu yang enggak enak. Jadi, nanti kalau kita mau kabur, kita enggak berpencar lagi seperti kemarin," saran Gembul yang langsung memegang erat tangan kanan Sadin.
Saben langsung memegang erat tangan kanan Gembul. Posisi sekarang, Gembul tengah berada di antara dua pria itu. Hyu berpegangan dengan Saben, Dinda berpegang ke arah Hyu. Dan yang terakhir Rafles yang berada di sebelah kanan Dinda.
Gluduk ... gluduk ...
Suara itu semakin jauh dari pendengaran.
"Kok suaranya hilang?" tanya Dinda.
"Kata ayahku, kalau ada suara yang mengganggu itu menjauh, itu tandanya mereka semakin dekat ke arah kita," ungkap Gembul sembari berpegangan lebih erat lagi.
"Lebih baik kita sambung perjalanan. Semoga aja enggak ada yang menggangu lagi," ujar Sadin sembari mengajak mereka berjalan bersamaan.
Namun saat mereka baru jalan beberapa langkah ...
"Kyaaaaaaak!"
"Hihihihi."
Gluduk ... Gluduk ....
"Aaaa!" Semua menjerit dan berlarian dengan berpegang teguh satu sama lain.
Sebuah kepala yang telah berlumuran darah tiba-tiba saja datang dari arah depan dengan gerakan menggantung seperti kereta gantung yang biasa ada di Taman Mini. Tanpa badan, tangan, ataupun kaki. Senyumnya menyeringai lebar dan lidah yang terjulur panjang. Matanya merah padam dan melotot tajam.
"Mamah!"
"Ya Allah!!"
__ADS_1
Mereka langsung lari sambil berpegangan tangan. Ketegangan semakin bertambah ketika lampu menyala dan mati lagi. Suara teriakan histeris dari parah makhluk halus semakin membuat mereka lepas kendali.
"Timur! Ke Timur!" teriak Saben sembari mengomando teman-temannya.
Kini mereka telah sampai di sebuah pintu besar yang dimaksud oleh office boy tadi.
Jegreg ... Jegreg ....
"Pintunya terkunci," keluh Dinda.
"Baca ayat kursi sama-sama, ya," pinta Sadin yang sudah kewalahan dan pasrah.
Semua nampak berpegangan tangan dengan Sadin dan Dinda yang salah satu tangan mereka menempel pada gagang pintu.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum."
"Eraahhhh."
"Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum.
Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh."
"Jangan pergi erhhhh!"
"Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih."
"Tanggung jawab! Tumbal kalian belum selesai!"
"Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.
Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min 'ilmihii illaa bi maa syaa-a."
"Terkutuk kalian semua! ARGHHHHH!"
"Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal 'aliyyul 'azhiim."
"ARGHHHH!"
"Aaaaaa." Mereka semua merasa seperti terlempar.
Kini mereka sudah berada di depan rumah sakit seperti pertama kali mereka datang. Rasa-rasanya di setiap kejadian aneh tadi sudah seperti mimpi yang tak ingin diingat atau diulang kembali.
"Sudah?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja membuat mereka bergeming di tempatnya masing-masing.
Suara itu adalah suara bapak-bapak yang pertama kali mereka temui. Palu arit berada di tangannya. Bajunya masih sama seperti tadi pagi.
"SUDAH KALIAN GANGGU KAMI?"
"Kabur!" Aba-aba dari Sadin langsung membuat semuanya lari tunggang langgang tak karuan.
Mereka menjauhi bapak-bapak itu dan segera berlari ke arah mobilnya. Ternyata mobil Gembul tertutupi dengan dedaunan yang telah mengering. Mereka semua langsung membantu Gembul untuk menyingkirkan dedaunan itu.
Dengan cekatan, Gembul langsung masuk ke dalam mobilnya dan berusaha untuk menyalakan.
"Enggak bisa!" teriak Gembul yang sudah panas dingin tak karuan.
"Bismillah, Mbul!" saran Sadin sembari membantu doa juga.
Hantu kepala itu tiba-tiba saja sudah berada tepat di depan mata Gembul. Gembul melotot kaget dan menangis.
"Aaaaa! Bismillahirrahmanirrahim. Allahu Akbar."
Brum ... Brum ...
Bruk ....
__ADS_1
Gembul menabrak kepala itu dengan sengaja. Hal itu langsung membuat teman-temannya terkejut.
"Naik cepetan!" perintah Gembul yang langsung membuat semuanya langsung naik.